Malam itu Langit sungguh gelap. Bukankah ini Tanggal 13? Tanggal dimana bulan begitu terang benderang. Saat itu dan waktu itu. Jantungku terasa berdetak kencang. Tak tahu mengapa padahal pintu dan jendela sudah aku tutup. Kebiasaan ku saat sendirian di rumah. Aku memegang dada kiriku dan menepuknya pelan- pelan berharap agar detak jantungku berangsur normal.
Merapatlah dan baca, dengan Bantal di atas pahamu. Ini ceritaku, dimana berbicara pun begitu susah. Napas pun terasa begitu berat, dan sekujur badan bergetar ketakutan.
~•~
tak! tak! tak!
Suara jam dinding menyamarkan keheningan malam ini. Bulan di atas pun belum muncul. Seakan sedang jatuh cinta kepada punuk. Aku membenarkan posisi dudukku setelah menemukan remote tv yang sendari tadi hilang tak tahu kemana.
'Malam hari ini di perkirakan akan turun hujan deras. Diberitahukan kepada seluruh masyarakat kota X agar tidak keluar malam malah karena cuaca yang cukup ekstrim...' Aku menghela napas berat. Malas akan kondisi yang sekarang.
Aku tak peduli dengan keluarga ku yang sedang liburan atau apalah. Bukankah selama ini aku memang selalu sendiri?
Menonton Tv sungguh membosankan tanpa adanya makanan ataupun minuman. Dengan langkah gontai dan perasaan malas yang begitu parah, aku terpaksa mengambil makana di dapur 'Sisa tadi sore' dan minuman dingin yang di kulkas.
"Hoammmm" Aku menguap dan langsung meminum minuman dingin di tanganku dengan berjalan.
Brak!
Aku tersandung entah apa, bukankah tadi pas lewat tidak ada apa- apa?
Aku mengabaikan dan langsung mengambil makanan yang jatuh di depan ku.
Ctras!
Apa aku tidak salah lihat? Pisau di depan mata menancap tepat di Makanan yang jatuh dan hampir mengenai tanganku.
Kepalaku langsung refleks menoleh kebelakang dan sebuah pisau lagi yang aku tidak bisa prediksi pisau apa itu langsung menuju ke arahku. Bukan lebih tepatnya ke arah kepalaku.
Sebelum pisau itu menancap kakiku menendang tangannya dan aku lari ke arah sofa depan tv. Entah apa yang terjadi dia langsung melemparkan pisau kearah ku dan aku seketika menghindari nya. Pisau itu menancap tepat di tv belakang ku. Sudah dua kali. Aku jadi berfikir dia memiliki koper pisau atau tas dengan isi penuh pisau.
Topeng, dia memakai topeng berwarna putih. persis seperti yang di ceritakan Naura tempa lalu
Flashback On ~
"Topeng, dia memakai topeng berwarna putih pucat" Dengan tangan yang di arahkan kemukanya. Naura bercerita tentang Pembunuh berantai yang ada di kompleks perumahan kita. Aku saat itu tak percaya dan tak pernah percaya.
"Nggak usah sok nakutin deh Ra!" Aku berdecak kesal, seharusnya makan siangku di kantin hari ini undang bercahaya bukan suram horor seperti suasana sekarang. Di depanku Arka, Keano, dan Candra mendengar dengan antusias. Dan jangian lupa Rima yang sendari tadi memegang lenganku membuat susah menyuapkan makanan ke mulut.
Mereka sungguh percaya dengan cerita Naura. Memang akhir- akhir ini banyak terjadi pembunuhan di kompleks perumahan kita tepatnya daerah ku dengan daerah Naura. Karena kita tetanggaan sejak kecil.
"Kalian tahu apa yang paling parah?" Naura melotot kan matanya.
"Pembunuh itu. Ctras! Ctras! Ctras! Pisaunya yang sepanjang tiang bendera sekolah kita itu menebas dengan mudah dan Jleb! Jleb! Jleb! Pisau kecilnya yang sependek jari kita itu dengan mudah dan estetik menancap tepat di kepala korban!!!! Shut!!!" Naura memeragakan tangannya seperti ninja. Tak sadar menyentuh tanganku dan membuat ku tersedak makanan.
"Lo tiga laki- laki ngapain?" Aku menatap heran ke arah laki-laki di depanku. Apalah sikap mereka yang benar- benar seperti kucing Gelung meringkuk ketakutan saat petir hujan datang.
"Diem deh la!" Arka menyentak marah. Membuatku tertawa puas melihat wajahnya.
"Dah ah! Aku selesai, Babay👋😂" Aku melangkahkan kaki keluar kantin sambil tertawa. menertawakan mereka yang begitu percaya cerita Naura.
Aku berjalan sambil berfikir. Kenapa Naura tak ada ekspresi sedih saat bercerita tentang Pembunuh at itu? Aku menunduk sedih. Ingat akan sifat Naura yang berbeda saat Keluarga nya meninggal, Benar! Keluarga Naura Meninggal karena Pembunuhan itu. Entah itu benar atau tidak, Aku yakin semua kehidupan dan kematian ada di tangan Sang Pencipta. Benar Bukan?
~•~
"Ra,"
"Hmmm"
"Lihat sini coba"
"Apaan sih la! nggak tau orang lagi Raji gini"
Aku merengut kesal. Naura sedikit pendiam saat masuk kelas tadi. Aku jadi berfikir dia bersedih akan cerita pembunuhan tadi. Naura, Ada Aku.
"Eh, La" Naura membuyarkan lamunanku.
"Iya?"
"Kamu hati- hati ya. Aku tak ingin kehilangan lagi" Matanya meneteskan Air mata. Dia memang sulit menyembunyikan kesedihannya, apalagi tentang orang yang begitu berarti.
"Iya Ra, Aku bakalan hati- hati. Aku janji tak akan meninggalkan mu" Aku memeluk Naura kencang. Seakan pelukan itu tak akan terlepas. Menepuk pelan punggung nya yang kuharap dapat meminimalisir kesedihan di hatinya.
Dia melepaskan pelukan itu dan tersenyum. dan menyubit pipi ku keras "Kamu memang terbaik la....."
Dia mengusap sisa air mata dan mulai melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
Suara lonceng masuk terdengar keras, tak lama kemudian guru masuk dan pembelajaran pun di mulai.
Tanpa seorang pun sadari. Aku ikut memikirkan tentang Pembunuhan itu.
Aku yang selalu sendiri di rumah pun mulai mengenyahkan pikiran- pikiran negatif yang mulai menghantui ku.
Flashback Off...
Aku tersadar dari lamunanku, Tarnyata Naura benar. Pembunuh itu sedang berdiri tegak di depanku dengan pisau di kedua tangannya.
Aku mulai mengerjakan mataku berulang kali. Lamunanku memang meresahkan. membuat terjebak berdua dengan Pembunuh yang sedang di hadapanku.
Tanpa membuang waktu aku menabraknya dan berlari ke lantai dua, entah kenapa kepalaku memikirkan tempat di lantai dua.
Sampai di lantai dua aku membuka pintu terdekat dari arah tangga.
Ceklek! Ceklek! Ceklek!
Pintu itu terkunci, Sial!
Tanpa sadar dia sudah di belakangku dan mengacungkan pisau ke arah ku.
Krak!
Pisau itu menghantam pintu bukan aku. Tanpa sadar aku memegang Vas yang di depan kamar liat langsung melemparkan ke arah Pembunuh itu.
Pyaar! Tepat mengenai kepalanya. Dia seakan marah dan langsung bruntal menyerang ku. Aku hanya bisa menghindar dan menendang.
Sebelum nya aku berterima kasih kepada semua orang yang telah menulis Novel bertema kan Action. Nyatanya aku sekarang seakan sedang berperan di dalamnya. Bersama seorang Psikopat. Pembunuh!!!
Tanpa sadar dan aku yang selalu mundur, Pagar lantai dua tepat di belakang ku. Aku menoleh kan kepalaku melihat ke bawah dan menatap Pembunuh itu.
Dia hanya diam dan menengklengkan kepalanya. Tanpa berhitung aku langsung terjun ke lantai bawah.
"Aaaaa aaaa Aaaaaaaa Aaaaaaaa aaaaaaa" Aku berteriak keras. Takut kalau aku jatuh dan mati. Sia- sia bukan? niatnya bertahan diri malah bunuh diri.
Brak!
Tubuhku menghantam sofa dan di detik kemudian sepuah kapak melayang ke arah ku!
Jleb!!
Aku langsung berlari dan kapak itu menancap tepat di sofa yang ku duduki tadi.
Tanpa melihat si Pembunuh aku langsung berlari ke arah Dapur dan mencari apapun untuk bertahan hidup dan menyerang Pembunuh itu.
Brak!
Sial! Ternyata Pembunuh itu meloncat dari atas dan jatuh tepat di sofa yang ku duduki tadi.
Aku tetap mengacak- acak isi dapur dan tak menemukan pisau. Sial! kemana ibu menaruh pisau nya saat ku buka lemari bawah.
Slet!
Pipiku tergores pisau, ku tolehkan kepalaku ke belakang dan aku melihat Pembunuh yang telah melemparkan pisau itu.
aku mengusap pipiku, lalu dengan keberanian yang entah dari mana ku tendang perutnya, dia jatuh dan langsung kujatuhkan kulkas di samping pembunuh itu.
Brak!
Kulkas itu menimpanya, dan ini kesempatan ku untuk mencari pisau di dapur itu.
"Kau mencari apa la?"
Aku langsung terdiam. aku menoleh kan wajah ke arahnya dan kulihat dia melepaskan topeng pucat yang pakainya tadi.
Dia? Aku menangis histeris, ku tutup mulutku dengan kedua tangan dan menjerit tak percaya, Ini sungguh?
"Kau tak perlu memasang wajah tak percaya"
NAURA!!!
DIA NAURA!!!!
"Aghrrrrrrrr" Aku menjerit kesal, mengacak-acak rambut ku dan mencubit lenganku seolah tak percaya bahwa dia lah yang sendari tadi mencoba membunuh ku.
"Ap- Apa salah ku Ra" Suaraku tercekat di tenggorokan, dengan posisi duduk dengan lutut di depan dada aku melihat nya yang sedang kesusahan mendorong kulkas itu.
Mataku nanar menatap ke arahnya, Bagaimana mungkin? selalu terlintas di kepalaku.
"Hahahaha" Dia tertawa nyaring.
"Kau tau?!" Dia menatapku, tangannya yang masih memegang pisau itu diacungkan ke arahku.
"KELUARGAMU PEMBUNUH RA!!!! AYAHMU PEMBUNUH!!!!"
"KELUARGA KU MENINGGAL GARA GARA SIAPA???? ITU AYAHMU YANG MENABRAK KELUARGAKU!!!!!"
"SIALLLL!!!!! KAU BENAR- BENAR SIALLL!!!"
Aku semakin terkejut. Ayah? tak mungkin! Ingin semua pasti mimpi... Aku memegang kepalaku yang sakit.
Naura telah terlepas dari jatuhan kulkas. Dia betapa ke arahku yang masih duduk seperti tadi.
"Kau mau membunuhku?" Aku menatapnya dengan pandangan kosong. Aku begitu menyayangi nya. apa dia tak sadar? kenapa dia melakukan ini ke diriku? bukan ayahku?
"Aku benar- benar Ingin membunuh mu" Dia ingin menusuk perutku, dan sebelum sampai perutku. Aku membelokkan pisau itu agar menusuk perutnya sendiri.
"Ahhhhh!!!! La?"
"Maafkan aku Ra, Maafkan aku" Aku menangis deras dan terus menangis.
Dia tersenyum manis dan berbicara "Aku akan bertemu keluarga ku la"
Dia tersenyum? Aku semakin menangis, tanganku yang sudah berlumuran darah segar yang keluar dari perutnya.
Bagaimana mungkin? Aku membunuhnya?
Tanpa sadar?!!! aku membunuhnya dengan sadar?!
Aku menetap nanar rumahku. Melangkahkan ke sofa depan tv dan terduduk layu.
Mencoba berbicara seakan sedang mengomentari Tayangan Tv. Aku gila... sungguh.
Menoleh kan kepala ke arah mayat Naura di sana. Mengabaikan nya sampai pagi.
~•~
Besoknya Polisi datang saat Arka melihat ada mayat di rumahku. dan lebih kaget saat mayat itu adalah Naura, Sahabat kita.
Arka menatap ku tak percaya dan aku hanya diam tersenyum. Mengunyah makanan dan melihat Tv yang tertangkap pisau dan tak menyala.
Polisi segera datang dan mengamankan TKP. Aku di tuduh? Bukan! Aku memang pembunuhnya.
Aku mendekam di penjara setelah di adakan sidang ke 2, Keluarga ku yang masih tak percaya tetap bersikukuh agar melepaskan ku.
Tapi itu semua tak ada artinya. Aku mengakui diri dan memang ingin di penjara. Berbicara sendiri, padahal aku melihat Naura berada di depanku.
Tamat
~•~
Dunia tak seindah yang di bayangkan, Bisa jadi yang kita kira selalu ada dan selalu mendukung, nyatanya adalah racun.
Tak peduli siapapun, Kamu harus percaya sama diri kamu sendiri. Okay!!
#PetualanganBertahanHidup
#Petualangan Bertahan Hidup