Terkadang, seseorang harus berkorban demi masa depan semua orang.
=•=•=
Malam itu, harusnya Kota Tokyo sunyi senyap seperti biasanya. Semua orang tidur lelap di ranjang, tanpa ada suara-suara manusia yang bersaut-sautan. Namun, hal itu tidak terjadi pada malam ini. Karena, tiba-tiba saja, warga masyarakat Kota Tokyo, berubah menjadi sebuah mahkluk hijau aneh dan mengerikan. Atau biasa mereka sebut dengan 'Zombie'.
"Raaaarrr ...!" Zombie dengan tubuh gendut ini mengerang dengan suara lantang.
Braak! Brakk!
Zombie tersebut berusaha membuka pintu gudang kecil yang terletak lumayan jauh dari pusat kota. Di dalam gudang tua itu, ternyata terdapat beberapa remaja yang terlihat sedang berkumpul.
"Argghh ... gawat. Zombie-zombie itu menyadari bahwa ada kita di sini!" ujar Ryuji Tashibara seraya mengacak-ngacak rambut hitam semu coklatnya.
Di sisi lain, terlihat seorang remaja perempuan sedang duduk di sisi temannya untuk menenangkan. "Ai, berhentilah menangis ...! Aku berjanji, kita akan berusaha mencari cara, agar kita bisa keluar dari kota ini," ucap Nakamura Rin menenangkan sahabat perempuannya.
"Ta-tapi ... kedua orangtuaku masih terjebak di sana .... Bagaimana kalau mereka ...?" Dia semakin menguatkan derai tangisnya. Gadis pemilik nama lengkap Mizhunashi Ai ini menangis, karena mengingat bahwa, kedua orangtuanya masih berada di dalam rumah. Dia takut akan terjadi apa-apa kepada mereka.
"Ai ...." Rin menyenderkan Ai di bahunya. Meskipun, dia tahu bahwa itu tidak akan bisa membuat Ai berhenti menangis, akan tetapi, setidaknya, dia bisa menenangkannya.
"Grrrhhh ...." gerutu seseorang dari arah samping. Dia adalah Rey Tachibana, teman dekat Rin dan Ryuji sekaligus sahabat dekat Ai. "Kenapa aku tidak tahu bahwa Reina telah bergerak lebih dulu. Tck, sialan!"
Breeek!
Rey memukul dinding kayu gudang sekencang-kencangnya, hingga membuat seluruh atensi orang di ruangan ini berpusat kepadanya. Sesaat setelah mendengar ucapan Rey tadi, tiba-tiba, Rin mengernyitkan keningnya. "Tunggu dulu ... siapa Reina?" tanya Rin penasaran.
Rey melirik Rin, tetapi tidak mengucap sepatah katapun. Kemudian, dia mengubah posisi tubuh yang awalnya bersandar menjadi berdiri tegak.
"Hah ... Reina adalah dalang dari semua ini. Dialah yang mengubah semua orang menjadi zombie," ujar Rey menerangkan, "Reina memasukkan racun Z-15 ke dalam tubuh manusia. Hal itu membuat manusia kehilangan akal dan kesadarannya."
Ai, Rin, dan Ryuji menyimak penjelasan Rey dengan seksama. "Jadi, apa yang bisa kita lakukan agar bisa menyelamatkan semua orang?" tanya Ryuji.
Rey memejamkan mata. "Hanya ada satu cara ...," ucapnya lirih.
"Apa itu?!" tanya Rin dan Ryuji penasaran.
Rey membuka matanya lagi, seraya berujar, "Kita harus membunuh Reina!"
"Rawrrrrrr!" Pada saat yang bersamaan, zombie-zombie itu berhasil menjebol pintu gudang.
"Hah?!" Semua pun berubah menjadi was-was. Ai semakin gemetar ketakutan dan memeluk Rin erat.
Sementara Ryuji tampak sangat panik. "Sial, bagaimana ini?!" tanyanya kebingungan.
Semua pandangan menatap Rey penuh harap. Menyadari bahwa teman-temannya sedang bergantung kepadanya, Rey pun mulai melakukan aksinya. Dia berjalan mengambil tambang dan tangga kayu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. "Ayo kita keluar dari sini!" ajak Rey seraya menatap teman-temannya dengan serius.
"Bagaimana caranya?!" tanya Ryuji meminta penjelasan.
Laki-laki bermarga Tachibana ini mendongak dan menatap atap gudang. "Haaahh!" Dia membuat sebuah lubang berukuran sedang di atap. "Kita bisa naik lewat sini. Ayo cepat! Sebelum zombie-zombie itu masuk ke dalam!" suruh Rey sembari memposisikan tangga kayu itu agar sesuai dengan lubangnya.
Saat merasa bahwa tangga sudah pas, Rey pun meminta teman-temannya untuk naik satu per satu. Dimulai dari Ryuji, kemudian Rin, dan lalu Ai. Ketika semua telah naik dengan selamat, barulah Rey memanjat keluar.
"Raaaarrr ...." Sialnya, zombie-zombie hijau dan mengerikan tadi telah berhasil memasuki gudang. Sontak Rey dan kawan-kawan pun terkejut dengan hal tersebut. Saking terkejutnya, sampai-sampai Rey terjatuh dari tangga dan tergeletak tak berdaya di tanah.
Bruk!
"Awwwh ...." Rey merintih kesakitan seraya memegangi kakinya. "Ah sial, sepertinya kakiku patah."
"Rey!" teriak Ai terkejut. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam lubang atap tadi. Ai berniat untuk menyelamatkan Rey.
"Jangan! Kamu tidak boleh turun dari sana. Cepat pergi, dan lenyapkan Reina!" perintah Rey mengisyaratkan Ai agar tidak perlu membantunya.
"Tidak! Aku tak akan bisa membiarkanmu sendirian!" bantah Ai tegas.
Setelah mendengar ucapan Ai tadi, Rey langsung terdiam seketika. Tak lama setelahnya, sebuah senyuman sendu terbentuk di wajah Rey. "Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku, Ai. Tapi, percayalah, aku akan baik-baik saja," ungkap Rey tulus.
Tak terasa bulir-bulir air mata mulai mengalir dari sudut mata Ai. Dia tahu bahwa dia pasti akan kehilangan sahabat paling berharhanya itu. "Ai, ayo!" ajak Rin lembut.
"Ba-baiklah." Ai berjalan bersama Rin dan Ryuji.
Sementara itu, terdengar suara teriakan seseorang dari dalam gudang. "Aaarghh ...." Rey terdengar sangat kesakitan. Ai hanya bisa menahan kesedihannya.
'Maaf karena tidak bisa membantumu, Rey,' batin Ai.
Ryuji memantau keadaan di bawah yang terlihat masih tidak baik. Zombie-zombie itu masih mengepung gudang tanpa ada celah sedikitpun.
"Tck, sial. Kita tidak bisa lewat, bagaimana ini?" tanya Ryuji panik. Ai semakin menguatkan pelukannya kepada Rin.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus bisa mengalihkan perhatiannya," ucap Rin yakin.
"Aku juga akan ikut!" kekeh Ryuji.
"Tidak! Jangan! Aku tak ingin kalian bernasib sama seperti Rey," cegah Ai. Dia memperingatkan teman-temannya agar tidak bertindak nekat karena takut akan bernasib sama seperti Rey.
"Jangan khawatir. Aku dan Ryuji ini sudah mengenal jalanan Kota Tokyo dengan baik!" ujar Rin meyakinkan sahabatnya itu.
"Benar. Kami akan serahkan masalah Reina kepadamu. Kami yakin, kau pasti bisa mengalahkannya." Ryuji menunjukan jempolnya.
Ai kembali terdiam. "Yosssh ... ayo kita alihkan zombie-zombie jelek ini." Rin melepaskan pelukannya dan berdiri. Sama halnya dengan Rin, Ryuji juga mengubah posisinya menjadi berdiri lagi. Sementara Ai masih terduduk lesu.
"Kami serahkan nasib kota ini kepadamu, Ai!" ucap Rin dan Ryuji kemudian melompat turun dari atap bangunan yang tingginya kira-kira mencapai empat meter itu.
Bruk!
Rin dan Ryuji berhasil mendarat di bawah dengan selamat. "Hei, zombie jelek! Ayo kejar kami kalau bisa!" ejek Rin sambil menunjukan wajah jelek.
"Raaaarr ...." Ternyata, cara itu berhasil menarik perhatian seluruh zombie.
Saat zombie-zombie mulai mendekat, barulah Rin dan Ryuji berlari secepat-cepatnya. Ketika melihat bahwa zombie sudah menjauh dari gudang, Ai pun bergegas melompat turun.
Brukk ...
Sayangnya, Ai tidak terlalu mahir dalam mendarat. Alhasil, dia mengalami luka lecet di bagian tangannya. "Awhh ... sakit ...." Ai memegangi bagian tangannya yang terluka.
"Heeeh ... apa kau ingin merasakan luka yang lebih sakit?" Seseorang menyahut dari kejauhan.
Jelas, hal itu membuat Ai gemetar ketakutan. "Si-siapa itu?!" Ai berdiri dan memasang kuda-kuda bertahan. Dari balik kegelapan, muncul seorang gadis dengan model rambut dikepang dua.
"Hah? Re-Reina?!" Ai terkejut bukan kepalang saat mengetahui bahwa dia adalah ... Reina.
"Yah, aku adalah Reina. Seperti dugaanku, kalian telah merencanakan sesuatu agar bisa melenyapkanku bukan? Cih, tapi sepertinya kalian akan gagal," ujar Reina sambil tersenyum sinis.
Ai mengernyitkan kening. "A-apa maksudmu?!" tanya Ai bingung.
Reina menghilang dari pandangan Ai dan tiba-tiba muncul di belakang. "Yah, seperti yang kau tahu, teman-temanmu telah tewas dimakan zombie. Sekarang, manusia yang tersisa di kota ini adalah kau!" kata Reina puas. "Tapi, aku tak ingin melihatmu tewas begitu saja. Lebih baik aku membunuhmu secara perlahan saja," ucap Reina.
"Heaaarghhh." Reina berubah menjadi seekor zombie mengerikan.
Ai menyeringai kesal. "Kau tak akan bisa membunuhku! Akulah yang akan melenyapkanmu!" Ai mengambil sebuah pisau kecil dari sakunya. "Haaarghhhh!" Dia berlari secepat kilat menghampiri Reina.
Sleb!
Ai berhasil menikam perut hijau Reina, sehingga mengeluarkan cairan kental berwarna hitam. "Aku berhasil!" ucap Ai antusias. Namun, ternyata, itu semua tidak sesuai dengan apa yang Ai bayangkan.
"Tck, ternyata kau ingin mati lebih cepat, ya? Padahal, aku ingin mengobrol denganmu sebentar tadi." Reina melanjutkan, "baiklah, terima racun ini ...," Reina menancapkan jarinya di leher Ai.
"Aarghhhhhh ...." Ai berteriak kesakitan.
Sesaat setelah Reina menyabut jarinya, perlahan leher Ai mulai terlihat menghijau. Dia merasa seperti ada seseorang yang menarik lehernya. Ai membuka mulut, tetapi, tidak mengucapkan sepatah katapun. Pandangannya pun mulai kabut. Reina berjalan mendekati Ai.
"Selamat tidur untuk selamanya, Ai hahaha ....!"
Wajah jahat Reina adalah sesuatu yang dilihat oleh Ai terakhir kalinya. Gadis itu menghembuskan napas terakhirnya dengan kondisi badan berwarna separuh hijau.
---
-Epilog-
"Hei, bagaimana game VR buatanku itu? Bagus bukan?" tanya seorang gadis imut dan kawaii seraya memakan camilan.
Rin tersenyum senang. "Waahh ... game buatanmu sangat menyenangkan, Miku. Aku benar-benar merasa seperti sedang berada di dunia zombie!" puji Rin mengapresiasi kerja bagus Miku.
"Aku setuju dengan Rin!" sahut Ryuji.
"Aku juga!" timpal Ai.
Semua mengapresiasi pekerjaan Miku, tetapi tidak dengan Rey. Dia hanya diam saja sedaritadi.
"Bagaimana menurutmu, Rey?" tanya Miku terlihat sangat penasaran.
"A-ah. Menurutku, game buatanmu ini sangat menarik. Game yang menghubungkan pikiran manusia dengan dunia virtual, sangat hebat. Mungkin, kedepannya, kamu bisa meningkatkan fitur dari game ini lagi. Contohnya, buat para pemain bisa bergerak dan berbicara leluasa tanpa terikat cerita buatanmu. Tadi, saat aku jatuh, aku ingin naik lagi. Ternyata, tidak bisa," saran Rey panjang dan lebar.
"Satu lagi. Tolong hilangkan hubungan akrab Rin dan Ai di game. Maksudku, bukankah aneh jika perempuan memeluk perempuan seperti itu?" tanya Rey yang menjurus ke arah cemburu.
"Tidak tidak. Ai memang milikku. Dia adalah sahabat yang sangat aku cintai. Benar, 'kan, Ai?" Rin memeluk Ai erat.
"Ri-Rin?" Ai keheranan.
"Rin! Jangan memeluk Ai seperti itu! Hei, lepaskan!" Rey berusaha menjauhkan Rin dari Ai.
"Tidak, Ai itu milikku!" kekeh Rin..
"Jika Ai milikmu, lalu aku milik siapa?" tanya Ryuji seraya menatap Rey.
Mereka berdua terdiam sesaat. "Eh tidak tidak. Ryuji, aku peringatkan kamu jangan aneh-aneh!" Rey bersikap was-was karena merasa bahwa hal aneh akan terjadi.
"Rey-kunnnnnnn!" ucap Ryuji manja dan berlari ke arah Rey.
"Hei, jangan begitu!" Rey berlari menjauh dari Ryuji. Akhirnya, terjadi aksi kejar-kejaran antara mereka berdua.
"Hahh ... padahal aku memanggil mereka hanya untuk menguji game zombie baruku. Kenapa malah menjadi seperti ini, sih? Hah ...," batin Miku kesal.
Yah, begitulah, Miku yang berniat menguji game zombie buatannya malah berubah menjadi suasana mengerikan. Mengerikan dalam artian yang berbeda maksudnya.
-Tamat-