Artez cepat-cepat membalut luka di lengannya dengan kain seadanya. Kemudian bersembunyi di dalam tumpukan daun kering. Terdapat sedikit celah bagi matanya untuk mengintip keluar.
Pandangannya menangkap sosok monster berdiri diantara pepohonan. Berjalan perlahan sambil mengendus sekitar. Jantungnya berdegup kencang, kecemasan mengiringinya. Dalam hatinya dia berharap monster tersebut tak mencium aroma darah dari lukanya.
'Srak!'
Sebuah suara mengalihkan perhatian monster itu dan akhirnya pergi mencari sumber suara tersebut. Mata Artez melirik mengikuti arah monster itu pergi. 'Haahh~' dia menghela napas lega. Artez keluar dari persembunyiannya sambil mengamati sekeliling, tetap waspada.
Kini dia tersesat di dalam hutan. Artez berniat mencari sahabatnya, Shapire. Ia melangkah dengan hati-hati. Tidak membuat suara sedikitpun. "Sepertinya monster itu juga punya pendengaran yang tajam," pikirnya.
Beberapa menit yang lalu....
Artez dan Shapire menaiki mobil menyusuri tepi hutan. Mereka adalah pemburu monster. Namun tak terduga seekor monster malah tiba-tiba keluar dari hutan dan menyerang. Mobil mereka berguling hingga masuk kedalam hutan lembah terlarang. Sarang monster yang mereka buru.
Sial, Artez terpental keluar dari mobil. Monster itu mengejarnya, membuat Artez terpaksa berlari ke dalam hutan dan meninggalkan Shapire yang pingsan di dalam mobil.
• • •
Artez sedang mencoba mencari jalan yang ia lalui sebelumnya. Dia tak berteriak memanggil Shapire begitu berpikir monster itu memiliki pendengaran yang tajam. Berteriak sama saja dengan memanggil monster itu.
Tak lama ia melihat asap membubung ke langit. Ia berlari menghampiri asap tersebut. Benar saja, itu adalah mobil yang ia kendarai bersama Shapire.
"Shapire?!" Mata Artez membulat sempurna ketika melihat ke dalam mobil. Ia menoleh kiri kanan. Tak ada siapa-siapa, seolah sahabatnya hilang ditelan bumi. "Shapire? Kau dimana?!" Tanyanya berharap Shapire menjawabnya. Nihil, hanya ada deru angin malam yang berhembus semakin kencang.
Artez mengambil barang-barang yang sekiranya dapat membantunya untuk bertahan hidup. Meskipun jalan keluar cukup dekat, tapi dia tak mau meninggalkan Shapire begitu saja. Ia ingin menemukan sahabatnya dan juga menyelesaikan misinya.
'Arrrgghhhh!' Auman mengerikan mengagetkan Artez. "Monster itu pasti tak jauh dari sini." Gumamnya sambil menyiapkan pistol di tangannya.
Kemudian seseorang keluar dari dalam kegelapan hutan. "Shapire?!" Sekali lagi matanya membulat sempurna. "Artez kesana!" Teriak Shapire sambil menunjuk ke arah kirinya. Tanpa basa-basi Artez ikut berlari bersama Shapire.
Kemudian monster itu menyusul. "Arrrgh..!" Berlari dengan kaki dan tangan yang panjang mengejar Artez dan Shapire. Cakar tajamnya membuat jejak aneh di tanah. Shapire mengajak Artez bersembunyi di antara semak-semak.
"Tahan napas mu, jangan bersuara." Kata Shapire. Monster tersebut nampak kehilangan jejak mereka. Artez sesaat seperti mengalami serangan jantung ketika monster itu menatapnya dengan mata merah menyala. Mengeram, memperlihatkan gigi-gigi panjang yang runcing.
"Ini kesempatan kita, ada gua disana." Bisik Shapire sambil melirik kebelakang. Artez pun mengangguk. Diam-diam mereka berjalan menuju gua saat monster itu membelakangi mereka.
'Krek!"
Tak sengaja Shapire menginjak ranting kayu. Seketika monster itu berbalik. Begitu juga Artez dan Shapire segera masuk ke dalam gua.
Nampaknya dengan jurus langkah seribu, mereka berhasil menyelamatkan diri. Monster itu masih mencari keberadaan Artez dan Shapire dengan mengendus-endus.
• • •
"Shapire, kau tadi dimana? Ku kira kau sudah dimakan monster." Tanya Artez.
'Pfft,' Shapire menahan tawa. "Bagaimana mana bisa kau mrngira aku jadi makanan monster itu?"
"Entah, aku panik ketika aku sampai di mobil kau sudah tidak ada."
Shapire tiba-tiba saja menyeringai. Artez mengernyitkan dahi. "Mungkin jawaban ku tadi lucu." Pikir Artez lalu tersenyum tipis.
"Artez, sebenarnya aku senang bisa berteman dengan mu."
"Kenapa?" Tanya Artez menanggapi kata-kata Shapire yang seperti sebuah kata-kata perpisahan.
"Karena, kau bodoh." Lagi-lagi mata Artez membulat, kali ini begitu sempurna. Ia berjalan dua langkah kebelakang. Kini yang di hadapannya bukan sahabatnya lagi, tapi seekor monster. Lebih tepatnya, Shapire adalah monster yang menyamar menjadi manusia.
"Kau salah. Bukan aku yang dimakan monster, tapi akulah monsternya." Kata Shapire dengan senyum mengerikan. Air liurnya menetes dari ujung-ujung taring tajamnya. Kemudian menyerang Artez dengan seperti binatang buas yang kelaparan.
Artez pun lari, menerobos satu lagi monster yang menunggu di depan mulut gua. Dua monster mengejarnya, kini tujuannya hanyalah hidup, hidup dan hidup. Dia melepaskan satu tembakan, dan mengenai bahu kiri salah satu monster. Entah itu Shapire atau bukan, mereka tampak sama. Melihat monster yang tertembak mengeram kesakitan, Artez kembali menembakkan sejumlah peluru lagi.
Satu monster berhasil Artez buat terkulai lemas setelah pelurunya mengenai kepala monster itu. Napasnya mulai tersengal-sengal karena lelah. Pelurunya juga hanya tersisa tiga butir ketika merogoh saku.
"Akh!!!"
Tiba-tiba tebasan kuat menghantamnya. Cakaran besar mengoyak dadanya. Artez yang tersungkur lemah mengerang kesakitan, "argh..."
"Artez, daging mu sepertinya lezat." Kata monster yang perlahan mendekatinya. "Shapire...maafkan aku," gumam Artez diam-diam mengisikan peluru kedalam pistolnya.
'Dor! Dor! Dor!'
Tiga peluru terakhir itu berturut-turut mengenai kepala monster itu, dan seketika dia terjatuh ke tanah. Artez bernapas lega. Tak lama kemudian suara deru dari baling-baling helikopter terdengar. Teman-temannya sesama pemburu monster datang.
"Artez, kau tidak apa-apa? Dimana Shapire?" Tanya Jeff ketika akan menandu Artez. Artez memalingkan wajahnya, menatap kedua mayat monster.
"Aku, aku membunuhnya. Dia adalah monster." Jawab Artez lirih. Jeff terdiam, tak mau berkomentar. Dia hanya meneruskan menandu Artez naik ke helikopter dan membawanya pergi dari hutan lembah terlarang.
×××TAMAT×××