Berada jauh darimu membuat hatiku merindu. Namun berada dekat denganmu juga tak membuatku cukup. Justru ketika aku ingin merengkuhmu, sesuatu yang besar menghalangi tubuh kita untuk bertemu.
Kasih ... Aku mencintaimu. Dulu. Hari ini. Dan sepanjang waktu.
🖤🖤🖤
"Andika! Dengarkan Mama! Calista itu gadis yang baik! Mama yakin kamu akan bahagia jika kalian menikah nanti!"
Mama terus menyerukan hal yang sama sejak kami tiba di rumah beberapa menit lalu. Aku pun terus mengelak dari pembicaraan Mama yang selalu menjurus ke perjodohan yang telah direncakannya.
"Ma ... Mama tahu Andika gak bisa menikahi gadis lain! Andika cuma cinta sama Vanilla, Ma!" pekikku untuk yang kesekian kalinya.
"Kamu dan Vanilla gak berjodoh, Nak! Kamu gak bisa memaksa dia untuk kembali bersamamu. Biarkan dia bahagia, Nak! Dia—"
"Mama, SUDAH!" Aku memotong ucapan Mama. Aku hanya tidak mau ibuku sendiri menjelek-jelekkan gadis yang sangat aku cintai. "Ma, kali ini aja ... Tolong biarkan Andika memutuskan jalan hidup Andika," pintaku parau.
"Andika ...," panggil Mama namun tak kuhiraukan.
Aku tidak peduli jika ada ada yang mengataiku cengeng atau banci sekalipun hanya karena aku menangisi gadis yang sangat aku cintai. Bagaimanapun mereka tidak tahu apa yang pernah kami lalui bersama sejak perubahan fisik dan mental mulai terlihat di tubuh kami. Mereka juga tak mampu memahami apa yang sedang dirasakan oleh hati terdalamku saat ini.
Aku meninggalkan Mama menuju kamarku dan menutup pintunya rapat. Tak kubiarkan siapapun menggangguku sampai Mama bisa mengerti apa yang anak satu-satunya ini inginkan.
Dan entah sejak kapan aku mulai memejamkan mata. Setelahnya aku merasa jika diriku sudah melanglang-buana begitu jauh ke dalam mimpiku.
🖤
"Apa ini, Van?" Aku membolak-balik kertas berwarna merah serupa undangan yang diberikan Vanilla. "Undangan? Siapa yang mau nikah?"
"Maafkan aku, Andika! Aku gak ada maksud untuk mengkhianatimu. Tapi keputusan Ayah dan Ibu tidak bisa diganggu gugat. Aku harus menikah dengan laki-laki itu."
"Kenapa kamu tega sama aku, Van?! Aku sangat mencintaimu!"
"Aku juga sangat mencintaimu, Andika. Tapi takdir Tuhan gak membiarkan kita bersama," ucap Vanilla bersamaan dengan setetes air yang jatuh dari matanya.
"Gak, Van! Kamu gak bisa seperti ini!" protesku kala itu.
"Maaf, maaf, dan maaf ... Aku harap kamu bisa memaafkanku, Andika. Dan tolong, meskipun kita gak bisa bersama nanti, jangan biarkan masa lalu kita membuatmu ragu untuk melangkah ke depan. Kamu harus lanjutkan hidupmu dan berbahagia. Bisa, kan, Sayang?" Pertanyaannya seolah menusukkan belati tajam tepat di jantung kami masing-masing. Karena aku tahu jika dia pun sama terlukanya denganku kala mengatakan hal itu.
"Van, jangan pergi! Van, please! VAN—"
🖤
"VANILLA!?"
Aku terjaga secara tiba-tiba dari tidurku. Bulir keringat menetes deras dari keningku. Jantung yang berdegup kencang membuatku sadar jika yang terjadi barusan hanyalah sebuah mimpi belaka.
Tapi mimpi itu nyata dan benar-benar terjadi beberapa tahun lalu. Kejadian tak terlupakan yang membuatku terpaksa berpisah dengan gadis pujaanku yang sekarang pasti sudah menjelma jadi bidadari paling cantik.
Beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka, aku berniat mendatangi sosok yang baru saja hadir ke dalam mimpiku. Aku ingin meminta kejelasan mengapa ia kembali setelah meninggalkanku dengan begitu keji.
Kuraih kunci mobil diatas meja nakas lalu bergegas keluar dari kamar. Tanpa menghiraukan panggilan Mama dari depan pintu kamarnya, aku terus berjalan cepat menuruni tangga hingga ke garasi.
Kulajukan Rubicon putih-ku membelah jalanan kota yang padat di siang hari ini. Menginjak pedal gas lebih dalam agar segera sampai di rumah gadisku sejak ia memiliki takdirnya sendiri. Aku bersumpah bahwa aku sudah sangat merindukannya. Dan ingin segera melihat wajah cantiknya meski dari jauh sekalipun.
Setelah sampai di depan beberapa rumah sederhana, aku menghentikan laju mobilku. Kubuka pintu mobil dan berjalan perlahan menuju rumah gadis pujaanku yang berada beberapa meter di depan sana.
Nampak paras cantik Vanilla yang tak pernah membuatku bosan untuk terus melihatnya.
Beruntung tak ada siapapun selain kami berdua di tempat ini. Aku pun memberanikan diri untuk mendekatinya dan memeluk tubuhnya yang menyejukkanku. Kuhujami ia dengan banyak kecupan. Dia hanya diam, seolah membiarkanku untuk menyalurkan semua kerinduanku padanya.
"Apa kabar, Sayang?" kataku mengawali pembicaraan. Meski dia hanya diam tak membalas sapaanku. Beruntung berkat ikatan kami yang sudah begitu kuat, aku dapat merasakan senyuman di balik tubuhnya.
"Aku kangen sama kamu, Van ... Kangen banget. Kalau kamu?" tanyaku. Masih tak mendapat balasan apapun dari gadis pujaanku ini.
Dingin. Satu kata yang menggambarkan suasana ketika aku memeluk gadisku. Tak ada suara bising selain sapuan angin pada daun-daun kering yang terus berjatuhan. Membuatku teringat kejadian masa lalu, dimana aku dan gadisku sering berbarengan menyapu halaman rumah kami masing-masing tiap sore hanya agar kami diizinkan untuk bermain bersama.
Tapi masa itu sudah lama berlalu. Kami sudah lama pindah rumah sejak keputusan itu diambil oleh keluarga Vanilla. Kini yang tinggal hanya kenangan bersama bayangannya di dalam hatiku.
"Maaf, aku baru berani berada dekat denganmu sekarang. Sejak kamu memilih meninggalkanku, aku hanya berani menatapmu dari kejauhan," lirihku menghalau isakan.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku, 'kan? Itu sebabnya aku juga menjaga hati agar tak berpaling darimu," kataku lagi.
Aku terpaku dengan perasaan rindu yang bersarang di hatiku. Rasa-rasanya aku lebih memilih untuk mengakhiri hidup daripada harus berada dekat dengan gadis pujaanku namun tak punya hak untuk memilikinya.
"Kamu tahu, sayang? Aku menolak perjodohan yang Mama buat. Aku gak mau kamu merasa jika namamu di hati ini akan tergantikan. Hanya kamu, Sayang. Dan tetap seperti itu...,"
"...meskipun kamu gak ditakdirkan untuk menjadi milikku."
"Sayang ... Sampai saat ini aku gak habis pikir, kenapa kamu memilih mengakhiri hidup daripada menikah dengan pria itu...,"
Masih segar dalam ingatanku kala Tante Maya, Mamanya Vanilla memohon padaku untuk mengikutinya. Kala itu, nyawaku seolah dipaksa untuk keluar dari tubuh ini tatkala melihat Vanilla berbaring di ruang ICU dengan banyak alat penunjang kehidupan tertempel di tubuhnya.
Dan di saat itulah, saat terakhir aku melihat paras cantik kekasihku di dunia ini.
Aku mencoba untuk bangkit dan menatap satu nama yang terukir di atas batu marmer hitam. Kusapu debu-debu yang menutupi rangkaian huruf itu hingga bersih. Penglihatanku mengabur dengan embun yang menggenang di pelupuk mata.
"Aku mencintaimu, Sayang!"
Aku masih ingin berlama-lama di depan makam kekasihku. Namun, seruan seseorang di belakangku membuatku terpaksa bangkit dan menghadapnya.
"Maaf, Pak! Sebentar lagi maghrib, ndak baik berlama-lama di makam. Arwah disini juga butuh istirahat, Pak," interupsi seorang pria baya yang bertugas membersihkan rumah peristirahatan terakhir itu.
Tanpa kata, aku berjalan menjauhi gundukan tanah bertuliskan nama "Vanilla Nariswari". Sampai di dalam mobil pun, aku tak bisa melupakan pertemuan pertama kami setelah beberapa tahun berlalu.
Tuhan, aku sangat merindukannya!
🖤
"Apa ini, Tante?"
Saat sampai di rumah, aku justru dikejutkan dengan kedatangan Tante Maya yang menangis di pelukan Mamaku. Beliau menyerahkan sebuah buku yang asing di ingatanku.
"Su-surat dari Vanilla untuk kamu," jawab Tante Maya.
Aku bergegas membuka lembar demi lembar buku itu dan menemukan banyak tulisan di dalamnya. Sampai pada halaman terakhir, hari dimana pernikahan Vanilla dan suaminya sudah genap satu tahun.
Air mata yang belum sepenuhnya kering pun kembali mengalir dengan derasnya setelah selesai membaca tulisan itu. Tulisan yang ternyata ditujukan untukku. Dan aku baru membacanya setelah lima tahun Vanilla meninggalkanku untuk selama-lamanya.
"Aku cinta kamu, Vanilla! Maafkan aku karena gak bisa menjaga kamu waktu itu."
"Maafkan Tante, Andika," isak Tante Maya penuh penyesalan.
🖤
Teruntuk kesayanganku, Andika...
Aku minta maaf karena keputusan ini aku ambil tanpa bicara denganmu.
Tapi, sayang ... Aku gak mampu lagi hidup dalam pernikahan bersama laki-laki yang bukan kamu.
Dia kasar, Sayang! Dia gak memperlakukanku seperti caramu mencintaiku. Aku selalu mendapat perlakuan buruk. Bahkan sekarang aku udah gak cantik karena rambutku udah dibakar olehnya semalam.
Aku takut, Andika. Tapi mengadu dan meminta bantuan kepadamu aku lebih takut. Aku gak mau dia melukaimu hanya karena dendamnya pada keluargaku.
Andika, sayangku ...
Jika suatu saat Tante Sari mau kamu menikah dengan gadis lain, turutilah! Jangan menjadikanku halangan untukmu bahagia.
Aku mencintaimu, Sayang!