Di sebuah kampus terdapat kegiatan KKN, yang dimana kegiatan tersebut salah satu penunjang kelulusan setiap mahasiswa dan mahasiswinya. Di dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dan mahasiswinya di haruskan untuk bersosialisasi dengan masyarakat secara langsung dan kami pun, akhirnya di bagi beberapa kelompok.
Perkenalkan namaku ariana mahasiswi tingkat akhir, aku di tugaskan untuk memulai kegiatan KKN di sebuah desa terpencil, yang letaknya sangat jauh dari perkotaan sebut saja desa leuweung. Kegiatan tersebut bukan hanya aku tapi beberapa teman yang baru aku kenal mereka bernama Liana, Andre, Suci, Agus, Nurul dan Dino.
Di sore hari, kami semua langsung menuju tempat tersebut dengan mengendarai mobil yang di supiri oleh Andre, namun di perjalanan kami mendapati hal aneh yaitu tiba-tiba mobil yang kita kendarai seperti menabrak sesuatu.
“Bruuuukk” suara ban mobil yang menabrak benda tersebut.
Andre pun seketika mengerem mobilnya dengan tiba-tiba, yang mengakibatkan aku dan lainnya kaget serta kepalaku yang terbentur oleh kursi depan.
“auuuw sakitnya” lirihku dengan memegang kepala karena benturan.
“Ndre?! ada apa? kenapa tiba-tiba berhenti?!” tanya Dino.
“Kamu tidak apa-apa Ariana?!” tanya Nurul yang khawatir terhadapku.
“Aku tidak apa-apa hanya sedikit sakit” ucapku.
Andre pun tidak menjawab pertanyaan dari dino, namun ia pun segera turun dari mobilnya.
“gaes?! Kalian tunggu sebentar ya! aku akan mengecek sesuatu!” ucap Andre.
Aku beserta teman-teman pun mengiyakan ucapan Andre dan Andre pun langsung keluar dan kemudian mengeceknya.
“Uh! ternyata tidak ada apapun disini! hanya batu yang aku tabrak!” ujar Andre kesal dengan melihat bawah ban mobilnya.
Ketika Andre telah melihat, tidak ada apapun di bawah ban mobilnya, ia langsung kembali masuk ke mobilnya.
“Ndre? tadi ada apa? kok lo tiba-tiba ngerem mobil gitu sih! buat kita jantungan dan apalagi tuh jidat ariana benjol kayak gitu!” ujar Suci.
“Eum? maaf ya gaes! tadi gue menabrak sesuatu” ucap Andre.
“Terus gimana hasilnya?!” tanya Dino penasaran.
“Tadi gue cek sih ga ada apapun!” ucap Andre.
“Oh mungkin lo kecapean kali! jadi halusinasi! sini biar gue aja yang gantian bawa mobil!” ujar Dino.
“iya kali yah! ya udah deh lu aja! padahal sebentar lagi kita nyampe!” ucap Andre.
“Udah ga apa-apa dari pada lo nanti mati kecapean!” sahut dino yang menggodanya.
“Husstt! ngomongnya jangan sefrontal itu dong! ini kan bukan tempat kita! apalagi ini mau maghrib!” tutur Nurul.
“Ah lu kayak gitu aja parno lu! dah sini gue yang nyetir! ujar Dino.
Akhirnya dino pun menggantikan andre membawa mobil, tidak lama mereka pun sampai di rumah kepala desa dan berniat untuk meminta izin dalam kegiatan KKN tersebut. namun setelah mereka sampai mereka merasakan suasana yang berbeda, yaitu hawanya yang begitu mencengkam dan dingin.
Mereka pun semuanya turun dari mobil dan mulai berbincang kepada kepala desa tersebut.
“Permisi pak?! kami meminta izin untuk tinggal selama 3 minggu untuk melakukan kegiatan KKN disini pak!” ujar Andre.
“Oh iya nak silahkan! tapi disini memiliki peraturan yang tidak boleh di langgar!” ucap kepala desa tersebut.
“kira-kira apa ya pak?!” tanya Nurul.
“Kalian disini tidak boleh sembrono dan melakukan hal macam-macam! serta ketika waktu menunjukkan mau maghrib jangan lah keluar!” tegas kepala desa tersebut.
“memang kenapa pak?! kami tidak boleh keluar pada waktu mau maghrib!” tanya aku penasaran.
“Karena disini adat masih kental akan roh-roh! jadi kalian harus baik-baik disini dan jangan bertanya apapun lagi!” ujar kepala desa tersebut.
“Eeum baiklah pak!” sahut Nurul.
Mereka pun selesai untuk meminta izin dari kepala desa tersebut dan kepala desa tersebut mengantar aku dan teman-temanku ke sebuah rumah gubug yang akan di tempati oleh kami bertujuh.
Seketika itu waktu mulai larut kami semua bersiap-siap untuk tidur namun keadaannya, liana tidak berbicara sedikit pun dari tadi, ketika aku menyadarinya aku pun heran melihatnya seperti itu. Aku tanpa ragu menanyakan keadaannya.
“Liana?! lu dari tadi diem aja! lu ga apa-apa kan?!” tanya aku.
“Aku tidak apa-apa” ucap Liana datar.
“Ya sudah mari kita tidur!” ujar aku.
Aku dan Liana pun akhirnya tidur karna semua orang sudah tidur sedangkan aku dan liana baru saja akan tidur, ketika aku tidur aku bermimpi aneh. Di dalam mimpiku aku tersesat di sebuah hutan yang kondisinya sangat mencengkram, dingin dan bau amis yang selalu tercium di hidungku.
Disana aku dikejar-kejar oleh seorang wanita berjubah putih tanpa aku sadari bahwa wanita itu tanpa kepala, yang paling mengejutkan bahwa kepala wanita itu ia seret dengan tangannya. Bau amis kini mengelilingiku dan tidak di sangka aku bertemu dengan banyaknya mayat hidup, kini mereka semua mengejarku sehingga aku pun tak kuat untuk berlari, nafas ku naik turun sampai aku baru menyadari kepalaku di seret oleh kakek-kakek yang kehilangan kakinya dan aku di lempar sampai aku terbentur oleh batu besar.
Darahku kini bercucuran dan disana aku hanya bisa meminta tolong kepada tuhan agar seseorang menyelamatkanku. Tidak lama Nurul pun membangunkanku dari mimpiku.
“Ariana! bangun rin! kamu kenapa?!” ujar Nurul yang terus membangunkanku dengan cemas.
“tidaaakk!” teriak aku dan bangun dari mimpiku dengan keringat yang bercucuran.
“kamu kenapa rin?!” tanya nurul yang langsung memelukku.
“ee.. e.. gue mimpi buruk rul!” jawab aku.
“Mungkin kamu tidur tidak baca doa! ya sudah mari bangun ini sudah pagi!” ucap Nurul.
Pagi pun sudah tiba, aku dan teman-temanku bergegas untuk memulai kegiatan dengan membantu masyarakat desa diperkebunan dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Aku dan teman-teman pun sampai di sebuah perkebunan di desa tersebut dan kami mulai menyapa, bertanya kepada mereka namun seperti sikap kepala desa yang datar serta dingin.
Aku mulai menyadari bahwa ini semua aneh namun aku tidak menggubrisnya dengan serius, lagi-lagi liana hanya terdiam dan matanya yang menunjukkan tatapan kosong, sampai suci pun mengagetkan liana.
“Oyy! li?! lu kenapa diem aja sih dari tadi?!” tanya suci yang mengagetkannya.
“Aku hanya melihat-lihat saja” ucap liana datar.
“Ayo-ayo! kita bantu paman dan bibi-bibi ini! dan jangan sampai kalian menemukan kepala tengkorak ya! hahaha” ujar dino dengan bercandaannya.
“Dinooo!” teriak nurul marah.
“Heheeh maaf-maaf! hanya bercanda kok! kalian jangan takut gitu napa!” ujar dino.
“Dasar ya lu no! bikin cewek-cewek pada parno aja!” ucap agus.
“Sudah-sudah jangan pada ribut! cepet diselesain lebih baik! buru nanti kemaleman!” ujar andre.
Mereka pun menyelesaikan pekerjaan mereka, hingga waktunya selesai mereka kembali ke penginapan mereka. Waktu menunjukkan mau maghrib yang lain siap-siap untuk mandi dan selesai mereka semua mandi, tiba-tiba suci menanyakan liana karena catatan hasil dari sosialisasi bersama warga, berada di liana dan suci bermaksud untuk mengambilnya.
Ketika suci mencari liana, dia tidak ada di kamarnya sehingga semua orang pun panik mencarinya.
“Eh rin! lu tau liana gak?!” tanya suci.
“Tadi pas gue tinggal di kamar mandi sih dia ada di kamar bareng Nurul!” ucap aku.
Nurul pun mendekati kami yang baru keluar dari dapur.
“Eh rul! lu tau liana gak?! tanya suci.
“Aku baru dari dapur! tadi sih emang dia di kamar bareng gue cuma gue bikin nasi goreng bentaran” ucap nurul dengan membawa nasi gorengnya.
“Tapi di kamar dia kagak ada sama sekali!” ujar suci.
“Coba kita cari dulu!” ucap aku.
Kami pun mencarinya bersama dan sampai ketika kami memergoki dia sedang duduk sendirian di luar teras.
“Li?! kamu sedang apa disini! sejak kapan kamu disini?!” tanya aku heran.
“Sejak mau maghrib dan aku tadi habis berbincang dengan adik kecil!” tutur liana datar dan dingin.
“Ya ampun li! kami khawatir dengan mu! ayo kita masuk!” sahut suci.
Aku dan teman-temanku akhirnya masuk kedalam rumah sampai suci menanyakan hasil catatan observasi hasil sosialisasi bersama warga tadi siang dan seperti biasanya liana hanya menjawab datar. Liana juga bilang bahwa buku tersebut ada di tasnya suci bisa mengambilnya sendiri dan ia pun langsung tidur namun ketika suci mengambilnya sendiri tidak disangka bahwa ia menemukan gumpalan rambut berbau amis dan spontan suci pun teriak.
“Aaaaaaaa” teriak suci.
Aku dan Nurul pun menghampiri mereka berdua.
“Lu kenapa?!” tanya aku.
“Ee..ee tadi ada rambut di tas nya liana dan rabut itu berbau amis!” ucap suci yang gemetaran.
“Mana? gak ada sama sekali!” ujar nurul yang langsung mengeceknya.
“lu kayaknya kecapean lebih baik lu tidur aja sekarang!” ucap aku.
Suci pun mengiyakan saranku dan ia langsung ke tempat tidurnya, sedangkan aku dan nurul kembali ke kamar kita dan kami pun berbincang soal keanehan yang terjadi pada liana sampai waktunya kita pun tertidur.
Dua minggu kemudian semenjak kejadian tersebut aku dan teman-temanku tidak di ganggu oleh penunggu-penunggu di tempat tersebut dan kami seperti biasanya menjalankan sosialisasi dengan berjalan lancar.
Pada suatu malam kami menjalankan kegiatan api unggun, yang dimana kegiatan kami berjalan dengan sukses namun dino lagi-lagi dia sembrono dan menceritakan tentang tempat yang mencengkram, sehingga kami pun takut sampai mengakhiri kegiatan malam tersebut karena waktunya sudah mau tengah malam dan kami di haruskan untuk tidur.
Ketika kami semua terlelap suci terbangun dari tidurnya dan menghampiri tempat tidur kami karena saat ia tidur dan membukakan matanya karna haus, ia melihat liana yang sudah tidak ada disampingnya.
“Ariana! Nurul! bangun!” ucap suci yang teriak dengan menggedor-gedor pintu kamar kami.
“Iya ada apa?!” tanya aku yang bangun dan membukakan pintunya.
“Rin! Liana gak ada di kamar!” ucap suci.
“Hah! masa sih?! ini sudah malam liana dia pergi kemana?!” tanya aku.
“Aku ga tau?!” ucap suci yang masih ketakutan.
Kami mencari liana dengan membangunkan cowok-cowok agar ikut mencarinya juga sampai kami menemukan bahwa ariana sedang duduk di bekas kegiatan api unggun dengan seperti berbicara dengan seseorang, sampai akhirnya kami menyuruh liana untuk kembali.
Ketika kami bertanya kenapa dia pergi, lagi-lagi dia hanya menjawab sedang berbicara kepada seseorang namun kini ia sedang berbicara kepada seorang nenek namun kita semua tidak melihat nenek tersebut, dan kami hanya menduga bahwa kami tidak melihatnya karna sudah malam sehingga tidak jelas.
Keesokan harinya kami mendiskusikan atas kejadian tadi malam.
“Oh jadi peristiwa tadi malam bukan hanya terjadi?!” tanya andre.
“Iya ndre makanya kami takut bahwa kejadian ini akan terus terjadi lagi” ucap aku.
“Iya! Aku.. aku ingin pulang! aku sudah gak kuat disini!” ucap suci yang gemetaran.
“Tenanglah” ujar nurul yang menenangkan suci.
“Bagaimana yak? jika kita sudahi sampai disini sayang banget! karna kita hanya butuh waktu satu minggu lagi disini!” sahut dino.
“Iya bener! tapi kalau kalian mau kayak gitu kita harus telefon sama pembimbing kita! dan mau ga mau kita bakal ngulang di semester depan!” ujar agus.
“Gaes! bener kata cewek-cewek lebih baik kita berhenti sampai disini aja! karna dari awal gue udah janggal!” ucap andre.
“Iya pokoknya kita harus pergi dari sini!” tutur suci.
“Oh iya dimana Liana?!” tanya andre.
“Dia katanya kecapean jadi dia tidur! dan memang aku juga dari awal sudah merasakan bahwa ada sesuatu yang salah” ucap aku.
“Baiklah kalau gitu aku akan menelfon dosen pembimbing kita” ujar andre.
Setelah aku dan teman-temanku sepakat, kami pun segera menelefon dosen pembimbing, dengan to the point kami meminta memberhentikan kegiatan KKN di tempat ini dan menjelaskan alasannya secara rinci namun aku dan teman-temanku shock bahwa dosen mengatakan mereka bukan di utus di pedesaan Leuweung namun desa lawang suci.
Mereka serentak pun kaget sehingga tidak percaya dan mereka menanyakan soal mahasiswi yang bernama liana, dosen berkata dia tidak membimbing mahasiswi yang bernama liana hanya berenam yang dia tugaskan. Spontan kami pun kaget sehingga kami bergegas untuk pergi dari pedesaan tersebut.
Sampai waktu malam tiba, kami seperti di putar-putar kan oleh hutan tersebut, sampai akhirnya kami semua sadar bahwa tempat yang kita huni adalah pemakaman dan warga-warga tersebut adalah mayat hidup serta kepala desanya juga. Ketika kami menyadarinya kami di kejar-kejar oleh mereka! Satu persatu kami terpisah sehingga pada waktunya terpencar aku pun sendirian dan aku menyaksikan bahwa teman-temanku satu persatu mati.
Ketika aku sendirian aku melihat sosok wanita seperti di mimpiku, sosok yang mengerikan tanpa kepala dan kepalanya ia seret dengan tangannya. Wanita tersebut aku perhatikan dengan seksama sangat mirip dengan liana dan tidak lama kepalaku terseret oleh kakek-kakek sampai di benturkan ke batu sehingga darahku mulai bercucuran. Aku hanya merasakan sakit yang amat hebat dan aku hanya mendengar bahwa kami harus mati.
Aku hanya bisa berdoa bahwa semoga ada seseorang yang menyelamatkan aku dari kejadian peristiwa ini! Aku sangat takut sampai aku akhirnya mulai pasrah dengan hidupku sampai akhirnya aku disadarkan oleh suara yang merupakan suara tersebut dimiliki oleh Andre.
Andre pun ia luka parah dan teman-teman lainnya membantuku untuk bangun dan mencari mobil yang mereka parkir, sampai kami menemukan mobil tersebut sehingga kami cepat-cepat masuk kedalam mobil dan mengendarainya.
Ternyata kami semua selamat walaupun kami mengalami luka-luka, sampai ada yang masih pingsan dan ternyata bahwa aku melihat teman-temanku semuanya meninggal hanya halusinasi yang di buat oleh hantu-hantu tersebut agar kami terkecoh, beberapa hari kemudian kami pun hidup seperti layaknya orang biasa dan aku mengingat kejadian tersebut bahwa Leuweung itu artinya hutan, selama ini kami hidup di hutan serta makam-makam yang berjejer.