You are my sunshine, my only sunshine~
You make me happy when skies are gray~
Lagu itu terputar otomatis setelah lagu sebelumnya selesai. Kini aku ikut menggerakan bibirku dan menyanyikan lagu ini.
Please don't take my sunshine away~
The other night, dear, as i laid sleeping~
I dreamed i held you in my arms~
aku ingat lirik ini ketika temanku menyanyikan ini saat kami camping semasa smp dulu. Ia yang menyukai christina perri, dan suara lembut yang menghibur telingaku benar-benar terbawa suasana. Seolah-olah--
"HAY!!"
"anjr*t!" serius deh earphoneku langsung jatuh saat menikmati lagu melow trus ada yang memekik gini.
"lo kenapa sih ga tepuk bahu gue pelan aja?" tanyaku yang masih memberengut kesal karnanya. Dia cuman nyengir kuda apa adanya.
"yah maap donk, kamu sih cuman ngechat lagi pake earphone pake hodie item duduk di baris ke 4 deket jendela. Aku manggil kamu ga nanggep, adindah!" terangnya jelas padat tidak singkat.
Aku pun memasangkan earphoneku lagi, dan fokus pada ponsel yang sudah menemani 5 tahun bersama. Dia duduk di sebelahku dan dengan muka penasaran.
"kamu kok cuek sih sekarang? Kita udah lama loh chattan semenjak onlen kemaren. Kamu asik dan pengen sebangku sama aku kalo ntar oflen, sekarang oflen dan kamu cuek sambil main hape gini." aku pun meletakkan hapeku diatas meja dan earphonenya. Aku pun menatap wajah teman real ku yang berteman onlen ini.
"agnes.."
"nama aku zahra." kata-kataku pun terpotong di udara. Sekarang dia balik natap aku tajem.
"zahra sayang, maaf ya aku cuman lagi emosional ngedenger lagu tadi. Trus kamu datangnya ga tepat." aku pun mencubit hidungnya dengan muka datar.
Dia pun memajukan wajahnya yang penuh dengan permak hijau biru di kelopak matanya.
"emang kenapa sama lagunya?"
"..." aku terdiam tapi kalau aku tidak memberitau, si betina ini gak bakalan peka sama apa yang aku lakuin kecuali aku terang-terangan kasih tau. Satu hal yang kutau selama kita temenan onlen.
"lagunya pernah dinyanyiin temen smp aku. waktu aku camping, aku gak bisa tidur kalo ngedenger suara hewan, suara berisik atau apalah kek suara ngedengkur. Tapi aku bisa tidur kalo ngedenger lagu melow, sayangnya hape aku mati dan aku gelisah disitu. Dan darisitu temen aku peluk dari belakang sambil nyanyiin lagu yang aku dengerin itu 'you are my sunshine~christina perri' gitu." aku pun memainkan jariku sembari mengenang itu semua. Terasa indah memang 6 tahun telah berlalu.
"itu kamu emang smp kelas berapa, ver?"
"kelas 8."
"dan kamu beneran tidur itu?"
"yaiyalah, kan aku bilang aku cuman bisa denger lagu melow gitu."
"trus kamu sekarang tidur gimana?"
"yah dari hape aku, atau gak dari ibu. Yah meski agak beda sih, beda rasanya."
"kenapa kamu ga minta vn ke temen kamu aja? Trus jadiin lagu di app musik hape kamu?"
"gak keburu, dia udah pergi."
"pergi?"
"temen aku udah meninggal, nes." kali ini aku melihat teman disebelahku membeku. Dia keliatan gak nyaman sekarang.
"eh sori, gatau temen kamu.."
"santai, udah lama itu kejadiannya." selama itupun kami saling terdiam. Dia langsung mencari hapenya mungkin supaya ga salting. Tapi dia benar-benar salah tingkah dengan cara itu.
Dia pun ga berusaha mengoreksi sebutan namaku padanya. Temanku yang disebelahku sekarang ini zahra. Maklum aku suka lupa nama sama wajah orang karna kelamaan onlen. Kaya sebelum aku masuk tadi, aku tau dia kosma kelasku (semacam ketua murid di sd, smp, sma tapi itu sebutan di kuliah) wajahnya sih Rifki, tapi aku manggilnya Adit. Aku ini pengingat nama orang tapi muka? enggak! Susah nj*r.
It's okay, matkul sekarang udah dimulai dari dosen tambun kami yang bijak aduhai hari ini. Mari setel alat perekam, buku dibuka dan ditegakkan didepanku, lalu aku tertidur dibelakang buku itu.
.
.
✴✴✴
.
.
Masuk kuliah ini aku gak berharap banyak dari ekspetasi yang selama ini aku tabung di sma. Dapet gelar, perbanyak portofolio, koleksi pengalaman atau prestasi dan kerja deh.
Kalo teman? Kalo mau sama aku, gas keun! Kalo enggak, ya it's okay. Lagian aku dikasih tau kaka kelasku dulu kalau teman kuliah gada yang bener-bener mau nemenin, berjuang bersama, tulus, mati-matian setia, nyempetin waktu buat kita yang sad. Dan aku anehnya langsung percaya dengan mulut kakelku itu. Padahal waktu itu mulut aku ngelawan ucapan dia itu. Taunya aku terhipnotis.
Aku ga ambis sih, tapi yah gak ada yang kaya si Lintang, temenku yang nyanyiin sunshine itu. Selama di sma juga aku selalu nemenin orang yang lagi nangis, dan mereka pergi pas moodnya udah baik lagi, biasalah udah jadi hobi. Itung-itung pahala kan ya? Pamer dikit napa. Semoga aja masih tetep pahala meski gue ngomong gini. Awokwokwokwok, gue orangnya lempeung bukan datar kek jalan, sifat nyantai tapi muka kek mau dibantai, romantis tapi buat sekarang itu berlaku buat kucingku si moa. Plesetin dikit karna suaranya kek toa.
Lagi enak-enak ngebacot ga jelas, bahu aku ditepuk sama si Loren.
"kenapa, ren?" aku pun bangun dari tidurku dan menengadah ke samping. Habis nepuk bahu matanya kok melotot?
"namaku zahra, mata kamu bengkak banget Karin!" ucapnya kaget. Sambil meletakkan tangannya di pipiku.
"nama aku Vera." spontan dia langsung meletakkan tangannya di pinggul, kek mamak-mamak lagi nyicip masakan.
"gimana? Gaenak kan typo nama orang?" aku pun langsung mengendikkan bahuku dan lanjut tidur.
"gitu aja baper." kami pun terdiam, dan merasa tidak ada jawaban aku pun membuka mataku melihatnya yang memajukan bibir seperti mobil sedan.
"iya-iya gak bakal diulangin lagi, beb." aku pun mengelus kepalanya dan melanjutkan tidurku, terakhir yang kulihat dia kaget dengan reaksiku.
.
.
✴✴✴
.
.
Satu bulan kemudian...
Zahra pun datang dengan permak wajah yang natural, kali ini ia hanya memoleskan bedak padat dan tint di area wajah tertentu. Namun ia masih merindukan teman sebangkunya itu.
'masih belum masukkah si Vera?' ia pun membatin dalam hati. Lalu 3 orang ceue dan seorang couo datang menghampirinya, selama Vera tidak ada di kelas sekarang.
"Vera masih gak masuk, ra?" tanya si ekor kuda, dia yang kesannya selalu makan permen dimanapun berada.
"belum." satu couo ini duduk di atas bangku.
"kamu udah coba jenguk dia belum?" tanya couo sambil nyisir rambut pake jari dia.
"udah, tapi waktu itu dia lagi tidur. Dan susternya bilang kalo aku gaboleh ganggu istirahatnya dulu." mereka pun mengangguk mengerti.
"mau ke kantin gak, ra? Si Adit sama Salma jadian loh. Ntar di bayarin.." si ekor kuda pun langsung menyikut yang sedang merangkulku.
"apasi kamu?!" ucap Adit ke orang itu. Kok geli ya?
"ente cowo jangan pake 'kamu', kedenger creepy di gue." si Adit malah sedekap dada.
"tinggal sumpel telinga lo!" dan si cewe yang ngerangkul gue pun langsung berhadapan dengan si adit ini dengan gaya mamak nyicipin makanan.
"ayo ke kantin." jawabku memecahkan ketegangan. Mereka pun lalu tersenyum dan mulai berada di depanku seperti pemandu. Ketegangan itu pun menghilang, dua sejoli itu lalu akrab kembali dan pacarnya yang bernama salma ini lalu memegang tanganku.
Anehnya saat ini sifatku yang ceria belum bersemi lagi, ada yang kurang.
"eh, zahra. Ntar malem kita ada party di kosan Lori. Mau ikut gak? Kita mau ngerayain anniversary 40 harinya salma sama adit."
Aku gak bodoh sih kalo di kuliahan, tapi aku ini gak peka soal diri sendiri.
"ntar kita pesen ricis sama cetaim, gratis kok dari si adit. Cuman yah mereka sewa kosan gue karna ortunya gatau mereka pacaran. Jadi stt ini antara kita berlima aja ya. Ya kan gengs?"
Aku kangen Vera.
Semuanya pun mengangguk dan berteriak setuju. Ketika kami sudah sampai di kantin, kami pun langsung mengantri di tempat penjual bebek bakar.
Aku yang sedang berpikiran kosong tiba-tiba mendengar sesuatu.
"si Vera tuh nyusahin bener ya.."
"dia kan sakit, tapi kok malem-malem on insta sih?"
"dikelas kan dia suka tidur dibalik buku gitu kan? Aku aja ga pernah liat dia serius lagi kuliah."
Aku.. Sekarang benar-benar ada di circle pengkhianat. Tidak menyangka ternyata mereka mendekatiku apa karna sesuatu?
Tuhan itu baik banget ternyata, udah kasih clue kalo circle mana yang sehat atau ga sehat gimana. Seenaknya aja mereka nyinyir gitu, mungkin sma mereka bergengsi tapi kok mulut gak ada mannernya? Hardware sih bisa berlian, softwarenya kek bilatung. Anjin*!! Sempaq kuda!! Brengs*k!!
Aku pun meninggalkan mereka yang masih belum sadar dengan aku yang tidak ada disana, mereka masih ketawa ketiwi seperti tidak ada masalah.
Aku pun meninggalkan matkul terakhir hari ini, segera memasukkan peralatan dan yang lainnya kedalam tasku dan segera bergegas menuju rumah sakit tempat dimana Vera sekarang.
Vera.. Tungguin aku. Tak sadar sekarang aku nangis dan hati ini tercabik-cabik. Aku memang tidak melakukan kesalahan apapun tapi ternyata halangan yang selalu aku niatkan buat ngejenguk kamu seminggu sekali selalu tertunda oleh mereka.
Maaf banget kalo aku baru ngejenguk kamu sekali dan itupun kamu gak sadar ada aku disana.
Tuhan, panjangkan umurku dan temanku. Semoga kita ketemu hari ini dan seterusnya hingga selamanya. Karna hari ini aku ingin ketemu sama vera. Tolong kabulkan doa hamba ini, Tuhan...
.
.
✴✴✴✴
.
.
Aku pun sampai di depan salah satu kamar rawat rumah sakit. Aku pun membukanya dan langsung menghampirinya.
Vera masih terbaring lemah, ia mulai membuka matanya. Aku pun langsung mendekatinya dengan air mata yang tak tahan trus keluar.
"vera.."
"ngapain dateng?" suara seraknya itu masih terdengar jelas di telingaku, tapi aku masih tak bisa membendung senyuman legaku saat melihatnya sekarang.
"aku kangen kamu Ver." dia pun memosisikan kepalanya nyaman untuk melihatku berbicara secara leluasa.
"aku kangen kamu selalu ngebacot kalo aku godain, gak peduli kamu hardwarenya jutek cuek ekspresinya datar kek aspal bandara, tapi kamu tulus temenin aku bahkan waktu ada preman mau ambil kalung aku."
"dia lagi mikirin sesuatu yang berbau twenty one keatas, secara gitu kamu cakep dan montok, dan herannya kamu pake baju terbuka sambil jalan kaki di jalan sepi. Gue yang auranya kek sri asih dengan kuda putih, gagah perkasa dan PEKA nyempetin waktu buat nolongin dugong betina kek elo."
Aku hanya terdiam sambil menangis haru, pengen ketawa tapi dia lagi sakit yaudah aku tahan kan ya. Yang penting hari ini aku lega lagi ketemu orang yang udah lama ga pernah aku temui sosoknya. Sekarang ketemu lagi. Senengnya bukan main. Temen sefrekuensi itu kalo dah lama ga ketemu trus baru ketemu lagi happy nya ga ada yang bisa lawan. Ternyata obat dari moodku yang ga ceria selama ini sangat simpel.
Ketemu orang yang kalian sayang!
"lo mau dengerin cerita gue gak sama si Lintang?"
"hem? Kan waktu itu udah beb?" aku pun mengambil kursi terdekat dan ku duduk tepat di samping Vera berbaring.
"ini berkaitan sama personality gue yang di dingin. Mau dengerin gak?" aku melihat bibirnya yang agak kering dan pecah - pecah itu. Gak tega liatnya. Aku pun mengangguk.
"oke." Vera pun mengambil napas, dan mulai bercerita.
Dimulai dari masa lalunya di smp dimana dia adalah yang periang memiliki banyak teman dalam grup gengnya, suatu hari ada anak baru perempuan yang datang ke kelas mereka dan dia ternyata duduk dibangku Vera yang kosong. Teman geng vera merasa marah karna salah satu yang duduk di bangku vera sedang sakit dan itu merasa tidak pantas untuk anak baru itu. Namun pelajaran dimulai seperti biasa tidak ada yang peduli, namun Vera mulai merasa kasihan.
Saat orang yang sakit itu masuk, dia pun di doktrin oleh teman-teman geng Vera dengan segala tuduhan tidak benar mengenai anak baru yang bernama Lintang itu. Disana Lintang benar-benar dijauhi. Vera disana sadar jika sebenarnya teman-teman gengnya pun hanya setengah-setengah loyalitasnya. Orang yang sakit saat itu adalah bos di geng mereka, vera disitu layaknya figuran yang membantu membuat si bos terkenal tanpa keuntungan untuk dirinya sendiri. Tapi dia bingung karna dia tidak punya siapapun untuk bersandar selain teman-teman geng itu yah meski fake. Btw Lintang akhirnya duduk di belakang sendirian saat pelajaran dimulai.
Dan pada saat camping, vera dan lintang berada pada kelompok kelas lain meski ada bos geng vera disana tetapi bos kelas vera pasti berkumpul dengan bos kelas lain. Merekalah berdua di tenda yang sama dengan yang lain dan saling bersebelahan. Vera memberi punggung pada lintang yang tidak cukup dikenalnya, namun lintang menghadap ke arah punggung Vera sambil berkata,
"makasih udah kasih waktu aku sehari buat nemenin." itu kata lintang. Karna vera dan lintang tau, bos sudah masuk sekolah keesokan harinya.
Vera merasa aneh dan tidak memedulikannya. Dia berusaha tidur tapi tidak bisa, Lintang yang cukup peka pun memeluknya dari belakang sembari menyanyikan lagu itu. Lintang berhasil membuat vera tertidur, dan dia ikut tidur setelah beres menyanyikan lagu itu.
Sehari-hari hingga berlanjut kenaikan kelas 9, vera dan lintang sangat rukun dan tertawa lepas dengan pembicaraan mereka, namun suatu hari lintang terbatuk dan muntah darah. Saat itu aku menanyakan dia punya riwayat apa, namun dia juga tidak tau ada apa yang salah dengannya. Keesokannya dia tidak masuk sekolah, dan lusanya dia meninggal.
Orangtua Lintang ingin tau apa yang terjadi pada anaknya karna dia pergi terlalu cepat. Ternyata salah seorang penjual makanan baru di smp vera membuat makanan tidak sehat, dimana kandungan kimia yang terkandungnya sangat ditolak oleh pencernaan Lintang. Lintang pernah mengalami penyakit sewaktu ia bayi. Dan itu berpengaruh fatal padanya hingga kematian menjemputnya. Para siswa yang memakan makanan itu pun mereka memang dirawat instensif. Tapi hanya Lintang yang pergi. Pergi selama-lamanya.
Vera masih belum bisa merelakan Lintang saat itu, ibaratnya lagi senang-senang, senda gurau, canda tawa, di hari jumat. Kita tau sabtu-minggu adalah hari libur sekolah, dan hari senin saat masuk kita dapat pengumuman bahwa Lintang sudah tiada.
Disana orangtua Lintang datang ke kelas, dan mereka mendatangi vera dengan membawakan diari dan beberapa foto polaroid vera dan lintang.
Vera tidak menangis saat itu, ia masih kaget dan tidak percaya.
Dan itulah yang membuat personality Vera berubah, menjadi dingin dan ansos. Hingga memasuki bangku putih abu-abu, teman yang ingin dekat dengannya tidak sedikit namun ia hanya kebingungan dan tidak peka pada temannya. Namun yang membedakan adalah teman-temab yang selama ini mendekati vera hanyalah bukan orang gigih. Tidak penasaran kenapa, tidak peduli dan lebih baik mencari orang yang lebih asik darinya.
"selesai sudah ceritaku itu, dan sampai sekarang yang gigih mau temenan sama aku itu cuman kamu, ra."
Aku pun menangis ga karuan sampai ingus ku meler.
"tumben hiks! gak typo lagi kamu hiks! nyebut nama aku, ferguso." kataku sambil terseguk-seguk. Dia pun meraih bahuku dengan tangannya yang sedang dipasang infus.
"sengaja. Siapa tau kamu kangen aku."
"ish, enggak tuh."
"tapi kok langsung notice aku manggil kamu 'ra' coba?" aku pun diam tapi nahan senyum sambil melirik ke sembarang arah.
"kangen kan aku typo-typo?" eh kok nih anak pinter flirting sih? Mana mukanya kek tokoh mr bean, alisnya lagi ngapain turun naik gitu?
"kagak ah, b aja."
Kami pun terdiam, dan saling sibuk dengan pikiran masing-masing. Termasuk Vera yang merasa tiba-tiba merasa kosong pikiran.
"besok aku kuliah, ra." aku yang memainkan jari pun membelalak kaget sekaligus senang bukan main.
"serius???"
"dua rius, cintaku."
Ya ampun seneng banget, akhirnya si kebo yang suka tidur di ranjang rs dan di kelas ini bisa balik lagi buat kuliah. Definisi bahagia gak selalu uang, makanan ataupun harta. Kalo uang bukan segalanya itu bukan aku sih bund.
"oh iya, jangan lupa minggu depan uas beb."
"sempaq kuda!!" dia mengumpat dengan wajah daftarnya dan aku pun tertawa setelah sekian lama yang lupa terakhir kapan aku seperti ini. Yah hari ini aku menemani Vera sampai magrib saat ibunya datang membawakan makanan untuk kami.
.
.
✴✴✴✴
.
.
Balik lagi ini dari sudut pandang aku, Vera. Sekarang aku lagi baca novel sambil pake earphone di kelas nunggu matkul mulai seperti biasa. Lagi serius-seriusnya di klimaks konflik, eh si dugong bikin kulit gue yang kaget.
Dia nempelin minuman kaleng dingin ke pipi pas lagi adem tenang ayem baca novel. Tapi gapapalah mumpung minumannya gratis.
"baca apa?" zahra pun melepaskan sling tasnya.
"buku." dia pun menatapku datar. Dan aku pun melanjutkan membaca tanpa peduli apa yang dia lakukan.
Dengan powernya yang edan, dia menarik kursiku untuk mendekat dan dia lalu menyempilkan kepalanya diantara kedua tanganku yang sedang memegang novel ini. Lalu beralih meletakkan kepalanya di atas pahaku dan menjadikan tangan sebagai bantalnya.
"Si anjr ngapain tidur disitu, dugong?!" aku pun menarik lengannya untuk menyuruhnya duduk, lah dia malah megang erat my belly.
"gantian yah, aku mau jadi kamu gaya gini mah gak bakal keliatan dosen. Aku udah setel alat perekam di tempat pensil." aku berdecak heran.
"aku juga mau jadi kamu nih, baca buku."
"halah.. Baca novel aja bangga!"
"siapa tau aku jadi penulis ."
"iya-iya deh terserah kamu, tuh terakhir kalinya kita diajar dosen tambun ntar kamu senyum yang manis yah, Vera. Siapa tau nilaimu meningkat jadi B."
"kurang ajar! Sini hidung lo, cium ketekh gue yang smell good bau kasturi." aku pun mencekiknya dengan mendekatkan sumber bau khasku kepada wajahnya yang sedang menghadap keatas. Aku yang menang soal kekuatan pun dia benar-benar pingsan dengan bau itu. Awokwokwok...
.
.
.
The end.
Menikmati ceritanya? Kasih like dan kunjungi cerita-cerita lainnya yuk di profil ku. Terimakasih readers, salam hangat dari saya.