‘’Aku mendapatkan sebuah undangan?’’ tatap seorang gadis berambut panjang gelombang menatap layar ponselnya.
‘’Kakak mendapatkan undangan apa?’’ tanya anak laki-laki.
‘’Turnamen, dan anehnya turnamen itu dilakukan di dalam hutan, tapi hadiahnya cukup lumayan juga, bagi pemenang yang berhasil menyelesaikan turnamen ini dengan selamat maka akan dikenal sebagai pemain terbaik di dunia, bebas memilih satu kota di seluruh negara sebagai wilayahnya, rumah mewah beserta perlengkapan canggih, dan akan selalu mendapat undangan sebagai pengawas jika dilangsungkan sebuah turnamen,’’ kata gadis itu.
‘’Eh? Aku belum pernah mendengar hadiah sebesar itu dalam sebuah turnamen, kakak,’’
Tampak bocah laki-laki yang sedang mengusap matanya sambil memegang bantal.
‘’Eh, Yuki kecilku sudah bangun, ya? Ohayou,’’ sapa gadis itu memberi kecupan manis dipipi mungil Yuki.
‘’Ohayou, Yuki,’’ sapa anak laki-laki yang bermain game.
‘’Ohayou, Kakak Miki, Kakak Naoki,’’ kata Yuki membalas kedua sapaan kakaknya.
Miki menarik adik kecilnya ke dapur untuk memberinya makan. Karena kedua orang tuanya harus bekerja dengan sistem rolling ke beberapa negara, membuat Miki harus menjaga kedua adiknya sambil kuliah. Tak disangka, ia mendapat undangan turnamen dikarenakan sejak smp, Miki sudah dikenal sebagai pemanah terbaik.
Malamnya…
‘’Kau yakin ingin pergi menemaniku di sana?’’ tanya Miki sambil membereskan barangnya.
Naoki mengangguk yang sedang menggendong Yuki. Miki menutup koper lalu menatap kedua adiknya.
‘’Tapi aku akan turnamen di dalam hutan, otomatis aku tidak bisa mengawasi kalian berdua,’’ kata Miki.
‘’Tapi di sana pasti ada penginapan khusus untuk para staff, kan? Aku akan menunggu kakak di sana saja sambil merawat Yuki,’’ kata Naoki.
‘’Naoki? Kakak masih belum tahu bagaimana sistem turnamen ini,’’
‘’Ayolah, aku tidak bisa jaga rumah sambil menemani Yuki tanpa kakak, takutnya teman-temanku akan berpesta dan aku akan kehilangan pengawasan terhadap Yuki,’’
‘’Kakak tidak suka kalau Yuki dan Kakak Naoki ikut?’’ tanya Yuki.
‘’Tidak adik kecilku, kakak justru senang jika kalian berdua ikut,’’ kata Miki berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan adik mungilnya.
‘’Lalu, kenapa kakak tidak menyetujuinya?’’ tanya Yuki cemberut.
Miki menghela nafas hingga akhirnya tersenyum.
‘’Baiklah, kalian berdua bisa ikut dengan kakak,’’
Naoki dan Yuki spontan gembira.
‘’Tapi, jangan membuat masalah di sana selama kakak ikut turnamen,’’ kata Miki dan kedua adiknya mengangguk mantap.
Keesokan harinya, mereka langsung mengambil penerbangan yang sudah disediakan khusus pemain. Naoki dan Yuki tercengang menatap kota dari jendela pesawat. Beberapa jam setelahnya, 5 buah pesawat terbang telah mendarat. Begitu mereka menuruni pesawat, semuanya tercengang melihat sebuah dinding dengan tinggi 50 meter yang membatasi area luar tak jauh dari hadapan mereka.
‘’Sepertinya di sana, kakak akan melangsungkan turnamen,’’ tatap Naoki yang menggendong Yuki.
Miki menatap ke segala arah, begitu banyak pemain yang mendapat undangan selain dirinya. Ternyata ada ratusan orang yang ikut turnamen itu. Namun, melihat dinding itu, entah mengapa Miki merasakan ada tekanan. Berselang menit, pintu tembok itu terbuka ke atas membuat semua orang masuk dan kembali tertutup.
‘’Kakak? Kenapa aku tidak melihat penginapan di sini?’’ tatap Naoki ke segala arah.
Tiba-tiba, sebuah helikopter mendarat dipuncak tembok bertinggikan 50 meter itu membuat semua berbalik dan mendongakkan kepala.
‘’Selamat datang di turnamen ini! Perkenalkan, namaku Ishiki Aldebarant, ketua pelaksana turnamen tersebut! Aku berterima kasih dengan 100 partisipasi yang menerima undangan dari kami, langsung saja, kalian semua telah mengetahui pemenang turnamen ini akan mendapatkan apa dan itu pasti membuat kalian bertanya-tanya kenapa hanya sebuah turnamen bisa mendapatkan hadiah sebesar itu?’’ kata Aldebarant menggunakan ahuja horn speaker, agar semuanya bisa mendengar dari ketinggian 50 meter.
Lelaki itu terdiam sejenak sambil menatap para staff lainnya.
‘’Sebelumnya, kami sudah menegaskan di surat undangan, agar siap mengambil resiko, jadi aku akan langsung memberitahu kalian semua bahwa di turnamen ini, kalian harus bertahan hidup untuk menghabisi semua monster di dalam tembok ini,’’
‘’Kota ini dulunya berpenghuni, tapi entah dari mana, monster bernama Mapinguari muncul dan membantai semua penghuni kota ini dengan membangun tembok setinggi 50 meter sebagai penghalang, agar tidak ada satupun yang berhasil keluar, kemudian memangsa mereka,’’
Semua orang tersentak mendengarnya terutama Miki dan Naoki.
‘’Eh? Tunggu? Kita tidak pernah diberitahukan soal ini?’’ kata Miki frustasi.
‘’Karena itulah, siapapun yang bisa menghabisi semua monster di dalam tembok ini dan berhasil keluar hidup-hidup, maka kami akan menyatakan dialah pemenangnya, tapi hanya ada satu orang!’’
‘’Kalian yang tengah berdiri di sini adalah kandidat yang menjanjikan dari masing-masing negara, kami para pengawas akan menunggu kalian yang berhasil keluar dengan selamat di ujung selatan tembok yang menjadi pintu keluar turnamen ini, jadi selamat bertahan hidup dan menjalankan turnamennya!’’
Begitu helikopter itu pergi, 100 orang di sana berteriak karena merasa marah. Tidak ada yang akan mau mengorbankan nyawa mereka dengan sia-sia melalui turnamen ini. Miki mulai cemas bercampur frustasi, sekarang ia mengerti kenapa di surat undangan itu tidak dijelaskan secara rinci mengenai turnamen ini dan hanya mengumumkan hadiahnya saja.
‘’K-Kakak?’’ tatap Naoki mulai gemetar.
‘’Jangan khawatir, aku akan berusaha keras untuk melindungi kalian berdua,’’ kata Miki yang sama gemetarnya.
Karena kegaduhan itu, burung-burung berterbangan membuat semuanya terdiam. Tanah tiba-tiba menjadi bergetar sedikit. 100 orang itu terdiam serius menatap ke arah hutan sambil berjaga-jaga.
Tampak sosok makhluk yang menyerupai kukang raksasa. Lebih kagetnya, saat kukang raksasa itu berdiri, tingginya hampir mencapai 2 meter. Selain itu, tubuhnya mengeluarkan bau yang amat menyengat, kulitnya dilindungi bulu tebal dan cangkang yang keras. Tidak hanya itu, makhluk itu hanya memiliki satu mata layaknya raksasa Cyclops dalam mitologi Yunani, serta mulut raksasa di bagian perutnya.
‘’Itu pasti Mapinguari,’’ kata Miki terpaku.
Entah mengapa, semua tiba-tiba tidak bisa bergerak setelah melihat sosok menyeramkan itu, hingga salah satu orang di sana berlari menuju ke arahnya sambil menarik senapan.
Makhluk itu masih berdiri tanpa melakukan apa pun, begitu orang yang berlari tadi mendekatinya, ia tiba-tiba terjatuh seolah-olah seluruh indranya terkunci. Keluar lidah dari mulut di bagian perut Mapinguari meraih orang tadi. Dengan mata membulat besar, dan raut wajah ngeri disertai tangisan, ia menatap ke-99 pemain yang menatapnya tidak percaya.
‘’Satu pemain telah dinyatakan gugur,’’
Sebuah suara dari pemberitahuan sistem. Semuanya bergetar hebat melihat hal itu membuat mereka menarik panah dan menembaki Mapinguari yang masih sibuk menyantap.
DEG!
Bahkan anak panah dan peluru yang di arahkan pada Mapinguari itu pun tidak bisa menembusnya.
‘’Yang benar saja!’’ umpat Miki menyerahkan busurnya pada Naoki.
‘’Pegang busurku, biar aku yang menggendong Yuki, cepat pergi dari sini!’’
Melihat salah satu pemain berlari sambil menggendong seorang bocah dan diikuti satu anak laki-laki, membuat semuanya ikut berlari memasuki hutan.
Dalam sekejap Mapinguari tadi berlari mengejar para pemain. Muncul beberapa Mapinguari dari sisi lain yang langsung menyantap pemain. Melihat hal itu, Miki dan Naoki membulatkan mata.
‘’Jangan menengok ke belakang! Cepat lari!’’ pekik Miki.
‘’Arghhhhh!!!’’
‘’HAAAAAAA!!’’
‘’Tidak!!!!’’
Miki hanya meringis mendengar jeritan itu disela larinya.
‘’12 pemain telah dinyatakan gugur,’’ kata pemberitahuan sistem.
‘’Kami bahkan belum memulainya dan sudah ada 12 pemain yang tewas?’’ kata Miki tidak percaya.
Setelah memastikan keadaan sudah aman, Miki berhenti berlari begitupun Naoki. Keduanya terengah-engah. Miki menatap Yuki yang terlihat takut.
‘’Haa, huhahuha, Yuki? Kau tidak apa-apa?’’ tanya Miki.
‘’Kakak? Kenapa hewan itu memakan teman-teman kakak? Apakah kita akan dimakan juga?’’ tanya Yuki.
Yuki menyandarkan kepalanya dibahu Miki dan memeluknya dengan erat. Tanpa diberitahupun, Miki tahu kalau adiknya itu ketakutan. Ia juga melirik Naoki yang begitu gemetar. Dirinya pun sama takutnya, ia menarik Naoki ke dalam pelukannya. Memeluk kedua adiknya dengan mata berkaca-kaca.
‘’Jangan takut, kakak akan melindungi kalian,’’
2 bulan telah berlalu. Dari 100 pemain kini tersisa 20 pemain termasuk Miki. Bahkan sebelum membunuh Mapinguari satupun, ke-100 orang itu yang malah terbunuh satu persatu.
Selama ini, Miki dan kedua adiknya bersembunyi di atas pohon. Agar kedua adiknya tidak kelaparan, Miki dengan hati-hati mencari makanan, meskipun beberapa kali ia menjumpai Mapinguari yang sedang tertidur. Harus berjalan puluhan meter untuk mencari air dan kembali ke tempatnya, itu semua demi kedua adiknya. Karena Miki sempat membawa botol, ia hanya meminum air selama 2 bulan ini dan memberi semua makanan yang di dapatkannya kepada Naoki dan Yuki.
‘’Kakak? Setidaknya makanlah ini,’’ kata Naoki menyodorkan buah.
Meskipun lapar, Miki menolak sambil tersenyum.
‘’Aku sudah makan beberapa, saat dijalan tadi,’’ kata Miki berbohong padahal perutnya sudah lapar bukan main.
‘’Kakak? Sudah 2 bulan kita di sini tanpa pergerakan. Karena diriku, kakak harus kerepotan untuk menjaga kami, seharusnya aku tidak bersih keras untuk ikut, kakak seharusnya sudah berjalan jauh mendekati gerbang selatan tembok ini tapi karena ada aku dan Yuki yang menghalangi kakak, ja-‘’
‘’Ini bukan salahmu tapi salahku, aku yang seharusnya tidak membiarkan kalian berdua ikut, jadi kakak akan berjanji untuk membawa kalian berdua keluar hidup-hidup dalam tembok ini,’’
Naoki terisak lalu memeluk Miki.
‘’Janji, ya? Kita bertiga harus keluar hidup-hidup dari sini,’’
Miki mengangguk dan menenangkan adiknya itu.
‘’Pelan-pelan, Yuki sedang tidur di bahuku,’’ kata Miki.
Keesokan harinya, setelah lama di atas pohon, Miki turun dan menyusuri hutan sambil menggendong Yuki setelah kedua adiknya itu makan. Naoki membawa persediaan makan dan busur kakaknya. 3 jam mereka telah berjalan, namun tidak ada apa pun.
‘’Kita istirahat sebentar, Yuki sepertinya ingin makan,’’ kata Miki.
Naoki mengambil buah dari tas dan menyodorkannya pada Miki. Miki mengupas buah itu, lalu menumbuknya dengan halus kemudian menyuapkannya pada Yuki.
‘’Kau juga makanlah,’’ kata Miki meneguk botol.
Beberapa saat setelah istirahat mereka melanjutkan perjalanan. Miki hendak minum akan tetapi air dalam botolnya sudah habis, membuat ketiga orang itu mencari sungai.
DEG!
Ketiganya terpaku saat menyibak semak-semak, mereka melihat Mapinguari tengah berdiri ditepi sungai.
‘’K-Kakak?’’ kata Naoki gemetar.
Miki mengisyaratkannya agar tidak bersuara dan mundur dengan pelan.
KREKK!
Miki dan Naoki menoleh melihat ranting yang diinjak Naoki, keduanya kembali menatap Mapinguari yang sudah menatap mereka dari tepi sungai. Untuk sesaat, tubuh Miki tidak bisa digerakkan, ia menyerahkan Yuki pada Naoki dan mengambil busurnya.
‘’Mundur, Naoki!’’ kata Miki menarik busur.
Sekali, dua kali bahkan tiga kali sejak ia menembakkan panah, tak ada yang bisa menembus tubuh Mapinguari yang sedang berjalan ke arahnya.
‘’Kakak! Dia semakin dekat denganmu!’’ teriak Naoki panik.
Masih dalam ancang-ancang menarik panah, Miki menatap seluruh bagian titik tubuh Mapinguari itu. Ia berusaha menenangkan dirinya.
‘’Kaki…perut…lengan…dada…leher…mata…’’ tatap Miki.
Pandangannya kemudian tertuju ke arah kepala makhluk itu setelah melihat matanya. Mapinguari itu berdiri tepat dihadapan Miki yang masih tidak bergerak dalam posisi masih menarik panah. Bau yang begitu menyengat membuat Miki menahan nafasnya. Naoki mematung, sebentar lagi kakaknya akan tewas di depan matanya sendiri.
‘’Ini taruhan, jika makhluk ini mati setelah aku menembak kepalanya maka aku akan selamat dan membawa kedua adikku keluar dari sini, tapi jika tidak…’’
Miki menembakkan panahnya bersamaan lidah yang keluar dari mulut dibagian perut Mapinguari itu menariknya.
‘’TIDAK!!’’ teriak Naoki kemudian menjatuhkan dirinya.
‘’Yuki, hikss, hikss, kakak sudah tidak ada, bagaimana aku melindungimu dan membawamu pergi dari sini? Sebentar lagi, kita berdua akan menyusul kakak,’’ isak Naoki.
BUGH!
Mapinguari itu terjatuh membuat Naoki terbelalak. Matanya membulat besar melihat Miki keluar dari mulut makhluk itu.
‘’Uhuk! Uhuk! Arghh, baunya sangat menyengat, pantas saja orang itu tiba-tiba pingsan saat menuju ke arahnya.’’
Saat itu juga, Naoki berlari dan memeluknya disertai tangisan. Yuki juga menangis.
‘’Sudah kubilang, kakak akan melindungi kalian berdua’’
‘’Hikss, hikss, kakak, kau bau,’’ kata Naoki disela tangisnya.
‘’Haha, di sana ada sungai, aku akan membersihkan tubuhku,’’
Tampak 5 sosok yang melompat dari atas pohon, mereka lalu mengikuti arah Miki.
Setelah Miki membersihkan badan dan mengisi air botolnya, ia terkejut melihat 4 lelaki dan 1 gadis seumurannya sudah ada di belakang mereka.
‘’Namamu siapa? Aku Ren, dia Hiroki, Yuichiro, Mika dan Maki, kami bertemu dari sisi lain dan membentuk satu kelompok,’’ kata Ren.
‘’Miki,’’ kata Miki.
‘’Bocah laki-laki? Eh? Kau yang langsung lari sambil menggendong bocah dan satu anak laki-laki mengikutimu saat pertama kali kita masuk, 'kan?’’ tatap Ren menyadari.
‘’Ya, mereka berdua adalah adikku,’’ jelas Miki.
‘’Aku tidak tahu kalau boleh mengikutsertakan saudara,’’ kata Yuichiro.
‘’Sedikit ada masalah yang sampai membawa mereka ikut,’’ kata Miki.
‘’Jadi selama ini, selain bertahan hidup, kau menghidupi kedua adikmu di dalam tembok terkutuk ini?’’ tanya Maki.
‘’Ya,’’
‘’Wah? Aku benar-benar salut, bukan bertahan hidup saja, tapi peranmu menjadi kakak tetap ada,’’ kata Hiroki.
‘’Melihatmu tadi berhadapan dengan Mapinguari, kami kira kau akan tewas,’’ kata Mika.
‘’Kalian melihatku?’’ tanya Miki.
‘’Um, kami berlari ke atas pohon setelah melihat beberapa Mapinguari, dan kami melihat semuanya, kau benar-benar hebat, bisa berdiri sedekat itu tanpa rasa takut dan berhasil membunuhnya,’’ kata Ren.
‘’Karena dirimulah, kami bisa tahu cara menghabisi Mapinguari, jadi ikutlah bersama kami,’’ ajak Hiroki.
Sejak saat itu, mereka berhasil membunuh Mapinguari dan bertemu beberapa pemain lainnya.
‘’92 pemain telah dinyatakan gugur,’’ kata pemberitahuan sistem.
Miki dan yang lainnya saling memandang satu sama lain.
‘’Sekali lagi, 1 pemain telah tewas,’’ kata Mika.
‘’Pemberitahuan sistem mengatakan sudah 92 pemain telah gugur,’’ kata Yuichiro.
‘’Berdasarkan jumlah yang ada di sini, kita ada 8 orang,’’ kata Maki.
‘’Itu berarti, hanya kita satu-satunya pemain yang masih hidup saat ini,’’ kata Ren.
‘’Sesuai hitunganku, kita sudah menghabisi 120 Mapinguari,’’ kata Hiroki.
‘’Eh? Kau sampai menghitungnya?’’ tidak percaya Naoki.
‘’Itu agar lebih mudah mengetahui berapa jumlah Mapinguari secara keseluruhan, meskipun masih banyak di luar sana,’’ jelas Hiroki.
‘’Tidak terasa sudah 4 bulan kita di sini,’’ kata Mika.
‘’Semakin hari, persediaan makanan mulai habis, tidak ada buah ataupun tumbuhan yang layak dimakan di kawasan ini,’’ kata Ren.
Persediaan makanan yang dicari Miki untuk kedua adiknya pun juga mulai habis.
‘’Miki? Tubuhmu terasa panas, sepertinya kau demam,’’ kata Ren menangkap tubuh Miki yang tadinya lunglai.
‘’Aku tidak apa-apa,’’ kata Miki dengan nafas yang berat.
‘’Naoki? Gendong Yuki dulu, jauhkan dia dariku, jangan sampai dia terkena demam,’’
‘’Biar aku saja, sepertinya adikmu yang satu ini juga terlihat lelah,’’ kata Mika.
Karena persediaan makanan hampir habis, Naoki juga ikut menghemat makanan dan menyimpankannya untuk Yuki. Setidaknya ia dan Miki masih bisa menahan rasa lapar, tidak seperti Yuki yang masih kecil.
‘’Oh ya, berapa umurmu dan adikmu ini?’’ tanya Mika.
‘’Yuki berumur 3 tahun, lalu Naoki 10 tahun dan aku 18 tahun,’’ kata Miki.
‘’Eh? Kami semua di sini sudah menginjak umur 19 dan 20, itu berarti kau adalah pemain yang termuda di antara kami,’’ kata Yuichiro.
‘’Aku jadi semakin bangga padamu, benar-benar membuat iri, remaja 18 tahun berhasil membunuh Mapinguari di hadapannya tanpa rasa takut sambil menghidupi dan melindungi kedua adiknya,’’ kata Hiroki.
‘’94 pemain telah dinyatakan gugur,’’
Mendengar pemberitahuan sistem tersebut, keenam orang itu menoleh secepat mungkin dan sudah melihat 2 rekannya ditelan habis-habisan oleh Mapinguari. Spontan, Ren menarik panah dan Hiroki menembakkan peluru tepat ke arah kepala Mapinguari.
‘’122,’’ kata Hiroki.
‘’Padahal kita sedang berbincang dan tidak menyadari Mapinguari itu sudah menelan 2 orang lainnya,’’ kata Maki.
‘’Rasa waspada kita benar-benar tidak ada, bagaimana jika kita ditelan habis-habisan seperti tadi?’’ tatap Yuichiro.
‘’Miki, aku akan membantumu membawa Yuki,’’ kata Mika.
‘’Um, biarkan aku memapahmu,’’ kata Hiroki.
‘’Aku yang akan memapah adikmu yang satu ini,’’ kata Yuichiro.
Malamnya, mereka beristirahat. Ren dan Hiroki berjaga, Mika meminta bantuan Maki menidurkan Yuki agar ia merawat Miki. Naoki memakan buah yang sempat dicari Ren dan Hiroki tadi.
Pagi berikutnya…
Meskipun demam Miki naik, ia tidak terhalangi untuk memberi makan kedua adiknya. Setelah berjalan di sekitar, ia mendapatkan beberapa buah yang layak dimakan.
‘’Miki? Seharusnya kau beristirahat, kenapa mencari makanan untuk kami semua? Padahal demammu tinggi!’’ omel Mika.
Ren dan yang lainnya jadi merasa bersalah.
‘’Sudah, makanlah,’’ kata Miki menyodorkan beberapa buah kepada Naoki.
Ia lalu menumbuk beberapa buah lalu menyuapi Yuki. Ren dan yang lainnya benar-benar merasa iba menyaksikan hal itu. Kondisi Miki semakin pucat, bibirnya sedikit pecah, apalagi gadis itu terkena demam. Miki memastikan agar kedua adiknya tetap sehat, meskipun Naoki sempat lelah, akan tetapi kondisinya kembali membaik. Sambil menyuapi adiknya, Miki meremas perutnya menahan rasa sakit.
‘’Ambil punyaku,’’ kata Hiroki membagi setengah buahnya diikuti yang lainnya.
Miki hanya tersenyum dan menerimanya. Setelah itu, mereka kembali berjalan meskipun sesekali berjumpa dengan Mapinguari.
‘’145, haa, sebenarnya ada berapa sih, Mapinguari dalam tembok ini?’’ tanya Hiroki.
Sudah tengah hari sejak mereka berjalan, terik matahari yang tadinya menyengat tiba-tiba terselimuti awan sehingga menjadi mendung.
‘’Ah, seharusnya sejak tadi begini agar kita tidak kepanasan,’’ tatap Ren.
Tak lama kemudian, mereka tersentak saat pandangan mereka tertuju ke arah depan. Terukir senyuman dan rasa lega, membuat mereka bergegas.
‘’Itu gerbangnya!’’ pekik Ren.
Yah, mereka benar-benar mengeluari hutan, kini hanya tanah berlapang yang harus mereka lewati untuk mencapai gerbang keluar turnamen itu.
Dengan rasa lega, mereka berjalan menghampiri gerbang, akan tetapi, tepat mereka di pertengahan, tiba-tiba banyak Mapinguari yang bermunculan.
‘’Oh, ayolah, kalian benar-benar tidak membiarkan kami beristirahat,’’ kata Yuichiro.
Mika menyodorkan Yuki pada Naoki.
‘’Pastikan, tetap berada dibelakang kami,’’ kata Mika.
Keenam orang itu berdiri membelakangi Naoki sambil mengitarinya.
‘’Ini pertarungan terakhir kita,’’ kata Hiroki membuat semuanya mengangguk.
Sesama pengguna busur, Miki, Ren dan Maki mengambil ancang-ancang menarik panah, sedangan Hiroki, Mika dan Yuichiro sebagai pengguna senapan, bersedia menembakkan peluru.
Terlihat puluhan Mapinguari berdiri membentuk barisan. Keenam orang itu memejamkan mata sambil menarik nafas. Para pengawas menyaksikannya melalui kamera pengintai yang dipasang diseluruh sisi tembok tersebut.
‘’SERANG!!’’
Puluhan Mapinguari itu pun berlarian sambil ditembaki kepalanya satu persatu. Naoki yang menyaksikannya hanya berharap keenam orang yang berdiri dihadapannya selamat. Akan tetapi, keenam orang itu sempat digigit ataupun dilukai tapi tidak mengubah tekad mereka untuk melawan.
Pertarungan sengit itu berlangsung selama 30 menit dan mereka berhasil menyapu bersih puluhan Mapinguari tersebut. Naoki terpaku, membuatnya jatuh terduduk sambil memeluk Yuki.
‘’Mereka selamat, hikss, hikss...’’
Keenam orang itu terluka di bagian sudut bibir, dahi, lengan, dan kaki.
‘’211,’’ kata Hiroki.
‘’Uhuk!’’ batuk Maki terjatuh.
‘’Maki!’’ pekik Ren dan yang lainnya menghampiri.
‘’Hei! Bertahanlah, sebentar lagi kita akan keluar,’’ kata Yuichiro.
‘’Maaf, sepertinya aku tidak bisa,’’ kata Maki lemah.
Semua melotot melihat bagian perut Maki hilang sebagian.
‘’Dasar bodoh! Kenapa kau begitu ceroboh?! Padahal kita sudah berhasil sejauh ini,’’ isak Mika.
‘’Uhuk! M-Maaf, padahal kita tidak saling mengenal, tapi mempunyai teman seperti kalian bahkan sebentar pun, aku senang,’’ senyum Maki.
‘’95 pemain telah dinyatakan gugur,’’
Kelima orang itu terisak melihat Maki yang masih tersenyum. Yang paling histeris adalah Mika, karena ia mengingat sosok Maki yang menyelamatkannya dari Mapinguari, tapi nyawanya sendiri sudah melayang. Karena berisik, Hiroki menyipitkan mata.
DOR!
Semua tertegun terutama Miki. Mika memuntahkan darah setelah peluru berhasil menembusnya.
‘’Cih, kau begitu berisik,’’ kata Hiroki.
"96 pemain telah dinyatakan gugur,"
Ren menggertak gigi dan langsung memukul Hiroki.
‘’B****! Apa yang kau lakukan?! Kenapa menembaki Mika seperti it-‘’
DOR!
‘’K-Kau…uhuk!’’ tatap Ren tidak percaya saat Hiroki juga menembakinya.
‘’Kau sama berisiknya,’’ kata Hiroki.
"97 pemain telah dinyatakan gugur,"
Yuichiro spontan menodongkan senapan, tapi ia dikalah cepat oleh Hiroki yang menembakinya lebih dulu.
"98 pemain telah dinyatakan gugur,"
Miki mematung, turnamen yang sejak awalnya hanya untuk bertahan hidup, entah mengapa tiba-tiba berubah menjadi saling membunuh. Hiroki melirik Miki yang terpaku. Lelaki itu berdiri dan menghampirinya.
‘’Kakak! Pergi dari sana! Dia juga akan membunuhmu!”
Hiroki berbalik dan hendak menembaki Naoki, tapi dengan cepat Miki langsung menghadangnya, meskipun kondisinya sudah tidak kuat lagi.
Melihat Miki terengah-engah dengan sekujur keringat ditubuhnya membuat senyuman terukir di bibir Hiroki.
‘’Kau seperti ini membuatku sedikit terangsang,’’ kata Hiroki menarik dagu Miki kemudian mencium bibir gadis itu.
Miki melotot dan berusaha mendorongnya, tapi Hiroki menciumnya begitu kuat.
‘’Hhah…’’ pekik Miki mengambil nafas.
Hiroki menjilati sudut bibirnya setelah menarik ciumannya.
‘’Padahal kau begitu cantik dan baik, sayang sekali aku tidak bisa menjadikanmu pacarku,’’
‘’Ke…napa? Kenapa ka…u me…m...bunuh mereka?’’ tanya Miki begitu lemah.
‘’Kenapa? Sejak awal, turnamen ini sudah membunuh banyak orang, jadi aku hanya mengikuti aturan mainnya,’’
‘’Teman-temanmu begitu senang kita semua akan keluar, tapi kenapa kau malah membunuhnya?!’’
‘’Kau lupa, ya? Kalau hanya ada satu pemenang di setiap permainan? Aku sebenarnya tidak ingin membunuhmu, tapi permainan tetaplah permainan, jadi aku harus membunuhmu terlebih dahulu barulah kedua adikmu menyusul,’’
Mata Miki membulat besar, padahal busurnya ada di sampingnya tapi kekuatannya sudah tidak ada lagi. Hanya butiran air mata yang keluar.
‘’Selamat tinggal, Miki,’’
Saat Hiroki menarik pelatuk senapannya, tiba-tiba sebuah lidah menariknya.
‘’Eh?’’ tatapnya yang sudah berada dimulut makhluk itu.
Pandangannya kemudian tertuju ke arah Miki, ia dengan sekuat tenaga berusaha menembaki gadis itu namun dalam sekejap, Hiroki sudah tertelan.
‘’Zamamiro(Kau pantas mendapatkannya),’’
Mapinguari itu berjalan mendekati Miki, lidahnya mulai mengikat tubuh gadis itu. Miki hanya pasrah, ia sudah tidak bisa bergerak lagi.
‘’Naoki? Yuki? Ayah? Ibu? Maaf, aku harus pergi lebih dulu,’’ Kata Miki dalam hati dengan butiran air mata.
DOR!
Belum sempat Mapinguari itu menelan Miki, Naoki berhasil menembak kepalanya.
‘’212,’’ kata Miki lemah sambil melanjutkan hitungan Hiroki.
Dengan nafas tersengal, Naoki membuang senapan milik Mika tadi dan berlari ke arah kakaknya sambil menggendong Yuki.
Saat itu juga gerbang terbuka, para staff berlarian menolong Miki dan kedua adiknya. Sejak itulah, Miki keluar dan dinyatakan sebagai pemenang. Hadiah yang dijanjikan pun diberikan padanya. Seluruh dunia yang menyaksikan turnamen itu secara live salut dengan Miki, namanya pun langsung dikenal.