SUARA TAKBIR MERAMAIKAN KAMPUNG HALAMAN KU. namun nyatanya hannyalah sebuah mimpi. ketika sesaat aku terbangun perasaan ku senang di campur tangis karna rasa rindu dengan orang-orang di sana, karena Sudah dalam empat tahun aku belum di berikan libur, aku harap kali ini majikanku mengizinkan ku untuk berlibur. Rasa hati tentu sudah senang membayangkan bagaimana suasana di sana yang sudah aku tinggalkan bertahun-tahun.
Namun saat aku katakan kepada majikanku ketika itu, “ibu, lebaran sebentar lagi, saya ingin mengambil cuti Buu,” Tetapi respons dari majikan ku, “Apa kamu ingin cuti. Maaf masih banyak pekerjaan yang belum kamu selesaikan. Jadi kamu tidak perlu pulang dulu.”
“Tetapi Bu, saya hanya akan mengambil libur beberapa hari saja, setelah itu saya akan kembali lagi Bu.”
“Walau untuk beberapa waktu atau beberapa hari, kamu tidak saya izinkan untuk pulang, sebab masih banyak pekerjaan rumah yang harus kamu bereskan.”
Rasa ku menjadi hancur mendengar ucapan majikan ku, “Tetapi Bu, saya sudah empat tahun tidak pulang kampung, bahkan saya hanya pulang sekali waktu itu dan Cuma dua sampai tiga hari saja ibu, saya mohon, ” Tidaklah menerima alasan, lantas dia mengancam akan memberhentikan aku dari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Aku berfikir jikalau aku bisa pulang pasti aku akan berhenti dari pekerjaan, namun jikalau aku tidak pulang maka keluargaku di sana akan semakin rindu. Maka dengan terpaksa aku undurkan niatku lagi, sedih sudah pasti, hancur sudah pasti, marah, dan dendam semuanya aku pendam diam-diam.
Di keheningan malam sembah sujud ku tengadahkan kedua tangan memohon petunjuk kepada sang rabi, dalam kepahitan hati ku ini berlinang air mata rindu kepada mereka yang jauh di sana, “Tuhan, apakah tidak engkau memberikan keadilan kepada hamba, siang dan malam aku selalu menyempatkan diri kepadamu, namun mengapa tak kunjung datang keadilan yang kau berikan.”
Tasbih yang berada di tanganku putus dari talinya, berhambur berserakan, membuat hatiku saat itu juga merasakan ada yang tidak beres. Handphone di sampingku tiba-tiba berdering, ternyata mas Bram menghubungi ku. Saat ku angkat kabar duka diiringi Isak tangis mas Bram, “ dek ayu, maafkan mas.”
“A...a...ada apa, kenapa apa yang terjadi?.” Tanyaku.
“a..a...ayuu Anak kita...”
“Iya mas kenapa dengan anak kita?,” Tanyaku dengan perasaan penasaran.
“anak kita dek ayuu, tiada,” Tentu mendengar kabar tersebut hati ini bertambah hancur tidak dapat bibir berucap lagi hanya air mata menjadi penjelas segalanya. Entah bagaimanakah perasaan ku waktu itu, sampai aku katakan kepada tuhan bahwa dia benar-benar tidak adil kepadaku.
Waktu itu juga aku langsung putuskan untuk pulang ke kampung, baik di izinkan maupun tidak. Aku akan tetap pergi.
Bu Sarah berkata, “Saya tidak izinkan kamu pergi.”
“Maaf karna ibu menunda setiap tahun bagi saya untuk libur, beberapa tahun itu juga keluarga saya selalu menginginkan saya pulang, termasuk anak saya selalu menunggu saya, namun kali ini anak saya sudah tiada, tetapi saya masih tidak ada di sana, saya harus pergi,” Ucapku sangat marah kepada majikanku.
“Baiklah kalau begitu kamu akan saya pecat sekarang juga.”
“Baiklah Buu, sekarang saya tidak takut lagi. Tetapi ibu harus ingat apa yang saya alami dan rasakan akan ibu hadapi seperti saya hadapi saat ini nanti,” Aku pergi dengan penuh amarah dan sumpah yang aku tanamkan kepada majikanku.
Beberapa jam setelah kepulangan ku.
Sesampainya di kampung halaman, di depan rumah sudah terpasang bendera putih. Aku langsung saja berlari memasuki rumah memeluk mayit anak ku yang sudah terbungkus kain kafan, “anak ku, maafkan ibu, ibu tidak bisa bersama mu selama ini.”
“Dek ayuu sudahlah, semua ini sudah terjadi, jangan kamu terlalu bersedih.”
Ku menatap mas Bram, wajah yang kurindukan langsung ku peluk dia, “Mas, ini semua salah ku, aku begitu lama tidak pulang sampai anak kita meninggal.”
Rasa penyesalan yang mendalam ku rasakan, tidak dapat lagi ku lihat masa-masa tumbuh besar anak ku.
Setelah aku kehilangan anak ku, kondisi ku semakin hari semakin memburuk, ada kalanya aku melamun sendirian, terkadang aku menangis sendirian. Aku seperti orang gila bingung tak bisa berfikir secara jernih. Namun mas Bram selalu menasihati k, “Ayu, relakanlah kepergiannya, mungkin Allah lebih menyayanginya. Jangan buat dirimu seperti ini.”
“Tapi mas, dia darah daging ku, aku dulu sekali melihatnya mulai merangkak, namun saat dia mulai besar, Adi anak kita pergi sebelum ku melihat dia berlari memanggil namaku.”
Tangisku pecah di pelukan suamiku, rasa kehilangan yang sangat besar terus membuatku tidak mampu melepaskan kepergian anakku.
“Sudah, sudah. Tidak apa Allah lebih menyayangi anak kita.”
Aku sangat beruntung di pertemukan dengan seorang suami yang bisa mendukung dan menenangkan ku di saat sedang terpuruk, bukan malah menyalahkan ku, apa lagi sampai meninggalkan ku seorang diri, sekarang bagiku sudah terasa jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
2 Minggu berlalu setelah kejadian yang menimpaku.
Di saat hari ketenangan ku, tiba-tiba aku mendapatkan kabar jikalau majikan ku sendiri mengalami musibah yang seperti aku alami. Tetapi bukanlah menimpa putrinya melainkan kepadanya sendiri.
Majikan ku yaitu Bu Sarah dia terlibat dalam kecelakaan mobil saat dia sedang mabuk karna meminum alkohol. Tabrakan itu tidak dapat terhindar lagi hingga membuat mobilnya terbakar tidak sempat menyelamatkan diri. Saat itu juga anak dari Bu Sarah menghubungi ku, dari telefon genggam ku berita buruk menimpa ibunya. “Inalillahi wainnailaihi Raji’un.” Ucapku dalam keadaan duka tak dapat mempercayai yang terjadi.
Suamiku mengetahui berita tersebut, namun dengan besar hati dia mengizinkanku untuk datang kembali ke sana. Sesegera mungkin aku langsung pergi menuju ke rumah majikanku.
Sesampai disana, seperti yang terjadi ketika aku pulang melihat bendera putih yang berkibar di depan rumah. Begitulah juga yang terjadi saat ini. Seorang anak yang menangis memeluk jasad ibunya merintih kehilangan orang tercintanya, aku membuka kain kafan yang menutupi wajah Bu Sarah, tak bisa terbayang, wajah yang dahulu cantik jelita kini hancur hingga tidak berbentuk lagi.
Kurangkul si anak agar dia tidak terus menangis, apalah yang bisa perbuat lagi. Yang terjadi kini sudah terjadi, takdir tetaplah takdir.
Bu Sarah adalah seorang janda anak satu yang telah lama di tinggalkan sang suami, karna kesendiriannya membuat menjadi egois akan semua di dalam hidupnya, seakan-akan dia ingin membuat di sekitarnya bernasib sama dengannya. Dan kini semua yang dia lakukan berimbas kembali kepadanya.
Kini barulah aku sadari tuhan itu selalu adil, namun Tuhan tidak akan langsung memperlihatkan secara langsung keadilannya. Tetapi sungguh aku mengatakan sumpah ku itu bukanlah atas dasar hati ku, karna hanya emosionalkulah terucap kata itu, dan bukanlah keinginan ku ingin melihat seorang anak kehilangan ibunya.
Pada saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri akan membesarkan anak Bu Sarah sebagaimana membesarkan anak ku sendiri, akan ku didik anak itu sebaik mungkin agar dia menjadi anak yang Saleha.
Ternyata hidup ini tiada yang tahu bagaimana awal dan akhirnya, baik dan buruknya itu semua pasti akan mendapatkan balasannya kelak.