Janien Gracia dan Indah Jelita adalah dua gadis berusia tujuh belas tahun. Keduanya sedang mendaki di gunung Semangka. Dimakan Gunung Semangka, karena gunung tersebut menyerupai bentuk buah semangka.
"Nien...," panggil Indah dengan nafas yang ngos-ngosan.
Janien yang berada di depan, menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Indah yang kelelahan. "Capek?" tanya Janien dan di-angguki oleh Indah.
Keduanya lalu memutuskan untuk istirahat sebentar di bawah pohon pulai. Kedua remaja tersebut sudah sering sekali mendaki gunung. Dan untuk Gunung Semangka ini, mereka sudah mendakinya sebanyak tiga kali. Dan ini adalah pendakian ketiga mereka di sini.
Mereka sudah hafal jalur di sini. Tidak perlu menyewa jasa tour guide lagi.
Indah mengeluarkan botol minumannya dari dalam tas, kemudian ia melumasi tenggorokannya dengan air minum.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Dari balik semak yang lebat, matahari memancarkan sinarnya dengan gagah.
"Aku sudah baikan. Ayo kita lanjut lagi," ujar Indah.
Keduanya lalu kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini Indah yang berada di depan.
Untuk Gunung Semangka ini, biasanya mereka akan pulang hari. Mulai star pagi, dan sorenya sudah sampai di bawah lagi.
Perjalanan mereka tinggal sebentar lagi. Namun tiba-tiba saja hujan badai datang. Padahal tadi sedang cerah, kok tiba-tiba sekarang hujan badai.
Kedua sahabat itu bergandengan tangan untuk mencari pohon yang rindang. Apes sekali mereka, karena saat ini mereka tidak membawa tenda.
Saat hendak menuju sebuah pohon rindang, tanpa sengaja kaki keduanya menginjak bibir jurang. Karena kaget, keduanya lantas terperosok jatuh ke jurang.
***
Janien dan Indah terbangun di sebuah pondok. Keduanya bingung dan saling bertatapan heran.
"Kita di mana?" gumam Indah nyaris tanpa suara. Ia meringis saat menyadari kakinya terluka. Kaki kanannya lecet cukup lebar dan ada seperti ramuan di kakinya itu. "Liat kakiku, Nien! Ini kayak ramuan. Warnanya hijau, mirip daun. Siapa yang nolong kita, ya?"
Dengan langkah terseok-seok, keduanya lantas keluar dari dalam pondok. Janien juga mengalami luka pada kakinya. Namun bedanya, kaki Janien hanya lebam-lebam, tidak lecet seperti Indah.
"Hutan Kaliba!" Janien teriak tertahan. Dia menutup mulutnya karena takut.
Keduanya lantas terduduk lemas di atas tanah sambil memeluk lutut.
Ciri-ciri Hutan Kaliba adalah: semua pohonnya adalah pohon teras.
Hutan Kaliba sudah terkenal keangkerannya. Banyak pendaki menghilang tanpa jejak di hutan ini. Dan jika tidak menghilang, maka yang tersisa hanya mayat mereka saja.
"Ini bahaya, Nien," lirih Indah. Ia berdiri, lalu kembali melihat-lihat keadaan sekitar. Yang ia temui hanya pohon, pohon, pohon dan sebuah pondok reot yang nyaris roboh.
"Jangan-jangan, ini rumah penjahat, Ndah. Sebenarnya pendaki-pendaki itu hilang karena di jual oleh penjahat ini," ujar Janien sambil memeluk tangan kanan Indah.
"Ayo kita periksa ke dalam pondok itu! Siapa tau ada petunjuk," ujar Indah.
Keduanya lantas memeriksa isi dalam pondok tersebut. Di dalam itu hanya ada satu dipan yang dilapisi tikar pandan. Sebuah meja kayu dan dua kursi kayu. Dan juga tungku dari tanah liat lengkap dengan kayu bakarnya.
Pondok tersebut tidak ada sekat-sekatnya. Dan pintunya juga hanya satu. Tadi saat bangun, Indah dan Janien tidak sadar akan hal tersebut. Karena keduanya keburu panik dan takut, jadinya mereka langsung memutuskan untuk keluar dari pondok dengan tergesa-gesa.
"Nggak ada apa-apa di sini," ujar Indah sambil duduk di sisi dipan. "Benda tajam juga nggak ada," lanjutnya.
"Tunggu, Ndah! Perapian ini kayaknya selalu di pake, deh. Atau jangan-jangan, yang punya ini kanibal?!" teriak Janien ketakutan.
Tiba-tiba saja, dari luar pintu muncul seorang kakek dengan pakaian dari kulit kayu. Tangan kakek tersebut membawa sebuah tombak, dan tangan yang satunya lagi membawa sebuah karung yang berlumuran darah.
Mata kakek tersebut menatap tajam ke arah Janien dan Indah. Mata itu seolah-olah mampu mencabik-cabik ulu hati dua sahabat tersebut.
Janien dan Indah lantas meringkuk di sudut ruangan dengan wajah ketakutan. Detak jantung keduanya berderu kencang sekali. Mereka tidak bisa kabur karena di sini pintunya hanya satu. Dan satu-satunya pintu dihalangi oleh si kakek.
"Ampun, Kek! Ampun!" teriak Janien dengan suara histeris.
"Jangan bunuh kami, Kek. Kami bukan orang jahat," sahut Indah tak kalah histerisnya. "Jangan bunuh kami!"
Sang kakek berdiri mematung di depan pintu dengan tatapan heran. "Kalian kenapa?" tanyanya. "Kakek baru pulang dari berburu rusa. Kalian pasti belum makan, kan? Sudah dua hari kalian pingsan.
Janien dan Indah lantas berpandangan. Keduanya mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Kakek bukan orang jahat?" tanya Indah dengan polosnya.
"Memangnya Kakek terlihat seperti orang jahat?" tanya sang kakek sambil melangkah menuju dalam rumah. Kakek tersebut lantas duduk di kursi.
Namun ada yang janggal, kakek tersebut seperti mengangkat seorang anak ke atas kursi satunya lagi.
"Ini cucu Kakek. Namanya Lusi. Lusi sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu. Tapi roh-nya masih selalu bersama Kakek," beritahu sang kakek.
Seketika bulu kuduk Indah dan Janien meremang. Mereka ketakutan bukan main.
"Kalian jangan takut, Lusi ini baik, kok," terang sang kakek.
Indah dan Janien mengangguk pelan. Sumpah demi apa, ini adalah pengalaman paling horor Indah dan Janien selama mereka menjadi pendaki.
***
"Lusi meninggal saat berusia lima tahun. Kalau sekarang ia masih hidup, usianya sudah dua puluh lima tahun," terang sang kakek.
Mereka duduk di luar rumah sambil mendengarkan suara jangkrik dan binatang malam lainnya. Tak lupa, sebuah api unggun menyala indah menemani mereka. Indah dan Janien mendengarkan cerita sang kakek dengan seksama.
"Lusi dibunuh oleh ayahnya yang sakit jiwa. Tak lama setelah Lusi meninggal, ibunya bunuh diri."
Seketika angin bertiup sangat kencang. Menyapu wajah Indah dan Janien dengan kencang.
"Itu tadi Lusi yang melakukannya. Dia ingin menyapa kalian," beritahu sang kakek.
"Ha-halo Lusi." Indah menyapa dengan suara gagap. "Aku Indah," ujarnya.
"Ak-ku Janien," ujar Janien dengan suara yang gagap juga.
"Kata Lusi, halo juga buat kalian berdua," beritahu sang kakek.
Indah dan Janien mengangguk takut-takut.
"Kakek sudah berapa lama di sini?" tanya Indah saat rasa takutnya sudah lumayan berkurang.
"Sejak ibunya Lusi meninggal. Kakek meninggalkan semua harta benda dan hidup menyendiri di sini. Suasana damai di hutan ini tak Kakek dapatkan di desa."
"Pondok ini pernah beberapa kali diperiksa polisi, tapi polisi tidak menemukan apa-apa. Saat itu Kakek ke mana?" tanya Janien.
Ya, pondok di Hutan Kaliba ini sangat terkenal. Pasalnya pondok ini pernah masuk televisi dan portal berita online. Saat banyak pendaki yang hilang di sini, pihak kepolisian memutuskan untuk memeriksa keadaan pondok ini. Namun mereka tak menemukan apa-apa di sini. Hanya pondok reot yang kosong.
"Kakek ada di sini. Tapi Kakek tidak terlihat. Lusi melindungi Kakek, ia membuat Kakek jadi tak kasat mata," beritahu sang kakek sambil membenarkan api yang mulai padam.
Indah dan Janien mengangguk paham.
"Pasti awalnya kalian mengira Kakek ini adalah pembunuh. Karena banyak sekali pendaki yang meninggal di sini." Jeda beberapa detik. "Sebenarnya yang membunuh pendaki adalah Dagana."
"Siapa Dagana itu, Kek?" tanya Janien penasaran.
"Dagana adalah hantu penunggu hutan ini. Dia itu jahat. Setiap orang yang tersesat akan diajaknya pergi ke alamnya."
"Lantas bagaimana caranya kami bisa selamat, Kek?" tanya Indah sambil melipat kedua kakinya karena lelah memeluk lutut.
"Lusi yang menyelamatkan kalian. Lusi bertarung dengan Dagana. Lusi tidak bisa menolong semua orang, ia hanya bisa menolong pendaki yang berhati jernih dan memiliki niat mendaki yang baik. Pendaki yang hilang atau meninggal itu adalah pendaki yang mesum dan buang air sembarangan."
Mereka terdiam beberapa saat. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan.
"Lusi bertanya, kalian mau melihat dia atau tidak? Kata Lusi, salah satu dari kalian ada yang tidak percaya cerita ini." Kakek tersebut bicara tanpa menoleh ke arah Indah dan Janien.
Indah menggigit bibir bawahnya. Pasalnya orang yang tidak percaya itu adalah dia. Sedari tadi ia mendebat dalam hati kata-kata sang kakek.
Janien menyenggol lengan Indah dengan kesal. "Jangan gegabah," bisik Janien.
"Maaf," sahut Indah pelan.
"Saya mau liat Lusi, Kek," kata Janien pada akhirnya.
"Saya tidak." Indah menggeleng kuat-kuat. Ia paling penakut dengan hantu.
"Tapi nanti penglihatan saya bisa di tutup lagi kan, Kek?" tanya Janien.
Sang kakek mengangguk beberapa kali. "Kamu hanya bisa melihat Lusi," ujarnya. Ia lalu menjentikkan jarinya di depan Janien. Dan seketika itu pula, Janien langsung melompat ke belakang.
"Ka-kamu... Lu-si?" tanya Janien terbata-bata.
"Iya. Aku Lusi. Salam kenal," kata Lusi sambil lari-larian sendiri memutari api unggun.
"Terimakasih sudah menolong kami," ujar Janien dengan suara yang bergetar karena takut. Ini adalah pengalaman pertama dia melihat hantu.
"Sama-sama. Kamu mau lihat Dagana, tidak?"
Janien menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak. Dia pasti serem, kan?"
Lusi tertawa kecil. "Ya, dia memang seram. Tubuhnya tinggi besar berbulu. Matanya merah menyala. Taringnya panjang sekali."
Janien tidak menyahuti lagi kata-kata Lusi. Ia memeluk lututnya karena tiba-tiba saja dirinya merinding hebat.
Indah yang duduk di sebelah Janien, memeluk Janien dengan erat. Ia ketakutan sekali. Indah juga tiba-tiba merasakan buku kuduknya meremang.
"Dagana datang. Cepat kalian masuk pondok!" perintah sang kakek.
Kedua remaja tersebut langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam pondok. Sedangkan si kakek dan Lusi, bertarung melawan Dagana.
Terdengar dentuman seperti bunyi halilintar beberapa kali.
Janien dan Indah mengintip dari celah dinding yang bolong. Api menyambar-nyambar di udara. Sepertinya pertarungan mereka sangat sengit.
***
Pagi-pagi sekali Indah dan Janien sudah bangun. Semalam, setelah si kakek dan Lusi melawan Dagana, si kakek menyuruh Indah dan Janien untuk segera tidur. Karena pagi ini mereka akan pulang diantar oleh kakek dan Lusi.
Tadi malam indah dan Janien tidur di dipan, sedangkan kakek begadang di luar bersama Lusi.
Setelah pertarungan itu juga, penglihatan Janien tentang Lusi langsung di tutup oleh sang kakek.
Dan saat ini, mereka sedang jalan menyusuri hutan untuk pulang. Selama perjalanan mereka tak banyak berbicara. Hanya sesekali saja mereka bicara.
Setelah mereka sampai di perbatasan desa dan hutan, mereka lantas melakukan salam perpisahan.
"Nama Kakek, siapa?" tanya Indah sebelum mereka benar-benar berpisah.
"Panggil saja Kakek Lusi," jawab sang kakek.
Sepertinya sang kakek tidak ingin namanya diketahui orang. Indah dan Janien yang paham akan hal itu, menganggukkan kepalanya paham.
"Selamat tinggal, Kek. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi," kata Janien sambil menyalami tangan Kakek Lusi.
Keduanya mencium punggung tangan kakek dengan takzim. Setelah itu, mereka langsung melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Janien dan Indah berjanji untuk tidak menyebarkan berita ini kepada siapapun. Mereka tidak ingin kehidupan Kakek Lusi dan Lusi terganggu dengan adanya orang-orang iseng yang mendatangi pondok mereka.
S E L E S A I