Seorang lelaki yang bernama Faiz sedang duduk seorang diri di bangku yang berada di taman yang dihiasi oleh pohon yang berdaun hijau bersih dan bunga yang indahnya tak bisa dijelaskan oleh satu maupun ribuan kata. Disana ia sedang membaca buku catatan miliknya, juga milik pacarnya, Tasya. Buku itu diberi nama "F & T" oleh Faiz. Ketika Faiz dan Tasya menghabiskan waktu bersama di taman tersebut, terkadang mereka pasti menulis sesuatu dalam buku tersebut, entah itu identitas, janji-janji, puisi, kata-kata gombal, serta ungkapan hati mereka berdua selama hidup di bumi ini. Mereka berdua duduk di kelas yang berbeda, Faiz kelas 3 SMA, Tasya kelas 2 SMA. Mereka berdua telah berpacaran selama 2 tahun. Faiz begitu berbunga-bunga ketika melihat tulisan-tulisan lama yang ditulis oleh sebuah goresan pena hitam itu. Salah satunya adalah tulisan,
"Kau adalah cinta, pertamaku dan terakhirku."
Kemudian Faiz berpindah ke halaman yang bertuliskan puisi yang ditulis 2 hari lalu, seperti ini puisinya,
"Malaikat baik
Ku titipkan dia untukmu
Tolong jaga dia
Dibangun dan tidurnya
Jangan sampai dia
Terluka dan bersedih
Karena bahagia ku
Ketika ia bisa tersenyum"
Faiz & Tasya
Pemandangan Faiz terhadap taman yang indah, menjadi semakin indah lagi berkat buku yang telah ia baca itu.
Awalnya perbedaan suku tak memisahkan Faiz dan Tasya. Tapi sayangnya, kabar buruk menghampiri Faiz, karena ada seorang yang memisahkan mereka berdua atas nama perbedaan suku...
"Nak, kenapa kau mau pacari dia, suku dia itu orangnya gak baik, lebih baik kau berpasangan dengan orang yang satu suku dengan kita." Ibunya Faiz marah besar, nampaknya ia telah membaca semua isi buku F & T. "Ma, gak semua orang yang satu suku dengan kita itu baik, dan gak semua orang yang berbeda suku dengan kita itu gak baik. Tasya itu sudah ada di hati saya, Ma, saya mencintainya sepenuh hati." Ucap Faiz tidak terima. "Oh, kau mulai berani sama ibu ya, hah. Sudahlah, dengar saja kata ibumu ini." Kata ibunya. "Tapi Bu." "Sudah, gak ada tapi-tapi! Ibu ga mau kamu kenapa-kenapa karena cewek itu. Atau gini saja, ibu jodohkan kamu nanti sama anak teman ibu, dia satu suku dengan kita. Kamu pasti bakal menjalani hidup yang baik oleh dia!" Faiz tidak bisa berkata apa-apa lagi, semakin ia lawan, semakin murka ibunya nanti.
Semenjak itu Faiz sering menjauhi Tasya, ketika Tasya hendak menghampiri Faiz, Faiz berlari secepat mungkin, menjauh dari Tasya. Faiz sebenarnya tak mau melakukan ini, tapi demi menyenangkan ibunya, Faiz terpaksa melakukannya.
Suatu hari saat jam istirahat, Faiz melihat Tasya berlari keluar dari kelasnya, Tasya tampak buru-buru sekali. Faiz penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Tasya. Saat Faiz masuk ke kelas, ia menemukan secarik kertas yang dilipat dua di atas mejanya, sepertinya Tasya yang menaruh kertas itu sebelumnya. Faiz pun membuka kertas tersebut, kemudian membaca tulisan yang ditulis dalam kertas tersebut,
"Ka, Kaka belakangan ini kenapa? Kaka kenapa selalu menjauhi Tasya? Kaka punya masalah sama Tasya? Cerita dong ke Tasya, Tasya mau tahu Kaka kenapa! Ingat janji kita yang pernah kita tulis didalam buku kita? 'Kalo kita punya masalah kita harus SALING CERITA!'
Ka, Tasya takut Kaka pergi, jangan tinggalin Tasya ya ka, nanti siapa yang bakal nemenin Tasya kalo bukan Kaka! Tapi kalo Kaka udah ga suka sama Tasya langsung bilang.
Jujur Tasya tuh kepikiran Kaka terus, setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari... Cerita dong Ka ke Tasya kalo ada masalah.
Tasya berharap kalo kita bakalan selalu bersama sampai jodoh kita masing-masing bertemu dengan kita. Tapi Tasya sangat berharap kalo kita itu berjodoh."
~ Tasya ~
Bel sekolah berdering bertepatan ketika Faiz selesai membaca surat itu. Ya, cepat atau lambat Faiz harus segera memberitahu segalanya kepada Tasya. Tapi Faiz akan melakukannya nanti karena pelajaran akan dimulai sebentar lagi.
***
"Jadi begitu masalahnya?" "Iya, maafkan aku yang telah menyembunyikan hal ini berhari-hari, aku takut kamu kecewa." Faiz pun telah menceritakan segalanya dengan beribu rasa sedih. Mereka berdua sedang duduk di taman, seperti biasa. "Tenang Ka, Tasya gak marah kok sama Kaka." Tasya berhenti bicara sejenak, "Tasya tahu betul kalau kehidupan ini dijalani oleh-Nya. Tasya gak akan maksa Kaka harus berpasangan sama Tasya. Walau Kaka menjauh dari hadapan Tasya, Hati Tasya tetap selalu memandang Kaka." Tasya mengucapkan kalimat itu dengan sangat sungguh-sungguh. Mendengar itu, Faiz pun tersenyum lalu berkata, "Terimakasih Tasya, Hati Kaka Faiz ini juga akan selalu memandang engkau, Tasya, walau aku akan dijodohkan dengan orang lain." Mereka berdua sedikit meneteskan air mata, tanda mereka berdua tahu mereka takkan berpasangan kembali seperti dulu. "Kita akan bertemu sampai jodoh kita masing-masing bertemu dengan kita, seperti yang Tasya tulis dalam surat itu sebelumnya." Itulah kalimat Tasya yang terakhir di Taman itu... "Ya Tasya." Ucap Faiz.
Menit telah berlalu, mereka berdua pulang ke rumah masing-masing. Ketika Faiz berjalan menuju ke rumahnya, ia bergumam dalam hati, "Seandainya ibuku tak seperti itu, seandainya ibuku tak memandang perbedaan suku, aku pasti telah berjodoh dengannya. Suku itu tak menunjukkan bagaimana sifat orang, Bu, mereka sama-sama manusia, tiada beda wujud dengan kita. Tapi aku tetap tak bisa melawannya, karena orangtua itu tak pantas untuk dilawan. Oh Tasya, aku janji, hatiku ini akan tetap memandangmu selalu."
~ TAMAT ~
Follow IG ku: @rainhard.frealdo
Follow MLBB ku: TheCircleOfFire. ID: 635724455
Jangan lupa untuk membaca cerpen karya saya yang lain di bawah ini ya :) 👇🙏
Jangan lupa juga untuk membaca novel pertama saya: "Dunia Langit". 🙏🙏