Wabah semakin menyebar dengan cepat, semua orang telah terkena wabah itu yang dimana semua manusia berubah menjadi mayat hidup/Zombie
-----
Aku,ayah dan kakak laki² ku mengumpul alat atau senjata tajam untuk bisa melawan para zombie yang berada di luar
Sedangkan ibu sedang mengumpulkan makanan untuk bisa bertahan hidup
Aku sebenarnya merasa sangat takut pada saat itu tapi segera mungkin aku tepis dengan keberanian
"apakah kalian sudah siap?" tanya pada ku dan juga kakak ku
"Andi udh siap yah" jawab ku penuh semangat sedangkan kakak ku masih fokus mencari sesuatu
"Rian apa yang kamu cari? kita harus secepatnya bisa pergi dari sini" ucap ayah. "bentar yah aku lagi mencari sesuatu yang bisa kita pakai untuk menghidarkan gigitan dari zombie" jawab Rian
Dan beberapa menit barang yang di cari pun ketemu,kami berempat berkumpul di ruang utama
Mereka berempat memakai pakaian ala action dan ibu juga menggunakan pakain seperti laki² dengan masing² saku celana mereka berisikan senjata tajam dan kakak menggendong tas berisi makanan
"apa kalian sudah siap?" tanya ayah lagi dan mereka menjawab "SIAP". Dengan mengendap² ayah dan kak Rian membuka pintu utama dengan pelan dan melihat sekeliling.
Ayah pun memberi kode bahwa sudah aman karena para zombie berada lumayan jauh dari mereka. Ibu dan aku pun keluar dengan mengendap²
Tapi karena kecerobohan ku, aku tanpa sengaja menginjak botol plastik yang menimbulkan suara
SREKK (anggap seperti itu)
"shitt, maaf Andi gak sengaja" ucap ku, dan para zombie itu melihat kearah kita dan mereka pun berlari ingin menghampiri ku
Kak Rian pun langsung menyuruh kita berlari, aku dan keluarga ku dengan cepat berlari menghindari para zombie
"Auww arkk" suara erangan para zombie terdengar keras (anggap itu suara nya) aku dan keluarga ku berusaha berlari secepat mungkin
Saat kami berlari ada beberapa zombie yang datang dari samping
Dhorrr dhorr dorr dorr suara tembakan dari pistol kami berempat
Kami berlari sekuat tenaga sampai ibu merasa lelah berlari dan ingin menyerah
"ibu sudah gak kuat berlari lagi" ucap ibu yang berhenti berlari
"bu ayo bu kita hrus lari, aku yakin ibu bisa" ucap ku memberi semangat. "Ibu udh gak kuat, kalian lari saja" jawab ibu ku terengah².
"Bu kita lari lagi sebentar aja, kita cari rumah kosonh untuk kita istirahat sebentar" ucap kak Rian. "yang di bilang Rian bener, kita haru lari" sahut ayah
Dhorr dorr dorr suara tembakan dari pistol kak Rian tepat mengenai zombie yang ingin mendekat
Dan akhir nya ibu pun mau berlari lagi kita pun berlari pada saat kita lari ayah dan kak rian melihat sebuah rumah untuk tempat kita istirahat.
"yah, seperti nya rumah ini sudah kosong" ucap Kak Rian. "tapi kita tidak boleh gegebah siapa tau ada zombie di dalam nya" jawab ayah
Ayah pun mengitip ke dalam rumah itu sedangkan aku dan Kak Rian berjaga dari luar sambil melindungin ibu.
"ayo masuk sudah aman" ucap ayah, kita bertiga pun masuk kedalam. Di dalam rumah itu sangat berantakan banyak barang² yang berserakan
Kita berempat pun mencari tempat aman di rumah itu untuk kami istirahat dan ayah menemukan satu kamar yang aman untuk kita istirahat
Ibu pun mengeluarkan makanan yang ada di dalam tas dan kami memakan nya sangat lahap karena merasa lapar dan haus karena berlari tadi. Setelah itu kami beristirahat karena merasa capek
***
Keesokkan hari nya, ada seseorang yang membangun kan kami
"Pak bangun, bu bangun, kak bangun" ucap seseorang. Dan kami pun terbangun dan sontak kami merasa kaget karena ada seorang gadis kecil yang kira² berusia 8 tahun
"kamu siapa?" tanya Ibu. "hiks hiks, ayah ibu aku meninggalkan ku" tangis gadis itu
"apa yang terjadi dengan ayah dan ibu mu?" tanya kak Rian, "mereka di gigit dan ayah ibu menyuruh ku untuk teteo disini, jangan keluar dan ayah ibu langsung pergi" jawab gadis itu
"jangan nangis lagi ya, ada kita disini" ucap ku
Kami pun langsung bersiap untuk melanjutkan perjalan menyelamatkan diri dari wabah zombie ini. Dan tentu nya kami membawa makanan dari rumah itu dan juga kami membawa gadis ini ikut bersama kami.
Kak Rian pun melihat keadaan di luar dengan mengintip dari jendela
"astaga, di luar begitu banyak para zombie yah" ucap kak Rian kaget melihat segerombong zombie yang berada di luar rumah. "lalu kita haru gmn nih" ucap ibu.
"apakah disini ada balkon?" tanya ayah kepada gadis itu. "ada om" jawab gadis itu yang bernama Silsi. "oke kita punya rencana" ucap kak Rian tiba²
Kami pun menyusun rencana, dan kami memutuskan untuk lewat balkon karena sebelum nya sudah di cek oleh kak Rian klok balkon aman
~Balkon~
Ayah dan kak Rian pun menyusun tali tambang satu persatu dan untung nya juga aku membawa tali yang ada sangketan nya.
Tali pun sudah selesai di sambung. Kak Rian yang turun terlebih dahulu lalu ibu di ikutin Silsi aku dan terakhir ayah. Kami pun berhasil dan memulai perjalanan.
Seperti rencana kita tadi kita harus mencari kendaraan seperti mobil supaya mempersingkat waktu.
Kami pun melihat ada sebuah mobil dan kami langsung berjlan menuju mobil itu. Dan kebetulan tidak ada siapa² di dalam sana tapi hal buruk terjadi mobil itu tidak mau menyala berulang kali ayah mencoba menghidupkan nya tapi tidak menyala.
Kami tidak membuanh waktu kami pun mencari yang lain kami melihat ada 5 zombie disana tapi dengan jarak yang lumayam sedikit jauh. Kami berjalan cepat supaya tidak ketahuan oleh mereka.
Kak Rian pun melihat ada sebuah bis pariwisata kami pun menuju kesana dan hal baik menyertai kita berlima bis itu ternyata masih menyala
Ayah pun menyuruh aku ibu dan Silsi untuk cepetan naik, tapi langkah kita di ketahui oleh mereka dan mereka pun mengerang sangat keras sehingga zombie yang lain pada datang.
Aku pun segera naik dan ayah langsung menutup pintu bis itu. Kak Rian langsung menancap gas bis itu dan bis pun berjalan dengan zombie terus mengejar bis kita.
Bis pun berjalan dengan kecepatan penuh menerobos semua yang ada di depan dan menghindari kendaraan yang lain.
Aku pun melihat ke belakang dan para zombie tidak terlihat karena kalah jauh dengan bis yang kak bawa.
"syukurlah kita terhindar dari para zombie itu" ucap ibu sambil mengucap kata syukur. "Tapi aku kehilangan ayah dan ibu hiks hiks" sahut Silsi sambil menangis mengingat kepergian orangtua nya yang sangat mengenaskan.
"Yang sabar ya nak, kita ada buat kamu... kamu boleh menganggap tante seperti ibu dan yang lain seperti keluarga mu" ucap ibu sambil memeluk tubuh Silsi dengan hangat.
Bis yang dibawa kak Rian pun sudah melewati perbatasan dan disana terlihat segerombong tentara dengan senjata lengkap.
Kak Rian pun berhenti lalu kami turun dari bis dengan saling berpelukkan. Tentara yang sedang mengintai para zombie pun melihat kami yang berjalan tapi sebelum itu tentara itu melaporkan kepada komandan nya bahwa ada seseorang yang menghampiri perbatasan.
Kami tau apa yang ada di pikiran para tentara, mereka pikir kami adalah zombie dan aku pun ingin meyakini para tentara itu bahwa kami adalah manusia.
Aku pun berjalan sambil menyanyikan lagu kebangsaan lalu di ikuti dengan ibu Silsi kak Rian lalu ayah.
Dan rencana ku pun berhasil beberapa tentara menghampirk kami lalu mengajak kami ke temoat yang aman .
Ini adalah pengalaman yang sangat menegangkan dan menakutkan bagi ku, dimana aku dan keluarga berjuang untuk tetep hidup dan yang bikin aku salut adalah Silsi seorang gadis berusia 8 tahun yang berjuang dan bertahan hidup di dalam keadaan seperti ini.
Untung kami bisa bertemu jika tidak? entah apa yang akan terjadi pada gadis ini.
~TAMAT~