Kisah ini tentang Andini, gadis berusia 21 tahun. Andini adalah gadis pecinta traveling dan kini ia baru datang berlibur ke pantai seorang diri, berjalan menuju kursi pantai kosong yang berada di sebelah seorang pria. Pria itu sedang rebahan wajahnya ditutupi oleh topi.
"Maaf mas, kursi disebelah anda kosong kah?" tanya Andini sopan.
Tapi pria itu tidak menjawabnya.
"Tidur ya? Ya sudah aku duduk aja deh, kayanya kosong." gumam Andini.
Andini pun duduk, lalu menyimpan tas tangannya di meja kecil yang berada diantara kursinya dan pria itu.
Andini melirik pria itu, "Aneh, orang pergi ke pantai itu kan untuk berlibur. Kalau mau tidur diam saja dirumah." gerutu Andini sambil melepas topi pantai dan kaca mata hitamnya yang langsung ia letakan di meja kecil itu.
Andini mengambil sunblock dari dalam tasnya, lalu ia usapkan pada kulit tangan dan kakinya.
"Maaf kalau saya itu orang aneh..." ujar pria yang berada di sebelah Andini itu mengejutkan Andini.
"Akh!" Andini langsung menoleh ke pria disampingnya itu yang masih menutup wajahnya dengan topi.
Andini mengelus dadanya sambil menghela nafas. Tak lama kemudian pria itu menyingkirkan topi yang menutupi wajahnya. Lalu bangun dari posisi rebahannya.
Seketika itu juga Andini tertegun saat melihat pria itu ternyata mempunyai paras yang sangat tampan. Dan stylenya merupakan tipe pria yang disukainya pria yang berpenampilan santai tapi sedikit badboy.
"Ya ampun, kenapa dadaku berdebar saat pertama kali melihat pria ini? Sebelumnya aku belum pernah mengalami perasaan seperti ini pada pria manapun apalagi pria yang tidak ku kenal." ucap batin Andini.
Pria itu mengeryitkan dahinya saat menatap Andini yang terus menatapnya. Diapun menjentikan jarinya di depan wajah Andini, membuat Andini tersadar dari lamunannya.
"Sory! tadi anda mengatakan sesuatu?" tanya Andini kemudian.
"Saya bilang maaf jika saya itu orang aneh, karena saya tidur disaat orang justru bersenang-senang di pantai ini." ucap pria itu.
Andini tersenyum kecil, "Jadi anda mendengar ucapan saya tadi ya, itu berarti anda tidak tidur. Harusnya anda menjawab saat saya bertanya tadi."
"Saya hanya berpikir jika saya tidak perlu menjawab pertanyaan yang tidak perlu saya jawab. Karena saya datang ke pantai ini sendiri. Jadi siapapun bebas untuk duduk di kursi kosong itu." jawab pria itu membuat Andini tertegun.
Andini tertawa kecil karena baru kali ini ada pria yang bersikap dingin padanya.
"Baiklah mungkin saya yang harus minta maaf, karena mengucapkan kata-kata yang menyinggung anda." Andini tersenyum.
"Saya tidak tersinggung." ucap pria itu lagi, membuat Andini tertegun untuk yang kesekian lainnya.
"Ups! saya salah lagi ya. ok saya tidak akan berbicara apa-apapun lagi kalau begitu. Silahkan anda teruskan hari menyenangkan anda." kata Andini tersenyum kecil.
Andini kembali melanjutkan aktifitasnya mengoles kulitnya dengan sunblock. Andini sedikit kesulitan saat hendak mengoles sunblock ke bagian punggungnya yang tidak tertutup pakaian renangnya.
"Aduh susah deh." Andini berpikir sejenak, lalu dia melirik pria di sebelahnya tadi yang kembali merebahkan diri dan menutup wajahnya dengan topi.
Andini berpikir jika pria dingin disebelahnya itu bukan pria hidung belang. Karena jika pria itu pria hidung belang, dia pasti sudah menggoda Andini yang berparas cantik diatas rata-rata.
Andini berdeham, "Ehem! mas! bisa tolong sebentar gak?" tanya Andini kemudian.
Pria itu tidak bergeming.
"Mas! saya tau kok anda gak tidur hanya rebahan." ujar Andini lagi.
Pria itu menyingkirkan kembali topinya. Lalu melirik Andini tajam. "Ada apa lagi? asal anda tau ya, kedatangan saya kesini itu untuk berlibur dan beristirahat dengan tenang. Makanya saya datang sendiri, supaya tidak ada orang yang mengganggu saya. " ujarnya ketus.
Andini tertawa kecil, "Iya sory, tapi saya butuh bantuan sedikit saja."
Pria itu terdiam sejenak lalu bangun kembali dari posisi rebahannya.
"Bantuan apa?"
Andini memberikan sunblocknya pada pria itu. "Tolong oleskan ini pada punggungku ya."
Pria itu sontak terkejut, "Apa? anda mau menyuruh pria yang tidak anda kenal, untuk mengoleskan benda ini di punggung anda. Anda sudah gila ya?!"
"Stttt.. jangan kencang-kencang bicaranya. Semua orang jadi memperhatikan." ujar Andini.
Andini pun meneruskan berbicara saat semua orang di pantai itu kembali ke aktifitasnya masing-masing
"Nama saya Andini. Nama anda siapa?" tanya Andini to the point.
Pria itu terdiam sejenak, "Nama saya Yuda."
"Ok mas Yuda, sekarang kita sudah saling mengenal nama. Dengan itu kita sudah cukup saling mengenal kan. Ayo cepat oleskan, saya mau cepat berenang di pantai."
"Saya tidak mau, suruh orang lain saja."
"Saya percaya mas Yuda bukan pria hidung belang. Makanya saya berani minta tolong pada mas Yuda. Saya berpikir benarkan tentang anda?"
Yuda tertegun, lalu akhirnya diapun mau membantu Andini.
"Di bagian mana saya harus mengoleskannya?"
"Punggungku yang tidak tertutup pakaian saja." jawab Andini tersenyum riang.
Yuda pun mulai mengoleskannya secara perlahan ke kulit punggung Andini yang putih dan mulus.
Andini merasa nyaman saat Yuda mengusapkan sunblock itu di punggungnya. "Pria ini memang orang yang sangat dingin, aku pikir dia akan mengoleskannya dengan kasar. Tapi dia bisa bersikap lembut juga. Hmmm...pria yang manis..." Ucap batin Andini tersenyum kecil.
"Sudah selesai." Yuda mengembalikan kembali sunblock itu kepada Andini.
"Thanks ya! ok sekarang saatnya berenang! Mas Yuda tidak berenang juga?"
"Saya sedang tidak ingin berenang."
Andini mengangguk mengerti, lalu dia membuka selendang pantai yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Yuda hampir mengomelinya lagi saat Andini membuka selendang itu di hadapannya. Tapi melihat Andini ternyata memakai pakaian renang ber-rok mini yang menutupi bagian bokongnya. Yuda pun mengurungkan niatnya.
"Titip barang-barang saya ya, mas Yuda. Saya gakan lama ko berenangnya." ujar Andini walaupun tau ucapannya tidak akan di respon.
Andini langsung berlari menuju bibir pantai.
"Wanita itu benar-benar ceroboh sekali. Apa dia selalu bersikap seperti itu pada pria asing yang baru bertemu dengannya? Apa dia tidak takut jika yang dia hadapi itu pria hidung belang?" Yuda menggelengkan kepalanya.
Lalu tiba-tiba Yuda menatap tangan kanannya, tangannya masih merasakan kulit lembutnya punggung Andini.
"Astaga... apa yang sedang aku pikirkan ini? Ini semua gara-gara wanita gila itu!"
Yuda melihat ke arah bibir pantai, ia tertegun saat ia dapat melihat Andini diantara para pengunjung pantai yang sedang asik bermain di sekitar bibir pantai itu. Yuda merasa aneh dia baru mengenal Andini hanya namanya saja. Melihat wajahnya pun belum lama, tapi dia sudah begitu yakin jika wanita yang menarik perhatiannya itu adalah Andini.
Andini sedang bermain-main dengan ombak, sambil tertawa riang sendiri. Yuda terus memperhatikan Andini dari jauh hingga dia tidak tersadar jika bibirnya menyunggingkan senyum.
Ketika Yuda tersadar kembali dari lamunannya, Yuda pun kembali rebahan dan memejamkan matanya. Hingga beberapa saat kemudian seorang wanita berteriak jika ada seorang wanita lain yang minta tolong karena hendak tenggelam di tengah pantai.
"Cepat panggil penjaga pantai! ada seorang wanita yang minta tolong karena saat berenang ia terseret ombak hingga ke tengah pantai."
Yuda yang mendengar itu langsung beranjak bangun, tiba-tiba ia teringat Andini. Yuda melihat ke arah bibir pantai, Andini tidak terlihat berada disana. Yuda berjalan mendekat ke arah bibir pantai.
"Apa tidak ada yang bisa menolong wanita itu?"
"Bagaimana ini? penjaga pantai disini kemana sih?"
Semua orang merasa khawatir.
Yuda yang menemukan sosok wanita yang hendak tenggelam di tengah pantai, akhirnya berlari dan menceburkan diri untuk berenang dan menolong wanita itu.
"Wah, lihat! Ada yang akan menolong wanita itu!"
"Siapa dia ya? apa dia penjaga pantai?"
Orang-orang ikut senang dan berharap Yuda berhasil menyelamatkan wanita itu.
Yuda terus berusaha berenang dengan cepat hingga ia hampir dekat. Wanita itu sudah tidak kuat bertahan dan akhirnya tenggelam. Yuda pun menyelam dan berhasil menangkap tangan wanita itu. Setelah itu ia membawanya kepermukaan.
Yuda terkejut karena ternyata wanita itu adalah Andini.
"Dasar bodoh, bagaimana kamu bisa berenang hingga ke tengah pantai?!"
Andini yang ditanya tidak menjawab karena sudah tidak sadarkan diri.
Seorang penjaga pantai menyusul berenang ke tengah pantai dan membantu Yuda membawa Andini ke bibir pantai.
Yuda menggendong Andini saat sudah sampai di bibir pantai, lalu menidurkannya di pasir. Yuda tampak sudah berpengalaman dalam menolong orang, iya langsung melakukan segala pertolongan pertama untuk membuat Andini tersadar.
Yuda mengusap-ngusap telapak kaki Andini. Dirasa belum cukup, Yuda pun menekan-nekan dada Andini. Tapi hal itu masih belum cukup juga untuk membuat Andini tersadar, tinggal cara terakhir yang bisa dilakukannya yaitu bantuan nafas buatan. Tanpa pikir panjang lagi, Yuda segera memberi nafas buatan untuk Andini.
"Kumohon sadarlah!" ucap batin Yuda.
Perlahan Andini mulai bisa bernafas, Yuda berhasil menolongnya. Andini terbatuk-batuk dan ia banyak memuntahkan air laut yang tertelan.
Yuda menghela nafas lega, Andini menatap Yuda yang ada di sisinya dalam keadaan basah kuyup. Melihat itu Andini tau siapa yang telah menolongnya. Andini beranjak bangun dan langsung memeluk Yuda.
"Mas Yuda yang sudah menyelamatkan saya. Terima kasih banyak." lirih Andini.
Semua orang yang menonton kejadian itu bertepuk tangan.
"Anda hebat!" puji semuanya.
"Sudah-sudah bubar silahkan kembali ke aktifitas masing-masing ya. Tolong berhati-hati jika sedang berenang." ujar penjaga pantai itu.
Semua orang yang menontonpun bubar dan berpencar.
"Apa mbak butuh dibawa ke klinik terdekat pantai ini?" tanya sang penjaga pantai.
"Tidak, terima kasih saya sudah tidak apa-apa." jawab Andini.
"Baiklah jika ada apa-apa, mbak bisa datang ke post."
"Iya mas..."
Penjaga pantai itu pun pergi meninggalkan Andini dan Yuda.
Andini menatap Yuda yang menatapnya dingin.
"Saya tahu Mas Yuda pasti mau mengomeli saya setelah ini." ujar Andini tersenyum kecil.
"Kenapa kamu berenang sampai ke tengah pantai seperti itu sih? sudah tahu itu berbahaya kan." tanya Yuda jengkel.
"Tadi kaki saya kram, saya hanya berenang disekitar bibir pantai. Kaki saya terasa sakit hingga saya tidak bisa menahan ombak dan akhirnya terseret ke tengah." jelas Andini.
"Saya sudah perkirakan itu karena saya perhatikan kamu tidak pemanasan dulu sebelum berenang kan."
"Apa? Mas yuda merhatiin saya?"
Yuda tertegun, "Maksudnya sudah jelas jika orang yang tenggelam saat berenang itu. Sudah pasti dia tidak pemanasan lebih dulu."
Yuda beranjak berdiri dan pergi meninggalkan Andini. Andini pun ikut beranjak berdiri dan berjalan menyusul Yuda yang kembali ke kursi pantainya untuk mengambil topinya.
Yuda memakai topi hitamnya lalu hendak pergi kembali.
"Mas Yuda mau kemana?" tanya Andini penasaran.
"Pakaian saya basah, saya bisa masuk angin jika tidak segara berganti pakaian." jawab Yuda datar.
"Gitu, eem... mas sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak. Bagaimana jika makan malam nanti, saya traktir mas makan di restoran terenak dipantai ini? saya ingin membalas kebaikan mas Yuda. Plis jangan di tolak ya..." ucap Andini penuh harap.
Yuda berpikir sejenak, lalu ia pun mengangguk.
Andini tersenyum senang, "Kalau begitu saya tunggu mas Yuda jam 7 malam di Venus. Ok?"
"Ok..." jawab Yuda datar, lalu ia pun pergi meninggalkan Andini.
Andinipun memakai kembali selendang pantainya, dan bersiap untuk kembali ke hotel.
***
Andini dan Yuda sudah bertemu di restoran dan mereka sama-sama menikmati makan malam bersama itu. Selain makanannya sangat enak, suasana di ruangannya pun sangat nyaman ditambah iringan lagu yang mampu membuat suasana hati menjadi tenang.
Selama makan direstoran Andini banyak berbicara tentang hobinya yang suka traveling kepada Yuda. Ia menceritakan pengalaman-pengalaman menyenangkan yang pernah ia lalui saat traveling.
Yuda tidak banyak berbicara ia hanya sesekali merespon ceritanya Andini.
Saat mereka sudah selesai makan, Andini mengajak Yuda berjalan-jalan sejenak di sekitar dermaga pantai yang pemandangannya indah sekali karena pancaran lampu hias di sepanjang dermaga.
"Sepertinya saya terlalu banyak bercerita tentang saya. Bagaimana dengan mas Yuda sendiri? apa mas Yuda hobi traveling juga seperti saya?" tanya Andini saat sudah sampai diujung dermaga.
"Tidak, saya tidak hobi traveling. Hobi saya itu lebih mengarah ke petualangan." jawab Yuda.
"Petualangan yang seperti apa contohnya?"
"Menjalani misi." jawab Yuda lagi.
"Maksudnya?"
"Saya rasa itu tidak penting, yang jelas saya mau memberitahu jika malam ini malam terakhir saya berlibur di pantai ini. Esok saya harus kembali ke kota dimana saya tinggal dan kembali menjalani aktifitas sebagai petualang."
Andini tertegun sejenak saat mendengar ucapan yang kata-katanya mengarah pada perpisahan. Entah kenapa Andini merasa sedikit sedih mendengar hal itu.
"Sayang sekali ya, saya pikir mas masih lama liburan disini. Tadinya saya mau mengajak mas bersenang-senang untuk menghabiskan uang yang saya bawa." ujar Andini tertawa kecil.
"Jika kamu merasa kelebihan uang, kamu bisa menyumbangkannya kepada orang yang kekurangan uang. Mungkin hal itu akan lebih berguna daripada menghambur-hamburkannya kan." ujar Yuda mulai berbicara dengan lebih santai.
Tiba-tiba di dekat mereka ada 2 orang pasangan yang berbisik.
"Eh dia kan wanita yang tadi siang tenggelam di pantai."
"Iya benar, pria itu juga yang tadi menyelamatkannya. Pantas saja pria itu tidak segan memberi nafas buatan untuk wanita itu. Ternyata mereka couple."
Keduanya tertawa kecil, lalu pergi.
Andini meyentuh bibirnya sambil melirik Yuda. Yuda yang menyadari tatapan Andini tertegun.
"Jangan salah paham, kamu ngerti kan artinya nafas buatan. Saya hanya berusaha menyelamatkan nyawa kamu." Yuda berusaha menjelaskan.
Pipi Andini memerah, ia tahu tentang hal itu. Tapi itu berarti kan saat itu bibirnya dan bibir Yuda saling bersentuhan. Jika Andini tidak mendengar kedua orang itu berbicara, mungkin Andini tidak akan mengetahui ada kejadian demikian.
"Kenapa wajah kamu memerah? apa kamu marah?" tanya Yuda heran.
"Tidak, saya tidak apa-apa. Saya hanya sedikit syok jika ternyata first kiss saya diambil oleh mas Yuda."
"Apa? first kiss? tapi... itu berbeda kan."
"Entahlah, tapi bagi saya itu sama saja karena saya belum pernah di kiss oleh pria manapun" Andini memalingkan wajahnya dari tatapan Yuda, karena malu.
Yuda hanya garuk-garuk kepalanya yang tak gatal karena bingung harus menjelaskan apalagi.
***
1 bulan telah berlalu semenjak Yuda mengambil cuti tugasnya untuk liburan ke pantai seorang diri.
Yuda saat ini sedang berada di sebuah cafebar bersama seorang sahabatnya yaitu Rocki. Yuda melihat sebuah kartu nama bertuliskan nama Andini dan nomor ponselnya. Iya teringat kenangannya saat liburan terakhir di pantai dan bertemu dengan Andini. Ia juga teringat saat ia memberi nafas buatan pada Andini, untuk menyelamatkannya saat tenggelam di pantai.
"Kartu nama siapa bro, daritadi di pandangin terus?" tanya Rocki, sedikit mengejutkan Yuda.
"Urus urusanmu sendiri saja." jawab Yuda lalu memasukan kartu nama itu ke dalam dompetnya. Setelah itu Yuda mengaduk-aduk minumannya dan kembali melamun.
"Hmm... saya tahu pemilik kartu bernama Andini itu, orangnya pasti cantik sekali."
"Dia memang cantik."jawab Yuda tanpa sadar.
Rocki yang mendengar itu langsung tertawa.
"Ah sialan..." gerutu Yuda saat tersadar karena mengatakan hal yang memalukan.
Rocki berusaha berhenti tertawa, lalu kini memasang wajah serius. "Oh ya Yud, kita akan diberi misi."
"Misi?"
"Yup, komandan memerintahkan kita untuk menangkap seorang penipu yang saat ini sangat meresahkan para pengusaha di kota lain. Menurut laporan penipu itu seorang wanita dan dia menipu dengan cara menjadi marketing asuransi."
"Kapan misi itu akan dijalani?" tanya Yuda semangat.
"Besok!" jawab Rocki ikut semangat.
"Ok, Jika ada misi sih kapanpun saya siap!"
Yuda dan Rocki saling adu jotos.
***
Esoknya saat menjalani misi, Yuda dan Rocki yang seorang polisi intel, menyamar sebagai sekertaris dan manajer yang mendampingi seorang CEO perusahaan yang akan menandatangani surat perjanjian kontrak asuransi di sebuah restoran. Bersama sang marketing asuransi yang diduga adalah seorang penipu, karena banyaknya laporan dengan kasus yang sama.
Yuda terkejut saat melihat marketing asuransi itu ternyata adalah Andini. Tidak hanya Yuda, Andini pun sama terkejutnya. Tapi saat ini bukan saatnya untuk saling menyapa, Yuda bersikap seolah baru bertemu dengan Andini, begitupun sebaliknya.
Setelah Andini dan CEO itu berbincang cukup lama, merekapun mulai melakukan transaksi untuk menanda tangani surat perjanjian kontrak.
"Maaf nona sebelum bos kami menanda tangani surat perjanjian ini. Sebaiknya nona baca dulu dokumen ini." ujar Yuda seraya menyerahkan selembar kertas.
Andini membaca dokumen itu, matanya terkejut saat membaca isi dokumen itu. Yang ternyata rangkuman daftar beberapa perusahaan yang sudah pernah ia tipu di beberapa kota lain.
Andini tersenyum kecil, "Ini maksudnya apa ya?"
"Anda sudah tertangkap basah nona, jadi sebaiknya anda menyerahkan diri pada kami." Rocki hendak mencekal lengan Andini dan memborgolnya, tapi Andini dengan gerak cepat langsung menghindar dan menendang Rocki dengan satu serangan hingga membuat Rocki tersungkur ke belakang.
"Jangan kau anggap remeh seorang wanita ya!"
Semua yang ada di restoran terkejut.
Andini berlari ke luar restoran, tentu saja Yuda langsung berlari mengejar Andini. Andini tidak percaya jika ternyata Yuda adalah seorang intel, kenapa ia harus bertemu kembali dengan Yuda dalam keadaan seperti ini? Andini memang sangat ingin bertemu kembali dengan Yuda, setelah liburan terakhir itu. Tapi tidak dengan cara seperti ini.
Andini berlari belok ke sebuah gang yang ternyata gang buntu, ia terjebak disana.
"Sial..." gumam Andini.
Andini hendak keluar kembali dari gang tapi Yuda sudah berada tepat di belakangnya.
Andini dan Yuda saling bertatapan sejenak. Andini sudah tidak bisa kabur lagi.
"Tidak menyangka ya jika kamu dan saya harus bertemu dengan cara seperti ini. Jadi... uang yang kamu pakai untuk hobi travelingmu itu didapat dari hasil menipu orang. Begitukah?" tanya Yuda.
Andini seakan tidak peduli dengan apa yang Yuda katakan tentangnga. Saat ini ada yang lebih ingin Andini lakukan saat ia bisa bertemu kembali dengan Yuda.
Andini berlari ke arah Yuda dan langsung memeluknya erat. Hal itu tentu saja membuat Yuda terkejut.
"Aku, aku sangat merindukanmu. Aku selalu menunggumu untuk menghubungiku. Aku memberimu kartu namaku kan. Kenapa kamu tidak menghubungiku juga hingga saat ini?" tanya Andini.
Yuda melepaskan pelukan Andini. "Awalnya saya berniat menghubungimu suatu saat nanti. Tapi berkat kejadian ini saya jadi tau siapa kamu dan saya rasa tidak ada alasan lagi untuk saya berhubungan dengan penipu seperti kamu."
Andini tersenyum kecil, lalu ia mencuri kesempatan untuk mengecup pipi Yuda. Yuda terkejut untuk yang kedua kalinya oleh sikap nekadnya Andini.
Yuda menyentuh pipinya yang dicium oleh Andini. Yuda menatap mata Andini sedikit lebih lama, setelah itu Yuda mencekal kedua lengan Andini lalu memborgolnya.
"Sekarang juga kamu harus ikut saya ke kantor polisi, jangan berpikir untuk bisa kabur lagi." ujar Yuda.
Andini tersenyum, "Ok... aku akan ikut kemanapun kamu akan membawaku pergi. Tapi ingat setelah aku bebas, kamu jangan memborgol tanganku lagi. Tapi borgol hatiku bersama hatimu."
"Kamu pikir seorang intel bisa bersama dengan seorang penipu?!"
"Tentu saja bisa, karena setelah bebas aku tidak akan menjadi penipu lagi. Aku akan berpindah profesi menjadi isterimu." Ujar Andini membuat Yuda tertegun entah apa yang harus dia katakan.
~the end~
😋😋😋