Melihat indahnya pemandangan alam dapat menenangkan hati yg merana disebabkan permainan kehidupan.
Setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai alam, salah satunya adalah dengan menjaganya dari orang orang serakah.
Memang, alam menyediakan seluruh isi perutnya untuk kehidupan manusia. Namun jika kau serakah dan tidak mencintai alam,
Alam akan memberikan sebuah malapetaka terhadap orang orang yg tidak tahu tempatnya berada, Murka alam lebih mengerikan dari murka setan, inilah kisah tentang orang orang yg menerima murka alam karena perbuatannya sendiri.
"Lihatlah jauh ke dalam alam, dan kamu akan mengerti segalanya dengan lebih baik." - Albert Einstein.
Kalian bisa memanggilku Al seorang pemuda desa yg berencana mendaki gunung dengan 3 sahabatku, kurasa aku tidak perlu menyebutkan nama mereka karena mereka tidak terlibat dengan kejadian ini.
Sebenarnya ini pendakian pertamaku tapi aku sudah terbiasa dengan Alam bebas, karena desa tempatku tinggal dekat dengan hutan.
Semua peralatan pendakian sudah disediakan oleh sahabatku itu, aku cuma membawa beberapa benda yg mungkin berguna dan konsumsi pribadi.
Semuanya berjalan lancar dan tidak ada tanda tanda kejanggalan.
Sebelum berangkat kami semua memang sudah berjanji jika menemukan atau merasakan keanehan maka pendakian akan dibatalkan demi keselamatan.
Semua dimulai saat kami bertemu dengan rombongan lain 2 laki laki 2 perempuan, salah satu sahabatku mengajak mereka untuk naik barengan, awalnya niat sahabatku cuma formalitas ternyata mereka mau dan kini jumlah rombongan kami ada 4 orang,
Sepertinya 2 perempuan dirombongan itu baru pertama kali naik kegunung dan tidak terbiasa dengan medan disana, mereka sering kali istirahat yg menyebabkan kami juga terpaksa berhenti setiap kali mereka istirahat,
Hari mulai gelap kami pun segera mencari tempat untuk memasang tenda dan membuat perapian, Malam itu aku tidur berdua dengan sahabatku,
Suasana tenang dan perasaan tentram walaupun angin dingin sesekali berhembus menembus kulit.
Siangnya aku dibangunkan oleh sahabatku kulihat keadaan diluar benar benar tidak terkendali, Sahabatku menjelaskan,
2 dari rombongan yg bersama kami menghilang, 1 laki laki dan 1 perempuan, yah awalnya kami berpikir kalau yg hilang itu berpacaran tetapi kami salah, 2 orang dari rombongan yg tersisa adalah pacar dari 2 yg hilang... Duh bingung sendiri....
Mereka tidak membawa ransel mereka dan 2 orang yg tersisa ini tidur lebih dulu, 2 orang itu sangat panik terlebih lagi yg perempuan.
Yg perempuan sangat ketakutan dan ingin segera pulang dan yg laki laki bersikeras mencari pacarnya.
Aku lalu meminta temanku untuk membawa cewe itu turun lalu meminta bantuan, sementara aku akan menyisir disekitar sini untuk mencari petunjuk bersama dengan pria yg bernama Anton ini.
Kami tidak bisa merayu anton untuk turun dulu karena anton benar benar keras kepala dan tubuh dia 2 kali lebih besar daripada kami, sekarang pun kami menahan dia bersama sama, karena itulah aku memutuskan begitu.
Mereka awalnya tidak setuju tetapi setelah kuyakinkan akhirnya mereka setuju, mereka turun dan aku serta anton mencari petunjuk disekeliling tempat itu,
Kami akhirnya menemukan sebuah jejak orang berjalan dirumput yg tinggi, kami menyusuri jejak rumput yg roboh itu, sampai kesebuah lokasi dimana disana ada Matras yg dihamparkan serta beberapa rokok dan alat kontra—kan.
Anton ketika melihat itu rasa cemas dan khawatir menghilang tergantikan dengan amarah.
Kulihat arah mereka berjalan menuju kearah hutan, sepertinya mereka salah arah kembali dan malah masuk kedalam hutan pikirku.
Saat aku sibuk dengan pikiranku, tanpa kusadari Anton sudah lari masuk kedalam hutan mengikuti arah rerumputan yg roboh.
Aku lalu berlari mengikuti Tubuh anton yg perlahan menghilang dari pandanganku, ya kecepatanku tidak mampu menandingi kecepatan lari Anton.
Kini punggung Anton yg kukejar sudah sepenuhnya hilang dari pandanganku. Aku menghentikan lariku karena takut kehabisan stamina, akupun mengambil botol air da meminum sedikit air hanya untuk mengisi perutku.
Aku lalu berjalan mengikuti jejak anton, tak lupa aku mengambil ranting dan menancapkannya dibumi sebagai pertanda jalan yg kulalui karena semakin dalam aku masuk semakin tinggi juga rumput yg kuinjak.
Hal yg aku benar2 tidak kuinginkan saat ini muncul, ya tiba tiba turun hujan deras menyapu hutan rindang itu, jarak pandanganku kini berkurang dan jalan yg kupijak menjadi licin, untungnya aku membawa jas hujan dan mencegah bajuku basah.
Hujan lebat itu cuma berlangsung sebentar, seperti bertujuan memisahkanku dengan Anton pikirku, namun alam berkehendak lain aku dipertemukan kembali dengan anton lebih tepatnya raga Anton, sekitar 5 menit yg lalu.
Perasaanku sudah campur aduk kini ketenanganku mulai hilang indra pendengaranku mulai menangkap suara suara aneh persis seperti orang stres, tanpa sadar aku sudah berlari menyusuri jalan yg dilalui anton itu, rumput semakin tinggi kini tanaman itu sudah setinggi dadaku walaupun tinggiku cuma 165,
Aku terus berlari karena takut sesuatu yg bersembunyi didalam semak, lalu Bruk!! Aku terjatuh dari tebing syukurnya aku baik baik saja karena mendarat ditubuh Anton, benar Anton mati terjatuh dari tebing,
Tubuhku kini merinding dan gemetar hebat, Menyaksikan tubuh tanpa jiwa orang yg tadinya bersama denganku.
Hari mulai gelap mau tidak mau aku harus mendirikan tenda, karena aku tidak membawa tenda, aku menjarah tenda dan barang2 yg dibawa anton lalu pergi mencari tempat yg sekiranya aman.
Setelah berkeliling dari lokasi itu dengan kakiku yg masih sakit karena jatuh tadi, aku akhirnya mendirikan tenda ditengah 3 pohon kokoh, Aku yg tidak bisa mendirikan tenda cuma membuatnya seperti rumah rumahan yg kubuat semasa kecil, aku lalu mengecek barang apa saja yg aku punya : 3 bungkus mie instan, 2 botol air mineral, masker, Korek, jas hujan, sleepingbag, Tenda, 2 senter dan pisau tentara warisan kakekku,
Aku meminum 2/3 air malam itu dan makan setengah bungkus mie instan, Aku memandangi keadaanku yg kacau, kaki kanan dan lengan kiriku sepertinya terkilir, Aku memutuskan untuk bertahan hidup disini sembari menunggu bantuan tiba setidaknya orang2 akan mencari kami esok hari pikirku.
Malam berganti pagi, Aku terbangun dari tidur singkatku, aku mencoba mencari disekitar tanda2 dari 2 orang yg masih tidak diketahui hidup dan matinya.
Aku membuat sebuah tombak dari ranting pohon yg kuruncingkan untuk perlindungan diri, sekarang aku punya pisau untuk jarak dekat dan tombak untuk jarak menengah, aku mencari disekitar tebing dan langkahku terhenti ketika melihat tulang yg berserakan dibawah pohon rindang, dugaanku adalah tulang itu milik seorang pria yg tersesat dan dilihat dari sisa sia pakaian yg menggantung dipohon, itu berarti dia sedang menghindari sesuatu yg berbahaya, aku langsung membalikan arah jalanku kembali ketempat aku berkemah, sambil berharap tim penyelamat sudah datang untung menyelamatkan kami.
Tidak ada tanda tanda tim sar disana, mungkin karena lokasiku yg sangat jauh daribposisi awal, aku lalu mengisi perutku dengan sisa mie instan dan air yg tinggal 1/3 itu, lalu aku mencoba mencari sungai ataupun jalan setapak karena kupikir kalau tim sar pasti akan mencari diarea sungai karena tahu ornag tersesat pasti mencari sungai.
Kulangkahkan kaki dengan sisa energiku, aku berharap tidak bertemu dengan sesuatu yg berbahaya, aku terus melangkahkan kakiku tanpa arah mengikuti dengan sehati hati mungkin dan tanpa menimbulkan suara.
Sampai aku mendengar suara kunyahan seperti sesuatu sedang makan benda berair, aku mulanya berpikir itu adalah macan atau serigala, tapi terdengar juga suara seperti isak tangis, setelah kuberanikan diriku mendekat kearah suara, aku melihat seorang pria sedang memakan seorang wanita sambil menangis putus asa.
Perlahan aku memundurkan diriku, tubuhku sekarang lemas selemas lemasnya melihat hal paling mengerikan seumur hidupku,
Aku lalu melemparkan tombak dan tas ransel anton yg kubawa beserta isinya, yg tersisa cuma pisau ditanganku, aku berlari menjauh dari lokasi itu, tubuhku yg lemas entah kenapa seperti mempunyai energi berlebih, itu juga merupakan lari tercepat yg pernah kulakukan, tubuhku yg kecil memudahkan ku untuk berlari di kawasan hutan.
Aku berlari dari siang sampai sore dan akhirnya aku menemukan sungai, ketika aku berhenti berlari rasa lemas dan lelah akhirnya ku rasakan, kini tubuhku benar benar sangat sulit digerakan.
Aku melihat sebuah batang kayu besar mengapung terbawa arus sungai, aku lalu melompat ke batang kayu itu dengan sisa energiku dan menyerahkan hidupku sepenuhnya kealam....
Setelah sadar aku telah berada dirumah sakit, aku beruntung dan bersyukur Sang Alam memaafkan kesombonganku...
Ty udah baca sampai abis, mohon kritik dan sarannya makasih