Dimana aku,kenapa aku berada di tengah hutan?
Hal terakhir yang aku ingat,ketika wanita itu menanyai berbagai hal tentangku,dan membuat suatu perjanjian lalu aku menyetujuinya dengan senang hati,tapi perjanjian apa itu?
••••••••••••
Yoona,dia baru saja sadar dari pingsannya,dan dia menyadari bahwa dirinya berada di tengah hutan yang sangat asing bagi seseorang yang sehari harinya hidup diantara gedung gedung pencakar langit.
Dia mencoba memahami dan mengingat kejadian sebelum akhirnya dia berada di hutan itu,setelah sekian lama dia berfikir dia tidak juga mengingat satu hal pun.
Kemudian dia berdiri dan ingin berjuang untuk pergi dari hutan itu,dia melihat sekitarnya dan menemukan sebuah senapan,busur dan beberapa anak panah yang tergeletak rapi di samping dia berdiri.
"Milik siapa ini? Kenapa benda seperti ini bisa ada di tengah hutan bersamaku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
SREKK...
SREKK...
Yoona menoleh dengan segera ke arah sumber suara tadi,sekejap dia merasa senang karena mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya,dan mengira dirinya akan selamat.
Namun setelah dia melihat sosok yang mendekatinya,dia terkejut dan sedikit bingung melihatnya pria itu menodongkan senapan miliknya tepat ke arahnya,dan dia menjadi semakin takut ketika dia melepaskan tembakan ke arahnya.
DOR!!!
Satu tembakan yang memihak kepada Yoona,tembakan itu meleset dan mengenai batang pohon di belakang Yoona,sekejap dia terpaku karena sangat terkejut,namun dia meyakinkan diri dan segera mengambil langkah untuk lari.
Dia berlari dan pria itu tetap menembak dengan membabi-buta,Yoona tak tau dengan apa yang sedang terjadi dengannya dan dengan sangat putus asa dia mengambil senapan yang dia temukan dan membidiknya ke arah pria yang terus mendekat ke arahnya.
DORRR!!!
°°°
"Dimana aku?"
"Arghh!!" Yoona tersadar dan mengeluh sakit pada perut bagian kirinya.
Dia merasakan sakitnya dan mencoba merabanya,dia melihat sehelai daun yang menutupi luka di perut kirinya,lalu dia melihat telapak tangannya yang penuh darah setelah memindahkan daun itu,Yoona menjadi sangat panik dan berniat untuk berdiri.
"Pria..pria itu!" Yoona terkejut saat melihat pria yang tadi mengincarnya sedang berbaring sekitar 10 meter di depannya itu.
"Tenang,dia sudah mati,aku sudah membunuhnya" ucap Seorang gadis yang malu malu dan bersembunyi di belakang pohon.
"Si..siapa kau?" tanya Yoona terkejut.
"Aku...Gio" ucapnya.
"Ke.. kemarilah" ucap Yoona yang masih sedikit takut.
Gadis bernama Gio itu perlahan mendekati Yoona,Yoona terkejut saat melihat pipi kanannya dengan bekas sayatan lebar.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Yoona yang mulai khawatir.
"Kemarin aku hampir terbunuh,untunglah aku berhasil membunuhnya setelah dia menyayat wajahku" ucapnya.
"Membunuh!? Ka..kau membunuh? Kau masih terlalu kecil untuk melahkukan hal itu" ucap Yoona yang merasa takut.
"Kenapa kau merasa heran? Bukankah jika kita ingin keluar hidup hidup,maka kita harus membunuh mereka semua?"
"Apa? Mereka? Apa maksudmu?" tanya Yoona tak mengerti.
"Bagaimana kau bisa tidak mengerti? Bukankah wanita yang mendatangi kita sudah menjelaskan semuanya kecuali arena bertahan hidup dan peraturan membunuh?" jelasnya.
"Wanita? Oh aku mengerti,wanita itu memberiku sebuah perjanjian,dan inilah hasilnya"
Beberapa saat mereka saling berbicara,gadis itu menjelaskan tentang semua tentang situasi yang mereka hadapi.
"Ja..jadi? Secara teknis kita telah dijebak untuk permainan tidak jelas ini?" ucap Yoona.
"Tidak sepenuhnya,beberapa dari mereka yang bersedia menerima perjanjian memang sudah tidak ingin hidup dengan normal,dan merekalah musuh yang paling berbahaya,karena mereka sudah tidak menginginkan dunia dan tidak memperdulikan Manus" jelas Gio sambil memberikan daging bakar hasil buruannya.
"Sial!! Kenapa aku harus bertemu dengan perempuan gila itu!!" ucap Yoona dalam hati
"Ta..tapi,aku..aku tidak bisa membunuh manusia" ucap Yoona ragu.
"Jika begitu,maka akulah yang akan membunuh musuh,kau hanya menyerang dan melindungiku saja,kau tidak harus membunuh,jika hanya melukai kau masih bisa kan?" tawar Gio
Mereka memutuskan bekerja sama untuk memenangkan permainan,lalu mereka menyusun rencana untuk membuat sesuatu.
"Kenapa kita ingin menghancurkan persediaan makanan?" tanya Yoona.
"Karena daerah itu dikuasai oleh beberapa orang saja,walau kita tidak menghancurkannya kita juga tidak bisa memakan makanannya" ucap Gio.
"Baiklah,aku akan meledakkan persediaan makanan di tempat yang kau jelaskan,dan kau tetap awasi sekitar jika ada yang mencoba menyerang ku" ucap Yoona bersemangat.
"Baik"
Beberapa jam kemudian,mereka melaksanakan semua rencana.
"Yoona,apa kau siap?" tanya Gio.
"Tentu saja!!" jawab Yoona bersemangat.
"Berhati-hatilah dan berjanji untuk segera kembali" ucap Gio sambil menarik baju Yoona.
"Tentusaja aku akan kembali" jawab Yoona sambil memeluk Gio.
Yoona melaksanakan rencana dan meninggalkan Gio,dia mulai mengendap-endap ke arah sebuah truk di tepi jalan setapak dengan ban yang dirantai itu.
Yoona membidik dengan senapannya dan berharap tembakannya tepat sasaran.
DORR!!!
Tembakan tepat sasaran tepat di tangki bensin truk itu,dengan percikan api yang ditimbulkan peluru,tangki itu terbakar dan menyulut beberapa tong minyak di sekitarnya,dan akhirnya semuanya terbakar sekaligus truk dan makanan didalamnya.
"Berhasil!! Sekarang waktunya memberi kabar baik untuk Gio" ucap Yoona yang segera berlari menuju ke arah Gio berada.
"Gio!!"
"Gioo!!"
"Aku berhasil meledakkanya!!"
"Gio?"
Tidak ada kata kata jawaban dari Gio,hal itu membuat Yoona sangat khawatir dan segera berlari mencarinya,dan akhirnya sampailah dia di lapangan luas,dia melihat Gio disana,dan tak hanya itu dia juga melihat seorang wanita yang sedang bertarung dengan Gio.
"Gio!!" teriakan Yoona yang khawatir dan sedikit membuat Gio lengah.
Dengan segera Yoona mendekat ke arah Gio dan bergabung dengan pertarungan,namun tanpa disangkanya wanita itu sangat kuat,dia bertarung hanya dengan tombaknya namun dia bisa menangkis berapapun peluru yang diarahkan kepadanya.
"Yoona..bunuh dia dengan panahmu!" bisik Gio dengan memohon.
"Ta..tapi"
"Peluruku sudah habis,aku tidak bisa menyerangnya lagi,selain itu aku tidak mahir menggunakan senjata selain senapan,bahkan samuraiku tidak berguna" ucap Gio memohon sekali lagi.
"Ba..baik"
Yoona mencoba memantapkan niatnya,namun disisi lain wanita itu telah mendekat dan menyerang mereka,tangan Yoona terluka begitu pula dengan Gio.
Gio berhasil melumpuhkan wanita itu dengan membuatnya sulit bergerak dengan menembak kakinya,dengan kesempatan itu Yoona segera menarik anak panahnya,namun disisi lain wanita itu sudah melemparkan tombaknya.
--
Yoona melepaskan anak panahnya dan tepat mengenai wanita itu dan membuatnya terluka dengan anak panah yang menembus badannya,namun hal itu tidak membunuhnya.
"Gio? Bagaimana ini?"
"Gio!!!" Yoona berbalik dan terkejut saat melihat mata tombak yang melukai tubuh gadis itu.
Dengan segera Yoona mencabutnya,dan terlihat darah segar terus mengalir dari bekas luka tadi,namun sayang seribu sayang nyawa Gio sudah tidak bisa diselamatkan.
Yoona merasa kesal dan sangat marah,dia berdiri dan berbalik,melihat wanita yang hampir tak berdaya itu mencoba pergi dengan sisa sisa tenaganya.
Yoona segara menarik anak panahnya dan membalaskan kematian Gio.
Setelah wanita itu benar benar tiada,Yoona hanya menangis di samping jasad Gio,setelah beberapa saat melepaskan dukanya,dia membaringkan Gio dengan nyaman dan mencarikan bunga untuknya,dia menyusun rapi bunga bunga di sekitar Gio bermaksud agar gadis kecil ini selalu bahagia dan tenang disana.
--
Setelah beberapa waktu Yoona terus berduka di samping Gio,dia pun pergi dan memutuskan untuk terus bertahan hidup dan memenangkan permainan ini untuk Gio.
Sejak kepergian Gio,Yoona tak ragu lagi untuk membunuh,dan itu dilakukannya hanya untuk terus bertahan hidup.
---TAMAT---