Malam telah menunjukkan kegelapan yang menyelimuti langit kala itu. Aku dan ke-5 temanku pergi ke sebuah hutan yang ada di luar kota. Kami berenam berencana untuk kemah di hutan itu, namaku Rani, aku bersama kelima temanku. Dinda, Dina, Atik, Rafa, dan Desta.
"Kami berenam pergi ke hutan tersebut tanpa ada pemandu. terbilang nyali kami berenam sangat berani, kami pergi tanpa ada persiapan sama sekali. hingga suatu ketika.. kami telah sampai di hutan tersebut, hutan itu berada diluar kota tempat tinggal kami. Desta bilang kalau hari ini akan menjadi hari yang sangat berarti bagi kami.
Aku menurut saja, karena aku tidak ingin dianggap pengecut oleh teman-temanku. ketika sore hari, kami telah tiba di tempat tersebut. kami pergi menggunakan mobil milik Desta, karena kami tidak ingin pergi dengan menggunakan banyak kendaraan.
Rafa keluar dari dalam mobil Desta, kemudian dia melihat-lihat di sekeliling hutan tersebut. setelah itu Desta memarkirkan mobilnya di sebuah tempat, kemudian dia mengajakku dan teman-teman yang lain untuk memulai perjalanan.
Kami menaiki gunung tersebut, aku tidak begitu tahu Apa nama gunung itu. namun aku hanya mengikuti saja apa kataereka.
"Oh ya Desta. Apakah kita pergi tanpa persiapan sama sekali? kenapa kita tidak membawa banyak bekal makanan," tanyaku kepada Desta.
"Kenapa harus bawa banyak makanan, toh nanti kita akan berburu di hutan itu," jawab Atik.
Entah mengapa pikiranku begitu kalut tiba-tiba aku merasa takut, takut itu begitu besar hingga membuat pikiranku serasa tidak bisa berjalan.
"Kalau kita tidak membawa makanan, lalu apa yang akan kita makan di sana?" tanyaku kepada kelima temanku.
"Tapi, kalau kau tadi bilang membawa makanan.. seharusnya kau berinisiatif sendiri membawa makanan yang banyak, jangan malah menyuruh kami,"ucap Dina kepadaku.
"Ya bukan begitu Din, nanti kita makan apa kalau seandainya di hutan Kita tidak mendapatkan buruan sama sekali," ucapku kepada kelima temanku.
Entahlah, apa yang ada dipikiran mereka. yang jelas akhirnya aku dan teman-teman.. kami berenam berjalan dengan canda tawa saling mengejek dan melontarkan ejekan kami sama sekali tidak mempunyai pikiran apapun. hari semakin gelap hingga membuat jalannya ada dihadapan kami tidak terlihat. teman-teman dan aku membawa senter untuk penerangan, Kami membawa peralatan yang minim. saat kami berada di tengah perjalanan di hutan tersebut, Entah mengapa perasaanku semakin tidak enak. Aku serasa berada di dunia lain tempat yang tidak kuketahui.
"Apakah ini jalannya tidak keliru?" tanyaku kepada teman-temanku.
"Sudah diam saja, kau itu cukup ikut dengan kami," jawab Desta dengan nada yang sangat ketus. pria itu memang tidak menyukaiku, karena kami selalu berbeda pendapat jika berada di kampus kami.
"Kan aku cuma tanya, Siapa tahu kita tersesat," jawabku dengan nada yang sangat jengkel juga.
"Sudah jangan bertengkar, ini di hutan bukan tempat untuk ajang memamerkan pertengkaran," jawab Rafa yang kemudian melerai aku dan Desta.
Akhirnya kami berhenti di suatu tempat di hutan itu, aku dan teman-teman mendirikan kemah. aku Dina, Dinda dan Atik satu kemah. Desta dan Rafa mendirikan kemah sendiri, kami mulai mencari peralatan untuk mendirikan kemah. terlihat di Hutan itu sangat gelap, suasananya pun dingin sehingga membuat bulu kuduk kami merinding.
"Kenapa bulu kudukku merinding ya," ucap Dinda sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
"Iya, aku juga sama," jawab Atik.
"Sudah jangan banyak bicara, cepat kita panaskan air, buat kita minum air jahe biar tubuh kita hangat," jawab Rafa yang telah mengumpulkan kayu bakar.
"Kamu dapat dari mana, Rafa? kayu bakar ini," tanya Dinda kepada Rafa.
"Aku tadi membawa sedikit untuk persiapan, jadi besok pagi kita bisa mencari kayu bakar di sekitar sini. Kita kan sudah taruhan untuk berada di hutan ini selama satu minggu," ucap Rafa kepada Atik. Dan yang lain. Sedangkan aku begitu terkejut.
"Apa maksudmu? taruhan, taruhan apa?" tanyaku kepada teman-temanku. nampak kelima temanku tersenyum, karena aku tidak tahu apa-apa. Yang aku tahu aku hanya diajak untuk berkemah di hutan ini, tapi.. ternyata malah Aku terjebak di taruhan mereka berlima.
Aku hanya bisa pasrah, toh aku juga sudah sampai di hutan ini, sesaat kemudian.. akhirnya kami semua memutuskan untuk beristirahat. Saat malam semakin larut.. Entah mengapa angin terlihat berhembus semakin kencang, sehingga membuat pepohonan yang ada di Hutan itu menampakan suara-suara yang sangat menakutkan.
Aku tidak bisa tidur karena mendengar suara-suara yang terasa asing di telingaku, bulu kudukku merinding hingga membuat mataku tidak bisa terpejam. Aku dan atik tidak bisa tidur karena Kami merasa tidak nyaman berada di hutan ini. 5 menit kemudian aura di hutan itu terasa sangat mencekam, tiba-tiba ada lowongan serigala di hutan tersebut, saat mendengar suara lolongan itu reflek aku dan atik langsung saling berpelukan.
Hari berjalan terasa bagaikan kutukan di sebuah hutan tak bernama. kami terus mengelilingi hutan itu, Kami memang tersesat di Hutan itu, kami terus mengelilingi hutan itu.. namun saat kami mengelilinginya, yang terjadi malah kami terus kembali ke tempat kemah kami. Entahlah, namun yang jelas 2 hari kami berada di hutan itu.. akhirnya kami sepakat, Kami memang tersesat. kami tidak sampai di tempat tujuan kami, karena 2 hari berlalu pun tidak nampak seseorang yang naik ke hutan.
"Kita benar-benar tersesat,"ucapku kepada Rafa.
"Sudahlah, kita terus mencari jalan. kita juga akan mencari makanan untuk bertahan hidup di tempat ini," ucap Rafa kepadaku.
Sedangkan Atik, Dinda dan Dina. mereka bertiga nampak sedikit stress karena kami tersesat di hutan yang tidak kami ketahui. yang kami dengar, hutan itu mempunyai markas untuk pendaki yang masih pemula. namun apa yang terjadi, saat kami berada di tempat itu pun.. tidak nampak seorangpun di hutan.
Hingga suatu ketika, saat aku dan Rafa pergi mencari air.. karena keadaan Dinda dan Atik semakin menakutkan. saat kami berada di sebuah sungai terlihat di sana ada seorang pria tua yang selalu berdiri di samping sungai itu. Aku melihat kakek tua itu dan kemudian menghampirinya bersama Rafa.
"Kakek, apakah kakek penduduk tempat ini?" tanyaku kepada kakek tua itu. nampak kakek tua itu tidak menjawab sama sekali. saat Rafa melihat hal itu kemudian Rafa menghampiri kakek tua itu dan bertanya kepadanya. tetap saja Kakek itu tidak menjawab, sesaat kemudian.. kakek itu mengeluarkan suara yang sangat menakutkan.
"Segera kalian pergi dari hutan ini, kalau tidak nyawa kalian akan dalam bahaya," ucap kakek tua itu kepada kami.
Aku dan Rafa saling menatap karena kami berdua bingung dengan perkataan kakek tua itu.
hari ke-5
Keadaan kami begitu mengenaskan, kelaparan kekurangan air bahkan tubuh kami sangat lusuh. setiap malam kami tidak bisa tidur karena mendengar suara lolongan anjing, bahkan banyak penampakan-penampakan yang ada di Hutan itu. Atik dan Dinda seperti mayat hidup, mereka hidup namun tidak bisa bergerak sama sekali.
Sedangkan Desta, pria itu terus mencari jalan untuk kembali ke mobil kami.
hari keenam
Terlihat disana Dina juga ikut tergeletak, karena kami tidak pernah makan. Aku berusaha untuk bertahan hidup, terus berjuang untuk hidup dan kembali kepada kedua orang tuaku dan keluargaku.
Aku tidak mau mati di tempat ini.
hari ke-7
Aku sudah tidak bisa bernafas, terasa tubuhku telah lemas, karena aku tidak makan sama sekali. sedangkan Desta, pria itu nampak tidak muncul sama sekali. Entah Dia tersesat atau melarikan diri. yang tersisa hanya aku dan Rafa, Rafa terus menguatkan diriku agar ketahan.
hari ke-7 merupakan hari yang sangat menakutkan, saat kami berada di tempat itu.. tiba-tiba aku dan Rafa yang menjaga Dina, Dinda dan Atik. sedang meratapi nasib kami.
Sesaat kemudian.. seekor Serigala tiba-tiba muncul dan berusaha menyerang kami, aku dan Desta berusaha menyelamatkan ketiga temanku itu. namun yang mengenaskan dua serigala itu menyerang tubuh Atik, dan menyeret nya ke dalam hutan.
Aku berusaha untuk menggapai tubuh Atik, namun apalah daya. Rafa menghentikanku dan mengatakan kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan mereka. terasa sangat mengerikan berada di hutan ini. banyaknya penampakan para makhluk halus, dan ancaman hewan-hewan yang sangat kelaparan.
Saat hari ke-10
Nampak seorang petugas kehutanan menemukan kami dan dia memanggil bala bantuan untuk menyelamatkan Kami semuanya, hari ke-10 adalah hari yang penuh anugerah, karena hari ke-10 kami bisa bertahan hidup.. saat kami dibawa kembali ke kota, nasib berkata lain. Dinda sudah tidak bisa bertahan, Dia kelaparan dan dia meninggal di rumah sakit kota. sedangkan Dina dia masih, di rumah sakit, dan Atik..tubuhnya sudah tidak di temukan. Aku bersyukur karena aku masih bisa kembali kepada keluargaku.
Namun aku juga berdoa untuk kedua temanku yang telah berpulang kepada Tuhan. Sedangkan desta.. kami belum mendapatkan kabar sama sekali, bahkan kepolisian dan pihak kehutanan masih belum mendapatkan kabar.
** END **