Alex adalah teman satu profesi ku, kami bekerja di bidang yang sama disebuah perusahaan terbesar dikota ku. Aku dan Alex bukan hanya sekedar teman saja, bahkan kami sudah seperti saudara sendiri. Kami tinggal disebuah apartemen yang tidak terlalu mewah dan tidak terlalu kecil, cukuplah untuk ditempati aku dan Alex. Kami sering menghabiskan waktu bersama, karena aku dan dia sudah bersama sejak kuliah dulu.
Malam ini kami pergi disebuah bar yang bernama Marking's yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami. Kami hanya membawa satu mobil, karena mobilku masih berada di bengkel.
Disini di bar ini, terdapat banyak sekali macam-macam minuman yang beralkohol. Banyak ditemukan bir lokal maupun impor seperti Wine, Brandy, Whisky, Vodka, Champagne dan masih banyak lagi jenisnya. Yang tak mungkin aku sebutkan satu persatu bukan. Bukan hanya itu bahkan popcorn tersedia juga disini hehehe..
Lampu yang redup menghiasi setiap sudut ruangan, seperti lampu-lampu yang terpasang saat acara natal. Tempat seperti ini sangatlah cocok buat nongkrong dari yang tua maupun yang muda, wanita atau pun pria. Aku mencari tempat yang cocok yang biasanya aku tempati bersama Alex kalau kami berdua berada disini. Satu sofa panjang dengan dua sofa kecil dan juga meja kecil yang berada dipojokkan depan, samping pintu masuk. Tempat biasa kami mengamati tamu yang datang maupun keluar. Karena tempatnya nyaman dan sangat strategis karena bisa melihat pintu masuk secara langsung.
Setelah apa yang kami pesan berada diatas meja, aku memperhatikan sekeliling. Dan benar saja ada seorang wanita cantik dengan pakaian yang sopan, menuju tempat duduk pojok dengan membawa segelas wine, mungkin usianya sekitar tiga puluhan. Yang menarik perhatianku adalah dia datang sendiri tanpa ada yang menemani.
"Cantik"
"Siapa??"
"Wanita itu cantik dan anggun, sepertinya dia sering kesini." Aku memperhatikannya, yang diikuti Alex juga mengikuti arah pandanganku.
"Kau benar sob, dia sangat cantik. Aku akan menghampirinya."
"Jangan macam-macam Lex, sepertinya dia wanita baik-baik."
"Mana mungkin dia wanita baik-baik, kalau pun iya mengapa dia datang sendirian kemari," Tukas Alex. "Hemmm, tiada salahnya kan kalau aku mendekatinya. Lagian dia datang kesini sendiri," lanjutnya lagi.
"Mungkin dia mempunyai janji dengan orang lain?"
"Dari mana kau tahu?"
"Mungkin saja kan, lagian sedari tadi ia hanya fokus kearah handphonenya. Sepertinya dia bukan wanita sembarang, atau mungkin..."
Alex tak memperdulikan ku, ia langsung meninggalkanku dan mendekati gadis itu.
Alex adalah salah satu pria hidung belang lainnya. Alex sangat suka menggoda wanita dengan rayuan mautnya. Bahkan tidak jarang ia melecehkan wanita meskipun hanya dengan cara mencolek bagian tertentu. Dan kalau itu terjadi aku hanya menjadi penengah antara Alex dan wanita itu Kadang aku dibuat bingung akan kelakuan Alex yang playboynya akut. Ingin rasanya aku bogem dia kalau dia sedang membuat ulah seperti itu. Dia berjalan kearah wanita itu duduk, dengan santainya ia langsung duduk di samping wanita itu.
Seperti yang aku duga wanita itu tidak merespon apa yang Alex ucapkan. Bahkan wanita itu hanya fokus kearah handphonenya, tanpa mau melihat Alex sama sekali. Aku hanya ketawa melihat sahabatku itu gagal beraksi, dia sangat lucu menurutku. Dengan muka ditekuk ia kembali kearahku, dan duduk di sampingku.
"Hahaha... mampus, hahaha.."
"Kampret lu, "
"Kan sudah aku bilang, dia wanita baik-baik lalu untuk apa kau menguras energi mu untuk merayu dia, haha"
Dengan kasar ia meneguk habis minuman yang sudah aku tuang didalam gelas. Alex berdiri lalu mengambil kunci mobil yang ia letakkan tadi diatas meja.
"Mau pulang?" tanyaku. Dan Alex hanya mengangguk saja mungkin ia sedang kesal karena ditolak wanita tadi. Aku mengikuti Alex, keluar dari bar dan menaiki mobilnya.
Alex menghentikan mobilnya di taman yang tak jauh dari tempat tadi, dan langsung turun membawa kantong plastik di tangannya. Aku mengikutinya Alex masuk taman dan duduk di kursi panjang yang berada di taman.
Waktu menunjukkan pukul 23.09, taman terasa sepi hanya ada beberapa orang saja yang lewat ditaman ini, selain penjual yang ada di pintu masuk.
"Kenapa gak pulang? Dan ngapain kita kesini?" tanyaku pada Alex, namun Alex hanya diam tak menjawab pertanyaan yang ku lontarkan kepadanya.
Dia membuka kantong plastik yang tadi ia bawa, ternyata isinya ada beberapa whisky. Aku mengambil satu buah whisky dan meneguknya.
"Kapan kau beli ini?"
"Tadi siang, waktu istirahat."
"Oh.. Pantas aku tak melihatmu. Kau belum jawab pertanyaanku tadi, ngapain kita disini?"
"Gue hanya ingin menikmati whisky ini di taman." Jawabnya dengan meneguk minumannya hingga tandas.
Kami berdiri dan berjalan menapaki tanaman rumput dan menuruni tangga-tangga kecil menuju ke arah danau. Kami berhenti di sebuah tepi danau, dan duduk selonjoran ditepian. Badanku berasa ringan, tapi aku belum mabuk aku masih sadar sepenuhnya.
Tiba-tiba Alex berdiri dan berjalan ke arah kursi panjang yang tidak jauh dari tempat kami sekarang.
" Sob, ikut gue!."
"Kemana?" tanyaku penasaran dan Alex hanya menutup mulutnya dengan satu jari telunjuk yang ia tempelkan kearah mulutnya.
Aku paham apa yang di maksud Alex, dan aku mengikuti langkah Alex mendekati kursi itu.
Buaya mulai beraksi, ucapku dalam hati hehehe..
Alex menghampiri seorang wanita yang sedang duduk membelakangi kami, aku mengikuti langkah kaki Alex. Biasa lah Alex dia selalu cepat bertindak bila itu mengenai wanita, apalagi wanita itu sendirian. Aku gak tau wanita itu sedang apa, dan kenapa malam-malam begini dia masih ditaman.
Dari belakang dia nampak cantik dengan rambut yang terurai sebahu yang menutupi wajahnya bila tertiup angin malam. Baju warna putih dan rok panjang warna putih, ia menunduk dengan membaca buku yang ada ditangannya. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas, selain karena malam, rambutnya pun menghalangi pandanganku menatap wajahnya.
"Hai!! Sendirian??" tanya Alex, namun tiada jawaban dari wanita itu.
"Boleh aku duduk?" tanya Alex lagi namun tetap sama dia hanya diam tanpa memedulikan Alex yang sudah duduk disampingnya.
Aku masih berdiri disamping mereka, dan aku masih mengamati apa yang dilakukan Alex selanjut. Aku hanya tersenyum melihat Alex yang diabadikan oleh wanita itu.
"Sudah malam apa kamu gak pulang? gak baik lho wanita sendirian ditempat kaya gini, apa lagi tempat sepi seperti ini."
Tetap sama wanita itu tetap tidak berbicara sama sekali.
"Sudahlah Lex, jangan ganggu dia. Mungkin dia ingin sendiri dan gak mau diganggu. Ayo kita pergi!." Aku mengajak Alex pergi namun Alex adalah Alex yang pantang menyerah meskipun dia tadi sudah ditolak mentah-mentah oleh wanita yang ada di bar tadi.
"Kau tau, begitu banyak bintang yang bersinar malam ini, namun aku tak melihat cahaya bulan yang ikut menerangi semesta. Itu karena cahaya mu begitu indah mengalahkan cahaya bulan sekalipun. Bahkan mereka para bintang-bintang semua pada iri melihat senyumammu yang manis semakin gulali, hehe.."
" Sudahlah Lex, ayo pulang!." Aku mendekat kearah Alex untuk menarik tangannya, namun tiba-tiba...
Wanita itu berdiri dan menjatuhkan buku yang ada dipangkunya, Alex pun ikut berdiri. Kami melihat kearah wanita itu dan memperhatikannya dengan seksama, tiba-tiba wanita itu memutar lehernya kekiri dan ke kanan hingga berbunyi kretek..
Aku merasa ngilu dengan bunyi yang aku dengar bahkan kami mundur satu langkah kebelakang.
Tiba-tiba angin berhembus kencang dan menyibak rambut wanita itu, alangkah terkejutnya aku melihat wanita itu..
Wajah rusak mengelupas, bahkan mata yang hampir copot dan mulut yang terbuka lebar seperti rahangnya yang tak menempel sempurna di tempatnya. Pipi yang bolong meninggalkan tulangnya saja, dan juga hidung yang hancur seperti tak berbentuk lagi. Dan lagi tiba-tiba kepalanya tidak menempel pada tepatnya, kepalanya tengkleng ke kanan. Aku melihat ke arah Alex yang gemetat ketakutan dan mulut komat kamit entah membaca doa atau apa, yang jelas aku sangat ingin segera pergi dari sini.
Bukan hanya itu tiba-tiba dia melepaskan tangannya dan memberikan kepada Alex. Alex melemparkan tangan itu ke sembarang arah. Aku langsung lari dan menarik tangan Alex untuk menjauh dan segera pulang.
Tapi ada suara langkah kaki yang mengejar kami, aku penasaran dan menengok kebelakang namun tiada apa-apa yang mengikuti kami. Kami masih berlari menuju mobil kami sesekali aku menengok kebelakang.
Sesampainya mobil kami langsung masuk, dan menutup pintu. Tak berselang lama ada orang juga yang membuka pintu dan menutupnya kembali aku dan Alex diam sesaat kita sama-sama berfikir. Lalu kita sama-sama menengok kebelakang alangkah terkejutnya aku, dibelakang hanya ada sepasang kaki dan juga satu buah tangan yang berada di kursi penumpang. Kami turun kembali dan berlari lagi kearah orang-orang yang sedang berkumpul.
Aku duduk di trotoar dimana orang-orang sedang berkumpul, dengan nafas yang masih ngos-ngosan aku melihat lagi sekeliling, dan lagi kaki itu tiba-tiba ada di hadapanku. Aku dan Alex saling pandang dan melihat sekeliling, tiba-tiba orang-orang itu berubah menjadi sama seperti hantu itu. Muka pucat, dan bau busuk yang menyengat, bahkan ada yang yang menenteng kepalanya sendiri dengan darah yang menetes kemana-mana. Aku dan Alex lari lagi menuju ke mobil kami, lalu dengan kencangnya Alex melajukan mobilnya.
TAMAT