5 maret 2019. Tragedi itu tidak akan pernah terlupakan, walau sudah lama berlalu namun bayangan itu terus menghantuiku. Dia terbakar di dalam pesawat itu. ledakan itu, puing-puing itu, serta langit seperti memerah bagai darah melapisi awan mendung saat itu.
“tidak mungkin, anitaaa.”
20 Februari 2019 sebelum kejadian itu.
Handphone ku berbunyi.
“iya halo. maaf aku lupa,” mataku seketika terbuka lebar setelah di hubungi oleh Anita. Aku lupa jikalau hari ini aku memiliki janji bersama Anita, segera aku bersiap-siap untuk menemuinya, “dasar ceroboh, kenapa aku bisa sampai lupa.”
Menaiki mobil ku melaju menuju ke tempat keberadaan Anita.
Setiba disana terlihat Anita yang sudah menunggu di Cafe tersebut terlihat lesu menanti kedatangan ku, sudah pasti aku takut jikalau dia memarahiku lagi. Namun ku coba beranikan untuk menemuinya.
Aku mencoba menyapanya, “He...hey, maaf sudah membuatmu menunggu lama Anita.”
Dia yang terlihat sedikit marah, namun mencoba memaafkan ku, “yah, sudahlah tidak apa-apa, yang terpenting kamu datang walau sedikit terlambat.” Ucapnya sambil memaksa senyumnya.
Hatiku Legah tidak melihatnya marah karna keterlambatan ku lagi. Untuk mendinginkan suasana ku pertanyakan keinginannya itu, “jadi bagaimana? Apa yang kamu ingin bicarakan Anita.”
Suasana saat itu langsung aku rasakan berubah menjadi seperti sunyi di tambah lagi sikap Anita yang langsung terdiam murung. Aku bingung mengapa, ku coba tanyakan lagi, “hey katanya mau katakan sesuatu, kok jadi murung sih.”
Dia menjawab ku dengan nada layaknya seperti sedang bersedih, “nanda, aku hanya ingin bilang, beberapa Minggu lagi aku akan pergi keluar kota, aku takut tidak bisa bertemu lagi dengan mu.”
Aku yang pada saat itu terkejut mendengar kepergian Anita merasakan akan ada sesuatu yang akan terjadi nantinya. Namun ku tanyakan kepadanya, “tapi kenapa kamu mau pergi, tapi kamu pastikan kembali lagi?”
Dia menghela nafas seakan ragu untuk berjanji dia akan kembali lagi.
Aku bertanya, “Iyakan Anita? kenapa mengapa kamu dia.”
“aku tidak bisa memberikan janji kepadamu, karna aku takut tidak akan kembali lagi.”
Jawabnya kepadaku. Dia menjelaskan bahwa, “aku pulang kembali di karenakan ayahku sakit-sakitan, dan ibuku tidak memiliki teman disana makanya aku diminta untuk kembali. Aku sudah berjanji kepada orang tuaku jikalau aku telah lulus kuliah nanti, aku akan kembali ke kampung halaman ku.”
“Tapi Anita...”
“Aku tidak akan berubah perasaan kepadamu, aku hanya ingin kamu yang di dalam hidupku, aku yakin suatu saat nanti kita pasti akan di persatukan lagi,” Dia menyangga ucapanku. Dia mencoba meyakinkan ku agar aku akan berusaha untuk meraihnya, “kamu juga harus berjanji kepadaku. Maka dari itu aku ingin menghabiskan waktu selama mungkin bersamamu untuk beberapa Minggu ke depan sebelum kepergianku.”
Sungguh berat bagiku jikalau sampai orang yang selalu menemani ku selama ini pergi meninggalkan ku. Tuhan selalu membuat rencana terkadang menyedihkan, terkadang membahagiakan, juga terkadang menyakitkan. Bagaikan sebuah Boneka yang di permainkan seenaknya untuk mengikuti kemauan yang mempermainkan.
Di setiap menit ku hargai kebersamaan kami berdua dan mengarungi kisah berdua, terkadang aku tidak sanggup menatapnya jika wajah itu akan menghilang dari pandangan ku suatu saat nanti. Namun di balik itu juga, sering ku bertanya kepada diri sendiri apakah dia bukanlah takdir ku apakah dia hanya sebagai tempat kebahagiaan ku untuk sementara, di sertai perasaan yang tak karuan akan kepergiannya nanti. aku selalu
lantunkan doa agar hatiku ini dapat tenang.
Namun entah mengapa di malam itu aku bermimpi tentang dia, di suatu pulau yang cukup gelap, awan yang mendung, serta air yang merah seperti darah mengelilingi kami. Anita terlihat sedang duduk menangis meratapi sesuatu yang tidak dapat aku ketahui. Aku coba mendekati dirinya, “Anita, hey Anita. Ada apa Anita kamu menangis?” dia tidak bisa berbicara apa pun kepadaku, dia hanya menangis dan menjerit seperti kesakitan, “Anita, Anita hey Anita.”
Aku langsung terbangun dari tidurku, keringat memenuhi wajahku, yang tidak aku mengerti mengapa semakin dekat kepergian Anita semakin pula banyak hal-hal aneh yang aku alami dan mimpi buruk tentangnya, seakan-akan seperti pertanda buruk akan dirinya.
Keesokan harinya.
“Anita apakah kamu tidak ingin menunda dulu kepulanganmu?”
Anita menjawab dan tertawa seperti tidak terlalu menganggap serius perkataanku, “Emang ada apa Nanda? Kok kamu seperti melarang aku pulang sih.”
“Tolong Anita aku lagi serius. Akhir-akhir ini selalu mengalami hal-hal aneh dan mimpi buruk.”
“terus hubungannya dengan kepergianku, apa dong?”
“Itu menyangkut dirimu Anita.”
Aku menceritakan semuanya kepadanya Anita, baik hal-hal aneh tersebut hingga mimpi itu. Tetapi respons Anita sama saja, seperti tidak mempercayai dengan ceritaku.
“Nanda palingan itu Cuma bunga tidur kok.”
Dia menarik tanganku membawaku ke sebuah taman yang indah yang tidak pernah aku dan dia datangi sebelumnya, “Anita taman ini belum pernah aku melihatnya. Bagaimana bisa ada taman seindah ini?”
“Taman ini baru selesai peresmian, jadi yah baru kamu lihat.”
Dia tersenyum lebar menikmati hari-hari bersamaku, tetapi aku sendiri hanya bisa merasakan sedih entah mengapa dan rasa hati selalu tidak karuan, ku lihat dia sangat bahagia berjalan ke sana kemari mencium harum bunga-bunga di taman ini. Andaikan aku tahu apa yang terjadi akan aku cegah keberangkatannya bagaimanapun nanti jadinya.
Tepat pukul 01:00 tengah hari.
Hari perpisahan di antara kami berdua akan terjadi, tak aku duga dia Menjemput ku untuk mengantarkannya ke bandara. Pada akhirnya aku bersiap-siap untuk dengan tergesa-gesa. Aku bertanya kepadanya, “kenapa kamu jemput aku? Kan aku ingat jam berapa mengantarkan kamu ke bandara, dan ini terlalu awal.”
“Aku mau menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama mu,” ucapnya. Senyumannya tanpa henti terpancar dari wajahnya, “kamu maukan!”
Kami habiskan waktu yang tersisa bersama, wajah yang tak mungkin aku lupakan, senyum itu tidak akan pernah aku Ingin lihat redup dari wajahnya. Saat menjelang kepergiannya dia menggenggam erat tanganku, begitu juga, jantung ku berdetak kencang dan perasaan ku seperti tidak nyaman.
Dari arah kaca yang besar aku hanya bisa melihat penerbangannya.
di balik kaca kecil pesawat ku lihat dia berdiri di dalam sana yang semakin mengecil dari ketinggian terpandang, ku buka buku catatan ku, ku mulai menulis kisah perjumpaan terakhir kami, tiba-tiba jari tanganku tergores oleh besi penahan buku ku, hingga darah jari ku menetes beberapa tetes di lembaran buku ku. Tertulis, “dialah yang paling aku inginkan...”
Saat ku berbalik untuk pulang, semua orang berlarian ke luar bandara menuju lapangan tempat landasan pesawat. Aku bingung. Saat ku berbalik, hanya api yang menyambar di udara, puing-puing terjatuh dari langit, awan seketika mendung di campur warna ledakan itu seperti warna darah.
Aku teriak dan berlari mendatangi lokasi itu, “Tidak mungkin. anitaaaa,” namun para petugas mencegahku untuk mendatangi tepat di bawah ledakan tersebut, “lepaskan saya, saya mohon pak di dalam sana ada kekasih saya.”
“Tolong kerja samanya, itu sama saja membahayakan nyawa kamu sendiri, mengerti,” jawab pak petugas agar aku mengerti.
Berderai air mata aku terduduk merenung tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Selembar kertas sebagian terbakar melayang tepat mengarah di atas kepalaku, kertas itu memiliki bercak darah dengan tulisan, “dialah yang paling aku inginkan, nan...” aku langsung tahu jikalau ini adalah tulisan miliknya.
“anitaaa.”
selesai.