Dinda
Hidup dengan ayahnya disebuah rumah yang sederhana. ibunya meninggal ketika melahirkan Dinda. itu membuat kenapa sang ayah sangat membenci Dinda karena nyalah wanita yang paling dia cintai telah pergi meninggalkan dia seorang diri.
Meskipun tanpa kasih sayang sang ayah Dinda tumbuh menjadi sosok wanita yang cerdas dan mandiri. semakin dewasa dia semakin mirip dengan ibunya. Baik fisik maupun kepribadiannya.
Dinda memiliki seorang kekasih yang sangat dia cintai dan sang kekasih pun juga mencintai Dinda apa adanya. dengan semua keadaan Dinda.
Hari ini hari ulang tahun Fahri, pacar Dinda. Dinda sudah menyiapkan sebuah kado untuk Fahri. sebuah jam yang akan mengingatkan Fahri akan waktu yang tidak akan berhenti.
Dinda melihat Fahri turun dari mobil dari sebrang jalan. Dinda yang masih fokus melihat kotak kecil yang dia siapkan tidak mendengar panggilan Fahri. Ketika dia melihat kedepan telah tersenyumlah sosok laki-laki yang telah mengisi hatinya itu disebrang jalan. Tanpa melihat ke kanan dan kiri Dinda melangkahkan kakinya menyebrangi jalan.
Tiba-tiba...
Tin...tin...tin... Bruuukkkk benturan keras datang dari arah Dinda. Fahri segera berlari menghampiri Dinda yang sudah terkapar di jalan dengan bersimbah darah.
" Dinda... dengarkan aku... buka matamu" teriak Fahri
Dinda membuka matanya, dia melihat Fahri berada didepannya dengan wajah yang terlihat sangat khawatir. Dinda membelai wajah Fahri dan memberikan kotak yang masih dipengangnya dengan erat.
" Se... Selaaa...maaat ulaaaaang taaahhun Saaa..yaanng" kata terakhir Dinda sebelum dia menutup matanya.
" Tidak jangan pejamkan matamu...Kita akan kerumah sakit, kamu harus tetap sadar." kata Fahri sambil membopong tubuh Dinda kedalam sebuah mobil
Sampai dirumah sakit Dinda segera masuk ruang operasi. mendapat menanganan lebih lanjut. luka yang dialami Dinda tergolong cukup serius benturan terjadi kepada kepalanya dan menyebabkan pendarahan yang sangat hebat.
" Bagaimana dok? tanya Fahri dengan segera setelah dokter keluar dari ruang operasi.
" Maafkan kami tuan... kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya."
Bagai tersambar petir disiang hari. Fahri tidak kuat menahan air mata dan kesedihannya. Dia berlari melihat Dinda yang terbaring kaku sudah tidak bernyawa.
Tidak lama kemudian datang ayah Dinda dan langsung menuju ketempat dimana Dinda berbaring. Dia tertegun menatap tubuh sang putri berbaring kaku tak bernyawa, ia teringat kembali dengan Rani ibu Dinda yang dulu meninggalkan dirinya seperti ini.
" Dinda... buka matamu... ayah tidak mengijinkanmu meninggalkan ayah seperti ini... bangun Dinda"
Wisnu sekarang merasa sedih dan dia sadar kalau selama ini memendam kasih sayang dibalik kebenciannya. Bagaimana pun juga Dinda adalah darah dagingnya. dia juga tidak akan kuat melihat Dinda seperti ini.
***
Beberapa hari berlalu, setelah kepergian Dinda, semua orang berusaha ikhlas agar Dinda tenang disisi Allah.
" Dimana aku...? Oh ya... aku mengalami kecelakaan" sambil melihat sekeliling.
" Kenapa aku berada dikamar yang begitu bagus, ini pasti mahal... ayah tidak akan mampu, pasti Fahri... buang-buang uang saja.
Mencoba menyibak selimut dan bangun dari tempat tidur.
"Aduh kepalaku sakit sekali, ini pasti efek dari kecelakaan itu."
Tiba-tiba seseorang masuk kedalam kamar.
" Nona sudah bangun... aku akan segera memangil dokter dan tuan pasti akan sangat bahagia." kata seseorang itu sebelum berlari keluar kamar lagi.
Tidak lama setelah itu datang beberapa dokter dan suster memeriksa Dinda dengan sangat teliti. Dan datang pula sosok laki2 paruh baya yang dengan wajah cemas melihat dari kejauhan para dokter itu memeriksa Dinda.
Setelah beberapa lama. Dokter keluar memberitahu Tuan Raka kalau kondisi Dinda benar-benar dalam kondisi normal.
Setelah mendengar itu Raka masuk kedalam kamar bersama wanita yang pertama Dinda lihat tadi.
" Sayang... apa kamu baik-baik saja." kata Raka
Dinda tertegun sekaligus binggung kenapa pria itu memanggil nya sayang. Dia hanya diam sambil melihat sekeliling. Betapa kagetnya dia melihat pantulan dirinya disebuah kaca.
wajahnya berubah... rambutnya, tangannya dia melihat seluruh tubuhnya telah berubah. Dinda memegang wajahnya dan menepuk-nepuk nya berharap semua ini hanya mimpi dan dia akan segera terbangun.
" Sayang hentikan itu, wajahmu akan memerah nanti." kata Raka
" Siapa kalian?" tanya Dinda dengan suara lembut.
bahkan Dinda sendiri kaget suaranya berubah menjadi sangat lembut.
" Nona tidak mengenali papa nona?" kata seorang wanita disamping Dinda.
Perlahan Dinda mengeleng dan bergantian melihat kearah mereka berdua dengan tatapan binggung. Rani mencoba menjelaskan kepada Dinda tapi Raka menahan Rani.
Dengan sadarnya Dinda dari komanya saja Raka sudah sangat bahagia. hanya tidak mengenalinya bukan masalah besar untuknya. Setelah Dinda sehat perlahan dia akan mengingat semuanya.
Raka keluar menemui dokter dan menceritakan segalanya.
Dinda terbangun ditubuh wanita bernama Adinda Wijaya. anak tunggal dari keluarga Wijaya yang mengalami sebuah kecelakaan 1 tahun lalu dan selama 1 tahun itu dia berbaring dirumah sakit dalam keadaan koma. Hingga Dinda yang bangun dengan tubuhnya hari ini.
Dinda masih merasa tidak percaya dengan apa yang dia alami ini. Rani duduk disamping Dinda sambil menceritakan segalanya kepada Dinda sebelum dia mengalami kecelakaan hingga dia tersadar hari ini. Tiba-tiba Dinda teringat sang ayah dan kehidupannya sebagai Dinda yang dulu. Dia tiba-tiba menitikan air matanya mengingat bagaimana kondisi Dinda yang sebenarnya.
Dinda mulai memahami situasinya. meskipun dalam kondisi tidak stabil Dinda mencoba menerima. Raka sebagai ayahnya dan tubuh Adinda sebagai tubuhnya sekarang. Dia ingin sekali segera keluar dari rumah sakit melihat apa yang terjadi di rumah Dinda yang lama. bagaimana kondisi ayahnya dan bagaimana kondisi tubuh lamanya.
" Mbak Rani... kapan kita pulang." tanya Dinda
" Tuan Raka sedang bertanya kepada dokter nona yang sabar, kita tunggu tuan Raka kembali dulu."
Raka membuka pintu dan melihat Dinda menatapnya dengan tatapan asing.
" Ayah.... eh pa.. kapan kita pulang. Dinda sudah tidak betah disini."
Raka tersenyum dan memeluk Dinda, Dinda terdiam, dia merasakan kehangatan seorang ayah dari Raka. pelukan yang sangat hangat yang selama ini Dinda impikan dari ayahnya.
" kita akan segera pulang sayang."
" Maafkan Dinda pa... Dinda tidak mengingat papa."
" Pelan-pelan sayang, terima kasih kamu sudah sadar."
Air mata keluar dari mata Raka dan juga Rani yang melihat mereka berpelukan. Dinda merasa kehangatan didada dan hatinya. sebuah kehangatan keluarga yang dia impikan selama ini.
Beberapa hari berlalu, Dinda telah kembali kerumah keluarga Wijaya yang sangat megah. banyak pelayan yang menyambut kepulangan Dinda. beberapa hari Dinda beradaptasi dirumah barunya dengan tubuh barunya. melihat siapa sosok wanita yang kini dia tempati.
Dinda sangat ingin pergi melihat ayah dan kehidupan lamanya. tapi tidak mudah untuknya keluar dari rumah ini. banyak orang yang menjaga Dinda dari dia bangun sampai dia kembali tertidur.
" Mbak Rani... Dinda boleh minta tolong gak, Dinda ingin pergi ke suatu tempat."
"non Dinda mau kemana, kita akan mengantarnya."
" tidak dengan semua orang ini... aku ingin pergi sendiri."
"Tidak boleh nona..."
"Mbak Rani... tolongin Dinda." wajah Dinda terlihat begitu tulus dan membuat Rani kalah.
" Baiklah... tapi aku akan ikut dengan nona, kalau tidak tuan akan marah nanti."
Dinda mengangguk senang, Rani memberitahu semuanya kalau Dinda ingin jalan-jalan sebentar bersama nya. dan akhirnya Dinda dan Rani bisa lepas dari pengawal yang Raka tugaskan.
Hanya bersama Anto supir pribadi Dinda dan Rani lah mereka pergi kerumah lama Dinda. sampai didepan rumah Dinda menyuruh Rani dan Anto menunggu dimobil dia turun dan masuk sendiri.
" assalamu'alaikum..." sapa Dinda.
"Waalaikumsalam..." terdengar suara berat yang Dinda rindukan ya Suara ayah nya Wisnu.
"Iya... siapa ya... mau apa dan cari siapa? terdengar suara batuk disetiap sela kata yang dikeluarkan pak Wisnu.
" Saya ingin mencari Dinda?"
Tiba-tiba pak Wisnu terdiam menatap wanita muda didepannya, raut wajah sedih terlihat jelas diwajahnya kemudian air mata mengalir di pipinya dan seketika tubuh pak Wisnu menjadi lemas.
"bapak kenapa... duduk dulu pak"
Wisnu menghela nafas panjang dan menceritak segalaya kalau Dinda anaknya telah meninggal dunia karena kecelakaan. dan sekarang dia dihantui penyesalan karena tidak pernah menyayanginya dan hanya membuat Dinda tidak nyaman selama ini. Dinda ingin sekali memeluk sang ayah dan mengatakan kalau dia berada disini saat ini.
Setelah dari rumah pak Wisnu, Dinda pergi ke pemakaman dimana tubuh aslinya dimakamkan. Rani dan Anto hanya menatap dari kejauhan. sambil bertanya-tanya siapa orang-orang yang ditemui Dinda hari ini.
"Satu tempat lagi ya." kata Dinda dengan wajah sedih
Anto segera mengangguk dan masuk kedalam mobil.
Dinda menata keluat jendela, tidak ada kata yang terucap darinya. Rani terlihat cemas namun tidak berani bertanya. hanya menatap dan menggenggam tangan Dinda dengan lembut. Air mata Dinda tiba-tiba mengalir membuat Rani memberanikan diri untuk bertanya.
" Non... non Dinda tidak apa-apa? kenapa menangis, apa yang terjadi... non Dinda cerita saja. semuanya aman sama kami ya kan to..."
"Iya non..." jawab Anto dengan cepat.
Tidak ada yang keluar dari mulut Dinda hanya suara Isak tangis yang terdengar pelan, kemudian membenamkan wajahnya dalam pelukan Rani.
Dinda telah sampai di depan universitas dimana dia kuliah dulu, dia sedang menunggu Fahri disana. setidaknya dia ingin menyampaikan kata terakhir untuknya.
Tidak lama Fahri keluar. Dinda segera keluar mobil dan menghampiri Fahri.
" Fahri..." sapa Dinda
Fahri berhenti dan menoleh kearah suara itu berasal.
"Dinda.... " gumam Fahri pelan lalu bergegas menghampiri Dinda.
" Dinda... kamu Dinda kan..." kata Fahri
"iya..."
Fahri melihat Dinda, dia menghela nafas panjang dan tersenyum.
" Maafkan saya, saya salah orang."
Dinda hanya tersenyum, hatinya menangis ingin sekali dia bilang kalau dia memang benar Dinda hanya berada didalam tubuh yang berbeda.
" Ada apa ya? nona siapa?" tanya Fahri
" Nama ku Dinda, ada yang ingin aku katakan kepadamu. Dalam kotak kecil saat Dinda kecelakaan ada sebuah kado untukmu buka lah dan bacalah isinya." kata Dinda
" kotak, kecelakaan, Dinda... semua itu dari mana kamu tahu?
" Aku sudah mengatakan yang harus aku katakan. salam sayang dari Dinda untuk mu ya."
Dinda segera pergi dan masuk kedalam mobil.
Dia tidak ingin air mata nya jatuh didepan Fahri. Rani dan Anto terus menatap Dinda dengan wajah sendu ikut merasa kan apa yang tengah nona Meraka rasakan.
Sampai dirumah. Fahri segera mencari kotak yang Dinda maksud. Dengan hati deg-degan dan tangan bergetar Fahri membuka kotak itu.
"Sebuah jam..."
Dibawah jam terselip sebuah kertas dengan tulisan
" Ingatlah waktu ketika kita bersama, ingatlah waktu ketika kita tidak bersama. dan biarkan waktu yang menyatukan kita kembali jika suatu saat nanti waktu akan memisahkan kita."
*** Tamat**"