Hari itu dengan gagahnya, aku menunggangi kuda besi yang melaju diantara sekian banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan kota. Rasa sombong dan angkuh, siapapun dapat melihatnya dari caraku memegang stang motor Ninja hitam yang masih mulus dan mengkilat ini.
Drrrt! Drrrt!
Ponselku berdering!
Aku segera meraih benda itu keluar dari saku celana jeans hitam yang kukenakan. Kulihat siapa nama si pemanggil yang sedang menelponku. Ternyata dia adalah Jenny, kekasihku.
"Kalau kamu benar-benar serius ingin hubungan kita kembali, buktikan! Aku gak sudi punya cowok pelit dan gak modal. Pokoknya hari ini aku tunggu di acara ulang tahunku. Jangan membuatku malu dihadapan teman-temanku, dengan hadiah mu yang tak ber-merk itu!" Tanpa salam sapa, Jenny langsung mencecarku dengan keinginannya.
"Iya, sayang. Hari ini kamu pasti gak kecewa sama hadiahku. Pokoknya...."
Tuttt! tuuttt!
"Haloo, Jenny ... Jen?" Jenny mematikan telponnya secara langsung tanpa menunggu selesai ucapanku. Padahal hari ini aku membawa hadian tas bermerk seperti yang dia inginkan.
Ku coba untuk kembali menghubungi Jenny, namun ia tak kunjung menerima panggilan dariku. Karena bosan berusaha tanpa hasil, aku pun menyelipkan ponselku di saku celana bagian depan, namun terasa sangat sulit untuk memasukkannya. Ku tekan-tekan ponselku dan ...
Plak!
Ah, sial! Ponselku jatuh!
Reflek aku menoleh ke belakang tepat di mana ponsel itu terjatuh. Aku berniat menarik rem ku, dan saat aku menoleh ke depan lagi, tiba-tiba ...
Entah sejak kapan lampu merah telah menyala, dan aku tak sempat menurunkan kecepatan angka spedometerku yang mencapai 90km/jam pada jalur yang bukan merupakan jalur cepat.
Bruuuk!
"Aaaa ..."
Tubuhku terpental. Melayang ke udara dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya tubuhku kembali menapak aspal dan terseret mobil yang melaju dari sisi lain jalan. Hingga jika diberi efek slowmotion mungkin ini akan se-dramatis adegan film.
Pyang!
Kepalaku yang tak memakai helm seketika berdenging dan memuncratkan darah segar saat membentur aspal jalan. Pergelangan tanganku pun terasa remuk saat ban mobil yang menyeretku mulai menurunkan kecepatannya dan melindas tanganku yang patah.
Dalam sisa-sisa kesadaranku, aku mendengar suara riuh dan kerumunan orang yang membantu mengeluarkanku dari kolong mobil Avanza itu. Silau cahaya matahari memaksa mataku untuk terpejam. Dan perlahan aku memejamkan mataku, hingga semuanya terasa hampa, gelap, dan sunyi.
~~
Aku terbangun karena mendengar suara riuh orang mengaji di sekitarku. Kubuka mata namun yang terlihat hanya gelap, nafasku pun terasa sesak.
"Apakah aku menjadi buta ?"
Lalu aku beranjak duduk dari posisi badanku yang tidur terlentang.
"Aih," aku mengerjap tak percaya hingga aku mengucek kedua mataku. "Tadi rasanya gelap, aku kira aku akan menjadi buta. Tapi untunglah, ternyata aku masih bisa melihat."
Pandanganku berpusat pada ibuku yang terduduk lesu sambil menangis diantara para tetangga yang mengaji bersama. Aku heran, hingga kuputuskan untuk mendekati ibuku dan memeluknya seraya berkata "Bu, ada apa ini? Kenapa kau menangis?" ucapku bingung.
1 detik, 2 detik, 3 detik, ibu tak menghiraukanku. Kuulang pertanyaanku, namun beliau tetap bungkam.
"Bu Ningrum, yang sabar ya. Iklaskan, supaya Keenan tenang di sana," ucap bu Asih, salah seorang tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Ia tiba-tiba datang dan berkata seolah aku telah tiada. Sontak hal tersebut membuatku terkejut setengah mati. Padahal aku masih di sini, di samping mereka. "Bu, saya ijin mau melihat wajah Keenan untuk yang terakhir kali ya." Wanita itu meminta ijin pada ibuku dan langsung mendapat persetujuan dari ibu dengan anggukannya. Sontak mataku melirik mengikuti arah wanita itu berjalan.
Deg !
Mataku melihat, sesuatu yang terbujur disana. Ditutup kain jarik berwarna coklat dan dikelilingi banyak orang yang sedang mengaji. Langkahku pun seperti tertarik dengan sendirinya. Rasa penasaran mulai menggebu. Siapakah sosok tak bernyawa dibalik kain jarik itu?
Aku melangkah mendekati Bu Asih yang perlahan membuka sedikit demi sedikit kain jarik yang terbujur rapi diatas tubuh seseorang. Dengan mata sedikit terpejam dan kalimat bismillah yang terucap dari bibirnya, dia mulai menyingkap kain itu.
Duarr!
Bagai tersambar petir. Wajah jasad itu penuh luka dan bekas darah, hidungnya pun bengkok dengan bibir yang hancur.
"Aku?" Aku terjatuh melihat diriku sendiri terbujur kaku dengan wajah yang hampir hancur. "Aku telah mati?" Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku menangis saat melihat tubuhku sendiri tak berdaya seperti itu. Hingga tiba-tiba pandanganku menjadi gelap dan aku tak sadarkan diri.
~~
Aku kembali tersadar namun saat itu badanku terlentang dan sulit digerakkan. Aku hanya mengedarkan pandanganku dan melihat kesekitar. Ternyata mereka sedang mengkafani tubuhku. Aku ingin bangun namun tak bisa, aku terperangkap dalam tubuhku sendiri, tapi tubuhku tetap tak bernafas. Aku pun hanya menangis dan tak memikirkan keadaan yang membingungkan ini.
"Hiks ... hiks ... tolong jangan tutup wajahku. Hiks ... hiks ... aku masih ingin melihat keluargaku. Aku ingin melihat rumahku." Aku menangis kencang dalam tubuh ini. Namun percuma mereka tak mendengarnya, dan mulai membungkus tubuhku dengan kain putih hingga wajahku tertutup. Pandanganku gelap dengan arwah ku yang masih tersadar dan terperangkap dalam tubuh tak bernyawa ini.
Aku masih menangis terlentang dengan kedua tangan bersendekap di atas perut, dan tubuhku yang telah terkafani berada di dalam keranda. Bau-bau harum bunga yang menjuntai di atas kain hijau penutup keranda pun masih bisa kunikmati. Begitu pula suara imam yang memimpin solat jenazah saat itu masih bisa kudengar jelas
Aku tetap tak berhenti menangis. Namun aku sadar tak akan ada yang mendengar rintihanku. Tiba-tiba keranda ini bergerak, terangkat dan suara lantunan 'Lailahaillallah' mengiringi perjalanan ku.
"Hiks ... hiks ... jangan berjalan terlalu cepat. Aku belum berpamitan pada keluargaku, pada rumahku. Hiks ... hiks ..." Aku menangis sepanjang perjalanan dan selalu mengulang kalimatku.
Hingga beberapa saat kemudian keranda diturunkan. Lalu terasa tangan-tangan hangat mulai mengangkat tubuh dingin ini dan meletakkannya entah dimana, mungkin inilah liang lahat tempatku sekarang. Terasa dingin, dan sangat-sangat dingin.
"Allahu Akbar Allahu Akbar. Allahu Akbar Allahu Akbar ..."
Suara Adzan mulai dikumandangkan. Aku hanya bisa terus menangis tak percaya. Ingin rasanya aku keluar dari tubuh tak berdaya ini dan beranjak naik keatas bersama mereka, meskipun aku telah mati. Tapi liang lahat ini lebih menakutkan. Disini dingin, dan aku sendirian!
Buk! Plak! Buk! Plak!
Tanah galian mulai diturunkan. Aku menangis dan semakin menjerit. Aku merasa benar-benar takut. Aku sesak, keadaan pun semakin menjadi gelap gulita. Hampa. Sunyi. Sendiri!
Aku menjerit bahkan berusaha mengeluarkan arwahku sendiri dari dalam liang lahat ini, namun seperti ada yang menahanku. Aku seperti masih terikat dengan tubuhku. Padahal aku telah mati.
Tap! Tap! Tap!
Tiga langkah kaki, bunyi terakhir yang aku dengar menandakan aku benar-benar telah ditinggal sendiri di sini. Sepi! Gelap! dan benar-benar Sendiri!
Aku ingin kembali!
Aku takut disini!
~~
"Hah!" Aku terbangun. Kuedarkan pandanganku dan kudapati diriku tertidur di kamarku. Kulirik sumber nafas di sebelahku dan kulihat ibu sedang tertidur pulas di sampingku. "Ah, ternyata cuma mimpi!" kukecup kening ibu. Seketika aku tersadar, "eh, aku tak bisa menyentuhmu, Bu. Apa mungkin aku benar-benar telah mati?"
Perlahan ingatanku memutar ulang kejadian naas itu yang menyebabkan aku benar-benar telah tiada. Hanya saja aku selalu terjaga dalam situasi yang tak ingin menpercayai kondisiku sendiri.
"Ternyata aku bukan mimpi bu. Aku telah mati beberapa hari yang lalu."
Allahu Akbar Allahu Akbar ...
Adzan subuh mulai berkumandang. Menandakan sebentar lagi hari akan terang. Saatnya aku berpamitan pada sosok ibu yang tertidur pulas dengan wajah lesu itu.
"Maafkan Keenan, Bu. Andai saat Keenan meninggal karna ingin membahagiakan ibu, bukan membahagiakan wanita lain, Keenan tak akan menyesal sebesar ini. Keenan menyesal karena sampai akhir hayat, Keenan belum dapat membahagiakan Ibu." Ku kecup kening ibu yang masih tertidur. "Keenan pamit, Bu. Sampai jumpa lagi di hari yang sama. Aku akan datang menjemput doa Ibu untukku."
Aku menatap wajah sendu Ibu dengan penuh penyesalan. Perlahan tubuh ringanku terangkat keudara. Setitik air mata selalu menetes dari pelupuk mataku. Sebagai perwujudan bahwa jiwa tak beraga ini benar-benar menyesal. Dan akhirnya hilang.
-TAMAT-
Mohon maaf apabila banyak terjadi kesalahan dalam cerita ini.
Penulis hanya ingin membagikan pesan dalam bentuk cerita sebagai hiburan dan renungan semata.
Semoga kita dapat mengambil makna positif dari cerita tersebut. Terimakasih 😊😊😊