Aku tak suka marah karena kemarahan membangkitkan iblis di hati.
Orang mengenal ku sebagai wanita lemah lembut yang tak pernah marah tapi ada suatu masa dia yang ku sayang membuat ku tak lagi bisa menahan marah sehingga membangkitkan iblis di hati yang tertawa penuh kemenangan dan aku membiarkan saja..
*******
Aku memperhatikan istriku pagi hari ini dengan bersembunyi, Aku tidak ingin terlihat olehnya.
Dia membuatkan segelas teh hangat dan mengaduk bubur ayam menjadi satu. Aku tidak pernah menyukai cara dia menikmati bubur ayam seperti itu karena menurut ku menggelikan melihat semangkok makanan dengan tekstur tidak jelas.
Pagi ini istri ku menggunakan kaos oversize putih dan legging hitam, menguncir rambutnya, memoles lipstik tipis. Biasanya aku tidak pernah memperhatikan penampilannya karena pagi hari selalu membuat ku tak sabar berangkat kerja. Bertemu dengan sekretaris cantik kesayangan di kantor.
Istri ku sudah mengetahui perihal ini tetapi dia tidak bisa melakukan apapun selain menangis memohon agar aku meninggalkan sekretaris kesayangan ku tentu saja keinginan itu tidak ku kabulkan.
Selesai sarapan dia berganti pakaian kerja, aku tidak menyukai kebiasaan ini.
Setiap selesai mandi dia akan menggunakan pakaian rumah lalu membuat sarapan. Segelas teh hangat, sereal atau bubur ayam merupakan favoritnya. Setelah itu baru dia berganti pakaian kerja.
Dia tidak ingin pakaian kerja kotor jadi dia menggantikan setelah selesai melakukan semuanya. Menurut ku kebiasaan yang merepotkan.
Selanjutnya aku melihatnya menyalakan mobil kemudian berangkat pergi kerja. Dia bekerja di perusahaan kecil. Aku pernah menyuruhnya berhenti bekerja karena sebagai direktur perusahaan ternama menurut ku pekerjaan istriku tidak bonafid.
Dia menangis saat itu menolak untuk berhenti kerja lalu berkata dengan suara pelan kalau aku jarang memberi nafkah. Aku menggerutu tapi ya sudahlah dia benar juga karena uang ku banyak dihabiskan untuk sekretaris kesayangan ku yang membutuhkan perawatan dan penunjang penampilan yang tidak murah.
Seharian aku menunggu dia pulang kerja, hari ini aku bebas mengamati kesehariannya. Menjelang sore dia telah tiba di rumah. Aku belum pernah melihat istri ku pulang kerja karena aku selalu pulang larut malam.
Dia melepaskan sepatu kerja, meletakkan di rak dengan tersusun rapi. Istri ku sering merapikan sepatu dan sandal dan itu membuat ku kesal karena dia merubah letak sepatu atau sandal yang akan ku gunakan.
Setiap aku memarahi mengenai kebiasaan ini, dia hanya tertunduk sedih. Beralasan agar semua tampak rapi dan mudah dicari.
Ku lihat dia telah mandi dan berganti pakaian rumah. Menggunakan apron lalu berkutat di dapur, sama sekali belum duduk atau bersantai. Dia memasak untuk makan malam.
Pantas saja dia selalu sedih ketika aku tak pernah menyentuh masakannya setiap hari. Dia telah bersusah payah memaksa untuk ku tapi bagaimana aku harus menahan godaan sang sekretaris.
Dia menata dengan apik di meja makan. Semua tersusun rapi, sempurna seperti penataan sajian di restoran. Aku sering melewatinya di meja makan tanpa pernah tertarik duduk bersama dirinya di sana.
Aku memang tidak pernah makan di rumah kemudian dia akan menunduk sambil memakan masakannya sendiri tapi malam ini dia tidak menunggu malah menyantap semua makanan di meja makan dengan lahap.
Selesai makan malam dia merapikan dapur kembali, semua telah tertata sangat rapi. Tidak lama kemudian istri ku menuju ruang televisi. Dia menonton acara drama hampir setiap pulang kerja saat larut malam aku melihat dia melakukan ini.
Dia menyambut ku yang tiba di rumah larut malam. Tersenyum dan menanyakan mengapa aku terlambat, tentu saja aku muak mendengarkan pertanyaan yang sama setiap hari.
Kami sudah dua tahun menikah dan belum mempunyai anak. Dia wanita lemah lembut penuh kasih yang membosankan bagi ku. Berbeda dengan kehangatan menggelora dari sekretaris kesayangan ku.
Aku memperhatikan dia menonton drama dengan wajah tanpa ekspresi tidak lama kemudian ada ketukan. Ku lihat dengan sigap dia berangkat dari sofa depan televisi. Senyum sumringah tersungging di bibir mungilnya. Dia tampak bahagia.
Aku terenyuh sedih apakah setiap malam dia begitu bahagia, ketika menyambut ku pulang larut malam tapi siapakah yang datang.
Seorang pria menggunakan topi memasuki rumah. Aku mengawasi dengan waspada. Dia tinggi dan kurus menggunakan jaket yang tampak besar di tubuh kurusnya.
Tidak mungkin istri ku selingkuh dia setia. Bukan seperti aku yang terang-terangan selingkuh dengan sang sekretaris.
"Bagaimana?"
"Semua bekerja dengan sempurna,racun yang anda pesan dengan saya memiliki efek seperti serangan jantung jadi menyempurnakan kecelakaan yang dialami oleh suami anda"
"Tetapi belum ada kabar mengenai kecelakaan yang dialaminya"
"Tunggu saja besok kabarnya, mobilnya masih di jurang. Dia sedang menuju villa di puncak untuk berjanji dengan sekretarisnya tetapi sekarang dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan sekretarisnya.
Pria itu pergi setelah istriku membayar dengan segepok uang berwarna merah. Ternyata pria itu mematai ku.
Aku terhuyung ke belakang teringat pagi tadi istri ku memaksa menghabiskan segelas teh yang sudah dingin karena tak sabar akan bertemu sekretaris kesayangan di villa dekat puncak jadi Aku menegaknya langsung.
Ditengah perjalanan aku merasa dada ku sakit, pandangan ku kabur. Aku tidak tahu apa yang terjadi yang ku rasakan, mobil ku meluncur semakin cepat. Suara gesekan pohon, daun terdekat jelas pada body mobil selanjutnya hanya sakit kemudian gelap.
Aku terhuyung menembus tembok yang ada di belakang ku.
"Jiwa telah terpisah dari raga, kau selalu tidak menyukai apa yang ku lakukan seakan memancing kemarahan. Setiap hari aku bertarung melawan amarah di hati tapi akhirnya aku kalah sekarang iblis itu memenangkannya"
Istri ku melihat keberadaan suaminya ini, dia tersenyum manis namun memancarkan auranya menakutkan. Dibelakangnya makhluk bertanduk hitam besar menyeringai menertawakan ku.
_end