”Ketika janji manis hanya sekedar penghibur hati sesaat, dan berujung luka tak terpulihkan lagi.”
Perkenalan biasa yang justru membawa kisah baru tak terduga. Terkadang, rasa itu hadir bukan karena direncanakan, namun karena terbiasa. Terbiasa saling memperhatikan, terbiasa saling berbagi cerita, dan terbiasa bersama sepanjang waktu.
~ ~ ~
Di sebuah perusahaan swasta, tepatnya di sebuah kota padat penduduk.
Karena terlahir dari keluarga yang sederhana dan juga terkadang serba kekurangan. Hal itu membuat seorang gadis desa harus pergi merantau jauh keluarganya. Pergi ke ibu kota, yang bahkan ia sendiri belum pernah berkunjung.
Menempuh pendidikan strata satu selama hampir empat tahun, lalu memulai karir sebagai seorang pegawai perusahaan. Masih baru memulai karirnya di dunia kerja, dan juga harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya.
“Kota AXX”
Di sebuah ruangan makan bersama.
Drrtttt... satu pesan masuk.
“Qiana, sampai kapan kau akan terus mengabaikan pesan itu!” Ucap salah seorang rekan kerja Qiana Dyne.
Tersenyum, lalu meneguk segelas air. “Ini adalah jam makan siang. Jika aku melayani pesannya, maka akan sangat mengganggu pekerjaanku.” Balas Qiana dengan wajah tersenyum.
“Qiana, kau adalah wanita yang sangat disiplin. Tidak heran, jika direktur muda itu tergila-gila denganmu.” Kekeh Marry, sahabat dekat Qiana, sejak berada di sebuah kampus, tempat ia menempuh pendidikan strata satunya.
Qiana dan Marry adalah sahabat yang selalu bersama. Tempat bekerjapun mereka masih saja bersama. Namun, secara nasib, keduanya berbeda jauh. Qiana hanyalah seseorang yang terlahir dari keluarga sederhana. Sedangkan Marry, ia berasal dari keluarga yang serba berkecukupan.
***
Di area pinggiran kota AXX.
“Hallo bu, iya bu aku baik-baik saja. Hanya saja, akhir-akhir ini pekerjaanku begitu padat..“ Qiana yang sedang duduk di area pinggiran kota, sambil menikmati coklat hangat dan berbincang dengan ibu juga ayahnya.
Tersenyum sendu, saat menatap layar ponsel miliknya. Tiba-tiba, sebuah mobil sport berwarna hitam matte berhenti tepat di depan Qiana.
“Qiana!” Panggil seorang pria yang baru saja melangkah ke luar dari dalam mobil sport hitam matte.
Qiana mendongak, dan menatap pria yang kini berdiri di depannya. “Kak Jonathan!” Ucap Qiana terkejut.
Pria yang baru saja tiba, ialah Jonathan. Senior tampan, tampat Qiana magang saat semester akhir perkuliahannya.
“Mengapa pesanku tidak kau balas sejak kemarin?” tanya Jonathan, lalu duduk di samping Qiana.
Qiana memutar bola matanya, mencari alasan yang tepat untuk dikatakan. Namun, Jonathan justru meraih tangan kanan milik Qiana.
“Apakah, aku sebegitu tidak menarik bagimu!” Tukas Jonathan, sembari menatap dalam ke kedua bola mata milik Qiana.
“Aku hanya sibuk mengerjakan segala laporanku.” Balas Qiana gugup.
“Qiana, aku serius dengan ucapanku malam itu.”
“Kak Jonathan, maaf! Tidak seharusnya begini.” Qiana menepis genggaman tangan Jonathan darinya.
“Aku akan mengantarkanmu pulang, ini sudah malam.”
“Aku akan pulang sendiri. Jangan cemaskan aku,” ucap Qiana, dan terus melangkah menjauhi Jonathan.
***
“Kediaman Qiana Dyne”
Qiana tinggal di sebuah rumah susun, dengan tarif yang rendah. Sembari membantu ekonomi keluarganya, Qiana harus benar-benar hemat.
Menghela napas perlahan, lalu menatap layar ponsel miliknya. Nama Jonathan terus saja tertera di layar ponsel miliknya. Panggilan dari Jonathan, tak henti-hentinya berdering.
“Kak Jonathan, sudah kukatakan aku.”
“Qiana, aku di halaman!” Ucap Jonathan.
Dengan sigap, Qiana beranjak dari tempat tidur miliknya, lalu melihat ke arah bawah kamar miliknya dari jendela.
Jonathan melambaikan tangannya pada Qiana, dengan membawa sebuah pot bunga. Qiana benar-benar tidak habis pikir dengan ulah Jnonathan.
>>>
“Apa yang kakak lakukan!” Tukas Qiana kesal.
“Kau tidak suka bunga yang dijual di toko. Maka, aku membawamu tanaman bunga dari rumah.” Ucap Jonathan dengan wajah tersenyum pada Qiana.
Qiana tersipu, dan sangat geli atas apa yang Jonathan lakukan.
Meraih pot bunga yang Jonathan bawa untuknya. “Terima kasih, tapi kakak tidak perlu melakukan hal ini.” Ucap Qiana dengan wajah meronanya.
Jonathan meraih tangan milik Qiana, lalu mengecup punggung tangan milik Qiana.
“Aku mencintaimu Qiana, tolong beri aku kesempatan untuk membuktikannya.” Ucap Jonathan dengan mantaf.
Qiana hanya mengangguk, dengan tersenyum malu. “Ya, buktikan padaku, jika cinta tidak sekedar ucapan.” Balas Qiana, lalu melangkah menuju kediamannya.
Qiana tersenyum saat berbalik badan, sedangkan Jonathan dilanda perasaan yang sangat bahagia. Karena, hanya Qiana yang mampu mengalihkan perhatiannya. Dari sekian banyak wanita yang selama ini ia kenal, Qiana adalah wanita yang cukup berbeda. Seorang wanita yang sederhana, namun memiliki daya tarik luar biasa.
***
“Kediaman Keluarga Jonathan Michael”
“Jonathan, kapan kau akan memperkenalkan calon istri pada kami?” ucap ibu Jonathan, saat sedang duduk di sebuah meja makan keluarga.
Jonathan hanya tersenyum, seakan ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. “Tentu saja mom, aku akan memperkenalkan calon istriku.” Balas Jonathan.
“Benarkah! Daddy sungguh tidak sabar akan hal itu.” Timpal ayah Jonathan, Mr. Michael.
Jonathan ialah seorang direktur muda, di salah satu perusahaan cabang milik keluarganya. Di usianya yang baru beranjak dua puluh sembilan tahun, Jonathan telah memimpin beberapa perusahaan cabang lainnya.
Hingga suatu saat...
***
“Mengapa mendadak kak, bukankah aku seharusnya bersiap-siap terlebih dahulu!” Ucap Qiana pada Jonathan yang secara tiba-tiba memabawanya untuk pergi bersama.
Jonathan terus menggenggam tangan Qiana erat. Keduanya pun tiba disalah satu acar keluarga besar Michael.
“Hotel XX”
Semua mata tertuju pada penampilan Qiana. Saat semua orang berpakaian rapi dan mewah. Sedangkan Qiana, hanyalah mengenakan sebuah dress kasual miliknya, dengan sneaker sederhaannya.
“Jonathan! Daddy sudah menanti!” ucap saudara Jonathan kala itu.
Jonathan meraih tangan Qiana, lalu membawa Qiana masuk ke sebuah ruangan.
Ayah Jonathan menatap nyalang ke arah Qiana, seakan memandang rendah Qiana.
“Apa pekerjaanmu?” tanya Mr. Michael dingin.
“Aku bekerja disalah satu perusahaan elektronik, paman.” Balas Qiana ramah.
“Baru bekerja?”
“Yah paman. Aku baru memulai pekerjaan selama beberapa bulan ini.”
“Sangat dini sekali.” Tukas Mr. Michael, lalu pergi dari hadapan Qiana. Qiana hanya terdiam, dan beranggapan, sikap Mr. Michael normalnya seseorang yang baru mencoba untuk saling mengenal.
Acara keluarga besar Michael telah membawa perkenalan antara Qiana dan keluarga Jonathan.
***
“Perusahaan AXX”
“Marry, tolong temani aku untuk pergi ke acara pesta pernikahan, kerabat kak Jonathan!” Pinta Qiana memohon pada Marry.
“Qiana, mengapa tidak kau saja. Bukankah, kau adalah kekasih dari direktur muda Jonathan.”
“Marry, aku sangat canggung. Please!”
“Baiklah sahabatku, aku akan pergi bersamamu.” Marry memeluk Qiana, keduanya pun segera mencari sebuah gaun untuk dikenakan di acara pernikahan dari kerabat Jonathan.
***
“Gedung Kota AXX”
Qiana pun tiba dengan menumpangi sebuah taksi, bersama dengan Marry, sahabatnya.
“Seharusnya, supir bisa mengantarkan kita. Tapi terlalu lama, jadi aku putuskan untuk bersamamu.”
Keduanya mulai memasuki sebuah ruangan acara pesta pernikahan. Acara yang sangat mewah dengan dihadiri oleh para tamu undangan yang kelas atas.
Seperti biasanya, dipenghujung acara, Qiana bersaam Marry pun berniat untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.
Saat acara makan bersama, Qiana berdiri di area sisi kanan acara. Sedangkan Marry sedang berbincang dengan para pembisnis muda lainya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” ucap Mr. Michael yang baru saja tiba.
“Aku menghadiri undangan dari kak Jonathan, paman.” Balas Qiana.
“Kau tidak diundang di sini, dan kau seharusnya sadar dengan posisimu. Kau tidak sepadan dengan anakku, Jonathan.” Tukas Mr. Micahel, disaat yang sama, Jonathan pun berada di samping Qiana.
“Daddy, tolong jangan seperti ini, Qiana adalah calon istriku!”
“Sejak kapan Jontathan! Sejak kapan seorang anak pewaris keluarga Michael menerima seorang wanita biasa. Bahkan, latar belakang keluarganya saja, kau belum tahu.”
“Daddy!” Jonathan sungguh menyesali apa yang telah ayahnya katakan pada Qiana.
“Tinggalkan tempat ini, kau tidak seharusnya berada di sini.” Tukasnya, lalu pergi dari hadapan Qiana.
Sementara itu, Michael pun tidak bisa meninggalkan acara pernikahan tersebut. Qiana harus pulang seorang diri, sementara Marry masih asyik bersama para rekannya.
***
Sejak malam itu, Jonathan sudah mulai tidak lagi memperhatikan Qiana. Hubungan keduanya pun semakin dingin. Bahkan, Marry sahabat dari Qiana mengundurkan diri secara tiba-tiba.
Suatu saat, beberapa pegawai terlihat asyik memperbincangkan sesuatu hal.
“Sangat serasi, bukan!” Ucap para pegawai saat menatap sebuah layar ponsel.
“Qiana! Apakah kau tidak turut serta didalam kebahagiaan Marry. Bukankah, kalian begitu dekat?” Ucap salah seorang rekan kerja Qiana.
“Yah, ada apa dengannya?” balas Qiana heran.
“Marry bertunangan dengan seorang direktur muda, pewaris keluarga Michael.” Ucap mereka. Qiana mengernyitkan dahinya, dan turut melihat layar ponsel salah seorang rekan kerjanya.
Sungguh hal yang sangat mengejutkan, Marry ternyata bertunangan dengan Jonathan, kekasih dari Qiana. Qiana terdiam kaku, lalu kembali ke ruangan kerjanya.
Sudah beberapa bulan berlalu, Marry tak lagi memberikannya kabar, dan tiba-tiba Marry datang berkunjung ke perusahaan tempat Qiana bekerja.
>>>
“Marry selamat atas pertunanganmu bersama direktur muda itu!”
“Yah terima kasih, jangan lupa untuk datang ke acara pernikahanku.” Ucap Marry, lalu bergegas pergi. Marry berpapasan dengan Qiana, namun sikapnya telah dingin tak sehangat dulu.
Persahabatan merekapun berakhir kala itu. Marry tidak jujur atas perjodohannya bersama Jonathan. Pada saat malam pernikahan dari kerabat Jonathan. Itulah yang membuat Marry tatp tinggal, dan membiarkan Qiana pulang seorang diri.
Perasaan Qiana sungguh hancur tak terkatakan lagi. Namun, Qiana sadar akan posisinya dihadapan Jonathan maupun Marry. Qiana tetap melanjutkan hidupnya, dan menjadi tulang punggung keluarga. Mencoba untuk tetap bangkit dari kekecewaannya.
Sahabat bertahun-tahun, tak menjamin kesetiaan. Bahkan kekasih yang sangat mencintaimu pun dapat berubah menjadi sosok yang sangat menyakiti. Orang-orang yang selama ini menjadi sandaran, terkadang justru bisa menjadi orang yang mengecewakan.
~~~Tamat~~~