Keluarga yang bahagia adalah yang utama, aku sangat amat bersyukur. —Yuuki
===
Mentari mulai memancarkan sinar terangnya, menandakan bahwa hari telah memasuki waktu pagi. Terlihat seorang gadis bermata biru muda dengan rambut berwarna abu-abu semu putih, sedang bermain boneka dengan seorang gadis kecil.
Yuuki Haruno namanya, seorang gadis Jepang yang lahir dari keluarga sederhana dan hidup dalam keterbatasan. Namun, dia sama sekali tidak merasa keberatan dengan hal itu. Karena baginya, keluarga yang bahagia adalah hal utama.
----
"Halo, Paman Beruang! Apa kabar?" Yuuki menggerakan tangan boneka beruang coklat yang dipegangnya itu, seolah sedang menyapa layaknya manusia.
"Halo! Kabarku baik. Bagaimana denganmu?" Gadis kecil yang bersama Yuuki itu berbalik tanya. Dia adalah Mika Haruno, adik perempuan Yuuki. Dia selalu membuat Yuuki merasa gemas karena keimutannya.
Gadis berusia 17 tahun itu tersenyum ramah. "Hihi ... aku juga baik, Paman!" ucap Yuuki dengan logat bicara seperti beruang. Tak lama setelah itu, mereka tertawa bersama karena merasa drama beruang ini lucu.
"Kak Yuuki sangat lucu hihi ...," ungkap Mika seraya tertawa geli.
"Eeeeh ... benarkah? Hihi ... lalu, bagaimana dengan ekspresi wajah kakak ini ... haeeeppp ...." Dia membuat pipinya menggembung, sehingga muncul sebuah mimik wajah jeleknya.
"Pfftt ... hahahahaha ...." Tak bisa dipungkiri, Mika tidak bisa menahan tawanya tatkala melihat sang kakak berpose layaknya ikan kembung.
"Hahahahahaha ...." Yuuki pun ikut tertawa saat melihat adiknya seperti itu.
Saat mereka sedang sibuk bercanda bersama, tiba-tiba, pintu kamar mereka, perlahan tergeser ke samping. Perhatian Yuuki dan Mika pun langsung tertuju kepada suara pintu dibuka tersebut. Saat pintu sudah terbuka sepenuhnya, mereka berdua melihat seorang wanita paruh baya mengenakan baju kimono merah muda dan bermotif bunga sakura. Tatapan mata sayu dan senyum ramah, menambah tingkat kecantikannya.
"Yuuki, Mika, ayo ke meja makan! Ibu sudah membuatkan sarapan untuk kita semua," ujar Tsukira Haruno, seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan ibu dari Yuuki dan Mika.
Yuuki dan adiknya itu sempat terdiam sejenak. Mereka terlihat sedikit terkejut, karena, tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar mereka. Namun, setelah mengetahui bahwa yang membuka pintu adalah ibunya sendiri, rasa takut mereka pun lenyap.
"Baik, Bu!" jawab Yuuki dan Mika secara bersamaan. "Ayo, Mika!" ajak Yuuki seraya menggandeng tangan adik perempuannya itu.
"Ayo, Kak!" Mika menyetujui ajakan kakaknya dengan senang hati.
Tap ... tap ... tap ...
Mereka berdua berjalan bersama menuju meja makan. Tsukira memandangi mereka berdua dengan tatapan penuh bangga. Dia sangat senang, karena Yuuki dan Mika sangat akur. Mereka berdua tak pernah bertengkar sekalipun. Jika Mika menangis, Yuuki pasti akan menenangkan Mika. Begitu juga dengan Mika, jika dia melihat kakaknya sedang kesusahan, maka dia pasti akan berusaha membantu sebisanya.
'Yuuki, Mika, ibu sangat amat bangga memiliki anak seperti kalian. Semoga di masa depan nanti, ibu bisa melihat kalian berdua berjalan bersama dengan gelar kesuksesan,' batin Tsukira mengungkapkan rasa bangganya.
Bersamaan dengan keluarnya Yuuki dan Mika, seseorang juga keluar dari kamar yang terletak tidak jauh dari posisi kamar mereka. Terlihat seorang pria bertubuh lumayan besar dan agak sedikit tinggi, sedang menggeser pintu ke arah kiri untuk menutup pintu kamar.
"Eh, kalian sudah bangun? Ohayou, Yuuki, Mika!" sapa Pria tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Yuu Haruno–ayah mereka.
Yuuki dan Mika tersenyum senang. "Ohayou, Otou-san!" jawab mereka. Sesaat setelah membalas sapaan ayahnya itu, Mika langsung berlari memeluk kaki ayahnya.
"Eeh ...." Yuu terkejut karena tiba-tiba Mika berlari dan memeluknya seperti itu.
Mika mendongak dan menatap ayahnya. "Ayah, aku ingin digendong Ayah," ujar Yuu memohon dengan memamerkan wajah imut seperti biasanya.
Meski agak bingung, tetapi, Yuu lebih memilih untuk mengabulkan permintaan kecil putrinya tersebut. Dia merendahkan badan untuk menyamakan tingginya dengan Mika. "Mika ingin digendong, ya? Umm .. baiklah. Haarrpphh ...." Yuu mulai mengangkat tubuh Mika perlahan dan menggendongnya.
"Hahhh ... ternyata, Mika sangat berat, ya? Ayah benar-benar lelah, hahh ...." Yuu menghela napas.
Mika memegang pipi ayahnya. "Kan kata ibu, aku sudah besar, Yah ...," ucap Mika dengan nada khas anak kecil.
Sesaat setelah itu, seseorang menyahut dari belakang. "Yah, benar. Mika memang sudah besar," sahut Tsukira berjalan keluar dari kamar Yuuki dan Mika.
Yuu menatap Mika. "Aishh ... Ayah sangat senang mendengarnya." Pria itu mencium kening Mika.
"Ayah ... jangan begitu!" Mika menutup mulut Yuu menggunakan kedua tangan mungilnya itu. "Hmp hmp hmp." Dia kemudian menggelengkan kepalanya tiga kali, sesuai dengan ucapannya.
"Hee ... siapa yang mengajarimu seperti ini, hm? Heeehh ...." Yuu malah semakin menjadi. Dia menciumi seluruh bagian wajah Mika, hingga membuat dia tertawa geli sekali lagi. Tsukira dan Yuuki berjalan mendekati mereka berdua.
"Hahahahaha ...." Keluarga itu tertawa bersama.
"Yosshh ... ayo kita segera makan sarapan buatan ibu ini. Kalau tidak, nanti malah menjadi dingin ...," ucap Tsukira mengajak suami serta anak-anaknya agar segera sarapan, sebelum, makanannya menjadi dingin.
"Eehh ... tidak tidak!" Yuu, Mika, dan Yuuki mengibas-ngibaskan tangannya ke kanan dan ke kiri. "Kalau begitu, ayo kita ke meja makan bersama! Siap ... GRAK! Satu ... dua ... tiga ... empat." Yuu berjalan memimpin anak-anaknya dengan gaya layaknya tentara baris-berbaris.
"Satu ... dua ... tiga ...." Yuuki mengikuti ayahnya dari belakang. Tsukira hanya bisa tertawa lirih dan menggeleng-gelengkan kepala saat melihat tingkah laku keluarga kecilnya tersebut.
Saat sampai di meja makan, mereka bertiga melihat berbagai macam makanan enak, tertata rapi. Ditambah lagi, aroma harumnya yang sangat menggugah selera. Jelas, hasrat ingin segera menyantap ludes seluruh makanannya telah menggebu-gebu.
"Wahhh ... aromanya sangat harum," ucap Yuu mengakui bahwa memang aroma makanannya sangat harum.
"Benar, Yah. Huufft ... haahh." Untuk yang kesekian kalinya, Yuuki menghirup aroma wangi sarapan buatan ibunya tersebut.
"Tunggu apalagi? Ayo kita maa–" Belum selesai mengucapkan kalimatnya, tanpa diduga, Tsukira bertindak cepat dan menghalangi Yuuki dan Yuu. "Heeiitt ... Duduklah dulu. Apa kalian ingin sarapan dengan posisi berdiri seperti ini?" Tsukira memperingatkan anak-anak dan suaminya.
"Eeh ... ah, aku lupa. Ternyata aku belum duduk, ya? Perasaan, aku sudah mendaratkan tubuhku di kursi tadi," ucap Yuu dengan raut wajah sedikit bingung.
"Baiklah!" Yuuki berlari menghampiri kursi makan yang terletak di dekat kakaknya yang telah duduk manis di kursi, mendadak Mika pun merengek kepada Yuu. "Ayah ... aku mau turun ...." Anak kecil tersebut meminta ayahnya untuk menurunkan dia sekarang juga.
Yuu menoleh ke arah Mika. "He? Hm, baiklah baiklah. Sebentar." Yuu menurunkan Mika. Setelah itu, dia pun langsung berlari menuju kursi kosong yang ada di samping Yuuki.
"Aku mau duduk di sini!" ucap Mika sambil menaruh kedua tangannya di kursi. Tampaknya, dia sedang menunjuk kursi yang ingin dia duduki.
"Oh, kau mau duduk di sini? Baiklah. Kakak akan membantumu naik." Yuuki beranjak dari kursinya dan hendak membantu Mika duduk di kursi.
Namun, jawaban Mika benar-benar tidak dapat diduga. "Tidak!" Dia menolak bantuan yang ditawarkan oleh kakaknya. "A-aku ingin seperti kakak. Aku bisa duduk di kursi ini sendiri," lanjutnya seraya memanjat dan menaiki kursi makan secara perlahan.
"Mi-Mika!" Gadis bermarga Haruno tersebut, menatap adiknya dengan tatapan khawatir. Bagaimana kalau dia jatuh? Bagaimana kalau dia terluka? Itu adalah kata-kata yang terlintas di pikirannya saat ini.
"Berhasil!" Namun, semua rasa takut dan khawatirnya telah hilang, ketika dia melihat adiknya tersebut telah berhasil duduk di kursi dengan selamat, tanpa terluka.
"Waaah ... Mika sudah bisa duduk di kursi sendiri? Ayah sangat bangga," ungkap Yuu seraya menunjukan jari jempolnya untuk mengapresiasi keberhasilan putri keduanya.
"Ibu juga bangga kepadamu!" Tsukira ikut memuji Mika.
Yuuki tersenyum senang. "Kakak sangat sangat bangga kepadamu haha ...." Dia memeluk Mika dengan sangat erat. "Hahahaha ...." Sekali lagi, mereka semua tertawa bersamaan.
Meski mereka tinggal di rumah sempit yang hanya berukuran beberapa petak saja, akan tetapi, keluarga Haruno tidak pernah mengeluh. Justru, mereka terlihat sangat bahagia.