Binar bahagia terpancar di wajah para siswa siswi kelas Xll, mereka bahagia akhirnya perjuangan selama tiga tahun yang mereka lalui tidaklah sia-sia. Di sebuah gazebo sekolah tampak dua orang anak remaja yakni Agatha dan Chelsea yang sedang berbincang-bincang dan sesekali tertawa.
"Eh Chel! Gue gak nyangka deh lo bakalan lulus juga, secara 'kan lo gak pinter," ucap Agatha seraya menepuk pelan lengan kiri Chelsea.
"Asal ngomong aja nih anak. Apa lo lupa gue dulu pas TK juara."
"Ye elah juara lomba balap karung doang kok bangga," ejek Agatha.
"Astagfirullah itu mulut lemes amat, Neng!" jawab Chelsea kesal karena ia tau tidak akan mudah mengalahkan Agatha dalam hal sindir menyindir. Agatha yang mendengar jawaban sahabat nya itu pun sontak tertawa.
"Udah ah! Males gue lama-lama ngombrol sama lo yang ada gue malah di katain mulu. Mending sekarang gue balik ke rumah, bisa makan terus tidur deh. Daripada di sini dengerin ocehan lo yang gak bermanfaat," ujar Chelsea seraya beranjak dari duduknya.
"Eh eh eh! Masa mau balik sih Chel. Gue 'kan cuma becanda doang, gak usah dimasukin ke hati kali." Agatha berkata seraya mencegah Chelsea yang ingin beranjak pergi.
Akhirnya, Chelsea mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah dan duduk kembali di sisi Agatha dengan wajah kesalnya. Agatha yang melihat raut wajah kesal sahabatnya hanya bisa tersenyum. Tak berselang lama kemudian tiba-tiba Agatha nampak tersenyum-senyum sendiri, hal itu pun tidak luput dari pandangan Chelsea. Ia merasa aneh dengan sahabatnya itu, di matanya Agatha tampak seperti seseorang yang sedang kesurupan dan seketika Itu pula Chelsea bergidik ngeri.
"Ngapain lo senyam-senyum gitu Tha? Kayak orang kesurupan tau gak."
Akhirnya, Chelsea membuka suara karena tak tahan dengan tingkah sahabatnya itu. Merasa ada yang berbicara Agatha sontak tersadar dari lamunannya, Agatha menghela nafas panjang kemudian menoleh ke arah Chelsea.
"Gimana kalo kita liburan ke puncak? Buat ngedinginin otak yang dari kemaren di ajak perang mulu. Sekalian ngerayain kelulusan kita Chel." Agatha nampak bersemangat mengutarakan niatnya tersebut, Chelsea yang mendengar perkataan sahabatanya itu, langsung mengerti mengapa sahabatnya itu senyam-senyum sendiri sedari tadi.
"Emang lo dibolehin pergi sama mama lo Tha? Lo 'kan anak tunggal. Gue jadi gak yakin bakal diizinin." Ucapan Chelsea sontak membuat wajah Agatha murung, sebab ia tau tidak mudah untuk meminta izin kepada mamanya. Mamanya selalu mengatakan bahwa ia anak tunggal dan sangat berharga bagi sang mama semenjak ayahnya meninggal.
Melihat wajah Sahabatnya yang murung Chelsea pun tak tega, ia kemudian memeluk Agatha seraya berkata, "Tenang Tha, gue bakalan bantuin lo buat minta izin sama tante Rita," ucap Chelsea menenangkan Sahabatnya tersebut. Agatha yang mendengar perkataan Chelsea sontak membalas pelukan hangat sahabatnya.
"Makasih ya, Chel! Lo emang the best," jawab Agatha seraya terkekeh pelan membuat Chelsea memutar bola matanya malas.
***
Seminggu setelah hari kelulusan, akhirnya Agatha dan Chelsea memutuskan untuk meminta izin kepada mama Rita hari ini. Sekarang mereka berdua telah berada di depan pintu rumah Agatha, bukannya mengucapkan salam mereka berdua malah saling dorong-mendorong.
"Lo duluan gih yang masuk, 'kan kemaren bilangnya bakal bantuin minta izin sama mama gue," ucap Agatha seraya mendorong pelan Chelse
Chelsea yang didorong pun langsung memelototi sahabatnya itu. Pasalnya yang ia maksud dengan bantuin minta izin sama tante Rita itu jika Agatha sudah meminta izin tetapi, tidak diizinkan juga maka pada saat itulah Chelsea akan turun tangan.
Tetapi apa yang dilihatnya sekarang sungguh membuatnya kesal. Ia tak habis pikir dengan Agatha yang biasanya sangat berani tetapi ketika berhadapan dengan sang mama untuk meminta izin pun ia akan takut. Contohnya saja sekarang, yang mau pergi siapa dan yang di suruh izin siapa batin Chelsea.
Mereka berdua berjalan memasuki rumah setelah mengucapkan salam, tentu saja dengan Chelsea yang memimpin di depan. Karena akhirnya Chelsea memilih mengalah saja daripada harus saling dorong-mendorong terus gak bakalan selesai, pikir Chelsea.
Dari ruang tengah dapat mereka lihat wanita paruh baya sedang menonton acara kesukaannya apalagi kalau bukan sinetron tentang sebuah pernikahan yang harmonis berubah semenjak kehadiran orang ketiga terus mereka bercerai. Kemudian, sang suami menyesal dan ingin kembali kepada sang mantan istrinya tetapi sudah terlambat.
Kini mereka berdua telah di depan Rita dengan keadaan gugup, sedangkan Rita yang melihat raut wajah keduanya langsung bertanya, "Eh ada Nak Chelsea. Kalian berdua kenapa kok gugup gitu, ada masalah ya?"
"Enggak kok Tan. Ini sebenarnya Chelsea sama Agatha mau minta izin jalan-jalan ke puncak buat ngerayain kelulusan kita Tan," jawab Chelsea selembut mungkin. Sebenarnya ia juga tidak berani berhadapan dengan tante Rita. Karena tante Rita adalah orang yang tegas dan kalau marah akan sangat lama.
Mata Rita langsung membulat mendengar mereka ingin pergi jalan-jalan ke puncak. Ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada anak dan sahabat anaknya tersebut.
"Dengar! Kalian tidak tante izinin buat pergi dan kamu Agatha, apa kamu nggak mikir kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu gimana? Apa kamu nggak mikir seberapa khawatirnya mama. Kamu itu anak satu-satunya mama Nak, kamu paham nggak sih?" jelas Rita dengan wajah kesal dan perasaan khawatir terhadap anak satu-satunya itu.
Chelsea dan Agatha yang mendengar itu pun hanya dapat mengangguk tak berani menatap wajah Rita, Kalau sudah begini mau gimana lagi pikir mereka.
Setelah kejadian beberapa saat lalu, mereka akhirnya memutuskan untuk ke kamar Agatha. Chelsea sedang sibuk dengan handphone-nya sedangkan Agatha tengah memikirkan sesuatu di otak cantiknya itu.
"Eh! Gimana kalau kita perginya diam-diam, nanti gue bilang sama mama gue, kalau gue nginap di rumah lo," ucap Agatha memecahkan keheningan di antara mereka. Sedangkan yang di tanya hanya diam dan tetap fokus dengan handphone-nya.
"Lo denger nggak sih!" ucap Agatha sedikit berteriak.
"Gue denger kok Tha, nggak usah pake teriak-teriak segala kali. Nih ya, gue kasih tau, mending kita nggak usah pergi ke puncak. Lo tuh seharusnya dengerin apa kata tante Rita, gimana kalau sampe yang dikhawatirkan sama tante Rita benar-benar terjadi?"
"Nggak bakalan kenapa-kenapa kok Chel kalau kita perginya hati-hati. Gimana, lo mau nggak?"
Agatha masih terus meyakinkan Chelsea untuk ikut dengan idenya saja sedangkan di sisi lain Chelsea yang sudah malas meladeni Agatha pun akhirnya mengangguk saja.
***
Keesokan harinya setelah mendapatkan izin dari mama Rita dengan alasan untuk menginap di rumah Chelsea, akhirnya mereka berdua berangkat menuju ke puncak Bogor, dengan mengendarai mobil milik Agatha.
Di tengah-tengah perjalanan, mereka berdua tampak sangat senang akhirnya dapat pergi liburan ke puncak. Agatha yang sedang mengemudi pun sesekali ikut bernyanyi mengikuti sahabatnya yang sedang memutar sebuah lagu dengan volume full.
Dari arah yang berlawanan terdapat sebuah Truk yang sedang melaju dengan kencang. Tetapi, karena terlalu asik dengan lagu yang mereka nyayikan sehingga membuat mereka tak menyadari suara klakson dari truk tersebut.
Brakk!
Kecelakaan pun sudah tak dapat dihindari lagi. Sesuatu yang dikhawatirkan benar terjadi. Bayangan wajah Rita teringat sesaat setelah Agatha menyadari bahwa nyawanya sudah diujung tanduk. Perlahan netranya tertutup, napasnya terasa sempit. Dan detik berikutnya hembusan napas dari kedua gadis malang itu, terhenti untuk selamanya.
Tamat