"Alinea, tunggu aku," seru seseorang diujung sana. Tidak perlu melihat kebelakang, untuk tau siapa yang memanggilku, sebab aku tau suara siapa itu. Sahabat ku, Queen.
Aku tetap pada pendirian ku sebelumnya, dengan airmata yang terus membasahi pipiku, aku harus segera pergi ketempat itu, karna aku harus melihatnya sendiri, apakah benar yang dikatakan sahabatku.
"Queen pasti berbohong padaku. Abidzar sangat mencintaiku, mana mungkin dia tega meninggalkan ku, untuk menikahi wanita lain," ucapku dalam hati, ralat! Itu adalah doa ku didalam hati.
Flashback on
Angin berhembus sedikit kencang, suara dedaunan yang bergesekan, menimbulkan suara yang merdu. Pepohonan yang berjajar rapi, dan dibawah sana, juga terdapat sawah yang luas, sungguh pedesaan yang masih sangat asri. Lengkap sudah rasanya, sebuah tempat yang sangat pas, untuk memanjakan mata ini.
Aku memilih duduk sendiri, saat yang lain memilih berkumpul, bermain gitar, bernyanyi, dan bahkan menari. Bukan tidak ingin bergabung, tapi aku ingin sejenak menikmati, suasana saat ini sendiri.
Aku Alinea, kelas 2 di SMA Berjaya. Sekolah kami harus diliburkan, untuk beberapa waktu karna satu dan lain hal, kami memutuskan untuk melakukan kegiatan, ralat! Kami semua sedang liburan didesa ini, sebelum berpisah karna harus libur dan tidak bertemu untuk waktu yang tidak ditentukan.
"Sayang," sapa seseorang yang sangat aku kenal. Dia adalah Abidzar kekasihku, dan juga kakak kelas ku.
"Kenapa sendirian disini, dan tidak bergabung dengan yang lain?" Abidzar menatapku.
"Hanya ingin saja," ucapku, memberikan senyum terbaikku.
"Mau aku temani?" tawarnya, sambil duduk disebelah ku.
Tentu aku tidak menolaknya, bahkan aku sangat senang. Dia lelaki yang baik, lemah lembut, dan selalu mengutamakan ku.
Aku memeluknya, ku benamkan wajahku ke dada bidangnya, aroma tubuhnya menjadi candu buatku. Nyaman, ya ... hanya ke-nyamanan, saat aku berada didekatnya.
Dia membalas pelukanku, membenahi beberapa anak sulur rambut yang menutupi sebagian wajahku.
"Sayang, apa ayahmu akan menyetujui hubungan kita? Aku ragu, sadar dengan keadaan keluarga ku, tidak pantas rasanya untuk bersanding denganmu," katanya, sambil menatap langit-langit senja yang mulai menyapa.
"Aku melihat tatapannya waktu itu, aku rasa beliau tidak menyukaiku, Alinea," sambungnya lagi.
"Aku akan mencoba membujuknya, kau tenang saja, pelan-pelan ayah pasti akan menerima hubungan kita," ujarku menenangkan hatinya, tapi sebenarnya adalah, aku mencoba menenangkan diriku sendiri.
******
Semilir angin malam, menusuk ke setiap pori-pori kulit beberapa anak manusia, yang tengah mendirikan tenda tepat diatas anak gunung desa Merpati. Api unggun didepan ku terasa hangat mengenai kulit wajahku, saat aku memutuskan bergabung dengan teman-teman ku. Ya, kami tengah mengitari api unggun layaknya camping sesungguhnya.
Queen sahabat ku, tengah bernyanyi saat kekasihnya Arka memainkan gitarnya. Alunan lagu "Cinta Selesai" dinyanyikan begitu merdu olehnya. Namun, setiap kata tengah mengusik pikiran ku saat ini.
Seperti mengerti perasaanku, Abidzar menggenggam erat jemariku, seakan menguatkan hatiku yang tengah gundah saat ini.
"Tenanglah sayang, aku akan selalu mencintaimu, selamanya," ucapnya, sambil mencium keningku.
Abidzar mengajakku sedikit menjauh, mungkin agar kami dapat sedikit leluasa untuk sekedar melepas rindu. Sebab jika kami dirumah, akan sulit sekali untuk bertemu. Kami hanya bertemu disekolah, dan jika ada kegiatan seperti ini.
Kami duduk dibatu besar, tidak terlalu jauh dari tenda. Langit sangat cerah malam ini, bintang yang bertaburan dilangit, menambah keindahan malam ini.
"Aku mendapatkan beasiswa dikota X, setelah lulus aku akan langsung pergi kesana. Aku akan mencari pekerjaan, dan menjadi orang sukses. Kau tunggulah aku, aku akan kembali dengan kesuksesan, hingga aku pantas untuk bersanding denganmu," ujarnya panjang lebar, lalu mencium lembut keningku.
Tanpa terasa air mataku menetes, saat mendengar perkataannya. Ucapan perpisahan kah ini?
"Kenapa tiba-tiba begini sayang, apa kita sanggup untuk berada jauh satu sama lain?" tanyaku meyakinkan.
"Kita harus kuat, ini demi hubungan kita," sanggahnya lagi.
Abidzar memelukku, dan aku terus menangis di pelukannya. Jemari nya terulur untuk menghapus air mataku yang sulit sekali untuk kutahan.
******
Beberapa tahun berlalu, hanya beberapa kali Abidzar menghubungiku, untuk memberi kabar dirinya selama disana.
Dan disini entah sudah berapa kali ayah mencoba menjodohkan ku pada anak temannya. Aku terus menolaknya, dengan alasan menunggu Abidzar, kekasihku. Karna penolakan yang aku lakukan, ada satu dari mereka yang menaruh rasa dendam terhadapku.
Lupakan itu, kudengar Abidzar telah sukses sekarang dan menjadi pengusaha muda. Tak heran, karna ia adalah orang yang pintar. Tentu jika dia sedikit bekerja keras, dia pasti akan sukses. Hingga akhirnya, kudengar kabar kepulangannya.
******
Rasa bahagia mengalir di setiap darahku. Senyum pun tak luput dari wajah cantikku. Penantian ku selama beberapa tahun, mencapai sebuah titik akhir. Abidzar kekasihku, akhirnya kembali padaku.
Keesokan harinya, aku bergegas untuk membersihkan diri, aku duduk tepat didepan kaca meja rias ku, saat telpon ku berdering. Nama Queen tertera disana. Sontak aku langsung mengangkatnya, ingin segera memberitahukan kabar gembira ini padanya.
"Halo," sapaku seraya tersenyum.
"Iya, Alinea. Di-dimana kau sekarang?" jawabnya, dengan suara sedikit aneh ditelinga ku. Terdengar seperti orang yang panik.
"Aku masih dirumah, mungkin sebentar lagi aku keluar," ujarku menerangkan.
"Apa kau tau kabar tentang Abidzar saat ini, Alinea?" tanyanya hati-hati.
"Tentu, bahkan sekarang aku ingin menemuinya, Queen."
"Apa?!" Queen nampak terkejut diseberang sana.
"Kau bercanda honey? Aku saja, yang notabennya sahabatmu, merasa sakit dan terluka. Bagaimana bisa kau setenang ini, Alinea?" cecarnya panjang lebar.
"Apa maksudmu," hatiku mulai berdenyut, merasa ada yang salah saat ini.
"Barusan Arka menelponku, dia bilang kalau Abidzar sedang melakukan akad di hotel Perkasa saat ini Alinea,"
Bagai tersambar petir di pagi hari, aku jatuh terduduk lemah, bagai tidak ada penopang dalam tubuhku.
"Alinea dengar aku, jangan kemana-mana ya, aku segera kesana, tunggu aku!" tanpa berlama-lama, Queen langsung mematikan telpon dan menuju kerumahku.
Flashback off
Semakin cepat ku langkahkan kakiku, ingin menepis semua kebohongan mereka tentang pernikahan itu. Mana mungkin, selama ini kami baik-baik saja, bagaimana bisa Abidzar menghianati cinta kami.
Sampai lah aku di hotel Perkasa, langsung berlari masuk tanpa memperdulikan sapaan dan bahkan teriakan orang-orang yang tertabrak olehku. Memangnya aku perduli? saat ini tujuanku hanya satu, Abidzar.
"Awwww, pelan-pelan dong mbak," seru seorang wanita di depanku.
Kami terjatuh kelantai, lalu tangan ku terulur untuk meminta maaf padanya, sejenak mataku terpanah menatapnya.
Cantik, dengan balutan gaun putih panjang, berhiaskan permata, dan mahkota yang bertengger dikepalanya, terlihat cantik dan elegan.
"Apa kau tak apa?" suara itu? tangannya terulur untuk meraih gadis di depanku, aku menengadah menatap seseorang yang tidak asing suaranya ditelinga ku.
Ya, dia abidzar, dia kekasihku. Tapi mengapa dia tidak menolongku, dan malah meraih tangan gadis didepan, yang sebelumnya tertabrak olehku?
Aku tercengang ketika melihat penampilan nya saat ini. Wajahnya yang sangat tampan, dan terlihat lebih dewasa, dari beberapa tahun yang lalu saat terakhir kali kami bertemu. Ia mengenakan kemeja putih dan jas putih yang tersampir dipundaknya. Begitu serasi jika disandingkan dengan gadis di depanku saat ini.
Apa ini, apa artinya ini? oh Tuhan, jantungku berdegup sangat kencang, sesak didada begitu terasa, hingga akhirnya airmata lolos begitu saja, terasa panas mengalir dipipiku.
"Sayang, ayo bangun, apa kau tak apa?" katanya lagi.
"Ya, sayang. Aku mau ke toilet dulu, mau membersihkan tanganku. Sebentar ya," ucap sang gadis lalu meninggalkan kami.
Mataku terbelalak tak percaya, mendengar kata manis yang ia ucapkan. Sayang, bukankah dulu kata itu hanya ia tujukan padaku? Kenapa sangat sakit saat mendengar kata sayang yang ditujukan untuk gadis lain?
Sepersekian detik mata kami sempat beradu, masih dengan posisi memilukan, dia hanya berdiri sementara aku yang masih terduduk dilantai hotel. Pikiran ku mulai menangkap sesuatu, dan bibirku mulai berkata.
"Sayang? Kau sebut dia sayang? Bukankah panggilan itu hanya untukku, Abidzar?"
"Apa ini? Apa yang kulihat saat ini, pernikahan? Kenapa kau menghianati ku bi, bukankah dulu kau yang menyuruhku untuk menunggumu? Lantas apa yang kau lakukan, setelah kau sukses, kau kembali, tapi bukan untukku. Kau menikahi gadis lain?"
"Apa salahku, katakan apa salahku Abidzar, penantian panjang ku ini, apakah harus berakhir seperti ini?"
"Setiap malam aku membayangkan wajahmu, aku tidur bersama kenangan mu, aku merindukanmu disetiap saat Abidzar. Apa salahku padamu, tolong katakan? hiks,"
Aku tidak bisa bangkit, rasa sesak didada ini begitu menyiksaku. Hingga bernafas pun aku sulit. Seperih ini kah, sesakit ini kah,buah penantian ku selama ini?
Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, kutatap mata indah itu, yang dulu selalu menatapku dengan penuh cinta. Kini, mata itu tetap indah, tapi tidak ada cinta, melainkan rasa iba.
"Aku tau, ternyata kepergianmu selama ini hanyalah sebuah tameng, kau tidak benar-benar mencintaiku. Jika kau benar-benar mencintaiku, kau tidak akan mengkhianati ku," teriakku, meluapkan kekesalan, kemarahan, dan kekecewaan ku terhadap nya.
Aku terus menangis, takdir apa ini? Aku malu pada diriku sendiri, yang ternyata tidak berarti apa-apa baginya selama ini.
"Bangunlah," ucapnya, seraya ingin meraih tanganku, mengajakku berdiri. Dan itu adalah kata pertama yang keluar dari mulutnya.
"Tidak usah sok perduli denganku," sergahku, menepis tangannya.
"Bangunlah, Alinea. Disini banyak orang, semua memperhatikan kita. Pulanglah dulu, tenangkan dirimu. Ini adalah kenyataannya sekarang, aku telah menikah, dan ini adalah keputusanku. Kuharap kau mengerti, dan lanjutkan hidupmu," jelas nya panjang lebar.
Plak ... !
Sebuah tamparan mendarat diwajahnya, namun bukan dariku, melainkan dari sahabatku, Queen.
"Apa yang kau katakan padanya, Abidzar? Apa kau punya perasaan? Bukannya memikirkan perasaanya, tapi kau malah mengkhawatirkan reputasimu? Menjijikkan," cecar Queen, memandang jijik lelaki di hadapanku saat ini.
"Aku menyesal telah mengizinkan mu berhubungan dengannya, lelaki pecundang. Jika memang tidak mencintainya, katakan terus terang. Jangan menyuruhnya untuk menunggu, sementara kau malah menikahi perempuan lain!" sambung Queen lagi.
"Ayo kita pulang, nea. Tidak ada gunanya kita disini, itu hanya akan menyakitimu," ajak Queen.
Aku berdiri, dan pergi meninggalkannya.
"Alinea, aku sakit melihat keterpurukan mu saat ini, aku ingin memelukmu, menghapus air matamu, aku sakit melihatnya, Alinea. Aku masih tetap Abidzar mu yang dulu.
Aku masih tetap mencintaimu, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Aku terpaksa melakukan ini, sayang. Jika saja ayahmu tidak memaksaku untuk menjauhimu, dengan mengancam keselamatan ibuku, aku tidak akan mau melakukan ini. Ibuku dirumah sakit saat itu, saat aku belum mempunyai apa-apa, aku tidak tau harus bagaimana menyelamatkan nyawa ibuku, dan disaat itulah, ayahmu hadir sebagai penolong ku, dengan syarat harus menjauhimu. Ibuku berhasil selamat, dan itu sungguh membahagiakan, tapi disisi lain, aku harus merelakan mu, sayang.
Aku harus melakukan ini, agar kau membenciku, dengan begitu kau akan mudah untuk melupakanku Alinea," ucap Abidzar dalam hati, sambil menengadahkan wajahnya, berusaha menyembunyikan air matanya, seraya memandang kepergian Alinea, yang semakin lama, semakin menjauh.
******
Beberapa bulan kemudian, Alinea mulai bangkit dari keterpurukannya. Ia mencoba memulai hidup baru, dan itu semua juga berkat dukungan Queen dan Arka.
"Queen, kita keluar yuk," ajaknya.
Queen tentu saja mau, dengan langkah cepat ia meraih handphone nya, memanggil nama Arka kekasihnya, untuk menjemput mereka.
Queen ingin mengajak Alinea shopping, mungkin bisa sedikit merubah suasana hati sahabatnya, dan sebelum itu mereka memutuskan untuk makan terlebih dulu di cafe dekat Mall.
"Alinea," seru seseorang diujung sana. Alinea menoleh, dan ia tersenyum ketika melihat Arfan teman SMA nya, yang tengah memanggilnya.
Arfan melambaikan tangannya, sejenak Alinea menatap Queen, seolah mengerti Queen pun mengangguk tanda menyetujui.
Arfan, telah memendam rasa untuk Alinea sejak lama, dan Queen tau itu. Alinea juga tau, tapi ia memilih pura-pura tidak tau, karna ia saat itu memiliki Abidzar di sampingnya.
"Hai, apa kabarmu,? tanya Arfan, sambil mengulurkan tangannya. Aku pun menyambut uluran tangannya.
"Aku baik, Arfan. Bagaimana denganmu, kau sukses sekarang. Hmm, kudengar kau pemilik cafe ini ya? Keren," puji Alinea tanpa basa-basi. Ia merasa sedikit hangat, saat Arfan menatapnya, dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Pria berdarah campuran Indo-Jepang itu tersenyum. Arfan berhidung mancung, dan beralis tebal. Dan percayalah, alis tebalnya itu yang membuatnya kian tampan.
"Mau bernyanyi denganku, hadiahnya aku akan mentraktirmu makan ice cream nanti," ujarnya, sambil tersenyum manis sekali.
"Memangnya aku anak kecil," umpat Alinea, tapi ia pun berdiri mengikuti langkah Arfan yang menggandengnya.
Alunan musik terdengar memenuhi ruangan cafe ini, tangan Arfan begitu lihai memainkan gitar dengan judul lagu "Cintai Selesai" dari Mahen.
🎶🎶🎶🎶🎶
Dalam perjalanan cinta, siapa yang tak terluka?
Jika segala yang kuberi, tak pernah ada arti.
Hingga akhirnya kau memilihnya.
Lalu apa lagi, jika ingin pergi.
Ku tak pernah mengerti hati, tak mungkin lanjutkan ini.
Harusnya memberi, bukan saling benci, bukan patah hati.
Semoga air mata terurai, Cinta telah selesai.
Semua daya aku coba, 'tuk pertahankan kita.
Hingga akhirnya kau memilihnya.
Jika kau bukan untukku, Ku hanya ingin kau tau bahwa,
Setidaknya ku mencintai, bukan 'tuk melukai.
Lalu apa lagi, jika ingin pergi.
Ku tak pernah mengerti hati, tak mungkin lanjutkan ini.
Harusnya memberi, bukan saling benci, bukan patah hati.
Semoga air mata terurai, cinta telah selesai.
🎶🎶🎶🎶🎶
Alinea, meneteskan air mata kala menyanyikan lagu ini, sungguh mewakili perasannya, dia bernyanyi dengan begitu merdu, menumpahkan segala rasa, yang tersisa didalam dada. Arfan dengan sejuta pesona nya mampu menghipnotis setiap mata gadis-gadis yang melihatnya.
Teriakan riuh, siul, dan tepuk tangan, memenuhi ruangan, ketika satu lagu telah berakhir. Alinea masih terdiam ditempat, jemari Arfan yang meraih bahunya, membuatnya tersadar.
"Alinea, boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Arfan hati-hati.
"Ya, Arfan," jawab Alinea, seraya tersenyum.
Arfan berlutut, meraih jemari lentik Alinea, menatapnya penuh cinta, lalu berkata,
"Alinea ... aku mengenalmu sejak lama, sejak SMA dulu, aku selalu memperhatikan mu dari kejauhan. Semua yang ada padamu, aku menyukainya. Berulangkali aku mencoba mendekatimu, namun kau selalu menghindari ku, dan aku selalu diam."
"Tapi sekarang, aku tidak akan berdiam diri lagi, aku ingin mengungkapkan perasaan yang sudah sangat lama kupendam padamu, Alinea."
"Aku mencintaimu, Alinea. Aku menyukaimu, dan aku sangat menyayangimu," ungkapnya panjang lebar.
"Mau kah kau belajar menerimaku, Alinea?" tanya Arfan, sangat berharap Alinea mau menerima nya dengan segala kekurangannya.
Alinea menatap Queen dan Arka yang duduk diujung sana, tatapan mata sahabatnya itu berbinar, seolah bahagia mendengar ungkapan cinta dari Arfan, teman dimasa SMA mereka.
Sejenak mata mereka beradu, tatapan mendambah dari sorot mata Arfan, terlihat jelas dimata Alinea.
Alinea memejamkan mata, sepersekian detik, ia membuka matanya, lalu mengangguk dan tersenyum manis sekali.
Sontak Arfan berdiri, meraih tubuh mungil Alinea, merengkuhnya kedalam pelukannya. Ia bahagia, gadis yang dicintainya sejak bertahun-tahun lamanya, mau menerima cintanya.
Lama mereka saling berpelukan, hingga Arfan melepaskan pelukannya, tangannya membelai wajah cantik Alinea, merapikan beberapa sulur anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya, menaruhnya dibelakang telinganya. Lama Arfan memperhatikan setiap inci dari wajah gadis pujaannya.
Alinea memejamkan matanya, seolah mendapatkan izin dari sang gadis, perlahan Arfan menarik tengkuk Alinea, dan menyatukan bibir mereka. Alinea tidak menolaknya, bahkan ia tersenyum tipis, menyambut ciuman Arfan.
Tepuk tangan dari pengunjung cafe, sorak-sorai, siulan, godaan, tak lagi mereka dengar. Saat ini, hanya ada perasaan berbeda dari pasangan baru itu.
Tanpa mereka sadari, sejak awal ada sepasang mata di ujung sudut cafe, yang terus memperhatikan mereka dengan tatapan menyedihkan, terluka, bahkan menangis dalam diam. Ia lah Abidzar, mantan kekasih Alinea.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️