Seorang wanita dengan rambut yang terurai sebahu terlihat menatap fokus pada figura foto di depannya. Terlalu fokus atau memang tengah melamun kan sesuatu membuatnya tidak menyadari kedatangan seorang pria dengan setelan kemeja putih yang menatap heran di belakangnya.
Pria itu tersenyum tipis sebelum berjalan mendekat dan melingkarkan tangannya pada leher wanita itu. Mendekapnya dengan lembut, membuat si wanita tersadar dari lamunannya.
"Siapa pria yang bersamamu di foto ini, hm?"
"Minghao? Kapan kau pulang?"
"Baru saja. Kau terlalu fokus memandangi foto itu sampai tidak mendengar ku"
Dyna tersenyum lembut dan memegang lengan pria yang bernama Minghao itu. Helaan nafas pelan keluar dari mulut nya, tangannya tanpa sadar mengeratkan pegangannya pada lengan Minghao.
"Kau mau mendengar ceritaku?" Minghao melepas pelukannya, membalikkan badan Dyna dan menatap lekat manik Dyna yang menyendu.
"Apa itu dia? Jangan ceritakan kalau kau belum siap" Dyna menggeleng pelan, bibirnya mengulum senyuman pahit.
"Denganmu yang sekarang bersamaku. Aku siap untuk menceritakan segalanya tentang dia"
Dyna membalikkan badannya ke arah dinding dimana beberapa figura foto terpajang disana. Mengingat setiap momen yang pernah ia lewati melalui foto-foto itu. Sebuah kenangan yang tidak hanya berisi kebahagiaan melainkan juga kesedihan.
"Kami adalah teman masa kecil. Dia satu-satunya teman yang ku miliki dulu, dan dia yang paling ku percayai. Kami begitu dekat, aku sering bermain ke rumahnya sewaktu kecil. Kami selalu bersama, bahkan sampai masuk ke perguruan tinggi. Kami selalu bersama..." Dyna menghentikan ucapannya dan menutup matanya sejenak. Mencoba menguatkan dirinya sendiri dan juga mengingat kembali kenangan yang sudah lama ia lupakan.
"....Semua berjalan seperti biasanya, dan karena itulah yang membuat semuanya menjadi sulit dikemudian hari. Dari sanalah semuanya dimulai..."
3 tahun yang lalu....
"Fero! Ishhh! Kau sudah lihat pengumuman di mading belum?"
Si pemilik nama 'Fero' malah hanya melirik singkat sebelum kembali fokus pada buku tebal di pangkuan nya.
"Sudah" jawabnya singkat dan datar.
Mengabaikan jawaban singkat yang terkesan datar itu, wanita tadi tanpa basa basi mendudukkan dirinya di sebelah Fero.
"Kalau begitu ucapkan selamat padaku"
"Kau bukan anak kecil lagi Dyna. Tak perlu ucapan selamat dariku" jawab Fero pada wanita yang diketahui bernama Dyna.
Dyna mendengus kesal, diam-diam ingin mengumpati pria di sampingnya ini. Tapi sedatar apapun sikap Fero padanya, Dyna tidak pernah peduli karena dia sudah mengenal Fero sejak kecil. Dia pun sudah biasa menghadapi sikap Fero yang memang datar dan menyebalkan seperti barusan.
"Tapi mungkin ku tunda dulu. Lagipula aku bisa mengajukan beasiswa lainnya lagi nanti"
Fero menghentikan aktifitas membacanya dan menoleh cepat ke arah Dyna. Menatap dengan pandangan yang seakan bertanya tentang keseriusan ucapan Dyna barusan.
"Kenapa? Aku kan berhak memilih" ucap Dyna lagi seakan menjawab pertanyaan terpendam Fero.
"Memangnya pilihan selanjutnya akan sama. Jangan mengambil keputusan yang salah" sahut Fero pelan, kali ini suaranya tidak sedatar tadi.
Dyna menggeleng pelan, lalu matanya melirik pada buku yang masih berada di atas pangkuan Fero. Sebuah buku yang terdapat gambar organ paru-paru di lembaran kertasnya.
"Kira-kira seperti apa nanti ya saat kau menjadi Dokter? Pasti keren sekali. Hahh~ Aku jadi ragu dengan diriku sendiri, apa nanti aku bisa menggapai cita-citaku itu" keluh Dyna dengan wajah yang tertekuk lesu.
Fero tersenyum geli melihat kelakuan Dyna. Padahal beberapa saat yang lalu, dengan percaya dirinya Dyna berkata akan mencari beasiswa lainnya. Tapi lihatlah sekarang, tampaknya ia berubah pikiran lagi.
"Bukankah Korea negara impianmu? Katanya kau ingin pergi kesana dan meneruskan kuliahmu. Setelah kesempatan ada di depan matamu, kau malah mau membuangnya begitu saja" sindir Fero membuat Dyna mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya ingin pergi kesana bersamamu. Kalau sendirian pasti tidak menyenangkan"
"Dasar! Alasanmu saja yang malas"
"Aku serius Fero. Ayolah, aku ingin bermain salju disana bersamamu. Kau tidak penasaran bagaimana rasanya saat tangan kita ini memegang salju, hm? Tidak penasaran dengan nafas kita yang berubah seperti asap saat berbicara di musim dingin? Ck! Kau kan pintar, sekali mengajukan dirimu dalam daftar beasiswa pasti kau akan langsung diterima" Dyna mengoceh panjang lebar, membuat Fero memijit pelipisnya ringan.
"Hanya untuk melihat salju apa harus denganku?"
"Huum" Dyna mengangguk antusias, membuat Fero kehilangan kata-katanya.
"Kalau aku tidak bisa kesana bagaimana? Kau harus bisa bepergian sendirian tanpaku. Kau kan sudah besar"
"Tidak mau. Pokoknya harus denganmu saat melihat salju"
"Kau ini..."
"Apa?"
"Terserah mu saja"
***
TOKK TOKK TOKK
"Oh? Dyna? Ada apa, nak?" tanya seorang wanita paruh baya yang muncul dari balik pintu. Dyna tersenyum manis pada wanita paruh baya itu.
"Apa Fero di rumah, Tante?" tanyanya lembut dan sopan.
Wanita paruh baya tadi yang tidak lain adalah Ibunya Fero menggelengkan kepalanya pelan.
"Dia keluar sejak jam 9 pagi. Katanya mau pergi jalan-jalan dengan temannya. Apa Fero tidak memberitahu mu? Kalian tidak pergi bersama?" tanyanya pelan, Dyna menggeleng dengan ekspresi bingung.
"A-ah sepertinya aku yang lupa, Tante. Kemarin Fero mengajakku tapi aku lupa dan malah datang kesini menanyakan keberadaannya" sahut Dyna dengan ringisan kecil di wajahnya.
Wanita itu tersenyum maklum dan menepuk pelan bahu Dyna.
"Masih mudah sudah pelupa. Ya sudah, masuklah dulu ke dalam" ajak nya pada Dyna.
"Terima kasih Tante. Tapi aku harus kembali ke kampus, satu jam lagi aku ada kelas. Maaf ya Tante, lain kali pasti aku akan main kesini lagi" ucap Dyna. Menolak dengan halus tawaran untuk mampir.
"Kalau begitu aku permisi dulu ya Tante" Dyna berpamitan dan berbalik pelan. Namun tanpa sengaja matanya menangkap motor sport berwarna hitam milik Fero yang terparkir di garasi samping rumah.
'Apa Fero pergi tanpa motornya?' pikirnya bingung.
Dyna menggelengkan kepalanya, mencoba menepis pikiran aneh yang lewat di pikirannya. Tidak mungkin Fero berbohong padanya kan? Dan juga Tante mana mungkin tega membohonginya. Mungkin memang Fero pergi bersama teman-temannya dan menggunakan kendaraan mereka. Meskipun jauh di dalam ingatannya, Dyna tahu Fero lebih suka berkendara sendiri.
"Ah sudahlah. Lain kali saja perginya" gumam Dyna dengan langkah cepat meninggalkan rumah itu.
CKLEKK
"Ibu merasa bersalah sudah membohongi Dyna seperti ini" lirih wanita yang merupakan Ibu Fero itu.
Langkah kakinya mengarah ke arah Sofa, menatap sendu pada sosok pria dengan kaos dan jaket denimnya yang tengah sibuk dengan ponsel di genggaman tangannya.
"Apa Dyna sudah pergi, Bu?"
"Fero, Ibu kasihan dengan Dyna. Kamu kenapa membohonginya seperti ini?"
Fero tersenyum tipis mendengar pertanyaan Ibunya.
"Lebih baik membohonginya. Ya sudah Bu, aku pergi dulu. Sofia sudah menungguku" ucap Fero sambil beranjak dari duduknya. Menghampiri sang Ibu terlebih dahulu, mencium punggung tangan Ibunya dan berlalu keluar dari rumah. Tentunya setelah memastikan Dyna sudah pergi jauh dari rumahnya.
Sementara sang Ibu hanya menatap sedih punggung putranya yang sudah menghilang dibalik pintu yang kembali tertutup.
"Semoga nanti Dyna bisa menerimanya" lirih nya.
***
Sudah seminggu sejak terakhir kali Dyna berkunjung ke rumah Fero, dan sejak saat itulah sulit sekali baginya untuk bertemu atau bahkan menghabiskan waktu bersama Fero. Mulai dari perbedaan jam masuk kelas mereka, atau banyaknya tugas yang harus dikerjakan nya membuatnya kadang melupakan sebentar keberadaan Fero.
Seperti sekarang ini, Dyna tengah membolak-balikan lembaran kertas di depannya. Menatap tanpa minat saat matanya terus-terusan melirik ke arah ponselnya yang tergeletak tepat di samping buku nya.
Helaan nafas lelah keluar begitu saja dari mulutnya, tangan kanannya tergerak mengambil ponselnya.
"Apa kuliah Kedokteran bisa sesibuk itu? Sampai chat ku hanya dia read saja. Huh! Menyebalkan sekali. Aku saja yang harus menghafal pasal dan hukum pidana dan pidata saja masih punya waktu untuk mengirim pesan" keluhnya dengan ibu jarinya yang hanya men-scroll layar ponselnya ke atas dan kebawah. Melihat-lihat pesan mereka terdahulu.
Sejenak Dyna terdiam saat tanpa sengaja pikirannya kembali teringat kejadian seminggu yang lalu saat tidak mendapati Fero dirumahnya. Bibirnya tersenyum kecut dengan perasaan kecewa yang memenuhi hatinya.
"Harusnya jangan begini" lirih nya dengan mata yang berkaca-kaca.
***
Koridor kampus tampak sepi saat sore hari, hanya menyisakan beberapa mahasiswa yang mungkin masih memiliki tugas yang belum selesai atau mahasiswa yang mengambil kelas malam.
Dyna berjalan lesu dengan kepala yang tertunduk. Kedua tangannya memeluk amplop putih di depan dadanya. Pikirannya berkecamuk, antara senang, sedih dan bingung.
"Dyna?"
DEG
Dyna menghentikan langkahnya seketika begitu mendengar suara yang sudah lama dirindukannya. Jantungnya berdegup dengan kencang, perlahan kepalanya ia angkat ke atas dengan senyuman manis yang terukir indah di bibirnya.
Bibirnya bersiap memanggil nama yang begitu di rindukannya, namun itu semua tertelan begitu saja saat dilihatnya bukan hanya Fero yang berdiri di depannya.
"Kau belum pulang jam segini? Apa kau masih ada tugas tambahan, Dyna?" tanya Fero pada Dyna yang masih tertegun menatap sosok wanita di samping Fero.
"O-oh aku? Emm, aku baru saja dari ruangan Profesor. Kau sendiri?" tanya Dyna mencoba bersikap tenang dan tersenyum manis seperti biasa.
"Dari ruangan Dekan" jawab Fero singkat.
Dyna bersiap membuka suaranya kembali sebelum terhenti dengan suara sosok wanita yang berdiri di samping Fero tadi.
"Oh? Apa dia Dyna yang sering kau ceritakan padaku, Fero?"
Sosok wanita yang sedari tadi diam berdiri di samping Fero buka suara, membuat Dyna menghela nafas nya sepelan mungkin.
"Iya, dia Dyna. Oh iya Dyna, maaf aku lupa memberitahumu. Kenalkan, dia Sofia. Dia adalah mahasiswi kedokteran kampus sebelah" ucap Fero memperkenalkan sosok wanita cantik yang bernama Sofia itu pada Dyna.
Dyna tersenyum singkat dan mengulurkan tangannya.
"Namanku Dyna, salam kenal"
"Aku Sofia. Aku sudah lama mengenalmu sejak Fero menceritakan tentangmu, dia bilang padaku bahwa kau satu-satunya sahabat yang dimilikinya. Membuat ku iri sebenarnya, tapi ya sudahlah. Asal kan Fero bahagia memiliki sahabat sepertimu, aku juga ikut bahagia" ucap Sofia ringan membuat kerutan samar muncul di dahi Dyna.
"Ya, aku sahabat Fero" sahutnya dengan suara lirih.
"Tapi... Apa yang membuatmu merasa iri padaku?" lanjut Dyna menanyakan ucapan janggal dari Sofia tadi.
Sofia tersenyum hangat, tangannya kini melingkar di lengan Fero yang justru berbalik menatap Sofia dan menatapnya teduh.
"Apa Fero belum menceritakannya padamu?"
Dyna menggeleng pelan, dan beralih menatap Fero.
"Maaf lupa menceritakan soal ini padamu, Dyna. Sebenarnya sejak satu bulan yang lalu, aku dan Sofia resmi menjadi pasangan kekasih" penjelasan yang keluar dari mulut Fero bagaikan hujaman pisau tajam yang menusuk tepat ke ulu hatinya. Lidahnya kelu hanya untuk membalas ucapan Fero. Ekspresi terkejut pun tidak luput dari wajahnya.
"Apa?! Ck! Kau tega sekali padaku, Fero. Berita bahagia seperti ini kan harusnya kau bagikan juga denganku, kalau sudah telat begini bagaimana mungkin aku bisa menagih traktiran darimu coba? Aku kan juga sudah berkontribusi menemanimu yang jomblo sampai punya pacar seperti sekarang" dengus Dyna dengan ekspresi kesalnya. Fero terlihat terkejut dengan respon yang diberikan Dyna.
"Ku pikir kau akan marah"
"Huh? Mana mungkin" Dyna menjawab santai dengan tawa pelan yang terdengar setelahnya.
"Oh iya, Fero. Apa kau sudah mendapat informasi beasiswa. Ku dengar kali ini ada 3 negara Asia yang menjadi pilihan utama, Korea, Jepang dan Taiwan. Kau pilih negara mana? Korea kan?" tanya Dyna antusias dengan tangan yang semakin memeluk erat amplop dalam dekapannya.
Fero terlihat menepuk dahinya pelan, matanya menatap bersalah pada Dyna. Yang ditatap hanya menampilkan ekspresi bingung.
"Maaf, lagi lagi aku lupa memberitahumu. Aku sudah mendaftarkan pilihanku bersama Sofia, dan kami sepakat untuk memilih Jepang. Karena Sofia bilang dia sangat menyukai Jepang, jadi aku mengikuti pilihan nya juga"
"Aku suka melihat bunga sakura, dan kurasa Jepang adalah tempat yang tepat" sahut Sofia membuat Dyna tersenyum tipis.
"Bukankah di Korea juga ada bunga sakura? Kenapa tidak kesana saja?" tanya Dyna.
Fero tersenyum hangat dan mengusap kepala Dyna lembut.
"Nanti aku akan menyusulmu ke Korea saat libur musim dingin selanjutnya. Dan kita akan bermain salju bersama disana" ucap Fero yang terdengar seperti janji pada Dyna.
Dyna mengangguk pelan, ia kehilangan argumennya. Mau bagaimana lagi? Fero pasti lebih memilih bersama dengan kekasih barunya itu, dibanding dengan dirinya.
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan menunggu mu disana" ucap Dyna.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk registrasi ulang" Dyna bersiap berbalik meninggalkan keduanya, tapi langkah kakinya terhenti kembali saat mendengar satu kalimat yang menyayat hatinya.
"Datanglah ke acara pertunangan kami 2 minggu lagi" ucap Fero membuat Sofia tanpa sadar melotot kaget pada Fero.
Dyna berbalik pelan dan tersenyum tulus. Kepalanya ia gelengkan pelan dengan hembusan nafas pelan yang ia keluarkan perlahan.
"Selamat untuk kalian. Tapi maaf, sepertinya minggu depan aku sudah tidak berada di Indonesia lagi" ucap Dyna pelan.
"Tak apa. Semoga perjalananmu aman, dan jagalah dirimu baik-baik disana. Kurangi memakan makanan manis. Pakailah jaket hangat saat musim dingin dan bahagiakan dirimu disana. Jangan menunggu ku untuk datang" ucap Fero yang makin membuat Dyna tersenyum kecut.
"Iya, iya kau tenang saja. Jangan cerewet seperti ini. Ya sudah aku pergi dulu, bye~"
Dyna melambaikan tangannya dan kembali berbalik, kepalanya ia toleh kan kembali ke arah Fero dan Sofia. Namun kali ini maniknya tertuju pada Sofia.
"Omong-omong.... Jaket itu terlihat pas dan cocok untukmu, Sofia"
Berlalu begitu saja meninggalkan Sofia yang membeku di tempatnya. Kini keduanya hanya bisa memandangi punggung Dyna yang perlahan menjauh dari pandangan mereka.
"Aku merasa bersalah pada Dyna"
***
Hujan deras mengguyur kota Bandung, kilat petir dan guntur yang saling menyambar membuat siapapun memilih berdiam didalam rumah mereka. Namun lihatlah Dyna, ia justru berjalan di bawah guyuran hujan.
Jarak rumahnya dan jalan raya lumayan jauh, membuat harus berjalan di tengah guyuran hujan seperti sekarang. Tapi bukan itu masalahnya, karena Dyna selalu membawa payung di dalam tas nya. Tapi kali ini ia membiarkan hujan membasahi nya begitu saja.
Dia berjalan dengan mata yang terlihat sedikit memerah.
Nyatanya hatinya saat ini tengah hancur. Tidak ada yang tahu jika dirinya tengah menangis jika bukan karena satu dua isakan kecil yang lolos dari bibirnya. Bersyukur pada hujan yang menutupi tangisan nya dan menyesal dengan apa yang terjadi padanya hari ini.
"Kau bilang tidak tertarik dengan salju, tapi kenapa dengannya kau mau" gumam Dyna dengan isakan kecil tertahan.
"Karena Sofia bilang dia sangat menyukai Jepang, jadi aku mengikuti pilihan nya juga"
"Aku menganggap mu lebih dari sahabat, Fero. Aku juga ingin kau melihat ku sebagai sosok wanita seperti Sofia"
"Aku Sofia. Aku sudah lama mengenal mu sejak Fero menceritakan tentang mu, dia bilang padaku bahwa kau satu-satunya sahabat yang dimilikinya. Membuat ku iri sebenarnya, tapi ya sudahlah. Asal kan Fero bahagia memiliki sahabat seperti mu, aku juga ikut bahagia"
"Dan kenapa kau memakai kan jaket itu padanya? Kenapa?"
"Fero, jaket ini bagus kan? Ini couple lho~ Kita ambil yang ini ya? Satu untuk ku dan satu untuk mu"
Dyna mempercepat langkahnya seiring dengan isak tangis yang makin sering lolos dari bibirnya.
"Harusnya kau lanjutkan saja kebohonganmu itu. Kalau tahu akan sesakit ini, aku lebih baik kau bohongi"
"Aku pergi dulu Bu!"
Dari balik pohon yang berjarak tidak jauh dari rumah Fero, disanalah Dyna bersembunyi dan mendapati Fero keluar dari rumahnya setelah kepergiannya beberapa menit yang lalu.
Setetes airmata mengalir di pipinya, namun dengan cepat di usapnya lelehan airmata itu.
"Ku pikir hanya aku yang ada dalam hidupmu, Fero"
***
Taiwan Taoyuan International Airport
Hiruk pikuk suara orang yang berlalu lalang dengan berbagai macam bahasa membuat senyuman terukir di bibir Dyna. Hembusan nafas lega keluar dari celah bibirnya, perasaan lega sekaligus kosong masih menyelimutinya setelah 15 menit yang lalu kakinya mendarat di Negara asing. Tempat baru dimana dia akan memulai pendidikannya.
Ya. Pada akhirnya, Dyna menjatuhkan pilihannya pada Negara Taiwan. Mana mungkin baginya untuk pergi ke Korea jika tanpa Fero bersamanya. Yang Dyna inginkan hanya melihat dan bermain salju bersama Fero, tapi bahkan saat ini Fero sudah memiliki Sofia di sisinya.
"Sudahlah, mungkin Fero juga akan lupa dengan janjinya. Dia pasti bermain salju dengan Sofia" lirih nya.
***
1 bulan sudah terhitung sejak kedatangannya di Taiwan, dan selama itu pula Dyna jarang melakukan komunikasi dengan Fero. Sekalipun iya, pasti hanya telfon saja. Padahal Dyna sangat ingin melakukan video call dengan Fero, karena bagimana pun Dyna sangat merindukan sosok Fero.
Ckrekk ckrekk
Suara jepretan kamera miliknya terdengar beberapa kali saat dirinya mendapati pemandangan yang bagus. Meski awan terlihat mendung, dan angin berhembus makin kencang. Dyna tetaplah asik dengan kegiatannya.
"Apa disini bisa turun salju?" tanya nya pada dirinya sendiri.
Tujuan Dyna mendatangi tempat ini adalah setelah membaca map tour di kamarnya. Dari apa yang dia baca, Yangmingshan National Park adalah tempat yang bagus di 4 musim yang ada di Taiwan. Terkadang di tempat ini juga akan turun salju, meski jauh di lubuk hatinya Dyna berharap hanya akan melihat salju bersama Fero.
Tes
Dyna mendongakkan kepalanya saat dirasa tetesan kecil air mengenai pipinya.
"Mau turun hujan?"
Melihat awan yang semakin mendung, Dyna berbalik menuju bangku yang berada tidak jauh di belakangnya. Disana tas nya ia letakkan begitu saja, bersama dengan ponselnya.
Dyna mengambil ponselnya dan mengaktifkan data selulernya yang sudah ia matikan sejak seminggu yang lalu. Entahlah, Dyna hanya merasa takut untuk melihat akun sosial media nya atau bahkan takut salah seorang temannya menelfon nya hanya untuk mengabarkan tentang pertunangan Fero dan Sofia.
Dan benar dugaannya, begitu ponselnya menyala. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab masuk ke kotak pemberitahuan. Sedikit merasa heran karena panggilan dan pesan itu berasal dari teman-teman sekelasnya dan juga Ibu nya Fero, terdapat juga panggilan dari nomor tak dikenal yang ikut masuk di list pemberitahuan ponselnya.
"Kenapa mereka menelfon sebanyak ini? Tidak tahukah mereka, aku terluka dengan pertunangannya?"
Memilih mengabaikan isi pesan yang tidak ingin ia buka, Dyna meletakan ponselnya kembali dan memasukkan kameranya ke dalam tas. Bersiap pergi dri tempat itu sebelum dering ponsel mengalihkan perhatiannya.
Itu dari Liana, salah satu teman yang satu kelas dengannya.
Dyna mengangkat panggilan itu, dan kembali mendudukkan dirinya di bangku.
"Liana? Ada apa?"
Terdengar helaan nafas dari seberang sambungan telfon.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Aku? Iya, aku baik. Memangnya kenapa?" tanya Dyna sedikit heran dengan Liana.
"Ku harap kau bisa menerima semua ini. Jangan berlarut dalam kesedihan, dan menangislah jika itu sangat menyakitkan. Tapi jangan terlalu lama larut dalam kesedihan, Fero tidak akan menyukainya"
"Sudahlah jangan bahas hal itu. Aku sudah ikhlas dengan pertunangan mereka" sahut Dyna seakan tahu kemana arah pembicaraan Liana.
".....Dyna. Aku turut berduka cita. Dan kurasa kau salah paham"
Dyna makin mengerutkan keningnya bingung sangat mendengar ungkapan duka cita dari Liana.
"Apa maksudmu?"
"Apa kau belum tahu? Kau belum melihat pesan yang kami kirimkan untukmu?"
"Tidak. Memangnya ada apa?"
"Hahh.... Fero tidak bertunangan dengan Sofia yang kau sebutkan tadi. Fero, dia sekarang sudah tenang. Dan kau harus tahu ini, hanya kau lah satu-satunya orang yang berharga dalam hidup Fero setelah Ibunya. Hanya kau yang Fero cintai"
"Jelaskan padaku ada apa sebenarnya? Apa mereka gagal bertunangan?" cecar Dyna dengan tidak sabar. Degupan jantungnya berdetak makin cepat.
"Fero sudah meninggal. Tepatnya, tiga hari yang lalu" balasan lirih dari Liana membuat Dyna lemas, seakan seluruh darahnya hilang dari dari tubuhnya. Nafasnya terasa sesak, dan hatinya begitu sakit.
"Aku tidak suka dengan candaan seperti ini Liana. Jangan berbohong"
"Kau telfon saja Tante. Beliau mungkin juga sedang mengkhawatirkanmu"
PIP
Dyna mematikan begitu saja sambungan telfon nya dengan Liana, tangannya dengan cepat membuka setiap pesan masuk yang ia abaikan tadi.
Airmata nya mengalir begitu saja, tangannya gemetar dan seluruh tenaganya menghilang setiap kata yang ia dapat dari pesan masuk itu. Tidak hanya sampai disitu, Dyna juga membuka sosial media miliknya, mencari kontak teman-temannya dan makin tersedu saat melihat postingan duka cita yang mereka sampaikan melalui sosial media mereka.
"I-ini bohong kan? F-fero sudah j-janji untuk melihat hiks salju bersama ku" gumam nya dengan suara bergetar. Isakan tangis tidak bisa ditahannya, rasanya sangat menyakitkan mengetahui fakta ini.
Dengan tangan gemetar Dyna kembali menempelkan ponselnya ke telinga, panggilan sudah ia lakukan pada Ibu Fero. Berharap ini hanya bagian dari prank mereka, yang sengaja membuatnya menangis karena tidak melakukan salam perpisahan sebelum dirinya berangkat ke Taiwan.
Panggilan nya langsung terangkat pada dering kedua, dan suara serak yang langsung tertangkap di indera pendengarnya.
"Dyna.... Yang tabah ya, Nak"
Dyna menarik nafasnya kuat, menghalau sesak yang menghimpit dadanya. Bibirnya ia gigit dengan linangan airmata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Tante..... F-fero, kapan datang kesini? Salju mulai turun disini. K-katanya dia akan datang untuk melihat s-salju bersamaku kan?" tanyanya dengan suara bergetar menahan isakan.
Bukannya jawaban yang ia dapat, justru suara isak tangis yang terdengar dari Ibu Fero yang ia dengar.
Dyna tersenyum ditengah linangan airmata nya. Berdehem sebentar untuk menstabilkan suaranya, dan menatap sedih butiran putih yang perlahan turun di depan matanya.
Salju ternyata sungguhan turun di tempat ini.
"Tante? A-aku ingin mendengar suara Fero. Bisakah....Bisakah tante menyambungkan telfon ini padanya? Aku sangat merindukannya hiks" pada akhirnya isakan tangisnya tidak bisa ia sembunyikan.
"Dyna.... Fero sudah tenang disana. Tante minta maaf karena sudah membohongimu selama ini. Tante harap kamu bisa mengikhlaskan Fero, Nak"
Dan dengan itu, Dyna membekap mulutnya dengan satu tangan miliknya. Meletakkan ponselnya begitu saja di bangku dan menggunakan tangannya untuk memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sakit dan sesak.
Terasa menyakitkan hanya untuk menarik nafas, dunianya benar-benar hancur sekarang. Fero-nya benar-benar telah pergi meninggalkannya. Padahal meski Fero nantinya bersama Sofia, Dyna rela menerima itu asal Fero bahagia dan dia tetap bisa bertemu dengannya. Tapi sekarang? Bagaimana cara nya bertemu dengan Fero atau bahkan mendengar suaranya saat ia begitu merindukan sosok sahabat kecilnya sekaligus cinta pertamanya itu. Bagaimana caranya?
Tangisan Dyna makin keras saat butiran salju yang turun makin banyak. Hatinya kembali sakit mengingat janji terakhir yang dibuat Fero untuknya.
"A-aku hiks tidak suka saljunya F-fero.... Hiks salju nya terasa sangat dingin hiks Fero kenapa kau berjanji padaku seperti itu hiks s-sekarang aku melihat salju tanpamu. Kau bodoh hiks Fero"
***
"Sekarang aku tahu kenapa menyakitkan saat melihat salju sendirian. Salju memang indah tapi begitu dingin saat kau sentuh. Harusnya kau juga bisa melihat ini dengan ku, dan membuat boneka salju bersama"
Telapak tangan mungil yang terbuka itu kini di genggam oleh tangan kekar milik pria yang mengenakan mantel dan syal berwarna hitam di lehernya.
Pria itu-Minghao, melepas syal nya dan memakaikan nya pada Dyna.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Dyna menganggukan kepalanya dan menggenggam erat tangan milik Minghao. Tatapan matanya menatap sendu hamparan salju yang terhampar di depannya.
"Sekarang aku tidak sendirian lagi saat melihat salju. Ada Minghao bersama ku" ucap Dyna seraya berbalik menatap Minghao. Bibirnya kini mengukir senyuman manis dan matanya kini tidak lagi dipenuhi kesedihan.
"Kau benar.... Waktu akan mengobati luka kita. Dan terima kasih sudah hadir dalam hidupku, Minghao"
Minghao tersenyum hangat, melepas genggaman tangannya pada Dyna dan membawa Dyna dalam dekapan hangatnya. Tangannya mengusap lembut punggung Dyna, memberikan ketenangan pada Dyna.
"Aku juga senang bisa hadir dalam hidup mu. Dan jangan berterima kasih padaku, aku kan suamimu. Jadi sudah menjadi kewajiban untukku membuat mu bahagia. Nah sekarang, bagaimana kalau kita membuat boneka salju? Kita buat sama seperti Ollaf?"
Dyna memukul pelan bahu Minghao. "Dasar! Jangan membuat Ollaf, nanti kalau dia benar-benar hidup seperti di Frozen bagaimana?"
"Hahahaha! Mana mungkin boneka salju bisa hidup. Kau ada-ada saja sayang"
"Jadi, kau tadi hanya mengerjaiku huh?"
"Iya mungkin"
"Minghao!"
"Apa? Aku tampan"
"Dasar narsis!"
"Narsis begini juga suami mu"
"Awas kau ya!" Dyna melepas pelukan Minghao dan beralih melempari Minghao dengan salju yang ia dapat di bawah kakinya.
"Wah~ Istriku yang imut ini mau melempariku dengan salju ternyata, baiklah~ Aku akan membalas lemparan mu~" goda Minghao dengan senyum jahilnya, Dyna yang melihat itupun membulatkan matanya terkejut. Terlebih saat melihat Minghao mengumpulkan salju yang membentuk bulatan bola sebesar bola kasti itu akan di arahkan padanya.
"Minghao! Yaaa! Awas kau kalau berani melempariku dengan salju itu!"
"Kenapa memangnya?"
"Aku tidak akan ikut ke Korea lagi bersama mu! Wlee~" Dyna berlari menjauhi Minghao setelah sebelumnya mengejek Minghao dengan menjulurkan lidahnya.
Minghao tersenyum melihat Dyna bahagia dan tertawa lepas seperti sekarang. Tatapan matanya kini beralih menatap sosok yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka berdua. Senyuman hangat ia arahkan pada sosok itu.
"Kau bisa pergi dengan tenang sekarang. Janji yang kau buat dengan Dyna sudah kau tepati, dan Dyna sudah mengikhlaskanmu. Aku berjanji akan menjaga Dyna selamanya sampai nafas terakhirku, Fero" ucap Minghao pada udara kosong di depannya.
Karena hanya Minghao yang bisa melihat sosok itu, sosok Fero yang transparan. Dengan senyum lega yang perlahan menghilang seiring lenyapnya sosok berharga dalam hidup Dyna itu.
"Ku harap, kau tenang disana Fero" lirih nya.
"Minghao! Ayo cepat kesini! Aku menemukan ranting kecil untuk boneka saljunya" teriakan Dyna membuat Minghao tersadar dan menghampiri Dyna yang kini terlihat berdiri dengan dua ranting kecil di genggaman tangannya.
"Ayo buat boneka salju Ollaf!"
"Ishh! Kau ini! Ollaf terus~!"
"HAHAHAHA! Jangan marah sayang"
"Hushh husshh sana bikin Ollaf mu"
"Hahaha"
Sudah tahu alasannya? Kenapa salju bisa terasa dingin dan hangat untuk beberapa orang? Itu tergantung dengan siapa kau menghabiskan waktumu menikmati salju itu. Dan kau tahu apa yang spesial?
Teman atau sahabat kecilmu, akan selalu menepati janjinya meskipun kau tidak menyadarinya. Dia akan selalu bersamamu, menjagamu dengan tulus. Mencintaimu dengan seluruh hidup dan nafasnya. Maka kau tidak salah jika menjatuhkan hatimu pada sahabat kecil mu, kau tidak salah. Dan jangan menyesali apapun yang sudah terjadi, karena musim akan terus berganti begitu juga dengan jalan hidupmu.
Sender : Sofia To: Dyna
Apa kabar Dyna? Aku ingin minta maaf padamu, aku terlalu pengecut untuk menyampaikan ini secara langsung. Kau tahu? Aku merasa bersalah padamu waktu itu, tapi aku hanya tidak bisa mengatakan kondisi Fero padamu. Dia sangat menyayangimu sampai-sampai di sisa akhir hidupnya dia memilih untuk menjauhkan dirinya darimu dan membuatmu tidak melihatnya di akhir hidupnya.
Seperti yang Beliau katakan padamu, aku adalah Dokter pribadi spesialis jantung yang menangani Fero. Hari itu saat kita bertemu di koridor kampus adalah hari dimana Fero mengajukan surat pengunduran diri dari kampus.
Fero memiliki kelainan jantung, dan itu semakin parah. Ditambah dengan paru-parunya yang juga bermasalah, membuat keluarganya berencana membawa Fero ke Amerika untuk mendapat pengobatan yang lebih baik. Dan satu-satunya orang yang menjadi alasan Fero untuk sembuh hanya kau Dyna. Fero mengatakan padaku ingin segera sembuh agar bisa menemuimu saat musim dingin selanjutnya, tapi ternyata takdir berkata lain. Tuhan mengambilnya lebih cepat dari kita.
Fero tidak bisa terkena udara dingin karena paru-parunya yang bermasalah, karena itulah dia menolak ajakanmu ke Korea. Dia sangat mencintaimu, Dyna.
Jadi, tolong maafkan dia dan ikhlaskan dia.
Aku tahu kau sosok yang kuat, Dyna.
Dan yang terakhir.... Fero ingin meminta maaf padamu karena tidak bisa menepati janjinya. Disisa akhir hidupnya, Fero berkata agar kau selalu hidup bahagia.
Maaf baru memberitahumu hari ini setelah seminggu kepergian Fero. Aku minta maaf, dan ku harap kau hidup bahagia disana.