Konon katanya dulu semasa penjajahan Jepang di Indonesia, tinggallah sebuah keluarga di desa Tanjung Jenuh. Keluarga tersebut terkenal karena kekayaan dan keramahannya terhadap warga setempat. Namun naas, karena kesalahan yang mereka perbuat, mereka ditemukan terbunuh di rumah mereka sendiri. Tidak ada yang tahu pasti penyebab kematian keluarga itu. Puluhan tahun lama nya rumah itu masih berdiri kokoh dan menyisakan berbegai macam cerita, namun tak ada seorangpun yang berani mengusik rumah tersebut. Dikatakan di rumah tersebut terdapat sebuah benda keramat yang dijuluki "Karabako".
Karena rumor buruk terus beredar, penduduk setempat bersepakat untuk menutup rapat cerita tentang keluarga itu. Namun siapa sangka rumor yang sudah lama tenggelam, tiba-tiba muncul ke permukaan.
“Eh Ton… udah denger rumor yang beredar didesa sebelah belom?” Tanya Tino pada sahabatnya Tono.
“Rumor apa?? Jangan mengada-ngada kamu, kita baru tiba di desa ini pekan lalu” Jawabnya dengan tatapan tajam.
“Heleh, kon iki emang selalu ketinggalan berita.” Ujarnya sambil berlalu.
Memang mereka berdua orang baru dari kota yang tinggal sementara di desa Tanjung Makmur. Sebenarnya mereka tidak tinggal berdua saja di desa ini, melainkan bersama dengan beberapa orang teman sekelompok yang mengharuskan mereka untuk melakukan beberapa penelitian di desa tersebut.
Tino yang pada dasarnya selalu K-E-P-O terhadap sesuatu, menjadi tertarik pada rumor yang tengah beredar di kalangan penduduk desa Tanjung Makmur.
Karena penasaran dengan tempat itu, ia terus saja mendekati Tono agar mau di ajak melihat tempat tersebut.
Menurut cerita warga setempat, ada sebuah benda keramat yang sering disebut-sebut dengan nama “Karabako”. Benda itu terletak di sebuah rumah peninggalan Jepang yang terletak di hutan desa Tanjung Jenuh. Tidak ada yang tahu pasti, apa itu karabako, namun warga sekitar mempercayainya sebagai benda keramat. Konon benda itu di simpan disebuah kamar tersembunyi dalam rumah tua dan kamar itu hanya akan terlihat setiap malam bulan purnama.
Karena desakan terus menerus dari Tino, mau tidak mau Tono mengiyakan ajakan Tino untuk pergi ke tempat itu. Mereka pun sepakat untuk melihat-lihat sebentar waktu siang hari, demi meredakan rasa penasaran Tino.
Pagi ini mereka bersiap untuk menuju desa sebelah, dengan berbekalkan tas ransel yang berisikan makanan ringan dan beberapa botol air mineral. Mereka berangkat menuju desa Tanjung Jenuh. Namun tidak ada kendaraan yang dapat mereka gunakan untuk mencapai tempat itu. Kata beberapa penduduk desa Tanjung Makmur, desa Tanjung Jenuh berada di balik bukit yang mengharuskan mereka melewati beberapa jalanan terjal.
Akhirnya, mereka sepakat untuk pergi ke desa itu dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan menuju desa Tanjung Jenuh, mereka di suguhkan dengan pemandangan alam yang tampak masih begitu asri. Banyak penduduk yang berkata desa itu akan terlihat indah saat pagi dan siang hari, tapi menjelang sore akan terasa aura mencengkam yang terpancar dari desa itu. Perjalanan menyita waktu hingga sore hari.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Mereka tiba di desa Tanjung Jenuh, niat hati mengunjungi rumah itu di saat siang ternyata hingga menjelang petang mereka baru tiba di rumah tersebut. Hawa dingin mulai terasa menusuk kulit ari Tono dan Tino. Aura mencengkam pun semakin terasa.
“Ton… beneran ini rumah nya?” Kata Tino saat sampai di sebuah rumah mewah bernuansa Jepang. Rumah itu di kelilingi pepohonan yang tinggi dan rimbun hingga sedikit cahaya yang bisa masuk ke dalam rumah tersebut.
“Hah… Iya kayaknya” Jawab Tono sambil berjingkat, Tono yang sempat terpaku dengan rumah didepannya, harus dikagetkan dengan suara Tino. “Ya udah ayo coba masuk” lanjutnya
“Eh… I-Iya”. “Ngapa lo takut??” sindir Tono yang melihat wajah pucat dari sahabatnya itu.
Padahal dari awal dialah yang terus mendesak untuk melihat rumah tersebut karena penasaran dengan benda keramat “Karabako” yang disebut-sebut warga desa. Sebenarnya Tono agak curiga dengan nama benda itu. Sehingga mengiyakan saja ajakan Tino. Nama benda tersebut sedikit tidak asing di telinganya, namun dia masih belum bisa menemukan jawabannya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah itu dengan penerangan senter dan cahaya bulan purnama. Minimnya cahaya yang masuk dan suara gagak yang terus menerus terdengar disekitar mereka semakin membuat suasana disekitar terasa semakin mencengkam.
"Huaa...Ton,., kau dengar suara gagak itu? Kita pulang aja ya?"
"Hah,.. jangan bercanda kau, sana duluan. Lo yang ngajak, harus tanggung jawab dong!"
Dengan perlahan Tino dan Tono akhirnya masuk ke dalam rumah itu.
“Tono, jangan menarik-narik bajuku.. aku jadi susah jalannya.” Karena kesal Tino pun membalik kan tubuhnya, namun bertapa terkejutnya ia saat menyadari bahwa Tono tidak ada di belakang nya dan bajunya ternyata nyangkut disebuah ranting pohon.
“Tono… kau dimana? Tono.. ayolah jangan mengerjaiku. Tono!!!” Teriak Tino dengan wajah pucat.
“Stttt…” “Arrgh…hmm hmm hmm” “Diamlah, kenapa kau teriak-teriak macam banci di perempatan jalan sih?”
“Hah... Lagian lo kemana sih?” gerutunya kesal. “Tadi aku lihat cahaya bulan terpantul ke kamar itu, karena penasaran aku coba buka, ternyata di kunci” jelasnya.
“Ya sudah kita dobrak aja” usulnya dan di setujui oleh Tono. Benar saja setelah pintu berhasil terbuka, terlihat sebuah kotak di tengah ruangan. Kotak itu terlihat sederhana namun menawan karena terkena pancaran sinar bulan yang menjadi satu-satunya pencayahayaan di rumah tersebut.
“Apa itu Karabako?” dengan mata berbinar Tino segera berlari kearah kotak itu dan membukanya.
Namun, “Anjirr… apaan nih? Kosong begini” Ucapnya kesal
Seketika Tono langsung tertawa “Hahaha… sekarang aku mengerti kenapa namanya Karabako, dalam bahasa jepang “Kara: Kosong dan Hako: kotak’ jika digabung menjadi 'Karabako' atau kotak kosong ”
“Asem… Kenapa gak bilang dari awal” Gerutunya dengan muka merah padam menahan kesalnya.
BY. Ɲᾄʀᾄ¯陈