"Aya" Sapa Nofi yang berjalan menuju kearahnya.
"Ya" Jawab Aya dengan nada ciri khasnya. Mereka duduk dengan sedikit jarak. Hanya ada keheningan disini.
"Kenapa lo berubah? " Tanya Nofi tiba-tiba.
Aya hanya tersenyum kecut menanggapinya. Nofi yang memang memiliki sifat dewasa dan perasa namun lembut membuatnya mampu menyadari sedikit saja perubahan dari sahabatnya itu.
Aya dan Nofi memang baru kenal sekitar 1 tahun yang lalu. 1 bulan setelah perkenalan itu mereka menjadi teman dekat hingga bersahabat seperti sekarang.
"Kenapa lo bisa selembut itu sama gue tapi seketus itu sama Deta" Tanya Nofi dengan penuh penekanan menahan deru nafas yang mulai tak teratur.
Deta adalah teman baru mereka. Namun entah kenapa Aya seperti enggan menerima kehadiranya. Deta yang mempunyai kepribadian dewasa dan perasa namun tegas itu mampu membuat Aya ketakutan setengah mati. Entah apa yang apa yang ada dipikiran Aya sekarang.
"Dia salah apa sama lo" Ucap Nofi.
"Semenjak gue bilang kalo Deta itu sensitif lo malah makin menjadi Aya" Nofi mencoba mengontrol emosinya. Nafasnya tersenggal.
"Kalo ada apa-apa tu bilang jangan diem aja" Lanjut Nofi dengan nada kecewa. Dadanya sesak seketika.
'Sebenernya apa yang ada dipikiran lo Ya' Nofi bertanya pada dirinya sendiri.
"Gue takut. Gue takut kehilangan lo" Tutur Aya dengan lirih dan gemetar. Deru nafas yang bersuara mampu memperjelas bahwa dadanya juga sesak. Air matanya mengalir deras tanpa ijin sang pemilik.
"Apa yang lo takutin tu apa" Nofi yang sudah jenuh melihat Aya yang seperti itu belakangan ini makin menjadi. Emosi yang dulunya selalu dikontrol dengan lembut kini cukup tegas menampar Aya dengan tutur katanya. Sejenak Nofi melupakan dadanya yang sesak itu.
'Gue yakin lo nggak kaya apa yang ada difikiran gue' Nofi memcoba meyakinkan dirinya sendiri dengam menepis segala pikiran kotornya.
"Gue takut lo lebih sayang kedia dari pada gue. Gue takut dia ngambil lo dari gue" Aya mencoba menjelaskan. Rasa takut kehilangan menggerogoti hati dan pikiranya. Dadanya semakin sesak. Air matanya mengalir semakin deras.
Nofi menghela nafas dengan kasar.
"Gue kira selama ini lo percaya sama gue. Ternyata cuma segitu rasa percaya lo sama gue" Ujar nofi dengan sangat kecewa menahan tangis. "Belakangan ini gue menepis semua itu dari fikiran gue Ya. Gue terus ngeyakinin diri gue sendiri kalo lo gak mungkin kayak gitu. Tapi apa kenyatanya!" Lanjutnya dengan sedikit membentak namun terdengar jelas getaranya. Nafasnya makin menggebu. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
'Sedetikpun gue gak pernah nggak percaya sama lo nof. Tapi gue gak percaya sama diri gue sendiri' Batin Aya yang memang sulit terbuka pada siapapun. Sifatnya yang keras kepala dan tidak mau dianggap lemah mampu membuatnya membungkam semua perasaanya sendiri. Aya hanya menangis tiada henti melihat sahabatnya kecewa pada dirinya sendiri. Dadanya yang sudah sesak kian menjadi.
"Kita ini satu kerjaan. Satu rumah. Nggak mungkin kalo nggak saling tatap muka" Tegas nofi.
"Lo fikir gue sama dia akrab ha" Ujar nofi dengan sedikit emosi.
Aya hanya mengangguk sambil menyembunyikan ketakutanya. Aya sangat takut kalau sahabatnya itu pergi lagi seperti yang dulu. Yang pernah dia alami beberapa kali.
"Gue sama dia itu cuma becanda dan sekedar akrab. Bukan berarti karna gue sering ketawa sama dia kita itu satu frekuensi. Enggak Aya enggak" Ucap Nofi yang seakan tau apa yang akan ditanyakan Aya. "Gue kira selama ini lo ngerti gue dengan baik ternyata enggak" Lanjut nofi. Air mata yang sejak tadi dia bendung lolos dari pelupuk matanya.
"Gue takut lo ninggalin gue kayak yang lain" Ujar Aya yang semakin deras air matanya. Perasaanya semakin kacau. Dadanya bukan lagi sesak. Bahkan untuk bernafaspun sulit.
"Gue beda Aya gue beda sama mereka!" Kata Nofi. "Lo juga nggak bisa egois. Gue juga butuh temen Ya. Hidup gue bukan cuma tentang lo" ujar Nofi yang masih menangis menahan sesak di dada.
"Gue tau Nof gue tau" jawab Aya dengan lirih. Dadanya semakin sesak saja karna tidak berhenti menangis.
'Selama ini gue juga nggak pernah larang lo buat berteman sama siapapun' Batin Aya membela dirinya sendiri agar tak semakin terpuruk.
"Kita ini sahabat Ya, seharusnya kita tu saling mendukung bukan kayak gini, persahabatan tu emang hampir sama kayak pacaran tapi beda Ya" Kata nofi memegaskan yang seolah menyudutkan posisi Aya.
'Buat gue persahabatan itu jauh lebih penting Nof' Lagi lagi Aya hanya mampu menjawab lewat batinanya. Nyatanya dia hanya diam. Air matanyalah yang menjawab segalanya.
"Gue gak suka dikekang. Gue gak suka dilarang. Gue gak akan ninggalin lo karna diri lo yang apa adanya. Tapi gue bakal pergi kalo lo overprotektif sama gue" Jelas Nofi yang membuat Aya harus berjuang keras untuk tetap mengatur deru nafasnya yang makin sulit dikendalikan.
"Maaf, maafin gue nof. Gue bener-bener takut kehilangan lo. Gue ... Gue minta maaf" Ujar Aya dengan lirih namun lagi lagi terdengar jelas ditelinga Nofi.
Sesak didada mereka menguat. Nafas yang menggebu itu saling beradu. Mereka diam sejenak. Menenangkan hati dan pikirannya sendiri. Dadanya mulai tenang. Nafasnya mulai teratur.
"Lo sayang sama gue" Tanya nofi tiba-tiba. Pertanyaan singkat, namun jelas.
"Gue sayang sama lo tapi bukan gitu" Aya membantah kata-kata Nofi. Sambil menahan dadanya yang mulai sakit lagi. Aya cukup paham apa yang dimaksud Nofi.
"Terus apa kalo bukan itu" Tanya Nofi lagi. Dadanya yang baru saja mulai tenang mulai sesak lagi.
PLAK. Aya melayangkan tangannya memukul wajahnya sendiri. Pipinya merah. Sontak Nofi kaget dengan apa yang dilakukan Aya. Dari wajahnya terlihat jelas bahwa Aya sudah dikuasi emosi yang sejak tadi dia tahan agar tak semakin memperburuk keadaan. Dia sadar betul bahwa dirinya sulit mengendalikan emosinya.
'Ini yang gue benci Ya, lo lebih milih diam dari pada crita sama gue' Nofi membatin. Memang Aya lebih memilih diam ketika ada masalah.
"GUE BUKAN L*SBIAN NOFI GUE BUKAN LESBI*N" Teriak Aya sambil memukul dadanya sendiri yang sesaknya kian kuat.
Jdarr. Nofi bagai tersambar petir. "Bukan gitu maksut gue" Lirih nofi sambil menunduk tak kuasa melihat Aya seperti itu. 'gue tau lo sayang sama gue Ya. Tapi nggak gini' Nofi membatin lagi dengan air mata yang mengalir lagi.
'Sep*cik itu pikiran lo tentang gue. Sehina itu gue dimata lo. Serendah itu gue dihadapan lo' Aya hanya membatin karna salah satu kata saja ketika dia bicara maka hanya akan memperburuk suasana yang sudah suram itu.
"Lo tau gue susah buat terbuka. Lo tau itu Nof. Jujur gue takut Nof gue takut" Lirih Aya menguatkan diri untuk bicara. Dia menunduk sambil memejamkan mata. Telapak tanganya menangkup wajahnya sendiri mencoba menghentikan air matanya yang semakin deras.
"Jangan nangis. Gue nggak bisa liat lo kayak gini" Air matanya makin deras. Nofi berhambur memeluk Aya dengan erat.
"Maaf. Maafin gue udah buat lo kecewa Nof. Maaf" Ucap Aya yang masih menutupi wajahnya itu. Badanya kini gemetar hebat.
Nofi hanya diam. Dia memper erat pelukanya. Deru nafasnya tersenggal-senggal. Dadanya masih sesak.
Aya membalas pelukan itu. Dadanya kian sesak. Nafasnya memburu dengan hebat.
Sejenak mereka menangis dalam diam. Perlahan nafas mereka mulai teratur. Dadanya mulai tenang. Mereka melepas pelukanya.
"Gue sayang sama lo" Ucap Nofi lalu berdiri.
"Jangan tinggalin gue" Ucap Aya beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkan Nofi.
"Aya gue dulu yang mandi sialan lu" Teriak Nofi sambil berlari mengejar Aya dengan menahan rasa sesak yang masih tersisa.
"Bodo amat" Aya berlari menuju kamar mereka sambil tertawa. Berlari dengan air mata yang mengalir.
Mereka mulai tertawa lagi. Namun nyatanya sesak didada itu masih ada. Hanya saja tak terlihat jelas seperti tadi. Air matanya juga masih. Hanya saja tersimpan rapi tak terlihat.
Terimkasih.
See you next story.
Thank buat yang udah baca, like, komen and share.
Bisa vote nggak sih kalo di cerpen?