Biasanya Ivy bisa merasakan aroma teh hijau hangat di pagi hari yang sengaja di seduh kakaknya, Aksa untuk mereka berdua. Ivy bahkan sudah mencoba mengendus beberapa kali namun, Hanya ada aroma roti bakar yang tercium samar-samar. Sedetik kemudian barulah ia tersadar bahwa Aksa sudah berangkat dinas keluar kota tadi malam.
“Ivy, aku masuk ya?”
Lea, kakak iparnya tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu lalu bergegas menarik tirai kamar sambil menyindir Ivy dengan halus.
“Apa kau tidak bosan di kamar terus dari kemarin? Kalau kakakmu ada di rumah, pagi-pagi sekali kalian sudah berduaan di dapur.”
“Kepalaku sakit.”
“Oh begitu, baiklah silahkan tidur lagi tuan putri. Kusarankan tirainya tidak kau turunkan agar cahaya matahari dapat membuatmu merasa lebih baik.”
Ivy bangkit dari tempat tidur, menurunkan tirai sambil menatap sekilas wajah cantik kakak iparnya untuk melihat reaksi apa yang muncul. Benar saja, ia terlihat tidak suka karena sarannya di acuhkan, wajah cantiknya langsung telihat masam dan ia lebih memilih berlalu dari hadapan Ivy sebelum kesabarannya bisa membuat telapak tangannya mendarat di pipi Ivy.
Dua jam kemudian, Ivy memilih untuk berkeliling ke toko buku atau makan camilan di beberapa tempat yang belum pernah ia kunjungi di kota. Cuaca yang sudah mulai berubah sedikit lebih dingin, membuat Ivy merasa lebih baik untuk berjalan kaki tanpa harus kepanasan.
Ivy ingin pamer pada Aksa soal makan camilan ketika ia baru sadar bahwa handphonenya ketinggalan di kamar, mungkin masih di atas tempat tidur. Setelah ragu sebentar, akhirnya Ivy memutuskan kembali ke rumah sambil mengutuki dirinya yang pelupa.
Pintu depan terlihat terkunci dan Ivy sangat benci harus menekan bel karena pasti yang akan membukakan pintu adalah Lea. Jadi ia mengitari taman kecil samping rumah dan menuju belakang. Biasanya Lea tidak pernah mengunci pintu belakang sehingga Ivy merasa lebih mudah keluar masuk. Ivy sengaja mengendap, Ia juga enggan menjawab pertanyaan Lea yang lebih mirip tuduhan atau ejekan kalau sampai mereka bertemu.
Ivy memandang sekeliling dan merasa heran dengan suasana sepi rumah. Biasanya di jam ini, ada asisten rumah tangga yang masih memasak atau menjemur pakaian. Bahkan anak asisten rumah tangga yang ikut dibawa, selalu bermain dengan Lea di ruang tengah. Mereka baru akan pulang sore hari. Malas memikirkannya Ivy bergegas menuju kamarnya karena mungkin saja asisten rumah tangga libur hari ini.
Mata Ivy tiba-tiba terhenti pada dua keranjang pakaian yang terlihat sudah di cuci di sudut ruangan. Ivy mengerutkan kening, meski wajar terjadi tapi tidak untuk Lea. Dia membenci orang yang bekerja setengah-setengah seperti itu. Kalau memang asisten rumah tangganya libur, maka biasanya dia akan melakukannya sendiri.
Ivy juga tidak melihat Lea dimanapun. Tidak seperti kebiasaannya, Harus ia akui Lea adalah seseorang yang tidak suka berdiam diri di kamar. Meski semua pekerjaan rumah sudah selesai dengan sempurna, dia pasti akan melakukan hal lain.
"Mungkinkah dia sakit?" pikir Ivy, merasa sedikit cemas.
Ia hanya tidak mau Aksa menyalahkannya jika istrinya tidak ia perhatikan. Karena memang hanya ada mereka berdua dirumah ini.
Ivy membuka pintu kamar Lea dan hampir saja menjerit histeris karena melihat adegan yang biasanya hanya ada di film-film kini nyata terjadi di depan kedua matanya. Ivy gemetar, jelas ia melihat istri tercinta kakaknya itu, melakukan hal tidak layak di lakukan oleh seorang wanita bersuami.
Bahkan Lea tidak terlalu terkejut, Begitupun dengan pasangannya yang harus Ivy akui lebih tampan dari Aksa. Tidak ada adegan Lea mengejar Ivy untuk menjelaskan. Bahkan dengan santainya Lea menutup pintu kamarnya kembali. Ivy masih mematung, tidak ada suara yang mampu keluar dari mulutnya.
Tidak. Bukan tidak mampu tapi belum saatnya ia mengeluarkan suara. Ivy masuk ke kamarnya, meraih handphone dan marah besar pada Aksa yang mengatakan akan menelponnya kembali nanti karena sedang mengikuti rapat.
“Tenanglah Ivy, aku akan menelpon lagi nanti. Ada rapat penting.”
“Hei dasar bodoh, kau tahu ap...”
Di seberang, Aksa menutup telepon dan menghelang nafas. Meski ia tidak tahu apa yang terjadi, Tapi ia tahu bahwa Lea sedang membuat masalah. Ia kembali berusaha fokus walau di pikirannya sudah terbayang wajah Ivy yang sangat kecewa jika mengetahui kebenarannya.
Setelah tiga hari yang sepi di rumah itu berlalu, Aksa masuk ke kamar Ivy dengan hati-hati di waktu dini hari. Ia duduk di tepi tempat tidur masih belum berganti pakaian dan dengan segelas teh hijau hangat di tangannya. Karena aromanya yang khas dan Ivy terbiasa dengan aroma itu, Ia langsung bangun dan melihat sosok Aksa yang terlihat lelah sedang tersenyum.
Merasa marah karena kakaknya di khianati, Ivy mengamuk dengan mengatai Aksa bodoh dan gila karena menikahi wanita seperti Lea.
“Apa karena dia cemburu padaku yang setiap pagi minum teh hijau berdua denganmu di dapur? Sehingga dia berani mengatakan dan menyuruh kau untuk menikahiku yang adik kandungmu sendiri?”
Aksa terkejut, ia tidak tahu kalau ternyata Ivy mendengar saat Lea memprotes dirinya yang selalu menyeduh teh hijau hangat untuk mereka berdua. Aksa maklum Lea protes dan malah menyuruhnya menikahi Ivy karena Lea tahu kebenarannya.
“Aku tidak bisa menceraikannya, Meskipun aku ingin.”
“Haa.. Alasan macam apa itu? Katakan saja jika memang kau bisa memaafkan semua kesalahannya. Aku paham jika kau terlalu bodoh dan gila karena cintamu padanya.”
“Lea lah yang lebih bisa memaafkanku, Ivy.”
“Oh.. Jadi kalian adalah pasangan yang masing-masing saling berselingkuh, begitu?”
Ivy merasa tubuhnya lemas mengetahui kenyataan bahwa kakaknya pun tidak jauh berbeda bahkan sama saja dengan istrinya.
“Tidurlah lagi, aku akan menemui Lea.”
Aksa bangkit dan meletakkan teh hijau hangatnya di meja samping tempat tidur. Ivy menatap kepergian Aksa dengan tidak habis pikir.
"Kenapa aku punya ikatan darah dengan orang bodoh sepertinya." Ivy mengumpat dalam hati.
Lea duduk di tepi tempat tidur tanpa mau menatap wajah Aksa. Meski ia bersalah tapi, dia tidak mau mengakuinya karena ia paham betul bahwa kesalahan berawal dari Aksa bukan dirinya.
“Seingatku, sudah dengan jelas aku mengatakan bahwa jika kau ingin berbuat sesuka hatimu, berhati-hatilah dan jangan di rumah ini karena ada Ivy disini.”
“Kau selalu hanya memikirkan Ivy tercintamu itu. Kenapa tidak kau nikahi saja dia? Lalu biarkan aku berbuat sesuka hatiku dengan tenang meski aku pun tidak ingin bercerai darimu.”
“Berhati-hatilah dengan ucapanmu, Ivy bisa saja mendengar apa yang baru saja kau katakan.”
“Hah! Aku sungguh sudah tidak tahan bersama denganmu karena sedikitpun tidak ada celah untuk diriku. Harusnya aku menyadarinya sejak awal bahwa ada yang aneh dari caramu memandang Ivy. Aku sungguh menyesal pernah sangat mencintaimu bahkan saat ini pun, aku masih sedikit mencintaimu.”
Aksa menepuk bahu Lea dan meminta maaf berulang kali. Ia meminta agar Lea bersabar sebelum akhirnya nanti ia akan menceraikannya.
“Aksa Kalandra, jika kita benar akan bercerai nanti, apakah kau akan menikahi Ivy?”
Aksa menggeleng.
“Hanya aku yang Ivy miliki di dunia ini. Aku hanya perlu berperan sebagai kakak yang disayanginya sampai ia benar-benar tidak menginginkanku lagi dan memilih orang lain untuk menjaganya.”
Lea menangis dan segera mengusap air matanya meski harus menahan isaknya.
“Kau sungguh.. Tidak tersiksa hidup seperti itu?”
“Aku sudah cukup lama menjalaninya. Aku cukup terbiasa dengan semua ini.”
Lea semakin terisak, Aksa hanya mampu menepuk-nepuk punggung belakang Lea yang naik turun karena tangisnya yang kencang. Lea sungguh berharap ini adalah sebuah mimpi, atau sebuah cerita yang hanya cukup terjadi di sinetron dan drama yang biasa Ibunya tonton.
Ia sungguh berharap bahwa Ivy adalah adik kandung Aksa sehingga ia bisa dengan mudah menganggapnya dan menyayanginya sebagai adik ipar bukan sebagai rival dalam urusan percintaan. Cinta itu buta, benar. Membutakan mata dan hati orang-orang seperti Lea dan Aksa.
-Tamat-