Di pagi itu hari pertama santi bekerja di tempat pamannya, dia masuk lewat pintu belakang atau tepatnya lewat pintu dapur dan di situ ada beberapa pekerja paman santi yang sedang sarapan. Santi nylonong masuk tanpa permisi dan di situ ada salah satu pekerja yang namanya Putra dan dia berkata" anak siapa sich enggak punya sopan santun masuk main nylonong az" salah satu temanya yg bernama Tio menjawab" hus ngawor az kamu itu keponakan bos" . si Putra berkata lagi mau keponakan bos mau anak jendral yang namanya masuk rumah trus ada orang harusnya permisi kek apa kek mau nylonong aza. Itu lah awal pertemuan Santi dan Putra dari kata- kata olokan lama lama ada rasa. beberapa bulan kemudian saat santi mau berangkat kulian dia bingung karena orang yg biasa ngantar santi tidak bisa meninggalkan kesibukanya dan akhirnya paman santi meminta putra untuk mengantar santi. Paman santi" Put bisa antar santi kuliah dulu sebelum mulai kerja?"
Putra menjawab" ia bos aku antarkan, mana kunci motornyà?"
Dari situlah berawal kisah di mulai saat sdh sampai di tujuan Putra mita no hp santi dengan alasan nanti pulang kuliah kalau tukang antar jemputnya tdk bisa jemput maka si Putra mau jemput, tanpa curiga si Santi ngasih no hpnya dan dari situ Putra sering kirim pesan ke Santi dan tidak jarang sering telpon telponan kalau putra di kirim keluar kota.
Tidak terasa sudah 8 bln hubungan mereka bukan pacaran tp selalu berkomunikasi dan tidak jarang si Putra mengajak jalan Santi itupun atas ijin paman santi dan suatu ketika bertepatan memjelang kelulusan Santi ada gosip yang mengatakan kalau santi hamil dan akhirnya membuat keluarga santi marah lalu memanggil santi untuk di ajak bicara.
Santi di beri dua pilihan putus dari putra dan nekerja atau menikah sama putra?
Teramat bingung Santi memjawab karena Santi maunya bekerja dan masih bisa berhubungan dengan Putra tp keluarga Santi tidak mau karena mendengar berita yang tidak enak, mau tidak mau santi memutuskan untuk menikah dengan putra. Dengan keputusan itu santi harus pulang ke daerah asalnya di kota B dan akan di susul oleh Putra dan diadakan acara lamaran.
Namum beberapa hari berlalu ternyata si Putra tidak jg kunjung di belikan tiket untuk nyusul santi ke kota B tentunya putra marah dan mogok kerja mau tidak mau paman santi membelikan tiket untuk putra plng ke kota B.
Dalam satu bulan prosesi lamaran dan berlanjut prosesi pernikahan berlangsung. Tiga bulan kemudian Putra membawa kembali Santi ke kota S untuk bekerja tetangga kanan kiri banyak yang membicarakan mereka tp mereka tidak peduli dan membuktikan kalau apa yang mereka bicarakan tidak benar. Tahun ke dua pernikahan lahirlah anak pertama dengan berjenis kelamin laki laki yang di beri nama bagas raka satriawibawa betapa bahagia mereka berdua. Hari hari di lalui dengan bahagia.
Mungkin santi orang yang bodoh atau memang percaya dengan putra dia tidak tahu di belakang santi Putra bermain main dengan banyak perempuan di dunia maya tp tidak berlanjut di dunia nyata sampai akhirnya suatu malam hp Putra meneriama pesan dan di bacalah oleh santi betapa terkejutnya Santi menbaca pesan dari mantan pacar Putra yang masih memanggil putra dengan panggilan sayangnya dulu.
hancur rasanya hati santi tp itu tidak membuat santi hancur justru santi melawang si mantan sampai su mantan tidak berani lg menghubungi Putra lg.
beberapa tahun kemudian pernikahan mereka berjalan 3 thn dan di situ Santi mendapat musibah bapaknya meninggal dan mengharuskan santi pulang ke kota B dan akhirnya santi dan putra beserta anaknya pulang ke kota B untuk menghadiri pemakaman bapaknya santi setelah selesai pemakana merwka pulang kerumah santi.
Di malam hari seetelah selesai acara tahlilah semua keluarga dan tetannga dekat berkumpul membahas bagaimana kedepanya nasib adik santi dan kakek santi, salah satu tetannga santi berkata" pie iki ndok adikmu karo mbahmu ( bagaimana ini ndok adik sama kakekmu?)
santi menjawab" karepku tak gowo neng kota S bik tp mbah wes sepuh ( mau ku tak bawa ke kota S bik tp kakek sudah tua ) dan akhirnya semua memutuskan santi untuk tinggal di kota B merawaat adik dan kakeknya di karena kan Putra tidak memiliki kenalan di sana dia kebingungan saat mau bekerja dan mau tidak mau dia kembali ke kota S untu bekerja tanpa santi dan putranya.
satu bulan......
dua bulan.......
tiga bulan .....
komunimasi tetap terjaga dan baik baik saja tp menginjak bulan ke 5 Putra mulai tergoda dengan perempuan kota S dan lupa dengan santi dan putranya walaupun uang tetap di kirim ke santi.
suatu siang santi mendapat tlp dari Putra" Halo yah ada apa tumben jam segini tlp, enggak kerja kah?
putra menjawa" kerja yank " dan diam beberapa saat dia diam akhirnya dia mau mengungkapkan apa niatnya dia menelpon" yank"," apa yah","ayah mau bicara", " bicara apa yah", " seandainya ayah nikah lagi gimana ayank ngijinin enggak?"
seperti di sambar petir di siang bolong santi memdengar ucapan putra tanpa di sadari menetes air mata santi dan sepontan santi menjawab" menikahlah tp selesaikan dulu urusanmu dengan ku" maksudnya menikahlah tp ceraikan aku dulu
berhari hari santi hanya menangis dan menangis tanpa menghiraukan anak adik dan kakeknya bahkan untuk makan pun santi tidak setiap makan pasti di keuarkan lagi sepertinya badannya menolak.
Karena merasa jengkel sang adik dengan kelakuan kakak iparnya sang adik akhirnya nelpon kakak ipar dan berkata" mas kalau mas cuma mau membunuh mbak ku mas datang ke sini dan langsung bunuh mbak ku jangan di siksa seperti ini" si Putra menjawab" aku enggak nyiksa mbak mu, mbak mu aja yang keras kepala." hari hari berlalu akhirnya putra pulang jg ke kota B menemui santi dan putranya dan berjanji meninggalkan perempuan itu. Di kota B akhirnya putra memulai hidup baru dengan santi waktu berjalan lambat laun akhirmya santi mengandung anak ke 2 setelah si bagas anak pertama berusia 6 thn beberapa bulan kemudian anak kedua lahir berjenis kelamin laki laki dan di beri nama Badai Satriawibawa. Enam bulan setelah kelahiran Badai Putra mengalami kecelakan dan mengakibatkan tangan kananya patah dan tidak bisa pulih lagi dari situlah putra dan santi sering ribut tp santi selalu bersabar menghadi putra dan tidak pernah melawan.
dua tahun kemudian lahirlah anak ke tiga berjenis kelamin perempuan di beri nama Sandrina putri, karena tuntutan ekonomi putra jarang pulang kerumah dia tinggal di hutan untuk mencari kayu dan jual beberapa hari sekali dia pulang untuk menemui anak dan istrinya, mungkin karena merasa lelah setiap kali pulang dia menunjukkan sikap yang mengalami perubahan.