Sore itu, diruang bersantai. Yoga dan teman-teman sekampusnya sedang asik nonton film horor dirumahnya. Sambil ngemil snack dan soft drink yang mereka beli di minimarket. Mereka fokus menonton tanpa menghiraukan keadaan meja yang sudah berserakan oleh sesampahan.
Saat itu Devi, adik Yoga satu-satunya yang hanya terpaut usia 2 tahun. Baru pulang dari kampus. Devi yang sudah merasa lelah oleh mata kuliah dosen yang super killer, kini harus melihat pemandangan yang paling dia benci dirumahnya. Yaitu keadaan rumah yang berantakan.
Devi melempar kepala Yoga dengan gulungan kertas karena jengkel.
Yoga mengusap-usap belakang kepalanya, "Oi Dev! lo kenapa sih?! tiba-tiba ngelempar kepala gua pakai gulungan kertas."
"Kenapa lo bilang?! pikir sendiri dengan otak kosong lo itu!" umpat Devi yang langsung berlari naik ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Yoga melongo dengan tingkah adik satu-satunya itu yang kadang sulit dimengerti. "Apa sih gak jelas banget tuh anak? sialan!"
"Mungkin dia lagi PMS, cewek suka gitu kan marah-marah gak jelas kalau lagi PMS." ujar Robi.
"Mungkin dia baru putus dengan pacarnya. Kan lo tau sendiri dia itu gak pernah bertahan lama kalo pacaran." tambah Reza.
"Emang lo tau, Devi sekarang pacaran dengan siapa?" tanya Arya.
Yoga menggeleng, "Waktu terakhir dia putus dengan pacarnya, gua belum dengar kabar lagi kalau dia punya pacar baru sih."
"Gimana sih lo, lo tau Devi punya pacar jika tahu kabar dari orang lain. Lo kan kakaknya, harusnya lo tahu lebih dulu sebelum orang lain bro." omel Arya.
"Hubungan gua dengan Devi itu sudah berubah, gak dekat lagi seperti waktu SMA. Gua juga gak tahu kenapa, Devi itu selalu ketus dan galak sama gua. Setelah Gua punya pacar di kampus." jelas Yoga.
"Oh gua tahu! jika seperti itu masalahnya, berarti Devi gak mau lo punya pacar. Karena dia sendiri sekarang sedang jomblo. Dia gak mau kalah sama lo." pikir Reza.
Robi mengangguk setuju, "Gua pikir juga begitu." Reza dan Robi saling tos tangan.
"Ehem!" Arya berdeham. "kalau memang begitu masalahnya, boleh gak gua deketin adik lo bro. Mungkin kalau Devi punya pacar baru, dia gakan ketus dan galak lagi sama lo." ujar Arya sambil merangkul pundak Yoga.
Yoga dan yang lainnya terkejut dan melirik ke arah Arya. Arya yang dilirik hanya menyunggingkan senyum kecilnya.
Tak lama kemudian Devi turun dari lantai atas. Dia sudah berdandan sangat cantik sore ini.
"Lo mau kemana lagi? bukannya lo baru pulang ya. Jangan mentang-mentang papa dan mama lagi gak dirumah, lo bisa pergi kemanapun dengan bebas." tanya Yoga heran.
Devi melirik Yoga sinis, "Jadi lo boleh bertindak sesuka lo dirumah, dan gue gak boleh bertindak sesuka gue. Enak banget ya hidup lo. Daripada lo ngurusin kehidupan gue, lebih baik lo bersihin ruangan yang seperti kapal pecah ini." Devi membuang muka dan pergi tanpa melirik kembali ke arah Yoga, saat keluar dari pintu Devi juga membanting pintu dengan cukup keras.
"Ya ampun! Dia itu benar-benar perlu dikasih pelajaran kayanya ya." Yoga beranjak berdiri hendak menghampiri Devi.
"Ga, serahin Devi sama gua. Ok! Percaya sama gua, gua bakalan jaga dia ko. Gua pastiin Devi pulang dengan selamat." Arya tersenyum sambil beranjak pergi sambil memakai sweater berhodi dan tas ranselnya.
***
Devi berjalan di sepanjang trotoar daerah komplek rumahnya. Sambil fokus menatap ponsel. Arya menghentikan motor sport hijaunya tepat disamping Devi.
Devi yang menyadari hal itu, melirik ke arah Arya. Arya membuka kaca helm fullfacenya. Devi tahu wajah dibalik helm fullface itu adalah Arya.
"Daripada jalan sendirian, lebih baik lo ikut gua naik motor. Lo mau kemana? Biar gua anterin sekalian." tawar Arya kemudian.
"Gue mau ke toko buku. Gue gak mau nyusahin orang lain, jadi gue lebih baik pergi sendiri." jawab Devi dengan nada dingin.
"Gua juga mau ke toko buku ko. Ada buku yang mau gua beli buat tugas kampus."
Devi menghela nafas sejenak, "Ya sudah, kalo memang begitu."
Arya tersenyum lega.
***
Yoga yang sedang rebahan di kamarnya, malam hari itu. Terus melihat ke arah jam dinding.
"Devi pergi kemana sih, jam segini belum pulang? Mana gua Laper, pesan makanan dari luar males. Sejak gua makan masakannya Devi gua gak bisa makan makanan lain. Masakan Devi sama dengan masakan mama. Ah...Sial!"
Tak lama kemudian terdengar suara motor di depan rumah. Yoga spontan keluar dari rumahnya. Ternyata Devi pulang bersama Arya. Yoga pikir Devi akan menolak ajakan Arya. Entah kenapa Yoga merasa tidak senang melihat pemandangan ini. Padahal sebelumnya melihat Devi bersama dengan pria manapun, Yoga cuek saja. Apa mungkin karena Arya adalah sahabatnya? dia jadi takut persahabatannya dengan Arya hancur, jika terjadi sesuatu yang buruk apabila Arya dan Devi berpacaran.
Arya membunyikan klakson motornya, lalu pamit pulang tanpa turun dari motornya.
"Keliatannya lo dan Arya habis bersenang-senang ya. Arya itu suka sama lo, makanya dia mau ngebelain nemenin lo jalan." ujar Yoga yang masih berdiri di ambang pintu.
"Oh ya! Arya memang baik sih. Apa gue jadiin dia pacar aja ya?"
"Lo boleh pacaran sama Arya, kalau lo memang punya perasaan juga sama dia. Tapi jika lo hanya mau main-main lebih baik lo gak PHP-in dia. Arya sahabat gua, jadi jangan coba-coba ngancurin persahabatan gua dengan Arya." ujar Yoga tegas.
"Lihat nanti saja deh, minggir donk. Gue mau lewat nih." ujar Devi ketus.
Devi memaksa untuk menerobos masuk sebelum Yoga menghindar. Hal itu membuat Devi menyandung kaki Yoga dan hendak terjatuh. Tapi Yoga dengan refleks menangkap tubuh Devi dan menarik Devi ke pelukannya.
Devi terkejut saat dirinya begitu dekat dengan Yoga. Yang membuat Devi terkejut lagi adalah saat Devi mendengar debaran jantung Yoga yang cukup kencang. Sama halnya dengan debaran yang ia rasakan saat ini.
"Perasaan apa ini? kenapa jantung gue berdebar kencang. Gue dan Yoga itu kakak adik, ini tidak harusnya terjadi kan. Apa yang sebenarnya terjadi pada gue? saat gue mengetahui Yoga memiliki pacarpun kenapa gue merasa kesal?!" ujar batin Devi tidak mengerti.
Devi menengadahkan kepalanya, menatap Yoga yang juga menatap ke arahnya.
"Dev... gua..." lirih Yoga membuat jantung Devi berdebar semakin kencang.
Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan dari perut kosongnya Yoga. "Gua lapar Dev, tolong masakin makanan untuk gua sekarang, Ok! Gua daritadi nungguin lo pulang tau."
Mendengar hal itu Devi tertegun, bisa-bisanya jantung dia berdebar kencang hanya karena Yoga menatap matanya. Dan dia juga tidak percaya, dia sempat berpikir jika Yoga akan mengatakan sesuatu yang mustahil diucapkan oleh Yoga.
"Astaga Devi! sadarlah, lo dan Yoga itu kakak adik, lo mikir apa sih?!" ucap batin Devi kesal.
***
Selesai makan seperti biasa Yoga bagian mencuci piring. Sebagai kakak, Yoga tidak akan bersikap terlalu seenaknya pada Devi. Karena bagaimanapun buruknya sikap Devi padanya saat ini, dia tetap menyayangi Devi. Karena Devi adalah adik satu-satunya yang dia miliki.
Saat Yoga sedang sibuk mencuci piring, Devi duduk di sofa ruang bersantai. Lalu mengambil remote tv yang ada di meja. Lalu pandangan matanya beralih kepada sebuah brosur yang menarik perhatiannya.
Devi mengeryitkan dahinya saat membaca brosur itu. Hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman setelah membaca brosur itu.
"Haah... beres juga kerjaan gua. Gimana, gua kakak yang baik kan? mau membantu kerjaan lo." ujar Yoga bercanda. Tapi Yoga merasa aneh, karena biasanya Devi akan memukul atau melemparnya dengan bantal jika ia bercanda seperti tadi.
Yoga melihat brosur yang ada di tangan Devi. Yoga mengambil brosur itu dengan cepat.
"Kebiasaan lo itu ya, suka baca-baca milik orang lain." kata Yoga.
"Lo mau melanjutkan S2 lo di luar negeri?" tanya Devi tanpa basa basi.
Yoga menelan ludahnya sendiri, entah kenapa dia merasa berat mengatakan tentang kebenaran itu.
"Iya..." jawab Yoga dengan berat hati, ia melihat mata Devi tiba-tiba berkaca-kaca. Hal itu membuat Yoga merasa heran.
"Dev, lo kenapa? bukankah jika gua pergi dari rumah kehidupan lo akan tentram tanpa ada yang mengganggu dan membuat lo jengkel dirumah." tanya Yoga kemudian.
Devi berusaha menahan tangis. "Iya lo memang benar, baguslah jika lo memutuskan untuk melanjutkan S2 lo di luar negeri. Gua harap apa yang lo cita-citakan bisa tercapai jika lo sekolah disana." Devi beranjak pergi meninggalkan Yoga.
Yoga merasa ada yang aneh dengan sikap Devi tadi. Tapi Yoga mencoba menepikan rasa penasarannya. Karena ada satu orang lagi yang harus dia hadapi untuk memberitahukan tentang rencananya itu. Yaitu Mita kekasihnya.
***
Keesokannya Devi membukakan pintu rumahnya. Dia terkejut saat mendapati Yoga yang pulang kerumah dalam keadaan kacau balau. Yoga tampak seperti orang yang frustasi dan mengalami kekecewaan yang besar saat ini.
"Yoga, lo baik-baik aja kan?" tanya Devi malam itu.
Yoga tidak menjawab pertanyaan Devi, dia terus berjalan melewati Devi.
"Lo kenapa sih diam aja? jawab dong pertanyaan gue!" Devi menghalangi jalannya Yoga.
Yoga menatap Devi dengan sorotan mata yang tajam. Ini tidak seperti Yoga yang biasanya, Devi tahu telah terjadi sesuatu pada Yoga.
"Plis Dev, gua lagi ingin sendiri. Jadi lo jangan bertanya apa-apa dulu. Ok!" kata Yoga lalu menyingkirkan Devi dari jalannya.
Devi tidak menyerah begitu saja, dia berjalan kembali menghampiri Yoga yang sudah menaiki beberapa anak tangga.
"Yoga tunggu!" Devi mencekal lengan Yoga kembali, tapi Yoga langsung menepisnya.
"Ahk!!"
Dan hal itu justru membuat Devi terkejut dan hilang keseimbangan. Tubuhnya jatuh menggelinding dan menuruni anak tangga.
"Dev!!" seru Yoga yang langsung berlari menuruni anak tangga.
Yoga langsung melihat keadaan Devi, sepertinya tidak ada luka yang parah, hanya saja lengan Devi terluka karena menggesek anak tangga untuk menahan tubuhnya yang terjatuh tadi.
"Ayo Dev! gua bantu lo duduk di sofa." ujar Yoga kemudian membantu Devi berdiri.
Yoga memapah Devi hingga duduk di sofa, "Tunggu sebentar gua bawakan kotak p3k dulu."
Tak lama kemudian Yoga kembali dan langsung mengobati luka di lengan Devi.
Air mata Devi menetes saat Yoga mengobati lukanya dengan perlahan.
"Sakit ya, sory ya Dev. Gua tadi benar-benar gak bisa mengontrol emosi gua. Gua hari ini sedang kacau. Apa ada bagian lain yang terasa sakit?" tanya Yoga.
Devi menggelengkan kepala sambil menunduk.
"Apa yang membuat pikiran lo kacau?" tanya Devi, membuat Yoga akhirnya mau tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Gua dan Mita putus. Dia tidak mendukung rencana gua yang akan melanjutkan S2 di luar negeri. Dia tidak mau LDR, gua sungguh-sungguh merasa kecewa. Gua sempat berpikir untuk membatalkan rencana gua itu, tapi gua ingin menggapai cita-cita gua. Dan akhirnya gua menerima untuk mengakhiri hubungan gua dengannya." jelas Yoga berusaha tabah sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Menurut gua keputusan lo udah benar, menggapai cita-cita itu memang lebih penting dari segalanya agar masa depan lo lebih baik. Mita bodoh jika ingin putus dengan lo hanya karena jarak. Jangan sedih lagi, masih banyak wanita cantik lain yang menanti lo." ujar Devi menenangkan Yoga.
Yoga menatap Devi lalu dia memeluk Devi sangat erat. "Seandainya lo bukan adik gua, gua pasti akan jadiin lo pacar gua yang selanjutnya." ujar Yoga sedikit bercanda.
Devi tertawa kecil karena candaan Yoga, sejujurnya Devi juga berpikir sama halnya dengan Yoga. Jika saja Yoga bukan kakaknya, dia pasti akan menjadi orang yang sangat bahagia. Karena dia sangat menyayangi Yoga lebih dari saudara.
"Surprise!!" seru mama dan papa yang tiba-tiba membuka pintu dan muncul secara tiba-tiba.
Mama dan papa sangat terkejut saat melihat pemandangan yang mereka lihat. Mereka melihat Devi dan Yoga yang sedang berpelukan.
***
Mama dan papa melipat kedua tangannya di dada seraya menghakimi Devi dan Yoga atas apa yang mereka lakukan tadi.
"Mama sama papa jangan salah paham, tadi kami berpelukan tidak ada maksud apapun. Hanya mencurahkan kasih sayang antara adik dan kakak saja. Karena Devi merasa sedih mendengar aku yang akan melanjutkan S2 ke luar negeri." jelas Yoga melirik Devi.
Devi mendelik pada Yoga, "Sudahlah Yoga, jangan berbohong. Sebenarnya Yoga itu sedang frustasi karena baru putus dengan pacarnya Mah.. pah.. Dan dia memelukku untuk menenangkan dirinya. Dia juga mengatakan hal konyol lainnya." ujar Devi.
"Hal konyol apa itu?" tanya mama.
"Katanya andai saja aku bukan adiknya, dia akan menjadikanku pacar yang selanjutnya. Konyol sekali yoga kan mah pah." kata Devi tertawa kecil.
Mama dan papa terkejut dan saling menatap. Lalu mereka saling menganggukan kepala. "Sepertinya ini sudah waktunya kalian mengetahui sesuatu yang sudah lama papa dan mama rahasiakan. Mungkin kalian harus tahu ini."
"Sebenarnya kalian bukanlah kakak beradik kandung." lanjut papa. Membuat Devi dan Yoga terkejut mendengar hal itu.
"Maksud papa apa?" tanya Devi dengan bibir bergetar.
Papa dan mama saling menatap kembali.
Kali ini mama yang berbicara. "Sebenarnya kami akan merahasiakan ini selamanya, tapi kami rasa kalian harus tahu."
"Ya, melihat kejadian kalian berpelukan tadi. Kami rasa apa yang kalian rasakan saat itu, semata bukan perasaan saudara semata." tambah papa.
"Mama tau hal ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Karena kalian sudah tinggal bersama sejak kecil hingga kini beranjak dewasa. Perasaan sayang yang kalian rasakan itu berbeda dengan perasaan sayang adik kakak yang sebenarnya." jelas mama.
"Jika kami bukan kakak beradik kandung lalu apa hubungan kami?" tanya Yoga penasaran.
"Kalian tidak ada ikatan darah, hanya satu oranglah anak kandung mama dan papa yang sebenarnya. Yaitu Devi."
Mendengar hal itu Yoga dan Devi terkejut.
Mama menggengam kedua tangan Yoga, "Yoga, kamu sebenarnya bukan anak kandung mama dan papa. Mama dan papa mengadopsimu dari panti asuhan. sejak kamu masih bayi."
"Papa dan mama minta maaf karena baru mengatakan yang sebenarnya sekarang. Walaupun kamu adalah anak angkat papa dan mama. Kami tetap menyayangimu seperti halnya anak kandung kami sendiri." jelas papa.
Mama menangis, sambil menatap Yoga. "Mama mohon kamu jangan marah ya nak. Bagi mama kamu adalah anugerah terindah yang tuhan berikan untuk mama dan papa. Karena berkatmu, mama yang awalnya sulit untuk mempunyai anak, akhirnya dapat mengandung dan melahirkan Devi."
Yoga tidak bisa berkata apapun, kini hatinya yang semula mulai tenang kini bertambah kacau kembali.
Yoga beranjak berdiri, "Aku pergi mencari angin segar dulu di luar." ujar Yoga lalu pergi keluar rumah.
***
Devi pergi keluar rumah mencari keberadaan Yoga. Devi yakin Yoga tidak pergi jauh dari rumah. Karena motor sportnya masih berada di halaman parkir.
"Yoga...lo pergi kemana? jangan bikin semua orang dirumah cemas donk..." gumam Devi khawatir.
Devi melirik ke arah taman bermain anak-anak di sekitar komplek, ternyata Yoga berada disana sedang rebahan di bangku taman itu.
"Yoga!" panggil Devi.
Yoga yang menyadari namanya disebut, langsung beranjak bangun dari rebahannya dan segera menghapus air matanya.
Devi berlari dan langsung duduk disamping Yoga sambil memeluknya.
"Dev..."
Devi melepas pelukannya lalu menatap kedua mata Yoga. "Lo kenapa nangis?" tanya Devi sambil menghapus sisa air mata yang ada di bawah mata Yoga.
"Siapa yang nangis?" Yoga memalingkan wajahnya.
"Lo nangis, jangan mengelak." kata Devi tegas.
Devi menarik wajah Yoga agar menghadap kembali ke arahnya. "Lo sedih kan karena lo bukan anak kandung mama dan papa. Gue ngerti perasaan lo, gue juga bakal sedih jika gue yang ada di posisi lo saat ini. Tapi gue merasa lega jika tahu ternyata gue dan lo tidak ada ikatan darah. Itu berarti perasaan yang selama ini gue rasain sama lo itu bukanlah sesuatu yang salah. Cinta yang gue rasain sama lo itu bukanlah cinta terlarang." ujar Devi sambil menatap kedua mata Yoga.
"Lo cinta sama gua?" tanya Yoga heran.
Devi mengangguk, "Awalnya gue sempat frustasi karena hal itu, gue pikir gue itu udah gila. Karena gue cinta kakak kandung gue sendiri, yaitu elo."
Yoga berpikir sejenak, "Jadi itu juga alasan kenapa lo berubah menjadi galak dan jutek sama gua sejak gua pacaran sama Mita."
Devi menggangguk sambil tersipu malu.
Yoga tersenyum kecil, "Astaga, betapa konyolnya kita. Jujur saja gua juga sempat punya perasaan aneh sama lo. Gua pernah berdebar karena lo."
"Gue tau, gue pernah mendengar debaran jantung lo."
"Oh ya!" seru Yoga terkejut.
"Lo bilang jika gue bukan adik kandung lo. Lo mau jadiin gue pacar lo. Apa kata-kata itu masih berlaku?" tanya Devi serius.
Yoga terkejut mendengar itu, "Memangnya lo mau jadi pacar gua?" tanya Yoga.
"Tentu saja, gua udah terlanjur cinta sama lo." jawab Devi.
"Lo mengerti kan jika lo jadi pacar gua, itu artinya hubungan kita akan LDR."
"Gue akan nunggu lo, kita kan masih bisa kontakan walaopun hanya lewat ponsel."
Yoga memeluk Devi erat. "Sepertinya gua juga jatuh cinta sama lo..." lirih Yoga di telinga Devi.
Yoga melepas pelukannya, mereka berdua saling menyatukan kening, lalu akhirnya menyatukan kedua bibir mereka. Sebagai bukti bahwa hati mereka telah disatukan.
~The end~
Jangan lupa beri hati dan kasih komen ya untuk miss, agar miss lebih semangat untuk bikin banyak cerpen untuk kalian semua.. 😘