Malam yang sunyi terlihat seorang gadis cantik tengah meringkuk memeluk kedua lututnya, rasa dingin dan tangisnya membuat suasana menjadi haru.
Gadis ini tidak tau lagi harus ke mana, tubuhnya gemetar karena kedinginan ia mulai mengingat lagi bagaimana nasibnya, ayah dan ibunya meninggal dunia pagi tadi karena kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya.
Ayah dan Ibunya meninggalkan akibat di tabrak truk yang melintas saat itu, mereka berdua terpental jauh ke jalan raya, darah segar bercucuran dan kedua korban meninggal di tempat.
“Hiks ... hiks ... Ayah, Ibu kenapa secepat ini meninggalkan aku sendirian, aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk pergi,” gumam gadis itu menangis.
Kakinya sudah tidak kuat untuk berjalan kembali ke rumah, rumah yang mereka kontrak dan seminggu lagi ia harus membayar kontrakan jika tidak maka ia akan di usir.
Ada sebuah mobil mewah melintas dan berhenti tepat di depannya, sontak berpikir yang tidak-tidak takutnya mobil itu adalah mobil penculikan.
“Siapa itu, kenapa berhenti disini jangan-jangan, penculik ...” gumamnya.
Seseorang turun dari mobil itu, membuat gadis cantik ini tambah ketakutan. Tapi, sebuah Heels merah keluar dan tampaklah seorang perempuan yang kira-kira sudah memasuki usia kepala tiga.
“Hai, kenapa kamu berjongkok disini? Apa kamu ada masalah?” tanyanya lembut.
“Sa-saya tidak apa-apa,” jawab gadis cantik, sepertinya ketakutan.
“Jangan takut, aku tidak akan melukaimu kok, siapa namamu?”
“Aisyah.”
Setelah itu Aisyah diajak pergi oleh perempuan itu dengan menggunakan mobilnya, awalnya Aisyah menolak karena takut tetapi wanita itu terus menerus meyakinkan bahwa dirinya adalah orang baik-baik saja.
Akhirnya Aisyah menurut dan ikut bersama wanita yang bernama Marina itu, Aisyah bingung ke mana mereka akan pergi.
“Dimana rumahmu Aisyah?” tanya Marina.
“Oh, jalan depan sana belok kiri dan belok kanan, setelah itu lurus aja.”
Ternyata perempuan cantik dan elegan ini hendak mengantar Aisyah pulang, setelah beberapa menit tibalah mereka di rumah kontrakan Aisyah.
“Kamu mengontrak Aisyah?”
“Iya Bu.”
Marina sepertinya tau kenapa Aisyah seperti tadi di pinggir jalan, mungkin karena kematian orang tuanya yang baru saja, Marina mengetahui itu karena melihat papan kematian di depan rumah Aisyah.
Sebelum Aisyah ingin pamit, Marina menahannya dan mengajak Aisyah untuk tinggal saja bersamanya tapi Aisyah menolak dengan alasan enggak mau merepotkan keluarga Marina. Marina mencari ide lain untuk tetap membawa Aisyah pergi dan tinggal di rumahnya, Marina menawarkan perkerjaan untuk Aisyah yaitu menjadi pengurus di rumahnya dengan begitu Aisyah tidak merepotkan.
Aisyah akhirnya mengalah pada Marina, tidak enak juga dirinya menolak ajakan dari Marina. Setelah satu jam perjalanan mereka sampai di sebuah perumahan yang menurut Aisyah sangat mewah, rumah Marina terlihat lebih mewah dibandingkan dengan rumah-rumah lainnya.
“Ayo turun, kita bicara di dalam,” ajak Marina, Aisyah pun menuruti dan mengikuti langkah kaki Marina.
Aisyah menatap kagum melihat semua peralatan di rumah Marina, serba mewah mungkin Aisyah tidak akan bisa membeli itu semua.
Marina menghentikan langkah kakinya, di sebuah ruangan mungkin kamar tidur.
Aisyah di minta untuk masuk dan meletakkan barang-barang yang ia bawa dari rumah.
“Ini kamar kamu Aisyah, besok kamu sudah boleh kerja,” jelas Marina.
Marina terlihat kelelahan dan pamit pada Aisyah untuk istirahat dan meminta Aisyah memasak bubur ayam untuk makanan besok, jika tidak bisa minta tolong saja pada Bibi Ina.
Besoknya Aisyah bangun pagi-pagi sekali untuk membantu para pembantu lainnya, dan memasak makanan yang di pinta oleh majikannya yaitu Marina.
“Saya Aisyah, saya pembantu baru dan sekarang di minta untuk memasak Bubur Ayam,” jelas Aisyah pelayan lainnya hanya tersenyum sambil ikut memperkenalkan diri
Aisyah yang dari dulu di tuntut untuk bisa masak dan lainnya menjadi sangat mudah melakukan perkerjaan memasak, bubur ayam adalah masakan sehari-hari tidak mungkin ia tidak bisa. Dengan lihai Aisyah me masukkan bumbu ke dalam panci. Semua orang yang melihat itu tersenyum kagum, karena tidak banyak anak berusia semuda Aisyah bisa memasak selihai itu.
Aisyah merapikan meja makan dan menyusun makanan dengan teratur, Aisyah dulunya gadis yang periang dan murah senyum mungkin semenjak kepergian ibu dan ayahnya membuat Aisyah jarang lagi ceria dan cerewet seperti dulu.
Sepertinya Marina sudah bangun dan menghampiri Aisyah yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Aisyah, kamu sudah memasak?” tanya Marina kaget.
“Iya Nyonya,” jawab Aisyah.
Terlihat dua orang lelaki turun dari lantai atas, yang satu mungkin sudah berumur kepala empat, dan satunya terlihat masih sangat muda mungkin seumuran dengan Aisyah, sangat tampan bagi Aisyah.
“Mah, siapa dia?” tanya lelaki tampan itu.
“Oh sayang, perkenalan ini Aisyah pembantu baru, dan Aisyah kenalin ini anak Tante namanya Devano,” ujar Marina memperkenalkan Aisyah dengan putranya.
“Hai, saya Aisyah.”
“Devano.”
Mereka memakan makanan yang dibuat Aisyah, mereka kagum dengan masakan Aisyah.
Sebulan sudah Aisyah di rumah Marina, Aisyah semakin dekat dengan Devano karena Marina yang selalu mencoba membuat Aisyah dekat dengan Devano, mereka sekolah pun bersama. Devano sepertinya mulai menyukai Aisyah karena keterampilan Aisyah dalam memasak dan melayani apa pun kebutuhan Devano, seperti menyiapkan pakaian, memasak, merawat ketika sakit dan banyak hal lain.
Di sekolah Aisyah di padangan orang-orang dengan pandangan tidak suka dan iri, karena kedekatan Devano dan Aisyah, Devano di kenal cuek dan dingin terhadap para wanita yang mendekatinya tetapi malah menghebohkan sekolah terhadap kedekatan Aisyah dan Devano.
“Udah enggak perlu dipikirkan, gue senang bersahabat dengan lo,” ujar Devano sambil tersenyum, Devano seperti mendapatkan kebahagiaan jika dekat dengan Aisyah begitu juga dengan Aisyah.
“Iya, Vano kemarin ada seorang cewek bilang kalo dia pacar kamu dan minta aku menjauhi kamu,” jelas Aisyah, mengingat kejadian kemarin.
“Aku tidak pernah memiliki pacar, jika pun ada aku maunya sama kamu!”
“Hah?”
“Iya, aku mencintaimu Aisyah mau, maukah kamu menikah dengan aku.”
Devano melamar Aisyah di depan banyak orang, semua siswa melongo tidak percaya, cowok idaman mereka melamar seorang Aisyah, cewek berkerudung dan cantik itu.
Aisyah yang mulai menyukai Devano menggangukkan kepalanya menerima Devano, kebahagian mereka di mulai saat itu. Marina yang mendengar berita itu menjadi sangat senang, ia tau Aisyah anak yang sangat baik dan pintar.