Namaku Ani, umurku 19 tahun. Aku baru lulus sekolah, aku selalu pusing mencari pekerjaan kesana kemari. Setiap pagi aku harus mendengar omelan ibuku yang menyuruhku untuk mencari pekerjaan, Aku mempunyai empat saudara kandung. satu kakak laki-laki dan dua adik perempuan.
"Mau kemana Ani?" tanya Wulan temanku.
"Mau cari kerjaan," jawabku dengan nada yang sangat ketus.
Sebenarnya aku iri dengan Wulan, karena aku selalu marah kepada Wulan. Wulan sangat beruntung.. karena lulus sekolah dia sudah mendapatkan pekerjaan. Wulan satu sekolah denganku, seumuran dan teman sepermainan denganku.
"Kenapa jawabanmu sangat ketus seperti itu, An?" tanya Wulan yang melihat wajahku sangat jutek padanya.
"Jelas aku jutek lah, kau saja sdh kerja 2-3 bulanan, lha aku.. 2-3 bulan ini masih nganggur. mondar-mandir cari kerjaan, apalagi tiap hari. Tiap pagi aku sudah dapat sarapan gerutuan dari ibuku. Ya jelas aku jutek lah, kamu aja dapat pekerjaan tapi aku belum. Aku tiap hari capek mendengar gerutuan ibuku," jawabku kepada Wulan.
"Oh ya, mau nggak kamu kerja di tempatku? katanya di tempatku ada lowongan kerjaan, tapi jadi tukang bersih-bersih sama seperti ku," tanya Wulan kepadaku.
Saat mendengar perkataan Wulan, betapa bahagianya hatiku. aku berharap gerutuan di pagi hari yang seperti nyanyian panas di telingaku dari ibuku, akan lenyap seketika.
"Benarkah?" tanyaku kepada Wulan.
"Tentu, kamu mau nggak?" tanya Wulan balik kepadaku.
"Tentu aku mau," jawab ku dengan semangat.
Kemudian aku berbicara dengan sopan dan lembut kepada Wulan, walaupun tadi aku berbicara dengan nada yang sangat sinis kepada temanku itu. memang Wulan tidak pernah sakit hati dengan perkataan ku, walaupun aku sering mencacinya atau menyindir dirinya. Namun aku takut kalau gara-gara hal itu dia tidak akan mau untuk memberikan pekerjaan kepadaku.
"Sebentar lagi aku tunggu di rumah ya, kau bawalah pakaian ganti. Karena aku yakin kau akan langsung diterima," ucap wulan kepadaku. betapa bahagianya pagi ini, aku seperti mendapatkan hidayah, anugerah dan rezeki yang sangat berlimpah.
Aku kemudian berlari pulang untuk mencari Ibu, aku tidak akan pernah mendengar gerutuan ibuku Saat di pagi hari. Aku membuka pintu rumahku dengan sangat kasar. terlihat ibu yang ada di ruang tamu kaget karena aku membuka kamar dengan sangat kasar.
"Apa yang kau lakukan Ani, Apakah kau tidak tahu kalau ibu ada di rumah. Kau membuka pintu saja sangat keras, Kau ingin membunuh ibu ya!" seru Ibu kepadaku. dengan suara yang sangat keras, aku tidak peduli.. aku langsung berlari ke dalam kamar dan mencari pakaian untuk bekerja.
Sesaat kemudian.. aku keluar dengan menenteng tas ransel dan kemeja yang aku pakai dengan tergesa-gesa. Ibu melihatku dengan tatapan yang aneh, kemudian dia bertanya padaku.
"Apa yang sedang kau lakukan, kau mau kemana?" tanya ibu kepadaku.
"Aku mencari pekerjaan Bu," jawabku yang kemudian menarik tangan ibuku dan berlalu pergi sambil mencium tangannya. Ibu berteriak tidak tahu apa yang dia katakan, aku berlari secepat kilat menuju tempat Wulan.
Aku berharap di tempat Wulan bener-bener akan ada pekerjaan, karena aku ingin bekerja secepat mungkin.
Saat aku berlari, ternyata aku bertemu Wulan di jalan raya.
"Wulan!" seruku kepada Wulan.
"Ani," jawab Wulan.
"Apakah kita akan langsung berangkat ke tempat kerjamu?" tanyaku kepada Wulan.
Akhirnya aku dan Wulan berangkat ke tempat kerja Wulan, di sebuah hotel yang tidak terlalu besar, yang mungkin bisa dibilang Hotel tingkat menengah.
Aku diterima di tempat tersebut. Hari ini aku mulai bekerja hari pertama sampai hari ketujuh, Aku bekerja bersama Wulan kami bercanda bersama bergurau dan saling berbagi cerita. pada hari ke-8 akhirnya aku dan Wulan sama-sama ditugaskan untuk membersihkan sebuah kamar dan kamar Itu adalah nomor 99.
"Oh ya Wulan, apakah ini benar kamarnya?" tanyaku kepada Wulan.
"Benar," jawab Wulan.
"Kamar ini pintunya saja kenapa sangat dingin ya?" tanyaku kepada Wulan.
"Apa benar?" jawab Wulan sambil menempelkan tangannya di pintu kamar nomor 99.
"Sudahlah, sebaiknya kita bersihkan kamar ini. jangan terlalu banyak bertanya," ucap Wulan kembali.
Akhirnya aku dan Wulan membersihkan kamar nomor 99 itu, sesaat kemudian... tiba-tiba serasa ada yang menarik rambutku, memang rambutku tidak terlalu panjang. Hanya sebahu.
"Wulan jangan menarik rambut seperti itu! sakit tahu!" seruku kepada Wulan.
"Siapa yang menarik rambutmu?" tanya Wulan kepadaku.
"Dari tadi kau menarik rambut ku tahu!" seruku kepada Wulan.
"Mana tanganku aja disini, rambutmu disana. mana mungkin aku sampai," jawab Wulan.
Akhirnya aku menatap Wulan di seberang tempat, nggak mungkin juga dia bisa menarik rambutku. jarak kami saja hampir 2 m. sesaat kemudian.. aku masuk ke sebuah kamar mandi, nampak di sana kamar mandi itu terkunci.
"Wulan! Memangnya kamar mandinya dikunci?" tanyaku kepada Wulan.
"Tidak tahu," jawab Wulan.
"Wulan sini!" seruku kepada Wulan.
Karena tiba-tiba bulu kudukku merinding, malam semakin larut. Entah mengapa waktu serasa sangat cepat, satu kamar saja kami bersihkan, hampir sampai malam hari.
"Sudah selesai belum, An?" tanya Wulan kepadaku.
"Belum tuh, kamar mandinya belum dibersihkan," jawabku kepada Wulan.
"Ayo kita bersihkan. Setelah itu kita pulang!" seru Wulan kepadaku. aku dan mula membersihkan kamar mandi tersebut. Entah mengapa saat kami berada di kamar mandi itu, serasa ada seseorang yang terus mengawasi kami.
"Kok bulu kudukku merinding, ya." ucap Wulan kepadaku.
"Iya," jawab ku.
Sesaat kemudian, tiba-tiba ada seseorang yang seperti menarik tangan Wulan.
"Jangan menarik tanganku, dong!" seru Wulan kepadaku.
"Mana mungkin aku menarik tanganmu, lowong aku aja di sebelahmu," jawabku kepada Wulan.
"Jangan bercanda," ucap Wulan padaku.
"Tidak," jawab ku.
Sesaat kemudian, terasa ada sepasang mata Yang Melihat kami.
"Wulan, kau merasa tidak. ada yang menatap kita?" tanyaku kepada Wulan.
"Iya," jawab Wulan.
Saat malam telah tiba, karena pak manager menyuruh kami berdua untuk lembur.. akhirnya aku dan Wulan mengerjakan pekerjaan membersihkan kamar mandi itu. saat di tempat tersebut, ada sesuatu yang aneh. entah benar atau tidak, serasa Ada sosok bayangan hitam yang ada di tempat kami.
"Kita keluar yuk, perasaanku tidak enak," ucap Ani kepadaku.
"Iya, Ayo." jawab Wulan kepada Ani.
Saat kami berdua ingin membuka pintu kamar mandi tersebut, entah apa yang terjadi. tiba-tiba kamar mandi itu sudah terkunci, entah terkunci dari luar atau apa Yang jelas kami berdua terkunci di dalam kamar mandi itu.
"Kok bisa terkunci!" seruku kepada Ani.
"Tidak tahu," jawab Ani.
Tiba-tiba bulu kuduk kami merinding, sesaat kemudian. ada sesuatu yang sangat mengerikan yang muncul dari kloset kamar mandi tersebut. sesosok wanita yang sangat pucat, muncul dengan kepala pertama kali, rambutnya yang sangat hitam legam. Dengan mata yang hitam dan kelopak matanya juga hitam.
"Kya!!" kami berdua berteriak.
Terlihat sosok yang sangat mengerikan, seorang wanita bukan-bukan sosok hantu yang sangat mengerikan. Entah apa yang terjadi, setelah saat melihat hantu itu.. kami berdua langsung pingsan kami tidak tahu apa yang terjadi, saat pagi telah tiba. Kami sudah berada di ruang kesehatan di penginapan tersebut.
"Apa yang terjadi dengan kita?" tanyaku kepada Ani.
"Entahlah," jawab Ani.
Saat kami saling beradu pandang, tiba-tiba ingatan kemarin malam muncul kembali. dan nampak dari belakang punggung seorang dokter yang memeriksa kami, bayangan hitam dengan wajah yang sangat jelas. Terlihat Hal itu membuat aku dan Ani langsung berteriak dengan sangat keras.
"Kyaaa!!"
Setelah kejadian itu, saat kami bekerja di penginapan tersebut.. kami selalu menghindari dan tidak mau untuk membersihkan kamar nomor 99. Namun, tetap saja sosok hantu itu terkadang menampakan wujudnya dihadapan kami. Hal itu membuat aku dan Wulan sering pingsan dadakan.
**Apakah aku akan terus melihat hantu itu jika bekerja disana, ataukah aku harus berhenti dari tempat itu?**
** END **