Flash back on...
Namaku Michelle. Aku ingin menceritakan kisah ku saat usiaku baru 7 tahun. Tentang sebuah perasaan terhadap seseorang yang baru ku sadari saat Aku telah kehilangan nya. Namun saat ini Aku sudah bahagia bersamanya. Dan Aku sangat beruntung bisa memiliki nya.
*****
Aku memiliki sahabat yang sangat baik. Bernama Rain. Ia selalu menyayangi ku, melindungi ku, Aku sayang padanya. Hingga pada suatu hari, Aku bermimpi buruk tentang nya. Aku bermimpi ia meninggalkan ku. Ia pergi tanpa ku ketahui sebabnya. Aku sangat sedih saat itu. Namun Aku tetap berfikir positif. Menganggap kalau itu hanyalah mimpi yang tak mungkin menjadi kenyataan. Rain sangat menyayangi ku. Mengapa ia harus pergi?. Pikir ku saat itu.
Aku mencoba melupakan mimpi buruk itu. Namun pada suatu malam, Aku kembali memimpikan nya. Aku merasa takut dan gelisah. Lalu pada suatu hari Aku memutuskan untuk menceritakan mimpi ku kepadanya.
Ia tertegun mendengar cerita ku. Ia tiba-tiba melamun dan terdiam. Aku yang menyadari sikap aneh nya sempat berfikir kalau ia akan benar-benar menunggalkan ku.
Karena ingin mendapatkan kepastian, Aku ingin dia berjanji kepadaku
"Kamu janji ya. Gak akan tinggalin Aku." Aku mengangkat jari kelingking ku. Namun ia tak menggubris ucapan ku. Ia malah sibuk melamun memikirkan sesuatu yang tak Aku ketahui.
"Kamu gak mau janji sama Aku?!". Ucapku kesal.
Ia terlihat salah tingkah
"I..... Iya.... Aku janji sama Kamu." Jawab nya kemudian. Ia menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking ku.
Aku merasa senang sekaligus lega mendengar jawabannya. Setidaknya Aku mendapat kepastian darinya.
Aku mulai bisa melupakan semua mimpi buruk itu. Terlebih Rain sudah berjanji kepadaku. Aku mencoba mempercayai nya. Namun entah mengapa hati kecil ku meragukan nya.
Beberapa hari berlalu. Hari ini adalah hari ulang tahun ku. Papa membuat pesta ulang tahun kecil-kecil an di rumah.
Aku mengundang teman-teman sekelas ku dan beberapa guru yang mengajar di sekolah ku.
Pesta ulang tahun telah berakhir. Hampir seluruh tamu undangan telah pulang ke rumah masing-masing. Ya. Hampir semua. Karena 2 tamu istimewa ku belum pulang. Dua orang itu adalah Bu Clarince, calon pengganti Mama baru ku yang meninggal 2 tahun lalu dan Rain sahabatku.
Aku, Rain, bu Clarince, dan Papa asyik berpose. Mengabadikan momen yang belum tentu bisa terulang kembali.
Aku dan Rain berpose dengan gaya yang unik dan nyeleneh. Setelah Aku dan Rain berpose, giliran Papa dan bu Clarince yang berfoto. Papa dan bu Clarince terlihat seperti anak muda yang tengah kasmaran. Aku haya bisa tertawa kecil melihat tingkah keduanya.
Hari berganti malam. Aku tengah duduk di tepi ranjang sambil membuka kado kado pemberian tamu undangan. Kado yang pertama kali ku buka adalah kado dari Papa.
Sebuah kalung emas yang indah menjadi kado nya. Aku memakai kalung indah itu. Kalung itu memiliki hiasan berupa huruf M dan sebuah simbol ❤ di sampingnya. Kata Papa, kalung itu memiliki makna tersendiri untuk ku. Hiasan huruf M di kalung indah itu adalah namaku. Michelle. Dan, simbol ❤ di kalung itu menandakan bahwa Aku adalah milik Papa. Kesayangan nya Papa. Cinta nya Papa. Aku berjanji akan selalu mengenakan kalung itu dan menjaga nya dengan sebaik mungkin.
Aku membuka kado pemberian dari Rain. Sebuah gelang kaki yang indah menjadi kado yang diberikan nya untukku. Aku mengenakan gelang kaki itu. Nampak sangat indah di kaki mulus ku. Aku memutuskan untuk memakainya saat bermain dengan Rain di akhir pekan. Rain pasti menyukai nya.
Malam berganti pagi. Aku sangat semangat bangun pagi ini. Setelah mandi, Aku langsung menyantap sarapan buatan bi Syifa tanpa basa-basi. Setelah selesai, Aku duduk di kursi panjang, di sebuah taman depan rumahku.
Rain datang. Aku dan Rain memutuskan untuk bermain di taman terindah kita. Ya taman terindah. Sebenarnya taman itu adalah taman umum yang baru di buka. Karena tidak memiliki nama dan masih sepi oleh pengunjung, jadi Aku dan Rain menamai nya sebagai taman terindah.
Aku baru menyadari jika sedari tadi Rain membawa sebuah tas kain berwarna hitam. Entah apa isi nya. Perasaan ku mulai tidak enak. Aku benci warna hitam. Saat Mama meninggal, semua orang yang datang ke rumah ku kompak memakai baju hitam-hitam. Menurut ku, hitam itu adalah warna yang menyimbolkan kesedihan.
Sepanjang perjalanan menuju taman, Rain yang biasanya banyak bicara mendadak terdiam dan jarang berbicara. Ada apa dengan nya?. Aku hanya bisa menyimpan pertanyaan yang memenuhi otak ku di dalam hati. Aku harap ini bukanlah sesuatu yang buruk.
Aku dan Rain duduk di kursi taman terindah kita. Rain terlihat memangku tas kain berwarna hitam itu di atas paha nya.
Aku menelan ludah kasar. Feeling ku mengatakan kalau ada yang tidak beres dengan semua ini. Ada apa?.
"Chi. Mulai besok, Aku gak bisa main lagi sama kamu." Rain tertunduk lesu.
Aku masih tidak mengerti ucapannya.
"Kamu mau kemana? ada acara keluarga?." Tanya ku.
Rain menggeleng lemah.
"Aku gak bisa main lagi sama kamu karena mulai nanti malan Aku harus pindah dari sini. Mommy ada kerjaan di paris. Dan Aku sama Mommy akan di paris lama. Kata Mommy, Aku sama Mommy gak akan balik kesini lagi." Jelas nya.
Aku terkejut. Air mata berlinangan di pipi ku. Aku tak menyangka mimpi buruk itu akan menjadi kenyataan. Bukannya Rain sudah berjanji kepadaku?. Bagaimana dengan janji itu?.
"Kamu cuma sebentar di sana kan. Gak akan lama kan?."
Rain menggeleng.
Lutut ku mendadak lemas. Aku menangis sesenggukan.
Rain menghapus jejak air mata yang mengalir disana.
"Kamu janji ya sama Aku. Kamu gak boleh nangis kalau Aku pergi. Aku gak bisa pergi kalau kamu nangis terus". Pinta Rain.
Aku mengatur nafas ku. Mencoba menetralkan nafasku yang terputus-putus.
'Ya. Aku tidak boleh nangis. Rain pasti akan kembali. Aku tak akan kehilangannya selamanya. Ini pasti hanya sementara'. Pikirku saat itu.
Rain tersenyum lega.
Ia mengambil sesuatu dari saku jaket hitam nya. Sepasang gelang berwarna senada ia keluarkan dari sana. Gelang itu berwarna biru muda dengan masing masing hiasan setengah hati berwarna merah gelap di kedua gelang nya. Rain memakaikan gelang itu di pergelangan tanganku.
"Aku beli gelang ini kemarin dekat sekolah. Lucu deh. Gelangnya ada hiasan hati nya. Kalau disatuin....." Rain menyatukan hiasan hati di gelang nya dengan hiasan hati di gelang ku.
Ceklekk......
Kedua hati itu menjadi satu.
"Jadi satu deh hati nya." Rain tersenyum ke arah ku. Namun dari sorot mata nya terlihat kalau ia sangat sedih. Itu ditandakan dengan mata nya yang memerah. Seperti nya habis menangis.
Rain mengambil isi dari paper bag hitam tersebut. Sebuah kotak berwarna merah terlihat di dalamnya. Ia mengeluarkan kotak merah itu, Dan membuka nya. Sebuah buku Diary dan sebuah bando berwarna biru tua bermotif buntang dengan beberapa gambar tetesan air itu tampak indah.
Aku merasa bandana itu memiliki arti mendalam untuk kita berdua. Karena nama panjang ku adalah MICHELLE BINTANG AURORA. Sedangkan nama panjang Rain adalah RAINSYAH DEVANO PRATAMA. Mungkin itu adalah simbol dari nama kita berdua. Kata Mommy Rachel, ( Mama Rain ) memberikan nama Rain yang memiliki arti hujan karena beliau berharap, susu saat nanti Rain bisa membawa kebahagiaan dan keberkahan dalam hidupnya. Layaknya hujan.
Rain memakaikan bando itu di kepalaku. Menghiasi rambut panjang ber poni ku.
"Chell.... Nanti kalau sudah besar, kamu mau kan jadi pengantin ku?." Pinta Rain polos.
Aku yang masih polos dan tak mengerti apa-apa akhirnya mengangguk setuju.
Lalu, ia mengambil buku Diary dan menaruh nya di atas paha ku.
"Buku diary ini bisa jadi kenang-kenangan buat kamu. Kamu bisa cerita apa aja sama dia." Jelas nya.
Aku hanya bisa menyimak dan mendengarkan. Rasa sedih masih berkecamuk di dalam hati ini.
Rain mengeluarkan dua buah kertas dengan warna yang berbeda, terbungkus dengan plastik transparan. Ia menaruh kertas itu di atas buku diary, tepatnya di atas paha ku. Lalu ia mengeluarkan dua buah pulpen dan memberikan pulpen satu nya kepadaku.
"Kamu tulis apapun tentang Aku di kertas ini. Dan Aku juga akan tulis apapun tentang kamu. Kalau besar nanti, Aku dan Kamu akan kembali lagi ke taman ini, dan kita akan baca surat kita masing-masing.
'Aku harap, suatu hari nanti, Aku sama Rain bisa main bareng lagi. Main sepeda, berenang bareng, sekolah bareng, Aminnn'. Tulisku di kertas itu.
Air mata kembali mengalir di pipi ku. Aku menoleh sejenak ke arah Rain yang sedang asyik menulis entah apa itu. Mengapa air mata ini selalu keluar di waktu yang kurang tepat. Aku tak ingin membuat Rain sedih. Aku menghapus jejak air mata yang tersisa disana. Rain terlihat tersenyum senyum sendiri. Tanpa ku tahu apa sebabnya. 'Jangan-jangan Rain nulis yang aneh-aneh tentang Aku?'. Pikirku.
Rain melipat kertas berwarna biru muda nya menjadi dua lipatan. Ia memasukkan kertas biru muda itu ke dalam plastik kecil pembungkus nya.
"Udah?." Tanya nya.
Aku melipat kertas berwarna merah muda ku menjadi dua lipatan, lalu ikut memasukkan nya ke dalam plastik pembungkus.
"Ayo." Ajak nya.
Tanpa meminta persetujuan ku, Rain menggandeng tangan ku. Aku dan Rain berdiri dari kursi taman dan berjalan meninggalkan kursi taman. Rain mesin menggandeng tangan ku. Memastikan Aku mengikuti nya. Kami berhenti tepat di sebuah pohon bunga mawar yang indah. Mawar merah itu mermekaran. Rain mengambil sebuah ranting pohon kecil yang tergeletak tak berdaya di atas tanah. Ia menggali sebuah lubang yang tidak terlalu dalam, dengan ranting kayu itu tepat di depan pohon bunga mawar yang bermekaran itu. Ia berjongkok mrmbelakangi ku. Aku hanya bisa memperhatikan nya sambil bertanya-tanya. Lagi, air mata kembali mengalir membasahi pipi ku. Mengapa Aku mudah sekali menangis?. Apa yang membuat air mata ini tak berhenti mengalir?. Aku mencoba menguatkan diri dan menguatkan hati. Lalu segera menghapus air mata itu, sebelum Rain melihat nya.
Lubang yang tak terlalu dalam itu berhasil di gali.
"Mana kertas nya Chell?." Pinta nya.
Aku memberikan kertas merah muda itu kepada Rain. Rain juga mengambil kertas biru muda yang dikantongi nya lalu mengubur nya di dalam lubang. Ia menimbun kertas di dalam lubang itu dengan tanah. Dengan tangan yang kotor, ia berdiri dan tersenyum puas menatap ku.
Brakkk......
Aku membanting pintu kamar dengan keras, dan mengunci nya dari dalam. Aku menangi sesenggukan di dalam kamar. Papa yang sedang mengerjakan sisa tugas kantor nya kaget mendengar bantingan pintu dariku, bi Syifa yang juga sedang mencuci beberapa peralatan masak kotor juga ikut terkejut.
Papa menghentikan sejenak pekerjaan nya
"Michelle kenapa bi?." Tanya Papa pada bi Syifa.
"Bibi gak tahu tuan." Jawabnya.
Papa menghampiri kamar ku.
Tok..... Tok..... Tok......
Papa mengetuk pintu kamarku keras.
"Michelle. Buka nak. Kamu kenapa?!." Tanya nya khawatir.
Tak bisanya sikapku berubah seperti ini. Aku termasuk anak yang sangat ceria dan hampir tak pernah menangis.
Awalnya Aku mengacuhkan ketukan pintu itu. Namun semakin lama, ketikannya semakin keras dan tak berhenti. Aku tak boleh seperti ini. Papa tak tahu apa-apa. Tak seharusnya Aku membiarkan Papa khawatir karena semua sikap ku.
Aku mengehela nafa panjang. Aku harus kuat di depan Papa. Aku tak boleh cengeng.
Ceklekk. ....
Papa ber jongkok di harapan ku. Ia membelai wajah ku yang lengket karena air mata. Kekhawatiran terlihat dari wajah teduh nya.
"Kamu kenapa sayang. Cerita sama Papa."
Brukkk.....
Aku menangis sesenggukan di pelukan nya. Papa menggendong ku ke kamar dan mendudukkan ku di tepi ranjang.
"Kamu kenapa sayang?. Kenapa nangis?."
Aku menunduk. Mencoba mengumpulkan keberanian ku.
"Ra.....in.... per.....gi pa...." Ucapku terbata-bata.
"Rain pergi kemana sayang?. Kenapa kamu nangis?."
"Ka..... ta Ra....in.... mo....mmy.... Rac....hel.... a.....da ker...... ja....an di pa.....ris. Ra....in..... a.....kan... ting....gal.... di..... sa..... na...... dan gak..... akan...... ba.....lik..... la..... gi.........". Suara ku hampir habis. Aku mencoba menyatukan potongan-potongan kalimat. Namun tak bisa.
"A.... pa..... Ra....in gak ma...u ke...te....mu la....gi... sa....ma.... a....ku.... pa.."
"Kamu jangan nangis ya. Rain sayang sama kamu. Pasti dia akan sering main ke rumah kita kok. Cup. Jangan nangis lagi ya." Papa menguatkan ku.
Mendengar kalau Rain akan sering mengunjungi ku, Aku menghapus air mata ku.
"Bener Pa. Rain akan sering main kesini?."
"Iya sayang.". Jawab Papa menyakinkan.
Aku tersenyum senang mendengar jawaban Papa. Aku berhenti menangis. Aku yakin Papa taak mungkin berbohong kepadaku.
Flash back off.....
9 tahun berlalu. Hari-hari yang ku jalani tanpa nya begitu hambar. Aku lebih menutup diri dari pergaulan dan dunia luar. Papa sudah mencoba berbagai cara agar Aku kembali seperti dulu tapi Aki tak bisa. Hari ini adalah hari ulang tahun ku. Hari yang menurutku sudah tak berarti lagi samenjak ia meninggalkan ku.
"Happy birthday Baby!." Ucap sahabatku. Laurencia. Laurencia adalah anak dari sahabat almh. Mama. Sejak Rain pergi, Papa mencoba mendekatkan ku pada Laurencia. Awalnya Aku menolak untuk bermain dengannya. Namun Laurencia terus memaksaku hingga akhirnya Aku luluh.
"Thank you Lauren." Ucapku.
Aku merasa sangat sedih. Air mata mengalir di kedua pipi ku.
"Cup. Jangan nangis. Lo pasti inget sama sahabat lo itu kan?." Tanya Lauren lagi.
Aku mengangguk.
"Eh. Si Arland mana ya. Kok gak keliatan sih. Gak tahu apa kalau sahabat nya lagi ulang tahun. Malah gak muncul batang hidung nya." Lauren menampilkan wajah kusut nya.
"Lagi ada rapat osis katanya. Sebentar lagi juga balik. Tadi dia nyuruh gw tunggu sebentar." Jawabku.
Laurencia mengangguk paham.
Sebuah Lamborghini hitam berjalan memasuki halaman cafe. Lamborghini itu parkir dengan gagah nya.
Seorang remaja laki-laki tampan keluar dari mobil itu dan masuk ke dalam cafe.
Brukk......
Laki-laki itu memeluk ku.
"Happy birthday girls." Ucapnya.
"Thank you Arland." Jawabku.
Arland adalah anak nakal. Tetangga ku dulu. Arland kecil sangatlah menyebalkan. Ia selalu melakukan hal-hal yang tak ku sukai. Mulai dari mengikuti ku ke kantin. Memaksa ku untuk bermain bersamanya. Hingga masuk ke toilet perempuan dan diteriaki sebagai bencong alias laki-laki jadi-jadian. Awalnya Aku tidak memperdulikannya. Hingga pada akhirnya kesabaran ku mulai habis dan Aku memebentaknya. Sejak saat itu, Arland tak lagi mengikuti ku. Hanya mengawasi dari kejauhan.
"He'em. Udahan dong pelukannya. Gw punya ide. Karena Michelle ulang tahun, gimana kalau kita makan-makan. Michelle yang traktir. Oke?."
Laurencia menggerakkan alisnya naik turun. Meminta persetujuan ku.
"Ok. Siapa takut. Gw traktir!." Ucapku semangat.
"Yeyy...". Arland dan Laurencia kegirangan.
**********
"Makasih ya traktiran nya. Lo baik dehhh..." Laurencia mengusap pipi ku.
"Giliran ada maunya aja lo baik. Dasar!." Jawabku.
Laurencia mengedipkan matanya kepada Arland. Memberikan kode yang hanya mereka berdua dan tuhan ketahui.
"He'em. Arland. Ada yang mau diomongin gak ke Michelle?."
Arland terlihat salah tingkah.
Aku menyeruput jus alpukat ku hingga habis.
"Mau ngomongin apaan sih?." Tanya ku penasaran.
"Eng....." Arland gugup.
"Apaan. Cepet ngomong." Titah Laurencia.
Aku memperhatikan interaksi keduanya, dengan alis yang mengkerut.
"Sebenarnya......." Arland menggenggam tangan ku.
Aku melotot. Melihat tindakannya.
"Gw pengen nanya sama lo. Lo..... Mau gak jadi pacar gw?." Ucapnya perlahan.
Aku membelalakkan mata mendengar ucapannya.
1 detik......
2 detik....
"Arland. Gw minta maaf. Tapi..... Gw gak bisa jadi pacar lo. Ada suatu hal yang buat gw gak bisa nerima lo. Suatu saat nanti, gw pasti akan bilang semuanya. Tapi gak sekarang. Sekali lagi, gw minta maaf sama lo."
Arland tertunduk lesu mendengar penolakan dariku.
Ia menarik nafas panjang.
"Yaudah gak pa-pa. Gw ngerti perasaan lo. Kalau lo gak mau cerita alasannya juga gak pa-pa. Mungkin lo masih perlu waktu buat ngomong semuanya sama gw." Jawabnya.
Aku merasa bersalah padanya. Ingin rasanya Aku menerima Arland. Dia anak yang baik. Namun entah mengapa bagian dalam diriku mengatakan kalau Aku tak bisa menerima nya. Aku sudah nyaman menganggap nya sebagai teman. Tak lebih.
Aku menggenggam tangan Arland. Arland seketika mendongakkan kepalanya dan menatapku.
"Makasih buat pengertian lo. Dan, gw juga minta maaf karena gak bisa buat hubungan kita lebih dari sekedar sahabat. Gw udah nyaman sama status kita bertiga sekarang. Dan. Gw harap. Lo jangan minta lebih ya. Lo lupain gw. Gw gak mau buat lo kecewa." Aku merasa menjadi manusia paling jahat sedunia. Aku bisa merasakan perasaan Arland yang pasti sangat sakit hati mendengar ucapanku. Bahkan mungkin tak mau lagi berteman dengan ku.
Arland tersenyum kecil.
"Santai aja kali Chell.... Gw gak pa-pa kok. Bener yang lo bilang. Gak seharusnya gw minta yang lebih sama lo. Toh. Dengan kita temenan. Gw udah seneng. Lo gak usah ngerasa bersalah gitu." Jawabnya. Ia berusaha menampilkan senyumannya yang menurutku palsu. Ia pasti sangat sakit hati.
Arland menggenggam tanganku.
"Tapi..... Bolehkan gw minta sesuatu sama lo?." Tanya nya ragu-ragu.
"Lo mau minta apa?. Selagi menurut gw masih wajar. Insyaallah gw bisa turutin." Arland tersenyum cerah.
"Izinin gw buat selalu ngejaga lo."
Aki terhenyak mendengar permintaannya.
"I.... Iya... Lo kan temen gw. Sesama temen emang harus saling menjaga kan?." Ucapku gugup.
Arland mengangguk semangat.
"Hm.... Udah yuk. Kita pulang. Udah sore. Nanti di cariin bokap sama nyokap." Pinta ku.
"Ayo." Ajaknya. Tanpa neminta persetujuan ku, Arland menggandeng tangan ku meninggalkan cafe dan Laurencia di dalam nya.
Laurencia hanya bisa tersenyum dari balik pintu cafe yang transparan.
*****
Singkat cerita, sesampainya di rumah, Aku disambut pelukan hangat dari Michella. Adik kecilku yang berumur 7 tahun. Anak dari Papa dan Mommy Clarince. Mama tiri ku. Aku bahagia memiliki keluarga seperti mereka. Mommy Clarince Nampu menjadi Mommy yang luar biasa untukku. Ia tak pernah membedakan kasih sayang antara Aku dengan Michella. Jarak umurku dan Michella 10 tahun. Cukup jauh memang. Namun Aku sangat menyayanginya sebagai adik kandung. Bukan adik tiri.
Mobil Lamborghini keluaran terbaru terparkir di garasi rumah. Hadiah ulang tahun dari Mommy dan Papa untukku. Sebenarnya Aku tidak membutuhkannya. Aku lebih senang pergi menggunakan ojek online atau taksi. Namun Aku menghargai pemberian mereka. Aku terlahir dari keluarga orang kaya. Papa adalah seorang pengusaha kaya raya. Sejak kecil, Aku tinggal bersama Mama dan Papa di sebuah perumahan elit yang terletak di ibukota negara Indonesia. Yakni Jakarta. Aku, Papa, dan Mama. Kita adalah keluarga yang sangat bahagia. Sampai akhirnya, Mama meninggal saat usiaku baru 6 tahun. Aku sangat sedih kerena nya. Aku menjadi tak bersemangat dan malas untuk bersekolah. Namun Papa menguatkan ku. Papa bilang Mama pasti akan marah kalau tahu Aku terus bersedih dan tak ingin sekolah. Sejak saat itu, Aku berjanji pada Papa dan diriku sendiri untuk menjadi anak yang baik dan pintar. Itu semua kulakukan agar Mama bangga dan bahagia di surga.
Setelah lulus dari taman kanak-kanak, Papa memasukkan ku ke sekolah favorite yang ada di Jakarta. Sekolah itu sangat berbeda dibandingkan sekolah pada umum nya. Semua siswa di sekolah itu memakai barang-barang branded yang pasti sangat mahal. Namun tidak denganku. Aku lebih memilih menjadi diriku sendiri. Aku lebih memilih memakai barang-barang yang bagus namun tak mahal. Bagiku semua barang itu sama. Tak ada bedanya dengan barang yang murah.
Semuanya berjalan normal. Pada awal semester satu di kelas 1 sekolah dasar, Aku mengenal Rain. Laki-laki kecil tampan yang memiliki darah blasteran yang menurun dari neneknya. Perkenalan kami berlangsung singkat. Sifat Aku dan dia yang sama-sama humoris dan mudah bergaul membuat kami bisa akrab dengan cepat. Aku dan Rain bersahabat. Banyak sekali hal-hal indah yang kita lalui bersama. Tempat-tempat indah. Kejutan-kejutan kecil. Aku merasa nyaman bermain bersamanya. Sampai pada suatu hari kabar buruk nenimpa ku dan mengancam persahabatan kita. Dia berjanji akan kembali. Dan Aku mempercayainya hingga detik ini.
Jujur. Sampai sekarang. Aku masih merindukannya. Masih mengharapkannya. Aku terlambat menyadari semuanya. Terlambat menyadari kalau dialah sumber kebahagiaan dalam hidup ku.
5 tahun kemudian ......
5 tahun berlalu. Kini Aku sudah menjadi wanita karir yang sukses. Aku mencoba membuka beberapa bisnin butik yang tak ku sangka semakin berkembang dan saat ini memiliki keuntungan yabg berlipat. Aku bisa memperoleh uang ratusan juta setiap bulannya. Dan membahagiakan Papa dan Mommy dengan segala prestasi ku.
Singkat cerita. Suatu hari kami bertemu. Dia yang saat itu sudah dijodohkan dengan anak seorang pengusaha yang tak lain dah tak bukan adalah rekan bisnis di perusahaan keluarga nya. Motifnya tak lain dan tak bukan adalah untuk menjadikan perusahaan keluarga lebih berkembang dengan cara yang tak halal. Rain menolak mentah-mentah keinginan sang Mommy. Mengetahui hal itu, Aku sempat mempunyai pikiran untuk menyerah memperjuangkan nya. Aku berusaha untuk menjauh darinya dan melupakan nya. Namun usahaku sia-sia. Kemanapun Aku bergi, Rain selalu bisa menemukan ku. Dia memohon agar Aku kembali padanya dan memperjuangkan cinta kita. Dilema menghantui ku. Aku sangat mencintai nya. Dan akhirnya. Aku memutuskan untuk bergandengan tangan dengannya. Memperjuangkan cinta kita.
Semuanya tak berjalan mulus. Musibah sering kali datang menghampiri. Mencoba menghancurkan benteng cinta kami. Namun kami tak gentar. Aku dan Rain sadar kalau kita harus bahagia. Dan kebahagiaan itu patut di perjuangkan. Rain selalu menguatkan ku. Meyakinkan ku kalau ia akan selalu ada untuk memperjuangkan cinta kita. Dan Aku percaya padanya.
Tak terhitung berapa bantak rintangan yang kita lalui. Mulai dari pertentangan orang tua Rain. Adanya orang ketiga diantara kita. Dan banyak lainnya. Selama itu pula kami mencoba bertahan. Mommy dan Papa sudah tahu mengenai hal ini. Mereka selalu mendukung ku dan menguatkan ku. Bahkan mereka turut andil untuk mempersatukan Aku dan Rain. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga seperti mereka. Papa dan Mommy selalu yakin kalau Rain bisa membuat ku bahagia.
Hingga pada suatu hari, Rain memiliki ide gila. Ia mengajak ku untuk menikah dengan nya tanpa diketahui orang tua nya. Aku menentang keras pemikiran nya. Namun Rain kembali meyakinkan ku bahwa semua akan baik-baik saja. Karena rasa cinta yang buta telah memenuhi otak ku, akhirnya Aku menuruti keinginan nya.
Suatu malam Aku membicarakan hal ini dengan Mommy dan Papa. Mereka terkejut mendengar keputusanku. Awalnya mereka melarang ide gila itu. Namun Aku memohon hingga akhirnya mereka luluh dan menyetujui keinginan ku.
Hari pernikahan berlangsung secara sederhana di sebuah rumah terpencil yang terletak di pinggiran kota. Walaupun sangat sederhana dan tergolong tak lazim, namun Aku tetap bahagia. Aku mencium punggung tangan Rain yang saat ini sudah resmi menjadi suami ku. Pendamping hidup ku.
"I Love You sayang." Bisiknya di telinga ku.
"I Love You to my Husband." bisik ku lagi.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Mommy Rain mengetahui semua ini. Ia lantas membawa orang suruhannya untuk untuk memisahkan kita berdua. Rain dan Aku tidak tinggal diam. Kami memutuskan untuk pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu sebelum pasukan Mommy Rain memisahkan kita.
Beberapa bulan kemudian......
Setelah kejadian itu, Aku dan Rain memutuskan untuk pergi dari Jakarta dan memutuskan untuk tinggal di Lampung. Mudah saja bagi Rain untuk melakukan semua itu. Dengan uang tabungan nya yang bernilai ratusan milyar melakukan hal seperti itu semudah membalikkan telapak tangan.
Rain sampai rela melepaskan semua kekayaan yang selama ini di genggam nya demi cinta kita berdua. Sebagai seorang istri yang sangat mencintai nya. Aku sangat mendukung keputusan nya. Dengan susa uang tabungan yang dimiliki, Aku dan Rain mencoba membuka perusahaan kami sendiri. Memulai semuanya dari nol.
Berkat kegigihan dan ketekunan kita berdua dalan menjalankan bisnis ini, alhasil bisnis ini semakin berkembang hingga memiliki ratusan cabang dimana-mana. Aku dan Rain sangat bangga dengan pencapaian yang kita dapat. Kebahagiaan kami semakin lengkap saat Aku mengandung anak Rain. Aku mengandung anak kembar!. Kami senang sekali. Rain melarangku untuk melakukan aktivitas berat apalagi bekerja. Jadilah Aku seorang ibu rumah tangga sekarang.
Seorang istri yang hanya melayani suaminya. Namu Aku bahagia menjalani kehidupan ku sekarang. Sangat bahagia.
Namun cobaan kembali datang menghampiri. Pada suatu hari, Aku sedang ber jalan-jalan pagi. Di usia kandungan ku yang sudah memasuki bulan ke 8, Aku mulai sering kewalahan melakukan aktivitas yang ringan. Pagi itu Rain yang biasanya menemaniku mendadak ada dapat dan terpaksa tak bisa menemani ku. Aku mengerti kondisi nya. Akhirnya Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri di sekitaran komplek.
Aku tak menyadari kalau seseorang sedang mengawasi ku untuk melakukan rencana jahat nya. Merek berniat untuk mencelakai Aku dan bayi kembar ku!.
Sebuah mobil melaju kencang di belakangku. Dengan cepat mobil itu membentur tubuhku hingga Aku jatuh ke aspal dan berlumuran darah. Di tengah kondisi ku yang seperti itu Aku masih sempat melihat seorang wanita keluar dari mobil. Namun karena penglihatan ku yang mulai kabur Aki tak bisa memastikan siapa orang itu. Lalu Aku tak sadarkan diri.
**********
Aku terbangun dengan seluruh tubuh yang sangat sakit. Rasa nyeri menjalar di setiap inci tubuh ku. Suami tercinta ku berada di samping ku. Ia tidur dengan posisi duduk dan sebelah tangan nya menggenggam tangan ku. Aku memperhatikan ruangan ini. Apa Aku sedang di rumah?. Tapi sepertinya tidak. Bau khas rumah sakit tercium di ruangan ini. Itu berarti. Aku di rumah sakit?.
Aku memutar kembali ingatan ku. Aku baru ingat kalau seseorang dengan sengaja menabrak kan mobil nya kepadaku.
Kedua tangan ku yang lemah meraba perut ku. Memastikan bayi kembar ku masih berada di sana. Namun nihil. Mereka sudah tidak ada disana. Dimana mereka?. Pikiran buruk mulai menguasai ku.
"Sayang!." Panggil ku pada suami ku. Air mata mengalir di kedua pipi ku.
Rain terbangun. Ia nampak terkejut melihat Aku yang sedang menangis meraung-raung.
"Sa.... Sayang. Kamu kenapa nangis?!." Tanya nya panik.
"Anak kita kemana sayang?!. Anak kita kemana?!. Dimana dia?!. Dia baik-baik aja kan?!." Tanya ku histeris.
Rain menggenggam tangan ku. Memberikan kekuatan untuk ku.
"Jawab sayang!!!. Dimana anak kita?!." Aku semakin menjadi. Kesedihan ku semakin memuncak.
"Kamu pengen lihat anak kita?."
Aku mengangguk
"Dimana dia sayang?." Suara ku mulai melemah.
**********
Rain membawaku ke sebuah ruangan. Terdapat kaca transparan yang menjadi pengganti tembok itu. Di dalam nya terdapat banyak sekali bayi. Aku heran mengapa Rain membawaku ke tempat ini. Apakah anak kami masih hidup?.
Aku dan Rain berhenti di tepat di depan 2 buah ranjang bayi, yang saling berdekatan. Aku meraba permukaan kaca itu.
"Itu anak kita." Ucap Rain. Senyum bahagia tercetak di wajah tampan nya.
Mata ku berkaca-kaca. Tak kusangka anak ku masih hidup. Ia mampu bertahan demi kedua orang tua nya.
"I.... Itu anak kita mas?." Tanya ku.
Rain mengangguk.
"Ja.... Jadi. Anak kita masih hidup?."
"Iya sayang. Anak kita masih hidup. Mereka berdua bertahan demi kita. Orang tua yang menyayangi nya. Mereka harus di rawat intensif karena lahir perematur. Selamat sayang. Kamu sudah melahirkan anak yang sangat Cantik. Kita berdua sudah menjadi orang tua. I love you Mommy."
Rasa bahagia menyelimuti ku. Aku memeluk suami ku dengan erat. Menyalurkan kebahagiaan ku yang meluap-luap. Mereka masih hidup. Mereka sangat cantik. Perpaduan sempurna antara wajah Rain yang bule dan wajah ku yang manis.
"Terima kasih ya sayang. Kamu sudah melahirkan mereka ke dunia. Aku sangat menyayangi mu." Mata Rain berkaca-kaca. Kemudian ia menangis. Menangis bahagia.
"Sama-sama mas."Aku menggenggam tangan Rain.
"Siapa nama mereka mas?."
"Nama mereka Gabriella Chantika Putri Devra dan Rabiella Kezia Putri Devra."
Rain menunjuk satu-persatu box bayi itu, sambil memberitahu nama mereka.
"Nama yang canti sayang."
Aku merasa senang kedua putri ku mendapatkan nama yang indah itu.
"Cantik. Seperti Mommy nya." Puji Rain. Aku mencubit lengannya. Lengan Rain yang tertutup otot tak mampu merasakan cubitan dariku. Ia terkekeh geli.
**********
Seminggu setelah kejadian itu, Aku, baby Gabriel, dan baby Rabiel diperbolehkan pulang. Rain juga tak memperbolehkan ku untuk melakukan pekerjaan berat. Semua diurus oleh asisten rumah tangga. Aku hanya perlu fokus mengurus ketiga nya. Kedua permata indah ku dan satu pangeran tampan ku. Rain juga sudah memberi tahu dalang dari balik peristiwa mengerikan itu. Dalang nya adalah Mommy Rachel. Mommy mertua ku. Ibu dari suami ku. Aku ikhlas menerima nya. Tak ada sedikit pun niat ku untuk membalas nya apalagi membenci nya. Menurut ku hal yang dilakukan nya semata-mata karena ingin Putra nya mendapatkan yang terbaik untuk nya. Namun perkiraan nya ternyata salah. Awalnya Rain sangat dendam dan membenci ibu nya. Namun Aku membujuknya hingga ia mau memaafkan Mommy Rachel sepenuh hati.
Kini. Aku sudah bahagia memiliki mereka. Gabriel, Rabiel, dan Rain adalah anugrah terindah yang di berikan tuhan untuk hidup ku. Aku berjanji akan selalu menjaga mereka dan mencintai mereka dengan hati dan jiwa ku.
SELESAI