Matahari senja sudah mulai menenggelamkan dirinya di ufuk barat, terlihat seorang pemuda sedang merasakan hangat sinarnya matahari senja. Namun, wajahnya terlihat sedih.
"Mungkin sampai kapan pun gue gak akan pernah bisa liat matahari senja lagi," ucapnya, ia terlihat stress dengan semua yang ia alami, tangan kirinya meraba ke tangan kanannya yang kini sudah diamputasi.
"Dan mungkin, sampai kapan pun tangan kanan gue gak akan pernah balik lagi," keluhnya. Tak terasa setetes air mata mengalir di pipinya.
"Iqbaaaal!!" Seorang gadis mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
"Alia?!" Iqbal (nama pemuda itu) mengenal suara orang yang memanggilnya, kemudian ia menghadap ke gadis yang memanggilnya itu.
"Lo kenapa?" tanya Alia.
Iqbal hanya diam, ia terlihat murung dan putus asa. Alia yang melihat setetes air mata yang mengalir di pipi Iqbal, langsung saja menghapus cairan bening yang luruh dari kelopak mata pemuda itu.
"Apa 'lo masih mikir tentang kecelakaan itu?!? Bal, udah lah!!! Gue gak tega liat 'lo murung terus begini!" ucap gadis itu lembut.
"Lo gak tau gimana perasaan gue, rasanya gue mau bunuh diri!!! Gue udah capek sama cibiran-cibiran orang. Lagi pula nyokap gue juga udah gak perduli sama gue. Andai aja kecelakaan itu gak terjadi, mungkin badan gue masih sempurna sampe sekarang. Elo tau? Dua tahun hidup tanpa tangan kanan dan tanpa lensa mata itu gak enak, Alia," ujar Iqbal yang terlihat sangat stress. Namun, tiba-tiba Alia memeluk Iqbal.
"Lo gak usah peduliin apa kata orang, cibiran-cibiran itu cuma bikin 'lo stress, Bal. Gue yakin walaupun fisik 'lo udah gak sempurna, tapi hati dan pikiran 'lo sempurna, Bal. Gue gak tega liat 'lo murung begini, gue tau emang gak gampang hidup tanpa bisa liat dan tanpa tangan kanan, dan gue tau itu rasanya gak enak banget. Gue tau itu Bal, dengerin gue! 'Lo gak usah sedih terus gini, masih ada kok orang yang peduli sama 'lo, Bal. Gue sayang sama lo," ucap Alia yang sangat begitu merasakan kesedihan yang dialami Iqbal, ia merasa terharu dan menangis hingga air matanya menetes di pundak pemuda itu. Lalu Iqbal pun membalas pelukan gadis itu dengan sebelah tangannya.
"Makasih ya, kalo 'lo masih peduli sama gue," ucap Iqbal, ia tidak dapat menjawab apa pun dan entah apa bentuk perasaannya saat ini. Iqbal pun melepas pelukan itu, ia mulai meraba ke arah wajah Alia, ia mengetahui bahwa gadis itu menangis karena terharu, kemudian berusaha menghapus air matanya.
"Gak ada yang perlu ditangisin, 'lo gak usah nangis Alia, harusnya lo senyum. Gue mau 'lo senyum di depan gue, walaupun gue gak bisa liat senyum manis 'lo pake mata ini. Tapi asal 'lo tau, hati gue bisa ngerasain manisnya senyum 'lo," ucap Iqbal seraya tersenyum dan Alia pun membalas senyuman lelaki di hadapannya itu.
"'Lo paling ahli yaa kalo soal ngegombal," sahut gadis itu seraya mencubit kecil pipi Iqbal.
"Gue gak gombal, gue jujur dari hati," balas Iqbal penuh percaya diri.
"Bisa aja 'lo." Alia tersipu malu.
Kemudian tangan Iqbal meraba ke arah rambut Alia lalu mengacak-acak rambut gadis itu.
*Di sisi lain*
"Project ini harus kita jalanin, desain bangunan lab udah selesai, mungkin butuh beberapa hektar nantinya," ucap Cassie sambil melebarkan sebuah kertas.
"Bagus Cass, kalo 'lo udah punya desainnya, kita tinggal ratain tanah Jakarta buat project kita. Gue udah siapin pesawat buat pengeboman," sahut Bryan.
*malamnya*
Iqbal terbaring tak sadarkan diri di meja eksperimen, terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang memeriksa sebuah tangan besi yang baru saja selesai ia buat selama 2 tahun. Ia menyempurnakan fungsi tangan besi itu, tangan besi yang terlihat sangat sempurna dan sangat mirip dengan tangan asli. Setelah memeriksa tangan besi itu, ia pun memeriksa sepasang lensa buatan dan menyempurnakan fungsinya. Ternyata selama 2 tahun ia bekerja keras membuatkan kedua benda canggih itu untuk Iqbal, mungkin selain membuat Iqbal tidak stress lagi, ada tujuan tersendiri mengapa ia membuatkan benda itu untuk Iqbal.
Setelah selesai memeriksa kedua benda tersebut, ia pun berbalik dan menatap putranya yang terbaring tak sadarkan diri di meja eksperimen itu. Ia kemudian membelai rambut pemuda itu.
"Maaf ya kalo selama ini kamu ngerasa gak diperduliin sama bunda, selama ini bunda bekerja keras bikin tangan besi dan lensa buatan buat kamu, semoga tangan besi juga lensa buatan itu berfungsi baik dan kamu bakal tau apa tujuan bunda bikin tangan besi dan lensa mata itu, hanya semata-mata agar kamu tidak bersedih lagi. Jujur bunda gak tega liat kamu sesedih itu," ucap ibunda Iqbal panjang lebar.
Tiba-tiba ....
TOK!!! TOK!!! TOK!!!
Suara Pintu laboratorium yang diketuk oleh seseorang terdengar oleh ibunda Iqbal. Wanita paruh baya itu pun segera membuka pintu. Ternyata yang mengetuk pintu laboratorium adalah seorang dokter bedah yang datang bersama beberapa orang perawat untuk melakukan operasi pemasangan tangan besi dan lensa buatan untuk iqbal.
"Silahkan masuk dokter!" ujar Ibunda Iqbal.
"Apa operasinya sudah bisa dimulai, professor?" tanya dokter itu.
"Sudah siap dokter," jawab Ibunda Iqbal singkat.
"Baiklah kita langsung mulai saja operasinya," ujar dokter itu, hingga kemudian mereka pun mempersiapkan alat-alat operasi dan memulai operasinya.
*2 hari kemudian*
Iqbal membuka matanya, kini ia dapat melihat langit-langit rumahnya, ia pun melihat benda-benda di sekitarnya.
"Apa ini mimpi??" gumamnya bertanya-tanya dalam hati.
Ia pun menoleh ke sebelah kiri, ia melihat ibunya yang sedang tertidur di sebelahnya dengan keadaan masih memakai baju laboratorium dan terlihat sangat kelelahan. Iqbal pun duduk, ia menoleh ke arah tangan kanannya. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya yang masih agak kaku. Kemudian ia pun memandangi tangan kanan itu. Tanpa Iqbal sadari, lensa yang dipakainya menyala dan tembus pandang ke tangan kanan Iqbal terlihat besi-besi kecil dan beberapa kawat yang menyerupai otot normal di tangannya.
"Apa bunda ya yang bikin ini buat aku??" tanyanya kepada dirinya sendiri seraya menoleh ke arah ibunya yang masih tertidur pulas. Ia pun mencium pipi ibunya.
"Makasih bunda," ucapnya pelan.
Tak lama ibunda Iqbal bangun dari tidurnya.
"Udah bangun, Nak?" tanya ibunda Iqbal tersenyum.
"Bunda bikin ini buat Iqbal?" tanya Iqbal sambil melihat tangan kanannya.
"Iya sayang," jawab Ibunda.
Tiba-tiba Iqbal memeluk ibunya.
"Makasih ya bunda." Iqbal merasa terharu dengan kerja keras ibunya.
"Sama-sama nak, bunda cuma gak mau bikin kamu sedih terus, maaf ya kalo selama ini kamu ngerasa gak diperduliin sama bunda, selama ini bunda bikin tangan besi dan lensa buatan buat kamu."
Ibunda Iqbal kemudian memeluk dengan erat dan mengelus rambut anaknya itu, ia terlihat begitu menyayangi Iqbal.
"Gak apa-apa kok bunda, itu gak masalah buatku. Yang penting bunda masih inget aku, walaupun bunda sibuk," jawab Iqbal sambil melepas pelukannya.
"Sekali lagi makasih banyak bunda," ucapnya lagi.
"Sama-sama sayang," jawab Ibunda Iqbal dengan senyum yang terukir di bibirnya.
*sorenya*
TOK! TOK! TOK!
Iqbal mengetuk pintu rumah Alia, tak lama kemudian pintu pun terbuka.
"Iqbal?! a-ada apa?! Gue baru aja mau pergi," ucap Alia.
"Yaah ... 'lo mau pergi ke mana?" tanya Iqbal.
"Salsha ngajakin gue hangout di cafe depan," jawab Alia. Namun ia melihat seperti ada yang sedikit berbeda dengan Iqbal. Kemudian ia menyadari bahwa tangan kanan Iqbal kini sudah ada. Tapi, Alia belum mengetahui bahwa mata Iqbal sudah berfungsi normal, karena Iqbal menggunakan kacamata hitam.
"Baal! Tangan lo?!" Seraya mengerutkan dahi, Alia baru menyadari itu.
"Iya, tangan gue diganti pake tangan besi, nyokap gue bikinin ini buat gue," jawab Iqbal, tiba-tiba pemuda itu memeluk Alia.
"Alia, makasih ya, 'lo udah nyemangatin gue, selalu support gue," ucap Iqbal yang disambut dengan senyuman Alia dipelukan Iqbal.
"Sama-sama bal, gue cuma gak tega liat 'lo sedih terus," jawab Alia. Kemudian Iqbal pun melepas pelukannya.
"Dua tahun tanpa lensa mata itu gak enak ya, gue jadi gak bisa liat senyum manis 'lo, tapi sekarang-." Iqbal menjeda ucapannya lantas ia membuka kacamata yang menutupi netranya.
"Gue udah bisa liat senyum manis 'lo. Ternyata, 'lo makin cantik ya," ujar Iqbal.
"Ih ... apaan sih bal? 'Lo gombal deh," jawab Alia tersipu malu dengan kedua pipi yang mulai merona.
"Gue bersyukur, gue masih bisa hidup sampe sekarang, dan gue bersyukur punya sahabat sebaik dan secantik elo," ucap Iqbal mengulas senyum.
"Nah ... gitu dong, jangan sedih terus. Gue seneng kalo liat 'lo seneng," sahut Alia sambil mengacak-acak rambut Iqbal. Pemuda itu pun hanya tersenyum.
"Ya udah, sekarang 'lo ikut gue aja ke cafe depan. Salsha pasti gak sendirian di sana," ajak Alia.
"Boleh," jawab Iqbal singkat.
"Ya udah, yuk berangkat!" ajak Alia sekali lagi.
*Cafe*
Salsha sedang duduk menunggu Alia datang. Ia menoleh ke arah pintu cafe, di sana ia melihat Aldi dan Rizky baru saja sampai di sana, sepertinya Salsha juga mengajak mereka hangout.
"Aldi!!!" panggil Salsha sambil melambaikan tangan.
"Itu dia, Ki!" ucap Aldi, lalu mereka pun mendekati Salsha.
"Hey!" Aldi dan Rizky melakukan tos dengan Salsha
"Elo sendirian, Sha? Emang 'lo gak ngajak temen lain ya?" tanya Aldi lalu duduk di sebelah Salsha dan Rizky pun mengikuti duduk di depan Salsha.
"Gue ngajak Alia kok, tapi gak tau deh dia dateng apa nggak, dari tadi belum dateng juga," jawab Salsha.
"Salsha!!" panggil seseorang.
Salsha kemudian menoleh ke arah pintu, lalu melambaikan tangan kearah Alia yang terlihat sedang bersama Iqbaal berjalan mendekat ke arahnya.
"Hey Bal! Lama gak ketemu, apa kabar?" tanya Rizky.
"Keliatannya gimana? Sehat-sehat aja, 'kan?" jawab Iqbal.
"Hahaha ... iya deh, 'lo emang paling strong deh." Rizky mengajak Iqbal tos, dan mereka pun melakukan tos.
"Aww ...." Rizky pun seketika merasa kesakitan.
"Ehh ... sorry-sorry! Kekencengan, ya? Sorry," ucap Iqbal.
"Tangan 'lo keras amat, Bal." Rizky melihat tangannya yang sedikit memerah.
"Tangan Iqbal diganti pake tangan besi," sahut Alia.
"Wuihh ... canggih 'lo Bal, udah kaya robot aja," ucap Aldi dengan penuh antusias saat mendengar ucapan Alia.
"Efek kecelakaan waktu itu, Di. Oh iya, Sha, emangnya ada hal apa sampe 'lo ngundang kita ke sini? Kita ke sini bukan cuma hangout aja, 'kan?" tanya Iqbal.
"Sebenernya, gue punya project buat kalian," ucap Salsha.
"Project apa?" tanya Alia terkejut.
Salsha belum menjawab, tiba-tiba ....
DUARRR!!!
Terdengar sebuah ledakan yang sangat keras seperti ledakan bom, sepertinya sumber ledakan itu tidak jauh dari cafe itu dan mereka pun saling menoleh.
"Ayo cari sumber ledakannya!" ajak Iqbal. Lalu mereka pun langsung keluar dari cafe dan segera berlari ke dekat sumber ledakan.
Iqbal yang berlari paling depan tiba-tiba berhenti karena ia melihat sebuah pesawat tempur yang melintasi di langit, sepertinya pesawat itulah yang menjatuhkan bom. Iqbal memerhatikan pesawat itu, tanpa ia sadari lensa mata buatannya bergerak. Ia merasa penglihatannya menjadi lebih tajam beberapa kali lipat dari mata normalnya dua tahun yang lalu. Sehingga ia dapat dengan jelas melihat kode pesawat itu.
"Itu pesawat USA, tapi kayaknya bukan punya pemerintah USA deh," ucap Iqbal.
"Jadi?! Itu pesawat pribadi dong?" tanya Aldi.
"Bisa jadi," sahut Rizky.
Iqbal pun kembali memperhatikan pesawat itu, dan lagi-lagi tanpa ia sadari lensa matanya bergerak, ia menjadi lebih fokus memerhatikan pesawat itu.
Sementara itu Salsha dan Alia berfikir bagaimana caranya untuk menghentikan pengeboman itu.
Telinga Aldi mendengung, ia menoleh ke arah kiri, ia melihat seorang gadis berpakaian ilmuwan dan memakai headphone dari jarak yang sangat jauh. Ia curiga dengan gadis itu, lalu Aldi pun memfokuskan pendengarannya ke arah gadis itu sambil memejamkan mata.
***
"Bom pertama udah, 'kan? Berapa hektar tanah kota yang udah hancur?" tanya Cassie.
"Baru sedikit, mungkin tujuh hektar yang udah rata, bom kedua bakal dijatuhin tiga menit lagi, kita lagi cari posisi yang tepat buat jatuhin bomnya," jawab Bryan (melalui headphone dan sedang dalam pesawat).
***
Aldi kembali membuka matanya.
"Guys, gawat!" ucap Aldi.
"Kenapa?" tanya yang lainnya dengan pandangan tertuju ke Aldi.
"Kayaknya kota Jakarta bakal diratain, dan sepertinya mereka punya project besar," jawab Aldi.
Mendengar kata-kata Aldi, Iqbal menggenggam tangan kirinya.
"Ini gak bisa dibiarin," ucap Iqbal dan kembali melihat pesawat yang terbang itu.
"Yang gue denger, bom kedua bakal dijatuhin tiga menit lagi," ujar Aldi.
Genggaman tangan kiri Iqbal semakin erat. Tanpa Iqbal sadari, lensa matanya menyala, pikirannya seperti dikendalikan oleh lensa itu, sepertinya lensa itu terhubung dengan tangan besinya. Tiba-tiba Iqbal mengangkat tangan kanannya mengikuti gerakan pesawat itu, kemudian membuka telapak tangan kanannya, lalu ....
CUZZZZ!!!
Sebuah peluru roket keluar dari telapak tangan kanan Iqbal, peluru itu bergerak sangat cepat dan sasarannya tepat mengenai pesawat itu. Iqbal merasa heran, ia merasa benar-benar berbeda dari sebelumnya, kemudian memandangi telapak tangan kanannya.
"Tangan 'lo, Bal!" Rizky terlihat tidak percaya dengan hal tadi.
"Guys! Gue punya ide," ucap Salsha.
"Apa?" tanya yang lain.
"Ikut gue!" ujar Salsha, lalu mereka pun berlari.
*Di tempat jatuhnya pesawat*
Bryan dan anak buahnya di pesawat baik-baik saja. Namun pesawat itu jatuh dan mengalami kerusakan yang parah, sebagian kota sudah hancur akibat jatuhnya pesawat itu dan juga akibat pengeboman. Tak lama kemudian Cassie datang dikawal oleh beberapa orang.
"'Lo gak apa-apa, 'kan?" tanya Cassie sedikit khawatir.
"Gue gak apa-apa kok, Cass. kayaknya kita harus hati-hati, tadi pesawat kita kena peluru roket. Gue gak tau itu pelurunya dari mana. Pastinya peluru itu bukan berasal dari pistol. 'Lo tenang aja Cass, masih ada banyak pesawat tempurnya di lapangan udara sana," ucap Bryan.
"Oke, Thanks Bryan, pokoknya project ini harus tetep jalan," ucap Cassie.
*Lab. Salsha*
"Bal! Pake kacamata ini! Gue bakal cari tau tentang lensa buatan 'lo yang udah 'lo ceritain tadi," ujar Salsha sambil memberikan sebuah kacamata khusus. Iqbal pun memakai kacamata itu. Tak lama kemudian, kacamata itu mulai mengidentifikasi lensa Iqbal, cara kerja kacamata itu sangat cepat, hanya dalam waktu lima detik, proses identifikasi selesai. Tak lupa, Salsha juga memeriksa tangan kanan Iqbal.
Sementara itu, Alia, Rizky, dan Aldi sedang berfikir tentang pengeboman tadi.
"Tadi itu yang di bom daerah sini, 'kan? Kira-kira tanah kota yang udah diratain berapa hektar?" tanya Alia.
"Yang gue denger sih tadi tujuh hektar, tapi mungkin udah nambah. Soalnya pesawat itu jatoh dan ngehancurin tanah sekitar," jawab Aldi.
"Tadi gue liat sih jatohnya ke arah barat," sambung Rizky.
"Hmm ... gue punya strategi," ucap Alia.
"Apa?" tanya Rizky dan Aldi bersamaan, lalu Alia pun menjelaskan strateginya.
*keesokan harinya*
Salsha menyiapkan baju khusus anti radiasi untuk Alia, Iqbal, Aldi, Rizky, dan juga untuk dirinya sendiri. Ia mengambil selembar kertas di meja, sepertinya itu kesimpulan hasil identifikasi tangan besi dan lensa buatan milik Iqbal kemarin.
"Ternyata ibunya Iqbal bener-bener berjuang keras buat Iqbal, sampe-sampe dia nyiptain alat secanggih ini," gumam Salsha.
*Rumah Iqbal*
"Kamu harus pake tangan besi dan lensa buatan itu sebaik-baiknya, Nak. Bunda udah tau soal project perataan kota itu, makanya selain buat nyempurnain fisik kamu, kamu juga punya tugas buat berhentiin project mereka. Bunda yakin kamu bisa, tangan besi itu bukan cuma buat pelindung diri, tapi bisa juga buat ngelindungin orang-orang di sekitar kamu. kamu dan teman-teman kamu harus kerja sama buat berhentiin project mereka," ujar Ibunda Iqbal. Sejenak Iqbal berfikir sambil memandangi tangan kanannya.
"Oke bunda, demi bunda dan orang-orang, aku bakal lakuin itu. Bunda udah berjuang selama dua tahun bikin tangan besi ini buat aku. Dan sekarang, giliran aku yang berjuang buat bunda," ucap Iqbal yang dibalas senyuman oleh Ibundanya.
*Beberapa saat kemudian*
Tim Iqbal siap untuk melakukan aksinya, mereka menaiki mobil jeep terbuka. Kebetulan Aldi yang mengendarai mobilnya, tak lama mereka pun berhenti di dekat kota yang sudah diratakan, hanya Iqbal, Rizky, dan Alia yang turun dari mobil itu.
"Kita bakal cari markas Cassie-cassie itu, tadi nyokap 'lo ngasih tau tempatnya 'kan, Bal? Sesuai strategi yang diusulin Alia, kita bakal cari tau titik mana aja 'kan yang bakal di bom? Serahin tugas itu sama kita," ucap Aldi.
"Oke, hati-hati, Sha! Hati-hati, Di!" ucap Rizky, lalu Aldi & Salsha pun pergi ke markas Cassie sesuai petunjuk yang telah didapat.
Iqbal menatap langit, terlihat tiga pesawat tempur yang melayang di udara. Perkiraan Alia, tepat ada lebih dari satu pesawat yang akan melakukan pengeboman setelah kejadian jatuhnya pesawat kemarin.
"Guys, gue punya cara buat ngadepin pesawat-pesawat itu," ucap Alia, lalu mengeluarkan peta sambil berjongkok, diikuti Iqbal dan Rizky.
"Oke, dari hasil pengamatan pemerintah kemarin, daerah yang hancur itu baru empat belas hektar. Masih belum meluas, tepatnya bagian sini sama bagian sini. Ki, 'lo harus bikin gedung ilusi di daerah kota yang udah hancur, buat ngejebak salah satu pesawat tempur itu, 'lo ada alatnya, 'kan?" tanya Alia.
"Ada. Semua alat jebakan buatan gue udah siap," jawab Rizky.
"Ya udah, bagus. Terus, tugas 'lo, Bal. 'Lo harus hancurin pesawat tempur yang lainnya, tapi usahain jangan di atas kota. Tapi yang pertama 'lo pancing, harusnya anak buahnya si Bryan-bryan itu, pancing dia ke atas laut dulu, baru 'lo hancurin dan gue jamin Bryan bakal fokus buat ngancurin kotanya, ya semoga aja dia kena jebakan Rizky," ujar Alia panjang lebar.
"Oke, oke, oke! Gue ngerti." Iqbal berdiri, ia pun menekan sebuah tombol di lengan tangan besinya. Lalu ....
CEKKREKK!!! CEKKREKK!!
Iqbal merubah tangannya ke mode besi, sehingga seluruh tangan kanannya seperti dibungkus oleh lapisan besi.
"Alia, kita bakal jalanin rencana 'lo, tapi 'lo hati-hati ya di sini!" ujar Iqbal. Kemudian ia pun memakai ransel roketnya, begitu juga dengan Rizky.
"Ayo Ki!" ajak Iqbal.
Lalu ....
WUZZ!!!
Rizky dan Iqbal terbang dengan ransel roket itu. Sementara Alia mengeluarkan earphone-nya untuk menghubungi Salsha dan Aldi.
"Halo Sha, gimana misi kalian?" tanya Alia.
"Kita masih di jalan, markasnya lumayan jauh," jawab Salsha.
"Ya udah, semoga lancar yaa!" ujar Alia, lalu menutup panggilan itu.
Aldi yang sedang mengendarai mobil tiba-tiba menghentikan laju mobil itu.
"Kenapa berhenti?" tanya Salsha.
"Ada jembatan putus di depan," ucap Aldi. Salsha menatap ke depan. Benar saja, ada jembatan jalan raya yang terputus entah apa sebabnya.
"Ya udah, kita puter balik aja," ujar Salsha. Aldi turun dari mobil, ia mengumpulkan papan-papan dan mengangkut beberapa batu, dijadikannya papan itu sebuah bidang miring yang kokoh dan pas untuk roda mobil.
"Kita loncat, Di?!?" Salsha agak terkejut.
"Iya," jawab Aldi sambil kembali menaiki mobil dan memundurkan laju mobilnya.
"Pegangan, Sha!" tegas Aldi. Mendengar instruksi Aldi, Salsha pun berpegangan erat di pegangan pintu.
BRUMMM!!! BRUMM!!
Aldi mulai mengambil ancang-ancang, lalu ....
BRUMM!!!
Aldi menancap gas langsung pada kecepatan tinggi, melewati bidang miring yang dibuatnya dan melompati jembatan yang putus itu. Aldi terlihat serius mengendarai mobil itu, sehingga tak lama berselang, mereka pun mendarat di seberang jembatan putus itu dan melanjutkan pencarian markas Cassie.
*Di dekat kota*
Strategi yang diusulkan Alia berhasil, Rizky sudah memasang jebakan itu. Ia menaruh magnet besar dengan daya tarik tinggi di tengah gambar gedung ilusi dari alat jebakan yang ia buat sendiri, salah satu pesawat tempur yang terpancing oleh gedung ilusi itu langsung tertarik oleh magnet.
Sementara itu, Iqbal sedang memancing pesawat tempur lainnya agar terbang di atas laut. Tiba-tiba Iqbal berbalik, lensa matanya menyala dan ia meluruskan tangan kanannya yang masih dalam mode besi itu.
CUZZZ!!!
DUAARRR!!!
Iqbal menembakkan peluru roket ke arah pesawat yang sedang mendekatinya, seketika pesawat itu meledak dan hancur.
"Itu akibatnya kalo mau ngancurin kota," gumam Iqbal sambil menambah ketinggian terbangnya.
Bryan masih dalam pesawat, ia melihat Alia yang sedang duduk memikirkan strategi lain.
"Ternyata cewek itu yang mikirin caranya, gue harus bunuh dia," gumam Bryan. Ia mengarahkan pesawatnya tepat di atas Alia. Sontak saja gadis itu terkejut ketika pesawat tempur terbang mendekat dan melayang di atasnya.
"Siap-siap aja 'lo mati," gumam Bryan, ia pun menekan sebuah tombol dan menjatuhkan bom ke arah Alia sekaligus meratakan kota. Bom itu pun dijatuhkan, sementara Alia tidak sempat untuk berlari.
DUARR!!!
Bom itu pun meledak. Namun, Alia baik-baik saja. Ternyata Iqbal datang untuk melindunginya, pemuda itu terlihat sedang mendekap Alia dengan tangan kirinya, sementara tangan besinya menghalangi bom itu.
Tangan besi Iqbal tidak rusak sedikit pun, tapi lensa mata Iqbal menyala terang seketika dan tangan besinya mengeluarkan cahaya listrik. Ia terlihat terengah-engah, mungkin saja tadi ia terbang mendekati Alia dengan kecepatan tinggi.
"Lo gak apa-apa, 'kan?" tanya Iqbal menatap Alia.
"Gue gak apa-apa," jawab Alia dengan sedikit perasaan lega.
"Ternyata hasil identifikasi alatnya Salsha tepat banget, tangan besi ini anti ledakan. Bunda bisa aja bikin tangan besi ini, ternyata perjuangannya selama dua tahun gak sia-sia," gumam Iqbal sambil menatap pesawat tempur yang sedang dikendalikan Bryan.
"Gue bakal ngancurin 'lo, Bryan," gumam Iqbal sambil lensa matanya menyala lagi semakin terang.
CUZZZ!!!
Ia kembali menembakkan peluru roketnya ke arah pesawat itu.
DUARRR!!!
Pesawat itu hancur di udara.
Tak lama kemudian Rizky datang.
"Guys, kalian gak apa-apa, 'kan?" tanya Rizky.
"Gak apa-apa," jawab Iqbal dan Alia bersamaan.
"Ya udah, mending kita nyusul Aldi sama Salsha," ujar Iqbal.
"Oke," ucap Rizky.
Tiba-tiba Iqbal mendekap Alia, gadis itu sedikit terkejut dan menatap wajah Iqbal.
"Pegangan ya!" ujar Iqbal.
WUZZ!!!
Mereka kembali terbang menggunakan ransel roket itu.
*Markas Cassie*
BUKK!!! BUKK!!!
Aldi menghajar beberapa penjaga markas. Sedangkan Salsha, ia sigap dengan pistol peluru formula buatannya.
SLEBB!!! SLEBB!!!
Salsha menembakkan peluru formulanya ke arah penjaga markas lain yang akan mendekatinya, formula itu tersuntik secara otomatis ke tubuh mereka, tiba-tiba mereka tidak dapat berjalan dan malah berjoget goyang pinggul.
"Hahh?! Gue salah bikin formula?!" gumam Salsha merasa sedikit tak percaya.
"Sha, ayo masuk!" ajak Aldi.
Lalu mereka pun masuk ke dalam markas itu. Aldi dan Salsha mendobrak pintu dan siap dengan pistol mereka.
Ternyata Cassie sedang duduk santai di kursinya yang bisa diputar, ia sama sekali tidak merasa takut dengan kedatangan Aldi dan Salsha, sepertinya ia mempunyai rencana.
"Angkat tangan!" perintah Aldi dengan lantang sambil menodongkan pistolnya yang disambut oleh Cassie dengan senyum jahat.
"Kalian pikir gue takut dengan kedatangan kalian?" Cassie meremehkan Aldi & Salsha.
Tiba-tiba ....
SLEPP!!
Salsha menembakkan peluru formulanya.
Namun ....
TEPP!!
Dengan mudahnya Cassie menangkap peluru formula itu dengan dua jarinya dan ia pun meremas menghancurkan peluru itu dengan sangat mudah.
"Kalian itu gak lebih dari para pecundang," ejek Cassie.
Aldi geram dan menggenggam tangannya dengan keras.
"Sombong banget 'lo!" Aldi pun langsung menyerang Cassie, begitu juga dengan Salsha. Cassie melawan mereka dengan santai bahkan sambil duduk, sepertinya dia memang benar-benar jenius.
Tiba-tiba ....
CUZZZ!!!
Iqbal datang menembakkan peluru roketnya ke arah Cassie, lensa matanya menyala terang. Cassie menghindar dari peluru itu, ia langsung berdiri dan menembakkan laser ke arah Iqbal. Namun, Iqbal menahan laser itu dengan tangan besinya.
Lalu mereka bertiga langsung berlari mendekati Salsha dan Aldi yang sedang bernapas terengah-engah. Iqbal menoleh kearah Alia.
"Alia, 'lo susun strategi, biar gue yang lawan dia," ujar Iqbal pelan. Alia pun menganggukkan kepala begitu juga dengan yang lain.
"Ohh ... jadi 'lo anaknya ilmuwan terkenal itu ya? Boleh juga tangan besi 'lo." Cassie sedikit meremehkan Iqbal.
"Nyokap gue bikin ini buat gue, tujuannya buat berhentiin project gila 'lo itu," jawab Iqbal dengan tatapan tajam ke arah wanita itu.
"Kurang ajar!!!" Cassie pun menyerang Iqbal dan terjadilah perkelahian di tempat itu.
***
Sementara itu, Alia sedang memberitahukan strategi kepada anggota timnya.
"Oke, Ki! 'Lo harus siapin jebakan buat Cassie dan Bryan. Kemungkinan Bryan masih hidup," ujar Alia. "Dan 'lo Aldi, 'lo bantuin Iqbal buat lawan Cassie sambil ngasih tau strategi ini. Jebakannya dipasang gak jauh dari pintu, usahain 'lo sama Iqbal mancing Cassie ke jebakan itu, terus gue sama Salsha bakal ke kantor polisi buat nangkep Bryan sama Cassie," imbuh Alia panjang lebar.
"Oke, oke, gue siap bikin jebakannya," jawab Rizky.
"Ehh ... bentar-bentar! Gue denger sesuatu," ucap Aldi, ia pun memfokuskan pendengarannya sambil memejamkan mata. Tak lama ia membuka matanya kembali.
"Suara Bryan, dia naik helikopter dan bakal ke sini. Cepet jalanin rencana kita!" ujar Aldi, kemudian mereka pun melakukan tugas mereka masing-masing.
***
Aldi membantu Iqbal berkelahi melawan Cassie. Iqbal terlihat terengah-engah, berkali-kali Cassie dihajar oleh Iqbal. Namun, Cassie sama sekali tidak merasa sakit sepertinya wanita itu menggunakan formula rahasia.
Lalu Iqbal sedikit menjauh dari Cassie, ia menghentikan perkelahian sejenak. Aldi membisikkan sesuatu kepada Iqbal, memberitahukan strategi yang dibuat oleh Alia. Iqbal mengangguk dan mengerti dengan apa yang diberitahukan Aldi.
Sementara itu Salsha dan Alia menaiki mobil jeep terbuka tadi, Salsha mengendarai mobil itu dengn kecepatan tinggi. Seperti yang dilakukan Aldi, mereka nekat melompati jembatan yang putus itu, ditengah perjalanan mereka dijatuhi beberapa peluru roket dari helikopter Bryan. Namun, Salsha terus menghindari serangan itu sambil fokus mengendarai mobilnya.
"Hati-hati, Sha!" ujar Alia sedikit panik.
"Lo tenang aja," jawab Salsha.
*Markas Cassie*
Rizky masih sibuk membuat jebakan dengan alat-alat canggih yang dibuatnya sendiri, ia memasang sebuah perangkap khusus untuk Cassie dan Bryan. Tak lama ia pun selesai membuat jebakan itu.
Bryan datang dan langsung melemparkan sebuah bom kecil dengan ledakan ringan ke arah Iqbal.
DARR!!
Bom kecil itu meledak, tapi Iqbal terlihat baik-baik saja. Lagi-lagi ia menahan bom itu dengan tangan besinya. Namun, tiba-tiba ....
BUKK!!!
Bryan menonjok pipi Iqbal secara tiba-tiba, membuat pemuda itu terkejut, hingga kini terdapat luka lebam di pipi Iqbal.
BUKK!!!
Iqbal juga menonjok pipi Bryan dengan tangan kirinya.
"Buat apa lo bikin project gila itu di negara ini? Cari tanah sendiri di Amerika!" hardik iqbal dengan nada tinggi.
"Terserah gue, mau bikin project di mana. Itu bukan urusan 'lo," jawab Bryan.
Sementara itu Aldi sedang memancing-mancing Cassie agar terkena perangkap Rizky, ia mundur dan Cassie semakin maju. Setelah Aldi lewat agak jauh dari pintu, Rizky pun menarik tali untuk menurunkan perangkap jebakan yang ia buat, Rizky berhasil. Ia akhirnya bisa menjebak Cassie masuk kedalam perangkap itu.
Sementara itu Iqbal masih berkelahi dengan Bryan.
BUKK!! BUKK!!! BUKK!!!
Bryan menghajar Iqbal berkali-kali hingga wajah Iqbal penuh luka lebam, begitu juga dengan Bryan.
"Gue bakal hancurin misi tim bodoh 'lo itu," ucap Bryan.
"Hal itu gak akan terjadi, yang ada, project gila 'lo itu yang bakal berhenti!" Tiba-tiba lensa mata Iqbal menyala terang, sepertinya ia menemukan titik kelemahan fisik Bryan. langsung saja Iqbal memegang leher Bryan dan menyengat pria itu dengan aliran listrik dari tangan besinya.
"Arrrgghhh!!!" Bryan terlihat kesakitan.
Lensa mata Iqbal yang menyala terang tiba-tiba kembali normal, ia teringat jika ia tidak boleh membunuh Bryan karena Aldi memberitahukan bahwa Bryan dan Cassie akan dipenjara.
"Gue bisa aja bunuh 'lo, tapi gue gak ada hak buat ngebunuh 'lo. Gue harap, 'lo tobat pas udah keluar dari penjara," ucap Iqbal sambil mencengkram kerah baju Bryan.
Bryan terlihat lemas, begitu pula Cassie yang tampak tidak bisa berbuat apa pun. Sepertinya perangkap yang dibuat Rizky itu bertekanan udara sangat rendah, hingga napas Cassie menjadi tidak beraturan.
Tak lama kemudian ...
WIUW!!! WIUW!!! WIUW!!!
Terlihat Alia dan Salsha datang bersama para anggota polisi. Lalu Iqbal menyuruh Aldi untuk memegang Bryan agar tidak melarikan diri, karena Iqbal terlihat sangat lemas. Tak menunggu lama, Rizky dan Aldi pun membawa Cassie juga Bryan ke dalam mobil polisi.
Iqbal tampak terduduk lemas, ia terlihat kelelahan, wajahnya penuh dengan luka lebam.
"Iqbaaaalll!!" Alia berlari mendekati pemuda itu.
"Lo gak apa-apa, 'kan?" Alia terlihat sangat khawatir, ia sedikit menyentuh pipi Iqbal.
"Gue gak-pa-pa," jawab Iqbal dengan sedikit terbata dan mencoba memaksakan senyum.
"Gue bawa 'lo pulang, ya?" Kemudian Alia merangkul dan memapah Iqbal.
"Kerjasama kalian luar biasa, ini baru di sebut tim yang sempurna. Kami dari pihak kepolisian mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian. Baiklah, kami akan menyegel dan menyita markas ini, kalian boleh pergi!" ujar Sang Komandan Polisi.
"Tunggu Pak! Sebaiknya markas ini jangan disegel, biarkan kami yang mengelola markas ini, Pak," pinta Rizky.
"Gimana, Guys?" tanya Rizky kepada Aldi, Salsha, Iqbal, dan Alia, mereka tersenyum dan setuju dengan usulan Rizky.
"Baiklah, silakan. Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Komandan Polisi itu singkat, kemudian mereka pun pergi.
"Guys, coba masuk ke dalem, kita harus ngobatin Iqbal," ujar Alia sambil menoleh ke arah Iqbal yang dibalas langsung oleh tatapan sayu pemuda itu.
"Makasih ya, Alia." Iqbal tersenyum.
"Sama-sama, Bal. Gue cuma khawatir sama 'lo" jawab Alia.
"Ehem ... ehem ... ayo masuk kita cari obat buat Iqbal!" ujar Aldi, lalu mereka pun masuk ke markas itu.
*Sorenya*
Angin pantai berhembus pelan, ditimpa hangatnya matahari senja. Mobil jeep mereka baru saja sampai di pantai itu, sepertinya mereka akan melepas lelah sambil menikmati pemandangan hamparan pasir dan gulungan ombak.
"Huhhh ... Segarnya pantai ini," ucap Rizky yang merasa semua bebannya hilang tertiup angin pantai.
"Iya, Ki. Jarang-jarang gue pergi ke pantai sore-sore begini," sahut Salsha.
Kemudian Aldi pun berjalan mendekati Salsha.
"Guys, duduk yuk!" usul Aldi.
"Boleh," jawab Salsha.
Lalu mereka duduk di pasir putih sambil menikmati angin pantai yang berhembus agak kencang.
***
Tangan kanan Iqbal sudah kembali ke mode normal, ia bersandar di mobil jeep sambil menikmati indahnya senja di pantai itu. Terlihat Alia mendekati Iqbal dan berdiri di sebelah pemuda itu.
"Apa 'lo merasa jadi lebih baik setelah nyokap 'lo ngasih tangan besi itu buat lo?" tanya Alia seraya menatap wajah Iqbal.
"Iya Alia, gue sadar, ternyata Tuhan ngerencanain suatu hal besar di balik kecelakaan itu. Gue bersyukur, gue termasuk orang yang beruntung masih bisa dapet tangan kanan lagi, mungkin masih banyak orang yang gak seberuntung gue," jawab Iqbal dengan seutas senyum.
"Apa yang 'lo rasain semenjak make tangan besi dan lensa buatan itu, Bal?" tanya Alia antusias.
"Hmm ... gimana ya? Gue ngerasa kaya jadi anaknya Iron Man," jawab Iqbal sedikit terkekeh.
"Ihh ... Baaaaal!! gue serius," ucap Alia manja, yang hanya dibalas senyuman oleh Iqbal.
"Yaa ... gue ngerasa beda aja gitu, yaa ... mungkin bisa dibilang gue ini Manusia Setengah Robot," jawab Iqbal sambil menoleh lagi ke arah Alia, sehingga mereka saling bertukar pandang.
"Ehemm ... pacaran mulu, ayo pulang udah sore!" ujar Aldi, kemudian mereka pun kembali menaiki mobil jeep terbuka itu dan memulai perjalanan pulang.
*di sisi lain*
"Iqbaaal!!! Gue belum kalah!!! Tunggu pembalasan gue!!!" teriak Bryan sambil mengepalkan telapak tangannya, sudah tentu pria itu belum menerima kekalahannya.
*keesokan harinya*
Tim Iqbal sedang berkumpul di markas baru mereka.
"Enaknya kasih nama buat tim kita," usul Salsha.
"Ada yang punya usul nama?" tanya Iqbal melempar pandangan kepada temann-temannya secara bergantian.
Mereka semua terlihat berpikir sejenak.
"Gimana kalo Perfect Team? Kata pak polisi kemarin, berkat kerjasama yang bagus dari tim kita, kita bisa jadi tim yang sempurna, 'kan!" usul Alia.
"Gue setuju tuh, kita selalu bekerjasama, 'kan?" sahut Aldi.
"Boleh juga," jawab Rizky simple.
"Oke, jadi tim ini kita kasih nama 'Perfect Team' ya? Deal?" tanya Iqbal memastikan.
"Deal!!" jawab yang lain serentak.
Tiba-tiba ....
DUARR!!!
Suara ledakan besar kembali terdengar oleh telinga mereka. Lalu mereka pun dengan cepat berlari keluar dari markas itu. Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat sebuah pesawat tempur dari negara lain melintas di langit Kota Jakarta.
"Siap buat misi penyelamatan?" tanya Iqbal.
Mendengar pertanyaan Iqbal, mereka langsung menyiapkan peralatan mereka masing-masing.
"Siap!!!" jawab mereka serempak.
WUZZ!!
Iqbal dan Rizky terbang menggunakan ransel roket mereka. Sedangkan Aldi, Salsha, dan Alia menaiki mobil jeep Aldi. Mereka pun segera berangkat untuk melakukan misi penyelamatan kota.
- The End -