Hai namaku Putri, usiaku kini 21 tahun. Aku yang sedang berada di kamar pengantin dan masih mengenakan gaun pengantin sedang melihat-lihat album foto. Foto Saat aku masih kecil hingga aku beranjak remaja. Aku saat kecil benar-benar konyol, rambut pendek seperti anak laki-laki. Bukan karena aku tomboy tapi karena ibuku suka jika anak perempuannya berambut pendek.
flashback on
Saat itu aku masih duduk di bangku SD kelas 6, apapun yang ibuku lakukan padaku aku hanya menurut saja. Karena saat itu aku belum mengerti apapun, tentang pentingnya berpenampilan cantik dan manis untuk anak perempuan. Kadang aku menjadi bahan olokan teman-temanku, karena penampilan rambutku yang seperti anak laki-laki.
"Masa Putri raja gak ada anggung-anggunnya sih!" olok salah satu anak laki-laki di sekolahku.
"Iya anak cewek itu harusnya berambut panjang. Bukan pendek kaya laki-laki." olok teman yang lain.
Hingga akhirnya aku merasa tidak percaya diri lagi dengan rambut pendekku.
***
Tahukah kalian kejadian saat di SD dulu itu membuatku troma, dan membuatku menjadi anak yang pendiam saat aku menginjak bangku SMP. Pasalnya ada salah satu siswa yang dulu satu kelas dan satu SD denganku, kini berada di SMP dan satu kelas yang sama. Dia adalah Rama. Rencanaku gagal bahwa aku ingin menjadi diriku yang baru karena kini rambutku pun, aku biarkan tumbuh memanjang. Hingga kini panjang rambutku sudah diatas bahu.
Dan masalahnya Rama itu adalah salah satu anak cowok yang pernah mengolokku. Menyebalkan sekali kan jika harus bertemu dengan seseorang yang kita benci.
"Kamu Putri kan?" tanya Rama saat sedang jam pelajaran olahraga.
"Iya..." jawabku sedikit ketus.
"Kamu masih ingat aku kan? Aku Rama teman satu kelas waktu di SD."
"Iya aku ingat." jawabku singkat.
Rama tertawa kecil, "Put kamu sekarang berubah ya, udah gak suka rambut pendek kaya cowok lagi ya?"
"Iya, terus kenapa? kamu sekarang mau mengolok aku apa lagi dengan penampilan aku yang sekarang?" tanyaku dengan nada sedikit ketus.
Mimik wajah Rama berubah serius, "Kamu marah sama aku put, karena aku pernah mengolok kamu waktu di SD?"
"Pakai tanya lagi!"
"Sory Put, dulu aku memang kekanak-kanakan. Aku akui dulu aku salah. Tapi sekarang aku janji aku gak akan pernah mengolok kamu lagi. Kita temenan ya?!" ajak Rama.
"Gak semudah itu melupakan masa lalu yang menjengkelkan." Ujarku lalu pergi meninggalkan Rama.
Selama di SMP Rama tidak menyerah untuk mendekatiku dan ingin aku menjadi temannya. Hingga teman-teman yang lain selalu bersorak jika Rama sedang berada di dekatku. Mereka mengira aku dan Rama itu pacaran. Oh tidak!
***
Tiba waktunya aku duduk di bangku SMA, aku dipertemukan kembali dengan Rama. Kami berada di satu kelas yang sama. Rama masih tidak berubah dia tetap mendekatiku, apalagi kini aku sudah berubah menjadi gadis berambut panjang yang pintar berias. Rias natural tentunya hehe!
"Put, kayanya Rama suka sama kamu deh!" bisik Luna, saat di kantin.
"Iya Put, Rama liatin kamu terus tuh daritadi. Aku dengar kamu sama Rama satu sekolah sejak dari SD ya?" tanya Vina.
"Jangan ngegos tentang dia ah, bete!" ujarku, lalu aku beranjak berdiri hingga aku tidak sengaja menubruk seseorang yang hendak lewat.
"Aww!!!" teriakku saat tanganku tersiram kuah bakso yang tumpah tersenggol olehku.
"Put!!" seru teman-temanku menghampiri.
"Gimana sih kalo berdiri liat-liat donk!" omel siska, pemilik bakso yang tertabrak olehku tadi. Siska adalah teman satu kelas yang tidak akrab denganku.
"Sory aku gak sengaja Sis..." kataku sambil menahan perih.
"Aku gak mau tau ya, kamu harus ganti bakso yang kamu tumpahin." kata Siska ketus.
Rama tiba-tiba datang menghampiriku, dia menyentuh tanganku yang tersiram kuah bakso tadi. Lalu dia melirik Siska.
"Kamu boleh minta bakso lagi ke ibu kantin, bilang saja nanti aku yang bayar." kata Rama lalu tanpa berbicara apa-apa lagi, dia membawaku pergi dari kantin.
Banyak sepasang sorot mata yang memperhatikan kepergianku dan Rama. Pasti setelah ini akan ada gosip yang nggak-nggak tentangku dan Rama. Pikirku. Saat itu entah kenapa aku mengikuti saja kemana Rama membawaku pergi? pikiranku sedang tidak fokus karena rasa perih ditanganku.
Rama membawaku ke dekat mushola disana ada keran air tempat berwudu. Rama segera membasuh tanganku yang kemerahan dengan air dari keran.
Saat itu aku hanya bisa memperhatikan Rama yang fokus membasuh tanganku, dan tiba-tiba saja dadaku berdebar kencang.
Perasaan apa ini ? aneh sekali!
Setelah dirasa cukup, Rama menutup air pada keran, lalu dia menatapku. "Kamu gak apa-apa? perih ya?"
Aku yang seakan baru tersadar dari lamunan, kebingungan. "Iya, aku gak apa-apa. Sekarang udah mendingan, thanks..."
"Aku antar ke UKS yuk! tangan kamu harus diolesin salep luka bakar." ujar Rama.
"Aku ke UKS sendiri aja ya, kamu balik ke kantin gih. Nanti berabe kalo timbul gosip gak enak tentang aku sama kamu."
"Tentang aku sama kamu? maksudnya mereka bakalan nyangka kalo kita pacaran?" tanya Rama.
"Ya gitu deh..."
"Kenapa mesti gak enak? aku memang suka sama kamu ko put. Aku gak masalah kalau mereka nyangkain kita pacaran." ujar Rama.
"Tapi aku gak suka sama kamu, jadi itu masalah buat aku. Ok." Aku pergi meninggalkan Rama.
Dan saat aku beranjak pergi ke UKS, aku berpas-pasan dengan Diky. Diky melihat aku memegang tanganku yang kemerahan. Saat dia tahu keadaanku, dia mau menemaniku pergi ke UKS. Aku yang memang menyukai Diky sejak pertama masuk SMA, tentu saja senang.
Aku menoleh ke belakang, ternyata Rama masih berada disana memperhatikanku. Terlihat ekpresi kecewa dari wajah Rama. Aku merasa tidak enak, tapi Rama harus tahu jika aku memang tidak menyukainya. Semoga dengan kejadian ini Rama berhenti mengejar-ngejarku lagi.
***
Tapi diluar dugaan Rama yang seharusnya sudah berhenti mengejarku. Malah semakin berlebihan memberi perhatian padaku. Saat valentine dia tiba-tiba memberiku coklat. Pernah juga saat acara pensi di sekolah dia terus mengikutiku kemanapun aku pergi bersama teman-temanku.
"Rama! plis berhenti memperhatikan aku! kamu sadar nggak sih, apa yang kamu lakukan ini sangat menggangguku?" tanyaku pada Rama saat selesai acara pensi.
"Kenapa itu sangat mengganggu kamu? aku cuma ingin menjaga kamu ko. Supaya gak ada yang gangguin kamu." jawab Rama.
"Gimana kamu bisa menjaga aku? jika yang jadi masalahnya itu kamu. Kamu yang mengganggu aku!"
"Aku bakalan berhenti perhatiin kamu, kalau kamu punya pacar yang bisa jagain kamu."
"kalau soal itu sebentar lagi juga aku bakalan punya pacar ko. Kamu janji ya gakkan ganggu aku lagi." kataku meyakinkan.
"Siapa orangnya? Diky?" tanya Rama.
"Iya, aku lagi PDKT dengan Diky. Dia udah nembak aku, aku cuma belum kasih jawaban aja. Dan aku berencana akan nerima dia, karena aku juga suka padanya." jelasku.
Rama tertawa kecil, "Kamu yakin Diky suka sama kamu?"
"Maksud kamu?"
Rama menunjuk ke arah parkir. Saat itu juga aku terkejut saat melihat Diky mencium kening Siska, lalu mereka berpelukan. Dan tak lama kemudian Siska naik ke atas motor sport Diky, merekapun berlalu.
Tanpa sadar air mataku menetes, aku segera menghapusnya sebelum Rama mengetahuinya. Tapi terlambat Rama sudah menyadarinya.
Dia menarikku ke pelukannya, Rama memelukku erat. Aku sangat terkejut, dan refleks mendorong tubuh Rama. Aku berlari menuju taman di dekat lapang sekolah. Saat itu hujan turun membasahi tubuhku. Aku berlindung di bawah pohon besar sambil menangis.
Ternyata selama ini aku hanya menyukai Diky secara sepihak, Diky hanya bermain-main saja. Jadi inikah rasanya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ternyata sangat sakit, aku teringat dengan Rama. Ini karmaku karena aku menyakiti hati Rama selama ini. Aku tidak pernah memedulikannya selama ini.
Satu persatu ingatan tentang Rama yang selalu memperhatikanku sejak di SMP hingga sekarang bermunculan. Aku baru menyadari perasaan ini. Aku baru menyadari jika seseorang yang selalu menjaga dan memperhatikanku selama ini adalah seseorang yang memang sangat aku butuhkan untuk berada di sisiku. Rasa sukaku pada Diky hanyalah rasa kagum semata. Bukan karena cinta.
Aku berlari mencari Rama, berharap Rama masih berada di sekolah. Tapi Rama tidak berada di manapun. Dalam keadaan kehujanan aku terus mencari Rama, hingga aku tersandung sebuah batu yang membuatku terjatuh.
Lututku terasa sakit, aku berusaha berdiri. Tapi sakit yang dirasa membuatku tidak kuat untuk berdiri. Aku hanya bisa pasrah dengan tubuhku yang sudah sangat basah kuyup itu.
Tiba-tiba seseorang menggendongku, dan membawaku pergi ke suatu tempat. Aku terkejut karena ternyata dia adalah Rama. Rama masih ada di sekolah, dia tidak meninggalkan aku.
Aku menatap Rama yang membiarkan dirinya kehujanan, tak lama kemudian dia ikut menatapku sambil berjalan membopongku. Kami saling bertatapan cukup lama hingga Rama membawaku berteduh di bawah pohon dekat taman.
"Dasar bodoh, apa yang kamu lakukan?" tanya Rama setelah menurunkan tubuhku.
Aku tidak menjawab pertanyaan Rama, yang ada pikiranku saat ini adalah aku ingin memeluk Rama. Aku yang langsung memeluknya, membuat Rama terkejut.
"Aku memang bodoh, aku baru menyadari jika kamu itu orang yang sangat penting untukku selama ini." ujarku.
Rama tersenyum kecil, dia membalas pelukanku.
Rama melepas pelukannya lalu dia tiba-tiba mengecup keningku, membuatku merona. Dan tanpa meminta izin padaku dia mengecup bibirku. mungkin kecupan itu kecupan yang sangat singkat tapi penuh arti untukku.
flashback off
***
Aku dan Rama menjalin hubungan hingga kami berdua akhirnya menikah. Tidak kusangka ternyata Rama memang jodoh yang Tuhan berikan untukku.
"Sedang lihat apa sih sayang?" tanya Rama yang kini sudah menjadi suamiku dan datang menghampiriku ke atas ranjang.
"Aku sedang melihat foto album kenangan saat zaman sekolah dulu."
"Oh ya! pantas saja asik sendiri. Sekarang waktunya untuk kamu fokus padaku. Malam ini akan menjadi malam pertama yang indah untuk kita." Rama mengecup pipiku genit.
Aku hanya tertawa kecil dan menyambut suamiku yang merupakan cinta pertamaku.
~The End~
Jangan lupa beri hati dan kasih komen ya untuk miss, agar miss lebih semangat untuk bikin banyak cerpen untuk kalian semua.. 😘