Masa sekolah adalah masa yang sangat indah bahkan sangat sulit untuk di lupakan, entah itu kejadian yang menyenangkan atau menyakitkan.
Kelas XI IPA 2, suasana pagi yang masih segar, satu persatu siswa siswi mulai berdatangan, saling menyapa satu sama lain.
Kalian pasti tau di setiap kelas pasti ada siswa siswi yang terkenal, dan untuk menjadi terkenal dan di anggap ada mungkin kalian harus pintar sekalian atau harus bodoh sekalian, kalau soal fisik kalian harus cantik dan tampan atau jelek sekalian, jika baik, baik sekalian atau jahat sekalian. Karena jika kalian hanya berada di antara semua itu maka kalian hanya di anggap pemanis di sana. Itu yang di rasakan oleh Karina, gadis manis yang berada di angka standar dari semua kriterian di atas, hidupnya normal senormal mungkin tanpa ada gangguan atau pujian.
Karina duduk di tengah, karena di depan tempat anak yang berprestasi dan belakang tempat anak yang tergolong pembangkan. Selain Karina ada sosok laki-laki yang duduk di sebelahnya "Rendra" dia juga sama dengan Karina tergolong standart meski sebagai seorang laki-laki.
Karina dan Rendra jarang sekali bertegur sapa meski mereka duduk bersebalahan, mereka seperti tidak saling mengenal, mereka bicara hanya jika ada tugas saja.
Tapi kenyataanya Rendra selalu memperhatikan Karina secara diam-diam.
Bel masuk sudah berbunyi suara ramai para siswa mulai mereda karena beberapa guru juga sudah masuk ke dalam kelas, begitupula dengan kelas Karina, suasana menjadi begitu sepi.
"Kumpulkan tugas kalian" Baru masuk guru laki-laki di depan sana sudah memberi perintah.
Satu persatu siswa mulai mengeluarkan tugas mereka untuk segera di kumpulkan.
Karina masih mencari-cari di dalam tasnya bahakan semua buku yang ada di dalam tas sudah ia keluarkan tapi nihil, ia lupa membawa tugasnya.
Renda yang ada di sebelahnya memperhatikan Karina yang kebingungan. Tugas Rendra sudah ada di atas meja tinggal menyerahkan kepada guru tapi ia urungkan, ia kembalikan tugasnya kedalam tas kembali.
"Yang tidak mengumpulkan tugas angkat tangan," titah sang bapak guru di depan.
Rendra dan Karina mengangkat tangan, Karina menyadari ia tidak sendiri, Karina menoleh pada Rendra.
"Kalian berdua berdiri di depan kelas!"
"Baik Pak" ucap Rendra dan Karina sambil melangkahkan kakinya ke luar ruangan.
"Kamu tidak mengerjakan tugas?" tanya Karina pada Rendra yang berdiri sejajar di sebelahnya.
"kamu sendiri?" bukan menjawab, Rendra malah kembali bertanya.
"Aku sudah mengerjakan, hanya saja ketinggalan, sepertinya tadi sudah aku masukkan kedalam tas." ucap Karina dengan memanyunkan bibirnya dan membuat Rendra tersenyum tapi segera ia akhiri agar tidak di ketaui Karina.
"Kalau kamu?" Karina kembali bertanya pada Rendra
"Aku?" Rendra terdiam sesaat untuk memikirkan apa alasan yang tepat, "emh,, punyaku juga ketinggalan." akhirnya Rendra memberikan jawaban.
Dari sinilah Karina dan Rendra menjadi kebih akrab saling menyapa bahkan saling mengobrol beberapa hal.
Bagi teman-teman mereka itu hanya hal biasa lantaran Rendra dan Kirana bukan siswa populer di sana.
Dua bulan sudah setelah hukuman itu mereka menjadi akrab bahkan kini mereka sedang duduk di kantin sekolah berdua.
"Kamu suka banget sama nasi goreng? kayaknya tiap hari makanya nasi goreng." tanya Rendra di sela-sela aktifitas makanya.
"He'em, soanya ini tuh udah sepaket, nasi yang pake bumbu gak perlu tambah apa-apa lagi." jawab Karina sambil mengunyah makananya.
"Gimana kalau kita gantian yang bayar saat makan." Tidak tau kenapa Rendra mengusulkan ide tersebut.
Bukan jawaban yang Rendra terima tapi Karina yang malah tersedak nasi goreng.
"Kamu gila." Karina segera membuat pertentangan setelah ia minum air dingin di hadapanya.
"hahahaha,,," Rendra malah tertawa terbahak.
"Gak ada yang lucu Rendra." Tegas Karina
Ekspresi Karina membuat Rendra tertawa karena bagi Rendra, Karina begitu manis.
Beberapa waktu berlalu, Karina yang ceroboh kembali ketinggalan tugasnya, dan membuat Rendra ikut hukuman Karina, hukuma kali ini mereka di minta membersihkan toilet.
Rendra membersihkan toilet pria dan Karina membersihkan toilet wanita.
"Kamu itu kenapa ceroboh sekali sih?" ungkap Rendra saat berjalan bersama Karina menuju toilet dengan membawa timba dan alat pel.
"Kamu juga kan ceroboh, enak aja nuduh aku." ucap Karina tidak terima.
Saat asyik mengobrol tanpa mereka sadara ada yang mengambil gambar mereka, salah satu siswa memotret mereka berdua.
tiga hari setelah kejadian itu Karina melihat mading yang memperlihatkan foto dirinya dan Rendra yang sedang membawa timba dan alat pel dengan artikel yang menyebutkan mereka salah satu contoh siswa yang sering mendapat hukuman.
Karina benar-benar malu ia segera berlari menuju ke kelas, mungkin iya tidak begitu di kenal disekolah tapi ia sangat malu dengan judul artikel di mading tersebut.
Sesampainya di kelas, Karina meletakan tasnya secara kasar dan membuat Rendra menoleh kepada Karina.
Karina tidak menghiraukan Rendra, iya segera duduk melipat kedua tangannya di atas meja lalu ia gunakan untuk menyembunyikan dirinya.
Rendra heran dengan sikap Karina, ia beranikan diri beranjak dari tempat ia duduk dan menghampiri Karina.
"Kamu kenapa Rin?" tanya Rendra lembut.
bukan jawaban yang Rendra dengar tapi suara isakan Karina.
Rendra menjadi khawatir ia gunjang pundak Karina lembut, "Rin, kamu kenapa?" tanya Rendra " Ada masalah apa?" lanjut Rendra.
Pelan-pelan Karina angkat kepalanya ia usap sisa air matanya lalu ia menghadap pada Renda yang sudah berjongkok di sebelahnya.
"Aku malu Ren, kamu gak lihat mading hari ini?" ucap Karina lirih
"Emang ada apa? biasanya mading cuma isinya gitu-gitu aja Rin." ucap Rendra yang masih enteng karena tidak tau apa yang ada di mading.
Belum Karina menjelaskan apa yang ada di mading tiba-tiba salah satu teman mereka menghampiri Rendra dan Karina. "Selamat ya wajah kalian muncul di mading," ucapnya sambil memberikan tawa kecil.
Rendra yang tidak tau apa-apa segera berdiri dan melangkahan kakinya dengan cepat menuju mading, ia terkejut mendapati dirinya dan Karina di sana.
Kajadian mading sudah selesai, wajah mereka tidak lagi terpampang di mading.
Karena memang Rendra dan Karina bukan siswa populer jadi semua itu tidak berdampak apa-apa pada mereka.
Rendra begitu peduli pada Karina bahkan mereka sering pulang bersama, jalan bersama layaknya sepasang kekasih, sayangnya mereka hanya berteman.
Malam minggu adalah waktu yang banyak di manfaatkan anak muda untuk jalan-jalan begitu pula dengan Rendra dan Karina yang memilih untuk pergi kebioskop dan pergi ke cafe.
"Kemana lagi kita?" tanya Rendra yang duduk di hadapan Karina di dalam sebuah cafe bernuansa klasik.
"Pulang." jawab Karina singkat sambil memasukan sesuap cake ke dalam mulutnya.
"Gak pengen jalan-jalan lagi."
"emh,," Karina berfikir sejenak,
"Ren" Sapa seorang laki-laki yang seumuran dengan mereka yang kini berdiri di dekat mereka.
"Hey, Vid." Rendra segera berdiri dan menyapa temannya.
"Rin, kenalin teman aku waktu SMP, Vid, kenalin dia-"
Belum selesai berucap, David mengulurkan tangan pada Karina "Pacarnya Rendra ya? aku David." Karina membelalakan matanya meraih tangan Davin "saya Karina dan bu---"
"Jangan lama-lama donk kalau berjabat tangan sama pacar orang." ucap Rendra.
Keduanyapun tersenyum tapi tidak dengan Karina yang seolah di buat membeku dengan apa yang di ucapkan Rendra.
Karina memang wanita normal yang bisa salah mengartikan setiap kebaikan Rendra tapi ia selalu sadar Rendra hanya menganggapnya sahabat ia tidak ingin melukai dirinya sendiri dengan kebaikan Rendra yang bisa ia salah artikan.
Karina masih terdiam dan tidak sadar jika dua orang di hadapanya sedang mengobrol tanpa duduk. Karina tersadar kala Rendra memanggilnya,
"Rin, lagi mikirin apa?" tanya Rendra.
"Kayaknya aku ganggu kalian deh, aku pergi dulu ya," Ucap David
"Gak kok, gak ganggu kalian ngobrol aja" ucap Karina secepat kilat, dan membuat dua laki-laki di hadapanya tertawa.
"Aku pamit dulu ya Ren, lain kali kalau ada kesempatan kita bisa ngobrol lagi." pamit David yang di iyakan oleh Rendra.
Sepanjang perjalanan pulang Karina hanya bisa diam, biasanya ia akan mengomel jika Rendra sedikit mengencangkan laju motornya tapi kali ini tidak.
Mereka sudah sampai di depan rumah Karina, karina turun dari atas motor Rendra lalu melepas kaitan helm yang ia kenakan begitu pula dengan Rendra.
"Makasih ya," Ucap Karina sembari memberikan helm yang ia kenakan pada Rendra.
"Rin, kamu kenapa?" tanya Rendra
"Gak apa-apa Ren, cuma lelah aja." sebisa mungkin ia buat alasan. "Aku masuk dulu ya." Lanjut Karina dan segera melangkangkan kakinya.
Baru beberapa langkah, langkah Karina terhenti oleh tangan Rendra yang menghentikannya.
"Apa kamu terganggu dengan ucapanku tadi." ucap Rendra.
"emh,, apa? kamu bercandanya keterlaluan Ren." Karina menjawab dengan nada suara yang di buat senormal mungkin.
"Siapa yang bercanda."
Apa yang Rendra ucapkan sontak membuat Karina membelalakan matanya.
Rendra maju selangkah mendekat pada Karina, ia dekatkan wajahnya pada Karina, jantung Karina sudah berdetak sangat cepat bahkan ia tidak bisa bergerah, otaknyapun sudah membeku.
Rendra kecup kening Karina cukup lama, "Gak harus di setujui sekarang, tapi aku menungunya." ucap Rendra yang sudah menatap Karina dalam, Karina masih membeku, lantas Rendra cubit pipi Karina.
"au,," Karina mengaduh
"Sana masuk udah malam, sampai jumpa hari senin dan ingat aku gak bercanda."
"i--iya." ucap Karina lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dengan berbagai pikiran.
Dalam perjalanan pulang, di balik helm fullfacenya Rendra tersenyum bahagia.
Hari senin, Karina seolah enggan berangkat sekolah ia masih ragu dengan apa yang Rendra ucapkan tapi ia yakinkan dirinya sendiri dan berangkat sekolah untuk memberi keputusan pada Rendra.
Bell sudah hampir berbunyi tapi Rendra belum juga datang, tidak biasanya Rendra telat, apa ada masalah. Karina mulai tidak tenang.
Bell bunyi, wali kelas sudah hadir di depan kelas.
Karina masih gelisah lantaran Rendra belum datang.
"Anak-anak, hari ini salah satu teman kalian akan pindah." Ucap wali kelas di depan. Semua anak mulai menoleh kesegala arah. Karina menegang perasaanya campur aduh, ia mencoba mengelak tapi tidak mampu.
Rendra masuk kedalam kelas, saat itulah semua yang ada di kelas sadar jika Rendra yang pindah. Karina masih enggan menatap ke arah Rendra, Rendra mendapati Karina yang menunduk, ia merasa bersalah tapi tidak ada pilihan.
"Terimakasih teman-teman atas semunya, saya harus pindah ke luar negeri mengikuti orang tua yang di tugaskan secara mendadak, maaf jika selama ini saya punya salah kepada kalian semua." Ucap Rendra yang masih enggan mengalihkan pandangannya dari Karina, sementara Karina masih menunduk.
Setelah berpamitan Rendra melangkahkan kakinya dengan berat menuju pintu, sekali lagi ia menoleh dan masih mendapati Karina yang tetap pada posisinya menunduk.
Sampai di halaman sekolah Rendra kembali menoleh, berat rasanya meninggalkan sekolahnya dan terutama Karina.
"Ayo Ren," Ajak papa Rendra yang sudah membuka pintu mobil.
Rendra melangkahkan kakinya dengan berat, ia membuka pinto mobil.
"Rendra....!!"
Karina memanggil Rendra dan berlari kearah Rendra begitupun dengan Rendra yang segera menghampiri Karina.
"Maaf ya Rin, ini semua mendadak, aku gak bisa apa-apa." ucap Rendra
Karina mengangguk "Gak apa-apa Ren, aku ngerti kok, kamu baik-baik di sana ya." ucap Karina yang mencoba menahan air matanya.
Rendra raih tangan Karina menariknya kedalam pelukannya, "Kamu juga jaga diri baik-baik ya." ucap Rendra dan di balas anggukan Karina yang ada di pelukannya.
Karina mengurai pelukannya, "Cepet sana, sudah di tunggu mama dan papa kamu itu." ucap Karina dengan berusaha tersenyum.
Rendra mengangguk dan berbalik menuju mobil, sebelum masuk ke dalam mobil, Rendra kembali menoleh pada Karina dan kini di balas sengan lambaian tangan dan senyum dari Karina.
Mobil Rendra sudah tidak terlihat, menyisakan Karina yang berada di halaman sekolah berdiri sendiri.