Adalah sebuah keluarga kecil yang bahagia dan harmonis hidup di sebuah perkampungan sederhana. Sang suami yang bernama Damar Kusuma hanyalah seorang guru SMA, sang istri yang bernama Ratih Ayu seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang percetakan. Kedua Suami Istri itu memiliki seorang putra yang mereka beri nama Aryo Kusuma. Damar Kusuma selain mengajar matematika di sekolahan, dia juga membuka les privat di rumahnya dan murid lesnya cukup banyak karena Damar sangat pandai mengajar.
Aryo Kusuma putra mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 3, seorang anak yang mandiri. Dia berangkat dan pulang sekolah tanpa diantar jemput karena, letak sekolahannya tidak begitu jauh dari rumahnya dan sesampainya di rumah jika ayah dan ibunya belum pulang, Aryo bisa memasak nasi memakai penanak nasi listrik dan menggoreng telur untuk makan siangnya.
"Jangan Ratu! saya mohon jangan sekarang" Seperti di malam-malam sebelumnya, Damar Kusuma selalu mengigau kata itu dan selalu terbangun tepat di tengah malam dengan bersimbah keringat dan napas terengah-engah. Hal itu terjadi setiap hari selama dua Minggu belakangan, sepulangnya dari liburan dengan anak istrinya ke kota J.
Seperti di hari itu tepat di malam Jum'at Kliwon Damar Kusuma memimpikan hal yang sama. Bertemu dengan seorang Ratu yang sangat cantik berpakaian serba hijau dan Ratu itu mengatakan kalau dia mencintainya bahkan yang membuat Damar Kusuma hampir gila adalah perkataan sang Ratu di kala itu, "kau adalah suamiku. Aku mencintaimu mas Damar Kusuma. Aku ingin kamu kembali ke aku dan kita akan hidup bahagia lagi seperti dulu"
"Jangan Ratu! saya mohon jangan sekarang! saya memiliki istri dan anak yang sangat saya cintai" ucap Damar Kusuma di dalam mimpinya.
"Aku Ratu Laut Kidul, jangan menguji kesabaranku, mas! Aku bisa mendapatkan apa saja yang aku mau. Rasa cintaku yang begitu besar ke kamu membuatku hilang akal, biasanya aku tidak sesabar dan selunak ini jika aku menginginkan sesuatu" ucap sang Ratu dengan nada tinggi dan mata melotot tajam ke arah Damar Kusuma.
"Maafkan saya, Ratu!" Damar Aji bersujud dan menangkupkan kedua tangannya di hadapan sang Ratu, "saya bahkan tidak ingat kalau saya sudah menikah dengan anda, kapan pernikahan kita terjadi?" Damar Kusuma masih menangkupkan kedua tangannya di depan sang Ratu dan semakin dalam menundukkan wajah tampannya.
"Dua puluh tahun silam, saat itu kamu masih berumur sepuluh tahun di dunia nyata. Kamu tenggelam di pantai dan kamu datang ke istanaku. Kita bermain bersama, aku senang bermain denganmu karena kita seumuran dan kita cocok satu sama lain. Kamu tinggal cukup lama di istanaku. Hingga akhirnya kita menikah, kamu berjanji hanya akan mencintaiku dan berjanji akan terus menemaniku bermain sebelum kamu kembali ke dunia kamu dan kamu berjanji akan kembali lagi kepadaku tapi kamu tidak pernah kembali. Kalau kamu tidak mau kembali maka hal yang paling berharga di hidupmu akan menghilang, mati" ucap sang Ratu.
Damar Kusuma langsung mengangkat wajahnya, "kita menikah di saat umur kita masih sepuluh tahun? bagaimana bisa hal itu terjadi? bahkan saya sama sekali tidak mengingatnya"
"Itu yang membuatku sangat sedih mas Damar Aji, kamu tega melupakan semuanya kamu tega melupakanku, hiks hiks hiks" Sang Ratu terisak menangis dan terdengar sangat memilukan. Damar Kusuma menjadi iba lalu dia bangkit, mendekati sang Ratu lalu memeluknya. Dia hanya ingin menenangkan sang Ratu namun, sang Ratu memeluk erat Damar Kusuma dan mengajaknya berciuman. Panas, liar dan sangat dalam dan Damar Kusuma menikmatinya.
"Mas! bangun mas! mas kenapa? mas.ngigau parah nih, bangun mas!" Ratih Ayu menepuk-nepuk kedua pipinya Damar Kusuma
Damar Kusuma pun terbangun dan nampak linglung menatap istrinya. Damar Kusuma langsung terduduk dan memeluk erat istrinya dengan tubuh yang penuh keringat dan napas memburu kencang, "jangan tinggalkan aku! apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkan aku!" ucap Damar Kusuma.
Ratih Ayu mengelus-elus punggung suaminya, "aku nggak akan meninggalkanmu, mas. Aku istri kamu jadi selamanya aku akan berada di sisimu. Memangnya mas mimpi apa, sampai mas ketakutan seperti ini?"
Damar Kusuma melepaskan pelukannya namun masih memegang kedua bahu istrinya, dia menatap Ratih Ayu dan berucap, "kalau aku cerita, apa kamu akan memercayainya?"
"Aku akan memercayai kamu mas. Aku mencintaimu dan aku akan selalu memercayaimu" ucap Ratih Ayu sambil tersenyum.
"Aaah, tidak tidak! aku akan menemui ibu dulu sebelum cerita ke kamu. Besok kita ke rumah ibu ya? ada yang ingin aku tanyakan sama ibu" kata Damar Kusuma.
"Baiklah! kebetulan besok tanggal merah jadi kita bisa ke rumah ibu pagi-pagi. Sekarang tidurlah lagi, mas! ini masih jam tiga dini hari" Ratih Ayu membantu Damar merebahkan diri kembali lalu mengusap-usap lembut kening suaminya dengan tangan kanannya, "tidurlah! aku akan menjagamu" ucap Ratih Ayu.
Damar Kusuma memejamkan matanya sambil memegang tangan kiri istrinya dan dia terus menggenggam tangan istri tercintanya itu.
Hari itu berjalan normal seperti biasanya namun tiba-tiba tanpa sebab yang pasti, Aryo, putra tunggal Damar dan Ratih sakit panas. Damar segera mengemudikan mobilnya di saat Ratih sudah masuk ke dalam mobil sambil memeluk Aryo.
Sesampainya di UGD sebuah rumah sakit swasta, Damar dan Ratih langsung menaruh Aryo di bed yang berada di UGD tersebut dan para tim medis segera menangani Aryo karena, Aryo tiba-tiba kejang
Ratih Ayu memeluk suaminya dan menangis sesenggukkan dan berucap di sela isak tangisnya, "semoga Aryo nggak kenapa-kenapa ya mas"
"Amin" ucap Damar lirih karena, dia sendiri pun juga merasa lemas tak berdaya melihat putra tunggal kesayangannya tiba-tiba demam dan kejang bahkan sampai tidak sadarkan diri namun, dia harus nampak kuat demi anak dan istrinya.
Selang tiga puluh menit kemudian, bed yang berisi Aryo didorong oleh dua orang perawat keluar dari ruang UGD tersebut, dan seorang dokter menemui Damar dan Ratih, "putra bapak dan ibu harus dirawat inap karena, masih tinggi demamnya dan belum sadarkan diri. putra bapak dan ibu saat ini dibawa ke ruang PICU. Ruang perawatan intensif khusus untuk anak"
Ratih Ayu langsung melemas dan Damar langsung memeluk erat istrinya, "apa anak saya baik-baik saja?" tanya Damar.
"Kita belum tahu tapi kita akan berusaha sekuat tenaga untuk meyelamatkan anak bapak dan ibu. Kita akan observasi apa penyebab dari demamnya. Kita tunggu sampai besok pagi kalau putra bapak dan ibu belum sadarkan diri juga, maka kita hanya bisa berserah kepada Tuhan" ucap dokter tersebut dan
Bruuuggh
Ratih Ayu jatuh pingsan dan langsung ditangani oleh tim medis.
Damar mengurus administrasi dengan frustasi.Istrinya berada di ruang UGD pingsan sedangkan putranya juga belum sadarkan diri berada di ruang PICU.
"Tuhan kuatkan hambaMu ini" gumam Damar lirih sambil berjalan menuju ke ruang UGD untuk melihat kondisi istrinya terlebih dahulu. Jika istrinya sudah sadar dan kuat berjalan maka akan dia ajak ke ke ruang PICU untuk melihat kondisinya Aryo dan untuk menjaga putra mereka.
Istrinya membuka mata tepat di saat Damar duduk di atas kursi di sebelah bed tempat Ratih terbaring lemas, "mas, gimana Aryo?"
Damar menggenggam erat tangan istrinya, "kamu harus kuat, kita harus kuat demi Aryo. Kalau kamu sudah bisa bangun dan berjalan, kita ke ruang PiCU
untuk melihat kondisinya Aryo"
Ratih langsung bangun, "ayok mas! kita lihat Aryo sekarang. Aku sudah kuat kok"
Damar memeluk bahunya Ratih dan menuntunnya menuju ke ruang PICU.
Sesampainya di ruang PICU, Ratih memakai baju khusus untu masuk ke ruang PICU dan mengenakan masker. Ratih masuk ke ruangan di man Aryo terbaring sendirian. Damar memesan ruang PICU VVIP untuk putra tunggalnya biar Aryo akan dan istrinya juga bisa menjaga Aryo dengan nyaman.
Damar menunggu di luar karena, hanya diijinkan satu orang saja yang masuk ke ruang PICU. Damar menelepon ibu dan bapaknya juga ibu dan bapak mertuanya. Dia mengabarkan kalau Aryo sakit dan orang tua Ratih dan orang tuanya Damar pun langsung berangkat menuju ke kota S untuk menjenguk cucu kesayangannya mereka.
Damar duduk di bangku yang berderet panjang di Selasar rumah sakit swasta tersebut di dekat ruang PICU. Tiba-tiba duduk seorang kakek memakai baju serba putih menepuk pundaknya Damar, "jika kau ingin anakmu sembuh, kau harus balik ke istananya Ratu dan menemuinya" kakek itu berbisik nyata di pendengarannya Damar namun di saat Damar menoleh sosok kakek berbaju putih itu telah lenyap dari sisinya.
Damar seketika itu juga merinding dan heran dengan apa yang baru saja dia alami dan dia dengar.
Selang dua jam kemudian orang tua dia dan mertuanya datang tergopoh-gopoh menghampiri Damar yang masih melamunkan segala kejadian yang menimpanya beberapa Minggu belakangan setelah dia berlibur ke kota J.
Damar menyalami kedua orang tuanya dan kedua mertuanya setelah itu dia mengajak ibunya untuk menemaninya ke kantin dengan alasan untuk membelikan minuman dan makanan namun sebenarnya, Damar ingin mengetahui kejadian yang dia alami saat dia masih berumur sepuluh tahun.
"Kamu hilang di telan ombak selama tiga hari dan ditemukan selamat oleh tim SAR. Kamu bahkan tidak terluka sedikitpun waktu itu dan ibu lega bukan main. Bapak kamu sampai mengadakan syukuran atas keselamatanmu itu. Bapak kamu menyembelih dua ekor sapi saat itu karena sangat bersyukur kami bisa selamat dari ombak pantai laut Kidul sedangkan orang lain yang juga tenggelam, ditemukan dalam keadaan tak bernyawa" ucap ibunya Damar.
Damar semakin hilang akal mendengar cerita ibunya.
Jadi benar kalau aku tenggelam kala itu. Batin Damar setengah tidak percaya. Apa yang dikatakan sang Ratu di alam mimpinya adalah benar dan nyata.
Ratih setengah sadar dan setengah tertidur di samping bed putranya dia melihat sosok wanita yang sangat cantik berpakaian seperti putri keraton, memakai kebaya hijau dan di kepalanya terpasang Tiara hijau yang menyilaukan mata karena, Tiara tersebut terbuat dari berlian asli.
Ratih langsung terduduk tegak dan menatap tajam ke.wanita cantik itu, "siapa kamu?" pekik Ratih. Aura dingin langsung menyergap tubuhnya Ratih dan Ratih langsung merinding di sekujur tubuhnya.
"Suamimu adalah suamiku. Kembalikan suamiku atau anakmu ini akan aku ambil sebagai tumbal" ucap wanita cantik berkebaya hijau itu dengan seringai yang sangat menakutkan.
Ratih langsung memejamkan kedua matanya dan berdoa. Bibirnya terus mengucapkan doa dan wanita berkebaya hijau itu memekik "panas!" lalu menghilang seketika dari hadapannya Ratih di saat Ratih membuka kedua bola matanya.
Ratih kemudian meletakkan tangan kanannya di atas kening anaknya dan kembali berdoa memohon keselamatannya Aryo, agar Aryo dihindarkan dari segala mara bahaya dan pencobaan.
Tanpa persetujuan dari Ratih, Damar berkata pada ibunya, "aku harus kembali ke pantai itu, ibu. Tolong pamitkan ke semuanya termasuk tolong pamitkan ke Ratih" Damar langsung berputar badan meninggalkan ibunya yang hanya bisa mematung menatap kepergiannya Damar.
Ibunya Damar kemudian melangkah kembali untuk menjumpai suami dan besannya dengan langkah lunglai. Entah kenapa dia merasa lemas saat Damar pergi begitu saja meninggalkannya. Nalurinya sebagai seorang ibu bisa merasakan kalau Damar berada dalam bahaya besar namun, dia belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi dan tidak berdaya untuk mencegah Damar karena, Damar berkata, "hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Aryo. Aku harus pergi ke pantai secepatnya dan aku akan berangkat sekarang juga, Bu"
"Mana Damar?" tanya ayahnya Damar.
"Damar ada urusan mendadak jadi harus pergi malam ini" hanya itu yang bisa diucapkan oleh ibunya Damar di malam itu.
Damar sampai di bibir pantai, pantai yang sama di saat dia tenggelam dan menghilang di umur dia yang masih sepuluh tahun kala itu. Damar berteriak, "aku kembali" sekencang-kencangnya. Tidak begitu lama dia mendengar bunyi kereta kuda.
Kereta kuda itu mendekati Damar dan turunlah seorang wanita cantik berkebaya hijau menyambutnya dengan senyum merekah, "akhirnya kamu menepati janjimu, mas" wanita itu mendaratkan wajah cantiknya di dada bidangnya Damar lalu memeluk Damar dengan sangat erat.
Damar hanya diam terpaku dan tidak membalas pelukan wanita itu dan dalam sekejap mata dia telah berada di sebuah kamar yang sangat mewah, indah dan berwarna serba hijau. Wanita itu menumpahkan kerinduannya yang begitu dalam kepada Damar dengan mengajak Damar bercinta secara berulang-ulang dan karena percintaannya itu, Damar melupakan istri dan anaknya untuk selama-lamanya.
Damar terkulai lemas dan tertidur pulas dalam dekapan sang Ratu. Sang Ratu tersenyum puas dan membelai wajah tampannya Damar sambil berucap lirih, "karena kamu telah kembali di sisiku maka aku akan kembalikan jiwa anakmu. Aku tidak akan menjadikan anakmu sebagai tumbal pengganti perjanjian kita"
Aryo membuka mata dan tim medis langsung memeriksanya. Aryo secara ajaib telah sembuh dari demam dan telah bangun dari komanya. Ratih mendapatkan kembali putranya namun, selama tiga tahun lamanya dia hidup bersama Aryo tanpa adanya Damar. Damar menghilang tanpa jejak, tanpa kabar, sejak saat itu dan itu sudah berlalu selama tiga tahun. Selama itu pula Ratih tidak pernah lelah terus mendoakan keselamatan suaminya dan memohon agar suaminya pulang kembali ke sisinya.
Tiga tahun dia hidup sebagai single parent, bekerja, mengurus rumah tangga, dan membesarkan Aryo tanpa Damar di sisinya. Aryo setiap hari mengajukan tanya ke Ratih, "apa hari ini ayah akan pulang?"
"Amin" Ratih selalu menjawab singkat tanya itu sambil mengusap kepala putranya dengan penuh haru.
Ratih terus berdoa setiap hari, untuk keselamatan suaminya. Doa-doa yang Ratih kirim memiliki daya magis yang sangat luar biasa. Mampu membuka kembali ingatannya Damar dan mampu melunturkan mantra sang Ratu. Bahkan doanya Ratih mampu membuat sang Ratu jatuh sakit dan tak berdaya mencegah Damar saat Damar akhirnya keluar dari gerbang istananya dan pergi meninggalkan sang Ratu begitu saja.
Damar tersadar dalam keadaan terbaring di bibir pantai. Dia kemudian meraba saku kemejanya dan masih menyimpan uang tiga ratus ribu rupiah. Dia kemudian mencari mobilnya yang dia parkir tidak jauh dari bibir pantai tapi mobilnya telah lenyap. Kemudian dia naik angkot lalu bus menuju ke kota S untuk kembali ke istri dan anaknya.
Damar sampai di depan pintu rumahnya di saat sang istri dan anaknya tengah duduk di teras depan. Mereka saling bersitatap sepersekian detik lalu Ratih dan Aryo berlari dan langsung menghambur masuk ke dalam dekapannya Damar.
"Terima kasih mas, sudah kembali dengan selamat" ucap Ratih.
"Aku mendengar doa-doa kamu. Terima kasih kamu mengirim doa setiap hari sehingga akhirnya aku sadar dan bisa pulang berkumpul kembali dengan kalian" ucap Damar.
Sejak hari itu, mereka tidak pernah lupa untuk berdoa setiap malam sebelum tidur dan sang Ratu tidak berkuasa lagi atas hidup mereka. Berkat kuasa doa, hidup Damar sekeluarga terlindungi dari segala marabahaya, kuasa kegelapan, dan pencobaan. Mereka akhirnya hidup damai dan harmonis untuk selama-lamanya.
❤️❤️❤️THE END❤️❤️❤️
Quote of the day "Doa adalah napas hidup orang beriman dan memiliki daya magis melebihi apapun di dunia ini jadi jangan pernah lupa untuk berdoa setiap detik, setiap menit, dan setiap hari di dalam napas hidup kita"