TAP TAP TAP
Gadis itu berjalan agak cepat, tubuhnya meremang. Aura di sekitar jalan menuju kos tempat tinggalnya sekarang memang terasa agak berbeda. Suasana jalanya begitu sepi, tanpa ada lalu lalang kendaraan maupun orang-orang, dan di pinggir jalan tumbuh pohon-pohon besar, menambah aura mistis tempat itu. Apalagi sekarang waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Ia harus kulewati jalan itu seorang diri, karena ada tugas kuliah yang harus ia selesaikan malam itu juga di kampusnya. Ia menyusuri jalan itu. Ini pertama kalinya ia melewati jalan itu malam hari, tak pernah disangkanya akan seperti ini rasanya. Gadis itu terus melangkah, memandang ke depan tanpa menoleh-noleh itulah yang ia lakukan demi mengurangi rasa takut yang mulai menghinggapinya. Tapi tiba-tiba terdengar.
“Nadin… Nadin…” terdengar suara lirih memanggil namanya dari arah belakang, rasa takutnya seolah menyebar ke seluruh tubuh.
“Siapa itu?” tanyanya sambil menoleh ke belakang, yang teryata tidak ada siapa siapa. Pikiran gadis itu mulai melayang ke mana-mana tanpa otaknya bisa mengontrol. Ia mencoba untuk bersikap tenang sambil meneruskan perjalannya seperti tidak terjadi apa-apa, walau rasanya ada yang sedang mengawasi dirinya dari belakang.
Tidak terasa ternyata ia sudah berada di depan sebuah rumah kosong yang cukup besar, cat putih dan banyak sarang laba-laba di area depan rumah itu. Ditambah lampu yang hidup, mati, hidup, mati, langsung membuat bulu kuduknya berdiri semua.
Menurut kabar yang ia dengar, dulu ada seorang anak perempuan membunuh ayah dan ibunya sendiri waktu sedang terlelap tidur, dengan cara menusuk mereka menggunakan pisau dapur berkali-kali, lalu anak itu menggantung dirinya di depan mayat ayah dan ibunya.
“Nadin... Tolong...” kini suara itu terdengar di dalam rumah angker itu, seketika itu pula tangan Nadin mulai gemetaran tak terkendali. Ia berusaha mengabaikan kembali suara-suara itu dan terus saja berjalan maju.
“Toloong aku...” suara itu kembali terdengar lirih seolah memendam rasa sakit yang begitu dalam.
Lari!
itu yang terpikir olehnya setelah beberapa kali terdengar suara-suara aneh dari belakang dan rumah itu.
"Aduu!" karena lari terburu-buru Nadin tersandung sesuatu yang membuatnya jatuh tersungkur, matanya mulai mencari-cari apa yang sampai membuatnya jatuh. Akhirnya yang ia temukan adalah sebuah boneka beruang yang sudah terlihat usang, lusuh, dan kepalanya hampir terlepas dari tubuhnya itu yang membuatnya terjatuh.
Rasa takutnya semakin menjadi-jadi, tanpa pikir panjang langsung ia tinggalkan boneka itu dan berlari kencang menju kosnya yang mulai terlihat.
Sesampainya di kos, hatinya masih berdetak begitu kencang, keringat-keringat masih mengucur deras dari seluruh badannya. ia berusaha menenangkan dirinya sejenak, sambil minum seteguk dua teguk air putih dan mengambil nafas panjang lalu mengeluarkanya. Hal itu ia lakukan berkali-kali sampai hatinya mulai tenang.
Lantar ia memutuskan membersihkan badannya dulu sebelum tidur, selesai mandi ia duduk di sofa sambil memikirkan kejadian yang barusan terjadi yang masih membuat bulu kuduknya berdiri semua. Tidak begitu lama rasa takutnya berubah menjadi rasa kantuk yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Akhirnya ia pun berbaring di ranjang tidurnya dan memejamkan kedua matanya.
TOK TOK TO
Tiba-tiba terdengar suara aneh itu membangunkan Nadin dari tidur lelapnya malam itu.
TOK TOK TOK
Suara itu lagi-lagu terdengar dan asalnya teryata ada di luar kamar gadis itu. Gadis itu akhirnya memberanikan diri memeriksa sumber suara. Ia mulai membuka pintu kamarnya perlahan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mulai mencari-cari asal suara itu dari sela pintu yang terbuka sedikit.
TOK TOK TOK
Suara itu kembali terdengar. Dan kini asal suaranya dari arah dapur. Nadin berjalan ke arah dapur, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, di dalam dapur nampak sosok seorang anak perempuan berambut panjang, memakai dress putih yang penuh noda darah. Anak perempuan itu sedang menghadap tembok. Tangan kirinya membawa boneka beruang dengan kepala yang hampir putus. Boneka yang membuat Nadin jatuh di jalan tadi. Anak perempuan itu menusuk-nusukuk tembok memakai pisau dapur menggunakan tangan kanannya.
“Si-siapa kamu?” tanya Nadin terbata-bata.
Kakik dan tangannya mulai bergetar ketakutan. Mata gadis itu terus menatap ke arah anak perempuan itu seolah tidak bisa mengalihkan pandangannya.
“Kakak... Boneka kak... Boneka...” Anak perempuan itu menjawab sambil menatap tajam ke arah Nadin.
Dengan sekuat tenaga Nadin berusaha menggerakkan kakinya yang masih gemetaran. Ia masuk ke dalam kamar meningkalkan anak itu. Tapi alangkah terkejutnya dirinya mendapati anak itu sudah ada di dalam kamarnya berdiri di atas tempat tidurnya sambil tersenyum menyeringai. Nadin bergidik melihat tatapan mengerikan dari kedua mata anak perempuan itu.
“Kak… kak… boneka!!!” Anak perempuan itu berteriak menanyakan bonekanya.
Nadin ingin berteriak meminta pertolongan, namun suaranya seperti tercekat di tenggorokannya. Air mata mulai mengalir keluar dari kedua bola matanya. Gadis itu mencoba meraih gagang pintu tapi ternyata pintu itu terkunci.
Anak perempuan tersebut mulai mendekat Nadin. Gadis itu pasrah, ia hanya terduduk di lantai sambil menangis menatap anak perempuan itu.
“Kak… Boneka kak…” anak itu menanyakan kembali bonekanya sambil mengarahkan mata pisau dapur yang ada di tangan kananya ke leher Nadin.
Nadin merasakan dingin menjalar ke sekujur tubuhnya. Darah sudah membanjiri lantai kamarnya dan tiba-tiba saja semua menjadi gelap…
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @itsme_assyh untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤