Jarum jam menunjuk pukul 12 malam, yang menandakan tepat tengah malam sekaligus bergantinya hari. Seketika itu terlihat pula sebuah benda langit yang melewati suatu kota dibawahnya. Seorang gadis remaja yang masih terjaga melihat benda tersebut. Dan ia pun langsung mengucapkan permohonan secara spontan.
"Itu bintang jatuh kan?"
Tanyanya diselingi rasa ragu.
Pagi harinya jam 8. Gadis itu berjalan dan mengambil buku tulis yang tertera sebuah nama didepannya. Michele, itulah nama dari gadis tersebut.
Michele mulai menulis dibuku itu. Sebuah catatan sehari-hari yang dialaminya tertuang di buku tersebut. Kali ini ia menceritakan mengenai momen dimana dirinya melihat bintang jatuh serta mengucapkan suatu permohonan di waktu yang sama. Michele menulisnya sambil tersenyum. Rasa senang dialaminya sekaligus berharap akan terwujudnya keinginan yang telah disampaikan malam tadi.
"Semoga keinginanku terwujud. Kuharap itu nyata terjadi."
Di lain waktu, hari menuju siang. begitu terik hingga dirasa membakar kulit. Michele berjalan sambil mengenakan payung agar terhindar dari sengatan sinar mentari. Berjalan seorang diri menuju sebuah tempat perbelanjaan. Setelah berbelanja, Michele lanjut berjalan ke tempat lain.
Sebuah tempat yang berada diatas bukit. Walau tempat itu dirasa cukup jauh dan mesti menaiki banyak anak tangga, Michele tetap terus berjalan agar dapat sampai ke tempat yang ingin dikunjunginya tersebut.
Michele melangkah hingga tiba di atas bukit. Terlihat sebuah gazebo berada di depan matanya.
Ia berteduh disana sembari menikmati es krim yang sempat dibeli sebelumnya.
Suasana begitu tenang dan sepi. Hanya ia seorang berada di tempat itu. Angin berhembus pelan seolah mengurangi sedikit hawa panas kala itu.
Michele melihat pemandangan kota dari tempat dia berpijak.
"Indahnya."
Di lain sisi, Michele memikirkan hal berbeda.
"Berharap keinginanku segera terkabul."
Gumamnya seraya memandang ke depan.
Menghabiskan waktu cukup lama disana, membuat Michele tersadar bahwa dirinya harus segera pulang. Berjalan menuruni anak tangga sambil memegang payung. Langkah kaki yang begitu pelan disengajanya agar ia dapat menikmati suasana sekitar yang dirasa asri.
"Tempat yang membuatku merasa damai dalam kehidupan ini."
Saat sudah setengah jalan, Terdengar langkah kaki yang tak jauh dari seorang Michele. Dengan sigap Michele melihat ke arah suara itu.
"Tidak ada siapapun. Tapi aku perasaan mendengar suara langkah kaki didekat sini. Apa aku salah dengar?"
Michele lanjut berjalan. Ketika hampir sampai dibawah, Ia kembali mendengar suara langkah kaki yang begitu cepat.
"Siapa itu?!"
Michele menoleh ke belakang.
Tidak ada seorang pun di sekitarnya. Michele mulai takut. Dan memutuskan untuk lari.
Petang hari.
Michele terdiam di meja belajarnya. Buku yang menjadi catatan kesehariannya itu terbuka lebar di depan matanya. Ia masih berpikir akan momen sebelumnya. Dan menaruh rasa penasaran hingga kini.
"Apa dan siapa disana tadi? Aku tidak salah dengar kan?"
Menggelengkan kepala dan membuang rasa penasaran itu jauh-jauh. Michele kembali menulis di buku itu. Momen terbaru berhasil ditambahnya.
"Kali ini aku mengalami hal mistis. Dimana lokasinya berada di tempat yang aku suka kunjungi."
Selesai menulis, Michele menutup bukunya. Lalu menyimpannya di laci mejanya.
"Selesai. Aku rasa hanya itu saja untuk sekarang."
Michele berjalan ke tempat tidur dan berbaring. Kemudian ia memandang langit-langit dalam heningnya ruangan kamar.
"Menulis sesuatu hari ini?"
Terdengar jelas suara seseorang di ruangan itu. Seketika Michele bangkit dan merinding.
Langit sudah berganti warna. Malam pun tiba.
Michele masih ketakutan.
"Siapa itu?"
Bertanya-tanya tanpa ada balasan.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki yang mulai mendekat. Michele bergerak mundur dan menutupi diri dengan selimut. Sembunyi didalam selimut selama mungkin tidaklah efektif. Ia masih mendengar langkah kaki asing itu makin mendekat.
"Apakah ada orang asing yang memasuki rumah ini?"
Pikirnya dan membuatnya sadar bahwa ia harus bergerak.
"Tidak bisa dibiarkan!"
Michele mengambil barang yang ada di bawah tempat tidurnya dengan meraba-raba. Ketika mendapat benda yang cukup keras (Raket badminton), ia berancang-ancang untuk langsung menyerang orang asing tersebut.
"Satu..Dua..Tiga!"
Membuka selimut dan bergerak menyerang.
Michele memukul dengan kuat dan terdengar suara yang cukup keras.
Kaca salah satu foto yang terpampang di dinding kamarnya pecah. Hal itu membuat dirinya terdiam.
"Ups"
"Kamu menghancurkan kaca fotomu sendiri?"
Suara orang asing itu terdengar kembali.
Kali ini wujudnya telah nampak dihadapan Michele. Hal ini membuatnya diam terpaku dalam getaran hebat.
Berpakaian seragam sekolah yang sama dengan Michele dahulu, membuat gadis itu teringat akan sesuatu.
"Apakah... ini benar-benar kenyataan?"
Michele memandang dari bawah ke atas. Perlahan ia mengangkat pandangannya.
"Sudah lama tidak bertemu."
Tanpa disadari air mata Michele keluar. Berusaha bangkit, lalu berdiri menatap orang yang ada di depannya. Dalam sekejap, Michele langsung memeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu."
Setelah momen itu, mereka berdua duduk bersebelahan di tepi ranjang. Mereka membicarakan masa lalu yang pernah dialami. Terlihat raut wajah keduanya bahagia. Setelah lama bercerita, Michele menatap foto dalam bingkai yang juga kacanya sudah retak akibat ulahnya tadi.
"Kau tahu.. Aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Namun, setelah pulang sekolah waktu itu.. Kamu tiba-tiba saja menghilang."
Michele bertanya akan hal itu. Namun, lelaki yang memiliki nama asli Zack itu hanya diam. Tidak hanya sekali saja, bahkan berkali-kali Michele menanyakan pertanyaan yang sama. Usai bertanya banyak mengenai itu, Zack angkat bicara.
"Aku tidak bisa memberitahumu pada saat itu. Sebab aku mengalami kejadian yang menyebabkan aku..."
Belum selesai bicara, Michele memegang helai baju dari Zack. Ia tertunduk dan meneteskan air matanya kembali.
"Aku benci baru mengetahuinya sekarang. Namun, aku tidak membenci dirimu walau tiada kabar darimu selama ini."
Itulah yang dikatakan Michele pada Zack yang menatap dirinya.
Mendengar perkataan itu, Zack mengelus kepala Michele. Dan Michele pun menyandarkan kepalanya di pangkuan Zack.
Waktu berganti pagi. Sinar mentari menembus masuk ke dalam kamar Michele. Hal itu membuatnya terbangun dari tidur. Ia sadar bahwa kini dia seorang diri tanpa adanya Zack.
Mencari Zack ke setiap bagian kamar, Namun tidak ditemukan. Ia berpikir bahwa lelaki itu telah pergi setelah permohonannya terkabul.
Michele melihat buku catatan hariannya ada diatas meja dalam keadaan terbuka. Ia melihat isi dari lembaran tersebut. Dan terukir senyuman di wajahnya.
"Terimakasih sudah mau hadir kembali di hadapanku."
Ucap Michele setelah melihat isi dari lembaran terbuka itu.
-Tertulis-
"Aku memang sudah menghilang dari hadapanmu, Tetapi bukan berarti diriku ikut menghilang dari lubuk hatimu."
-----Selesai-----