'Tinggal satu sekolah lagi. Semangat!!'
Tessa menyemangati dirinya sendiri agar tidak lemah. Makian Pak Noto pagi tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Betapa ia diteriaki di depan karyawan lain, karena hanya dia satu-satunya sales yang tidak tutup target bulan ini. Dimasa sekolah daring seperti ini, harusnya wajar jika sales buku pelajaran macam Tessa kesulitan mendapatkan pembeli. Tetapi jelas perusahaan tidak mau tahu, apalagi teman sales lainnya bisa tutup target, itu artinya Tessa juga seharusnya bisa.
Sekolah Menengah Ilmu Kesehatan Dharma Wiyata, Tessa berhenti di depan gedung sekolah besar yang tampak sepi itu. Ah..wajar, karena siswanya pasti belajar daring, dan sebagian karyawannya mungkin WFH. Tak ada satpam yang berjaga, sekolah tersebut benar-benar sepi. Padahal ini masih jam dua belas siang. Apakah mungkin memang semua sudah pulang? Srek... srek... srek... Dari kejauhan Tessa mendengar suara sapu lidi bergesekan dengan paving. 'Mungkin masih ada orang di dalam' pikir Tessa. Perlahan ia mengemudikan motornya memasuki halaman sekolah, berhenti tepat di depan lorong yang mengarah ke kantor guru. Ada beberapa sepeda motor yang masih terparkir, memberikan harapan bagi Tessa bahwa masih ada seseorang yang bisa ia temui.
Srek...srek...srek... suara sapu lidi itu terdengar semakin jelas, Tessa mencari sumber suara itu, namun tak tampak satu orang pun yang sedang menyapu. Tessa menembus lorong melewati beberapa ruang kelas. Sepi. Tak ada seorangpun. Ia terus berjalan menyusuri lorong, mengikuti petunjuk arah ke kantor guru. Jauh di depan Tessa tampak seorang laki-laki berseragam perawat sedang berjalan membawa map. Lelaki itu berjalan menyeberangi lorong dari kanan ke kiri, tampak dari satu ruang ke ruang lainnya. Tessa mempercepat langkahnya, menyusul lelaki tersebut.
"Permisi!" teriak Tessa, namun lelaki itu tak mendengar. Tessa sampai diujung lorong buntu, ia menoleh ke sebelah kanannya, tampak sebuah ruangan besar yang sepi. Kemudian Tessa menoleh ke arah kiri. Tembok! Tak ada ruangan di sebelah kiri! Lalu kemana perginya perawat tadi? Tessa begidik, tiba-tiba tengkuknya merinding.
'Puk'
"Awh!!!" Tessa menjerit, seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang.
"Cari siapa, mbak?" seorang wanita berusia sekitar 50 tahun muncul di belakang Tessa. Mengenakan setelan berwarna biru tua dan sepatu pantofel warna hitam. Tubuhnya sedikit tambun dengan kuncir cepol di kepalanya.
"Eh.. anu.. itu tadi.. " Tessa yang masih terkejut gelagapan.
"Cari siapa?" wanita tadi mengulang pertanyaannya dengan senyum ramah.
'Haduh Tessa.. ini siang hari, mana ada hantu siang-siang lewat! kendalikan dirimu,Tes!' batin Tessa menyadari kebodohannya.
"Eh.. maaf Bu. Saya kesini mau menawarkan buku pelajaran. Saya mau ketemu sama kepala sekolah bisa?"
"Owh... saya kepala sekolah disini. Silakan masuk"
Bu kepala mempersilakan Tessa masuk ke ruangan yang besar dan sepi tadi.
"Terima kasih Bu. Perkenalkan nama saya Tessa. Saya mau menawarkan buku pelajaran Bu, untuk dijual ke siswa"
"Owh.. saya Ambar, kepala sekolah. Ini anak-anak masih daring semua, tapi tidak apa-apa. Nanti bisa saya komunikasikan ke pengajarnya. Mbak Tessa bawa contoh bukunya?"
"Iya.. ada Bu.. jadi ini....." Tessa menjelaskan panjang lebar perihal dagangannya. Ia tunjukkan contoh-contoh buku yang ia bawa dan katalognya. Bu Ambar mendengarkan dengan saksama, memberikan harapan bagi Tessa.
"Sepertinya menarik. Kalau saya pesan sejumlah siswa yang ada disini sekarang, apakah barangnya ada?"
"Jumlah siswanya berapa Bu?"
"350 siswa"
'Whoaahh! Gilak!' Tessa membelalak. Dengan orderan sejumlah itu hari ini, ia bisa closing target sampai dua bulan, bisa santai-santai tapi tetap gajian. Selama ia kerja belum pernah mendapatkan orderan sebanyak ini, bahkan ia yakin kalau Pak Noto manajernya juga belum pernah. Tessa membayangkan pujian yang akan ia dapatkan dari rekan-rekannya nanti.
"Mbak.. mbak Tessa?" Bu Ambar menepuk paha Tessa yang sedang melamun.
"Eh... iya Bu.. jadi gimana? mau beli 350 eksemplar?"
"Jangan banyak melamun mbak, nanti kesambet setan lewat," canda Bu Ambar. Tessa hanya cengingisan.
"Kalau barangnya ada, saya siapkan uangnya sekarang Mbak Tes"
"O.. iya Bu, saya telfon kantor dulu ya. Kalau ada nanti biar dikirim sekarang"
Tessa semangat sekali mengeluarkan handphonenya, menghubungi rekannya di kantor. Tak ada jawaban, rupanya memang tak ada sinyal. Berkali-kali ia menggoyang goyangkan hp nya, tetap tak ada sinyal.
"Maaf Bu, boleh saya izin keluar dulu? disini agak susah sinyalnya, maklum hp saya jelek" kata Tessa merendah.
"Silakan".
Tessa keluar ruangan, tetap tak ada sinyal. Ia berjalan keluar lorong menuju halaman sekolah, 'mungkin memang harus keluar dulu' pikir Tessa. Dan ternyata benar, ia mendapatkan sinyal setelah berada di halaman sekolah.
"Halo, Yu.. Ayu.. bukunya ready ndak 350 eks?.. Iya.. ini kepala sekolahnya langsung yang order, uangnya juga dibayar sekarang, kontan!... ya namanya rejeki ini, gimana? hah? 200? Ya sudah, kirim seadanya dulu aja. Nanti aku tak bilang sisanya menyusul. Suruh Wasis cepet kirim ya.. alamatnya tak WA. oke.."
'SMK Dharma Wiyata, Jl. Pandan Arum No.66'. Tessa mengirimkan alamat kepada Ayu.
"Pulang!! Ayo pulang!!" Seorang lelaki berpakaian perawat yang muncul tiba-tiba mencengkeram tangan Tessa. Sontak Tessa kaget! Perawakan lelaki itu kurus, kantung matanya menghitam, giginya menguning dengan air liur yang menetes, kuku tanganya agak panjang dan hitam. "Hah!!" Tessa mengibaskan tangannya dan menutup matanya rapat-rapat.
"Mbak Tessa," suara bu Ambar terdengar memanggil Tessa dari ujung lorong. Tessa membuka mata, dan lelaki perawat tadi menghilang. Nafas Tessa memburu, dipungutnya hp yang terjatuh. Ragu-ragu Tessa memasuki lorong itu untuk kembali ke ruang Bu Ambar. 'Ayo Tes, demi closing target!' pikiran Tessa terbelah, antara kembali ke ruangan atau pulang.
"Mbak Tessa gak apa-apa?" tanya Bu Ambar dari kejauhan. Tessa kembali ke ruangan bu Ambar, ditepisnya segala keraguan demi segebok uang yang sudah ada di bayangannya.
"Bu... sekolahnya sepi ya!"
"Iya, semua karyawan sudah pulang. Saya biasa pulang paling akhir"
"Bu, tadi sepertinya saya lihat... ada.. laki-laki pakai baju perawat. Apa disini ada perawatnya juga?" tanya Tessa ragu-ragu.
"Owh.. itu. Mungkin Faisal, dia penjaga sekolah disini. Namanya juga sekolah kesehatan, Mbak. Jadi ya seragam karyawannya juga menyesuaikan" jawab bu Ambar tenang.
"Owh... iya," Tesaa mengangguk sambil tersenyum.
Mereka berdua mengobrol lama, sembari menunggu Wasis dan rekannya datang mengantarkan buku.
Lima jam berlalu, hari sudah menjelang petang, namun Wasis belum juga datang. Bu Ambar masih setia menemani Tessa.
"Bu Ambar, maaf ya jadi menunggu lama. Bu Ambar tidak pulang?" tanya Tessa jadi tidak enak hati.
"Gak apa-apa Mbak Tes, saya sudah biasa pulang terlambat".
"Bu, sebaiknya kita pulang saja gimana? Ini sudah mulai gelap. Besok pagi saya janji segera antar bukunya" perasaan Tessa mulai gelisah.
"Kenapa buru-buru mbak Tessa? mbak Tessa mau minum?" bu Ambar tampak tetap tenang.
"Tidak usah Bu, terimakasih. Kita pulang saja Bu, sebentar lagi malam. Mungkin sopir kami kesasar" Tessa beranjak dari tempat duduknya, hendak berpamitan. Di luar langit sudah gelap, lampu yang menyala hanya di ruangan bu Ambar.
"Ya, mungkin susah ya menemukan sekolah ini. Baiklah mbak, silakan pulang duluan saja. Saya masih harus menyalakan beberapa lampu, sepertinya Faisal lupa menyalakan" Bu Ambar menjabat tangan Tessa, dingin! Tangan bu Ambar sangat dingin!
Tessa bergegas keluar dari ruangan, melewati lorong menuju halaman sekolah. Lorong itu masih gelap, Tessa mempercepat langkahnya, tetapi tidak juga sampai di halaman. Semakin cepat.. semakin cepat, bahkan berlari. Tetapi halaman sekolah tak kunjung ia temukan! Tessa hanya tetap berjalan di lorong gelap itu. Ia berlari sekuat tenaga, ia melihat ada cahaya di depannya. Tessa berlari menghampirinya, dan ternyata itu adalah ruangan bu Ambar. Tessa terperangah menoleh kedalam ruangan, bu Ambar masih disitu. Dengan rambut tergerai acak-acakan, kantung mata yang menghitam, dan pipinya menirus. Sorot matanya dingin dan mengerikan!
"Mbak Tessa, belum pulang?" bu Ambar menyeringai, menampakkan senyum yang mengerikan.
Tessa menjerit dan berlari sekuat tenaga! Ia menangis sepanjang pelariannya, menjerit dan terus menjerit tak karuan. Tiba-tiba kakinya tersandung sebuah batu marmer berbentuk kotak, bertuliskan 'BATU DUKA CITA, TERUKIR NAMA SAHABAT KAMI DISINI FAISAL AHMAD. JASADNYA MENINGGAL, TETAPI NAMANYA ABADI DI BATU INI, DI HATI KAMI'. Tessa semakin ketakutan, kakinya terpincang-pincang, desela sela tangisnya ia berusaha terus berjalan, terus keluar dari lorong gelap itu. Tessa berjalan... berlari.. terpincang, namun jalan keluar itu tak kunjung ia temukan. Ia menjerit sekuat tenaga, menangis sejadi jadinya. Tangisan itu tak terdengar, sunyi, sepi. Hanya ada bu Ambar yang datang dengan senyumnya yang mengerikan.
"Mbak Tessa belum pulang? Apa mau menemani saya disini?"
***
Pembicaraan telefon.
Wasis : Ayu, ini benar alamatnya? Aku sudah muter muter lho ini dari tadi! Sudah lima jam gak ketemu. Gak ada nama sekolah itu disini.
Ayu : Benar, Mas. Itu tadi aku forward kok dari chat nya Tessa. Kamu coba hubungi Tessa deh, Mas.
Wasis : HP nya mati. Dari tadi aku telfon gak nyambung. Jangan-jangan kita kena prank nih! Aku balik aja ya? Udah malam ini.
Ayu : Ya udah, Mas. Besok aja mas Wasis balik lagi sama Tessa.