SAH....
Kata itu terdengar begitu indah di telingaku, kini aku Nabilla Andini Puteri telah resmi menjadi istri dari Abi Praja Pradifta, pria yang dua tahun ini mendampingiku dalam susah maupun senang.
Setelah acara ijab kabul berlangsung kami mengadakan syukuran kecil kecilan, kami tidak bisa mengadakan pesta pernikahan yang besar, karna kami hanya dua anak yatim piatu yang saling jatuh cinta, aku bekerja di toko kue, sedangkan suamiku bekerja di bank swasta.
Malam acara pernikahan pun telah selsai, semua tamu undangan sudah pulang. Kini, tinggal kami berdua yang ada di rumah, rumah sederhana milik suamiku, Mas Abi.
"Mas, aku mandi dulu," ucapku.
"Mandilah, Sayang. Biar wangi, ini kan malam pertama kita. Biar makin semangat," goda Mas Abi.
Aku pun tersenyum malu saat mendengar ucapannya, dengan cepat aku segera pergi ke kamar mandi.
Setelah aku mandi, aku meminta Mas Abi untuk Mandi. Sambil menunggu Mas Abi mandi, aku memakai body lotion agar badanku lebih wangi, aku ingin badanku lebih wangi agar Mas Abi senang.
Seteh Mas Abi mandi, dia langsung menghampiriku, dia memelukku dan dia pun berbisik tepat di telingaku.
"Sayang... sekarang kita sudah halal. Boleh kan?" tanya Mas Abi.
"Boleh apa?" ucapku pelan karena malu.
"Aku mau melakukan adegan icikiwir sama kamu," bisik Mas Abi sambil mencuil daguku.
Aku pun tertunduk malu, melihat aku yang terdiam Mas Abi langsung melancarkan adegan icikiwir yang sudah sangat dia inginkan.
Saat pertama memang terasa sangat sakit, tapi selanjutnya aku pun mulai menikmati setiap adegan icikiwir yang dilakukan oleh Mas Abi.
Namun sayangnya, baru sepuluh menit berlalu, Mas abi langsung tumbang dan memuntah kan lahar panasnya di rahimku.
Sebenarnya aku sangat kecewa, disaat sakit yang kurasa baru berubah menjadi nikmat, tiba tiba smuanya ambyar.
Ingin rasanya aku memaki Mas Abi dan menjambak terongnya yang kelihatan sudah layu. Tapi sayangnya, aku merasa kasian padanya.
Setelah adegang icikiwir yang kentang itu, Mas Abi langsung tertidur. Sedangkan aku hanya mengumpat dalam hatiku dan mataku tak dapat terpejam karena kesal.
Benar-benar sangat menyebalkan!
****
Satu minggu sudah aku menikah, kini kami sudah kembali dengan aktifitas kami seperti sebelumnya. Aku bekerja di toko kue milik kluarga Pak Jaya juragan di desaku dan Mas Abi sudah kembali bekerja sebagai karyawan bank swasta.
Hari-hari kami lewati dengan bahagia, walaupun aku tidak pernah merasa puas dengan adegan icikiwir yang di lakukan Mas Abi.
Akan tapi aku tetap menyayanginya, rasa cintaku tak berkurang sedikit pun padanya.
***
Satu bulan telah berlalu, sore ini sepulang kerja aku memutuskan untuk jalan jalan ke taman. Karna tadi aku dapat chat dari Mas Abi kalo dia akan lembur, karna ada laporan bulanan yang harus di kerjakan.
Saat sudah sampai taman, aku melihat seorang perempuan sedang menangis. Dia terlihat sedih sekali, bahkan air matanya terlihat terus saja berjatuhan.
Karna merasa kasihan padanya, aku pun menghampirinya dan memberikan tisu.
"Trimakasih," ucap wanita itu.
"Sama Sama," kataku.
Dua terlihat menyeka air matanya, namun air mata itu tetap saja jatuh dari pelupuknya.
Aku hanya terdiam menyaksikan dia terus menangis, tanpa ingin bertanya. Tiba-tiba perempuan itu memelukku dan dia pun berkata.
"Aku hamil, kata dokter sudah 6 minggu," ucapnya.
"Itu kabar yang bagus, seharusnya kamu bahagia. jangan menangis," ucapku.
"Bagaimana aku tidak menangis? Kalau pada kenyataannya aku belum menikah, aku kesini sedang mencari pacarku," ucapnya lagi.
"Maksud kamu?" tanyaku.
Dia melerai pelukannya, kemudian dia menatapku dengan lekat
"Aku dari desa sebrang, aku punya pacar yang tinggal di desa ini. Kami berpacaran selama satu tahun, dua bulan yang lalu pacar ku menemui ku, kami janjian di kebun teh. Suasana begitu mendukung untuk melakukan itu, padahal ngelakuinnya cuma sebentar, bahkan aku tidak puas sama sekali dengan permainannya. Tapi aku langsung hamil," ucapnya panjang lebar.
"Hey! Kenapa kamu jadi curhat padaku??" tanyaku.
"Entahlah, aku tidak kenal siapa-siapa di desa ini. Boleh tidak aku menumpang di rumahmu sebentar? hanya sampai aku menemukan pacarku," ucapanya mengiba.
"Tapi, di rumah ada suamiku. Aku engga enak pada nya," ucapku.
"Ayolah, aku mohon. Dari tadi dia tidak angkat telpon dariku,' ucapnya.
"Ya sudah, tapi kalo sudah bisa menghubunginya, kamu harus langsung pergi," ucapku.
"Terima kasih," ucapnya seraya menganggukkan kepalanya.
Akhirnya kami pun pergi ke rumah Mas Abi, sebelum pulang aku menyempatkan diri untuk membeli dua bungkus nasi dan lauknya. Tentunya satu untukku dan satu untuk Mas Abi makan.
Saat sudah sampai, aku menyuruh wanita itu duduk di ruang tamu. Sedangkan aku pamit untuk mandi, aku tidak mau kalo badanku tercium tak enak saat dia pulang.
Setelah mandi aku hendak menemui perempuan itu, tapi samar-samar aku dengar perempuan itu dan Mas Abi sedang beradu argumen.
Aku pun memberanikan diri untuk menguping pembicaraan mereka, setelah mendengar apa yang mereka bicarakan lututku terasa lemas, air mataku jatuh tanpa permisi.
"Mas Abi, jadi kamu menghianati aku?" tanyaku lirih.
"Tidak, Sayang. Aku--"
Ucapan Mas Abi terputus, karena aku sudah menyelanya.
"Sudah Mas, tak perlu bicara lagi. Aku sudah mendengar semuanya," ucapku sedih.
Aku segera masuk ke kamar kami dan membenahi semua barangku, aku ingin langsung pergi dan tak ingin melihat wajahnya lagi. Tapi saat mau pergi, Mas Abi menahanku.
"Jangan pergi, Sayang! Aku sangat mencintai kamu," ucap Mas Abi.
"Kalau kamu mencintai aku, kamu tidak akan menghamili wanita lain. Aku istri sah kamu belum hamil, tapi wanita itu yang bahkan tidak ada statusnya dengan kamu sudah mengandung 6 minggu," ucapku kesal.
"Aku khilaf, Sayang," ucap Mas Abi.
"khilaf, hahaha. Tapi aku dengar kamu sudah pacaran sama dia slama satu tahun, kamu sudah berselingkuh di belakangku. Maaf, aku harus pergi," ucapku.
"Sayang! Maafin Mas," seru Mas Abi.
Dia terlihat ingin mengejar ku, tapi wanita itu memeluknya dengan erat.
Aku pun ingin segera pergi, aku sudah tak tahan melihat orang yang aku sayang menghamili perempuan lain.
Bahkan nasi bungkus yang sudahku beli tadi tak sempat aku sentuh. Rasanya makan.pun sudah tak akan enak, sebelum pergi aku pun berkata.
"Menikahlah dengannya, Mas. Besok aku akan ke pengadilan untuk menggugat cerai," ucapku sambil terus berlalu pergi meninggalkan Mas Abi.
Rasa kecewa ini begitu dalam aku rasa, aku segera kembali ke rumah lamaku. Semalam penuh aku tak bisa tidur, aku hanya mampu menangisi kegagalanku.
Baru menikah satu bulan tapi sudah jadi janda, sungguh bukan inginku menjadi janda, Tapi, apa hendak di kata. Hidupku sungguh miris bukan!!?
Keesokan harinya ku benar benar melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama, setelah tiga bulan kami pun resmi bercerai.
Sejak hari itu, Mas Abi tidak pernah menemuiku. Entah kenapa, tapi itu membuat ku tenang. Tapi di lubuk hatiku yang paling dalam, aku begitu kecewa padanya.
Bersyukur Allah begitu baik padaku, aku tak mengandung anaknya Mas Abi. Walaupun kami sering melakukan adegan icikiwir yang kentang itu.
***///END///***