"Pipi yang kemerah-merahan" Teriak suara dibelakangnya dengan nafas terengah-engah. Gadis yang dipanggil tersebut menoleh dengan bibir manyun. Tawa renyah meluncur dari mulut cogan itu melihat pemandangan imut di depannya.
"Kamu itu kurang kerjaan amat sih! Nama ku tuh Adhisti Shafira Khumairo Rahandi! Rasanya aneh ditelinga denger kamu manggil gitu...." Sewot Adhisti
"Ya...unik aja gitu punya temen yang nama sekampung di bawa, dari pada ribet...panggil aja yang simpel...." Kata cowok itu dengan tertawa menghindar karena Adhisti sudah bersiap dengan gerakan memukul.
"Emangnya kamu nggak aneh gitu ngucapinnya?" Tanya Adhisti masih keheranan.
"Nggak, makin asyik aja...kerasa gimana...gitu....lagian nama kok panjang banget..." Seloroh cogan berambut cepak itu. Adhisti hanya menyibir keki.
"Mama kamu tu yang pelit ngasih nama anaknya cuma B A G U S" ledek Adhisti seraya mengeja namanya. Bagus, nama cogan itu kembali tertawa riang.
"eit, jangan salah, nama itu ada artinya lho....mau tahu?
"Ogah!" Sentak Adhisti seraya berlalu menuju ke ruang kelasnya. Bagus menyusul dengan tetap menyebutkan arti dari namanya. Dasar koplak!
"Dengerin ya. B itu untuk bijaksana, A itu untuk alim, G itu untuk ganteng, U itu untuk ulet, dan S...." Bagus menggantung kalimatnya dan tebakannya jitu. Adhisti menoleh dwngan tersenyum penuh arti.
"Pasti S untuk sintinh" Jawab Adhisti seraya memiringkan jari telunjuknya ke keningnya, kemudian tergelak karena Bagus melotot, tapi ia tidak marah.
"Ah...kamu selalu salah kalau dalam hal tebak- menebak. S itu untuk....so sweet...." Katanya dengan kedua tangannya melebar dan membungkukkan badannya dengan bangga layaknya menghormat kepada raja.
"Dasar kau!" Adhisti memukul lengan Bagus agak keras kemudian ngeloyor pergi meninggalkan Bagus yang terbahak sendirian.
Hari ini di kelas XI IPA 2 ada ulangan Fisika pada jam ke 3-4, sudah memasuki setengah jam anak-anak masih saja kasak-kusuk mencari jawaban ke teman yangvlain. Sementara Pak Zainul dengan tenang tetap menikmati net book di hadapannya. Beliau selalu percaya terhadap kemampuan siswa-siswinya dalam mengerjakan soal yang ia berikan. Adhisti tersenyum puas memandang hasil jawabannya, kemudian dia memasukkan atk ke dalam kotak penail warna pink berbentuk banny bear.
"Aduh!" Pak Zainul menoleh ke arah sumber suara yang cukup keras sampai membuat siswa serentak menoleh ke arah Adhisti.
"Ada apa Adhisti?" Tanya Pak Zainul.
"E....anu pak lidah saya kegigit." Bohongnya demi melindungi Bagus yang menyepak kakinya cukup keras seraya matanya mendelik ke cowok itu. Yang di tatap hanya cengengesan tanpa rasa bersalah.
"Bohong pak, paling Adhisti mau nyontek." Celetuk Heri dengan kerling nakal.
"Nggak kok pak, bener. Saya sudah selesai ngerjainnya kok." Jawab Adhisti membela diri.
"Ya pak, Adhisti itu kan pinter, masak nyontek, nggak dia banget kali pak." Bagus membela Adhisti diiringi suara gaduh di kelas.
"Huuuu...ada maunya tu si Bagis" Heri berkata dengan nada menggoda.
"Sudah-sudah, sekarang kembali fokus pada soal ulangan kalian, Adhisti bawa sini hasil kerjaanmu dan kamu bisa istirahat."
"Ya pak" Adhisti berdiri seraya melotot pada Bagus yang cengengesan. Gadis itu melangkah ke meja guru dan menyerahkan kertas ualngannya dan berjalan keluar kelas.
Bel pulang telah berbunyi dan siswa-siswi mulai berhamburan keluar kelas, ada yang mampir ke kantin untuk sekedar membeli minum atau nongkrong nunggu teman. Ada juga yang langsung pulang bersama teman-teman yang lain.
"Pipi yang kemerah-merahan" Bagus meneriakkan nama gadis berjilbab putih itu sambil menuntut beat-nya. Gadis itu sudah hampir mencapai pintu gerbang sekolah. Anak-anak yang lain pada ketawa mendengar panggilan itu.
"Makanya nama tuh yang simpel aja non, sudah panjang menyamai nama istri Nabi lagi, akibatnya gitu deh....." Canda Elis, teman sebangkunya sekaligus sahabatnya.
"Ah..dasar cowok itu aja yang coplak!" Judes Adhisti.
"Naksir kali?" Celetuk Elis asal.
"What?! Yang bener aja! Adhisti memutar bola matanya jengah.
"Ya....biasanya kalo cowok tingkahnya aneh-aneh kan ada somethink sama cewek iti..." Jelas Elis sambil tersenyum menggoda.
"Ih...sok tahu kamu!" Bagus sudah sampai dan memarkir beat-nya di sebelah Adhisti.
"Kamu tu ya, gak ada bosen-bosennya manggil ak seperti itu, emang Adhisti aja gak cukup apa?!" Sewot Adhisti. Bagus tertawa lepas, senang sekali ia bisa membuat cemberut gadis berparas manis itu.
"Itu tandanya ak ada perhatian sama kamu. Ayo coba adakah teman atau guru yang manggil pipi kemerah-merahan selain aku? Gak ada kan?" Adhisti mencibir.
"Oya, kamu harusnya berterima kasih ke aku soal tadi." Adhisti tiba-tiba ingat kejadian di kelas waktu ulangan Fisika tadi. Bagus menatap gadis itu bingung.
"Karena apa aku harus berterima kasih? Kamu nggak ngasih apa-apa kan ke aku, atau...." Bagus megerling nakal dan Adhisti buru-buru menjelaskan sebelum kekocakan Bagus berkelanjutan.
"Waktu kamu menendang kakiku tadi, sampai aku ditegur sama Pak Zainul, coba ak ngomong terus terang...habis kamu."
"Oooo gitu, ya deh terima kasih, tapi aku seneng lho berarti kan kamu perhatian banget ke aku, buktinya kamu melindungi aku, ya kan ya kan? Bagus tersenyum menggoda sambil menaik turunkan alisnya. Adhisti hanya bisa diam bingung mau jawab apa.
""Duh..iya yang salting sampe temen sendiri di cuekim, aku manusia loh bukan maneqin." Canda Elis yang langsung di hadiahi cubitan ganas, Elis hanya mendesis sambil tertawa diiringi Bagus.
"Ah udah deh bosen ngebahasnya!" Gerutu Adhisto sambil menggandeng Elis melangkah keluar pintu gerbang sekolah. Bagus buru-buru menaiki beat-nya mengejar keduanya.
"Aku antar ya?" Pinta Bagus tiba-tiba. Elis kembali tersenyum memggoda dan langsung berteriak kecil karena Adhisti kembali mencubitnya.
"Boleh ya pipi...."
"Dengan tujuan apa kamu mau mengantarku?" Potong Adhisti. Bagus hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya....pingin nganter aja, mau ya?" Bagus memasang tampang memelas.
"Nggak ah...enakan naik angkot, aman, tidak ada pamrihnya"
"Ayolah....please" Bagus menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan wajah kembali memelas, hingga membuat Elis kasihan.
"Ayolah Dhis, apa salahnya sih meluluskan permintaannya kali ini, kasihan kan, sudah puluhan kali lho kamu menolak ajakannya. Aku gak papa kok, aku bisa bareng Yanti ama Dita, ya kan gaes?" Kata Elis seraya mengedipkan matanya pada dua teman sekelasnya yang kebetulan lewat. Tanpa persetujuan dari Adhisti Elis langsung bergabung dengan Yanti dan Dita.
"Dasar Elis gak setia kawan, awas kau ya." Adhisti mengepalkan tinjunya namun hanya dibalas tawa dan lambaian tangan Elis.
Sebenarnya, Adhisti mau-mau aja bareng Bagus, hanya ia merasa akhir-akhir ini kalau berdekatan dengan Bagus jantungnya suka berdentum sendiri. dag dig dug...malah sering gak beraturan, sehingga Adhisti merasa bingung dan gugup. Elis pernah menceritakan hal tersebut ketika bertemu dengan Rafi walau sampai sekarang belum ada kejelasan tentang hubungan mereka.
"Pipi yang kemerah-merahan, jadi pulang nggak? Kok malah nglamun...lagi nglamunin aku ya....tu kan salting...cieeee...pipinya kemerahan...." Goda Bagus yang langsung membuat pipi Adhisti semakin bersemu merah.
"Dasar Bagus jelek! Udah ah gak jadi aja barengnya!" Ancam Adhisti cemberut dan hendak melangkah pergi.
"Eh..oke oke, sory deh...kita jalan sekarang"
Akhirnya perlahan mereka meninggalkan halaman MAN 1 Malang dan Bagus melajukan beat-nya menuju ke arah utara. Ia sengaja meluncur dengan santai agar bisa bersama-sama dengan gadis yang sudah disukainya semenjak kelas 10. Dalam pandangannya, Adhisti itu cewek yang ramah, sopan, baik, supel, dan tidak pernah membeda-bedakan dalam berteman, sehingga banyak anak-anak yang suka berteman dengan Adhisti, apalagi dia termasuk cewek smart dan suka mengajari teman-temannya yang kesulitan. Hampir semua warga sekolah tahu siapa Adhisti, putri seorang anggota DPRD Malang sekaligus pengusaha furnitur yang sukses bahkan sampai ekspor ke luar negeri. Tapi Adhisti tetaplah Adhisti yang tidak sombong, penampilannya layaknya gadis kebanyakan dan sederhana. Dia pernah bilang, kekayaan dan jabatan itu hanya titipan, sewaktu-waktu ketika diambil sama yang punya ya harus di kembalikan, jangan sampai membuat manusia bangga dan sombong. Keluarganya selalu menasehati jangan seperti pohon kelapa yang seolah tidak pernah jatuh, tapi jadilah padi walaupun sudah menguning dan siap panen tetap merunduk, itu mewujudkan manusia yang rendah hati.
"Kamu lagi sakit gigi ya Gus?" Tanya Adhisti membuyarkan lamunan Bagus yang langsung tersadar sambil cengengesan...
"Ah...nggak sih. Cuma nervous aja ngebonceng cewek cakep." Jawabnya asal.
"Kamu? Nervous? Sulit dipercaya seorang Bagus yang kocak cenderung koplak, bisa nervous...kata Elis kalau nervous tandanya ada somethink lho...." Goda Adhisti berani walau jantungnya tidak pernah bisa dikondisikan lagi.
" Ada sih nervousnya, dikit...cuma 5 persen yang 95 persen somethinknya. Eh...tapi tunggu...maksud kamu somerhink apaan ya..? Goda Bagis balik. Gadis dbelakangnya terdiam cukup lama dan Bagus paham, pasti saat ini pipi Adhisti bersemu merah dan itu membuat Bagus semakin ingin menggodanya.
"Emang kamu nggak ada?"
"Aku kan masih diboncenganmu, gimana sih?!" Jawab Adhisti dengan nada yang dibuat ketus. Bagus terbahak sampai bahunya bergoyang-goyang naik turun.
"Kamu itu memang pipi...."
"Aku loncat nih ya...." Ancam Adhisti.
"Eh....jangan! Kamu masih tanggung jawab aku saat ini..."
"Cukup panggil Adhisti, kalau nggak...."
"Oke-oke, tapi sekali-kali boleh ya tetep manggil pipi yang kemerah-merahan....itu panggilan sayang lho...."
"Serah!" Adhisti memutar bola matanya pasrah.
Bagus tersenyum senang ia masih dibolehkan memanggil nama panggilannya untuk Adhisti. Mereka melintasi jalan raya Krebet yang cukup padat, dengan hati-hati Bagus mengemudikan beat-nya diantara mobil angkot dan truk-truk tebu yang berjejer di sisi kiri jalan. Tumben padat banget, biasanya jam segini semua truk sudah masuk ke areal pabrik gula. Pabrik gula Krebet termasuk pabrik gula yang paling lama bersirinya, sekitar tahun 1902. Sekali penggilingan akan membutuhkan kurang lebih 500 truk muat tebu untuk diolah menjadi gula pasir. Huft...bisa dibayangkan sendiri lah kalau 500 truk muat tebu harus memadati sepanjang jalan raya Gondanglegi sampai Krebet ini. Hm...pasti macetnya minta ampun. Tapi para pengendara tidak perlu khawatir, karena Pabrik Gula Krebet punya solusi mantab, yaitu proses antrian trayek (masuknya truk-truk muat tebu ke gudang penggilingan tebu) dilakukan pada malam hari sampai pagi buta, sehingga tidak merugikan pengguna jalan lainnya. Mungkin macetnya kali ini disebabkan ada salah satu alat penggilingan yang rusak.
Bagus menghentikan beat-nya tepat di jalan raya Bululawang, di depan sebuah rumah paling mewah. Maklum rumah pejabat, hehe.
"Sudah sampai nih Adhisti, ato mau ikut ke Gadang?" Seloroh Bagus, Adhisti hanya mendengus ringan.
"Nggak ah...ntar di apa-apain. Takut. Musimnya penculikan." Goda Adhisti seraya pura-pura bergidik ngeri yang disambut tatapan sangar Bagus.
"Masak tampang cakep gini disamakan dengan penculik, tega nian kamu Adhis..." Bagus mengelus dadanya seraya manyun. Adhisti hanya tertawa yang membuat Bagus langsung terpana cukup lama.
"Udah ah. gih pulang, ntar lama-lama perutku jadi kaku nih. Makasih ya udah dianter"
"Hmmm ceritanya cuma makasih nih...?"
"Tu kan bener...pamrih..." Tuding Adhisti, Bagus buru-buru meluruskan kalimatnya.
"Yee...bukan begitu, becanda kali. Maksud aku dengan somethink tadi..."
"So...?" Adhisti mengangkat bahu cuek.
"Duh...cewek satu ini emang kok...ntar malem aja deh"
"Ada apa ntar malem?" Tanya Adhisti mengangkat alisnya penasaran.
"Aku jemput jam tujuh tepat. Ini perintah tanpa penolakan!" Tanpa menunggu jawaban Adhisti, Bagus langsung meninggalkannya dengan Adhisti masih bingung. Ia hanya geleng-geleng kepala dan masuk ke dalam rumahnya.
Waktu menunjukkan pukul 18.45, dan Adhisti masih saja menggunakan baju rumahan yang santai. Ia termangu di depan televisi, dipangkuannya tergolek majalah remaja yang entah dibaca atau hanya di bolak-balik saja tanpa melihat isinya. Ia lupa kalau hari ini adalah hari Sabtu, hari di mana para pejuang cinta mulai beraksi dan meramaikan suasana malam yang syahdu dengan rayuan, kata-kata sayang, belaian, atau entah apa lago. Adhisti tidak mengenal suasana seperti itu, karena prinsipnya berteman dengan semua orang tanpa ada keharusan untuk saling menyentuh. Karena itu larangan dalam ajaran agamanya.
Ada yang menyentil pipinya sehingga membuat Adhisti kelabakan dan majalah dipangkuannya terjatuh.
"Ih....mama...ngangetin Adhis aja..." Rengeknya manja sambil bergelayut di lengan mamanya. Adhisti memang putri semata wayang keluarga Rahandi, sebenarnya ia punya saudara kembar laki-laki, namanya Adhitia, tapi ia tidak bisa bertahan hidup melawan keganasan nyamuk Aedes Aegepty waktu usianya 12 tahun. Karena itu Adhisti merupakan kebahagiaan terindah bagi keluarganya.
"Habis anak kesayangan mama ini, matanya lihat televisi, tangannya membolak-balik majalah, trus yang ada di pikiran apa coba?" Goda mama sambil memencet hidung Adhsiti gemas.
"Enggak ma, Adhis beneran lihat..."
"Mama juga pernah muda lho, pernah kenal cowok, pernah deg-degan..."
"Mama...apaan sih...Adhis gak gitu kali..." Elaknya malu. Mama tersenyum lembut sambil mengelus pipinya.
"Tapi mama lihat rona di pipi kamu..." Mama menowel pipi Adhisti yang semakin membuat gadis iti salting.
"Siapa yang beruntung memiliki kesayangan mama nih..." Tebak mama langsung.
"Mama...." Wajahnya disembunyikan di dada mamanya. Masak iya mau di jawab Bagus, kan hanya teman....iya kali Bagus suka sama dia. Sedetik kemudian perasaan aneh dan dag dig dug kembali terjadi ketika terdengar ketulan di pintu. Gadis itu melirik jam dinding dan matanya langsung membelalak gugip. Aduh...gimana ini....kok jadi semakin deg-deg-an sih....apa iya ia suka sama Bagus? Ah... entahlah.
"Nah...tuh....siapa yang datang...biar mama yang buka ya?" Mata mama mengerling menggoda hingga membuat Adhisti semakin gugup.
"Assalamualaikum, tante...." Salam suara itu. Degup jantung Adhisti makin kencang.
"Wa'alaikumusalam, teman Adhisti?" Jawab mama ramah. Tebakan mama tidak meleset, hmm...pantesan aja Adhisti sampai melamun seperti itu, kenyataan di depan mata, pemuda yang tampan, atletis, rapi, sopan. Mama tersenyum.
"Eh...iya tante, saya bisa bertemu dengan Adhisti tante?"
"Tentu saja boleh, ayo silahkan masuk, duduk dulu...tante panggilkan dulu ya Adhisnya" Kemudian mama masuk ke dalam dan mendapati putrinya itu memilin-milin jemarinya gelisah.
"Udah..gih sono temui.." Mama menarik tangan Adhisti untuk berdiri kemudian mendorong punggungnya ke ruang tamu. Adhisti membetulkan hijab antemnya dengan gugup. Mama ngerti, putrinya telah remaja dan mulai mengenal teman pria....itulah dunia remaja, mama hanya patut mwngawasi saja...
"Hai..." Sapa Bagus sambil berdiri mwnyambut kedatangan Adhisti. Ia hanya geleng-geleng kepala.
"Hai juga, kenapa?" Tanya Adhisti melihat reaksi Bagus.
"Emang susah ya ngomong sama anak PAUD, disurih siap-siap jam tujuh, e...malah pakai baby dol" Adhisti hanya nyengir kuda tanpa rasa bersalah.
"Biarin, orang di rumah sendiri kok"
"Keluar yuk?"
"Kemana?"
"Terserah deh...tinggal pilih, MOG, MATOS, MATAHARI, MITRA, RAMAYANA, PLAZA...."
"Teeus kalau udah disana?" Tanya Adhisti bodoh. Bagus hanya geleng-geleng kepala. Adhisti emang bener-bener....
"Ya...jalan-jalan, makan, terus...."
"Terus?"
"Bikin janji" Jawabnya mantab.
"Janji? Janji apa?" Tanya Adhisti bingung.
"Aaaa udah deh, gih siap-siap, keburu malam, GPL!" Perintah Bagus.
Adhisti nurut aja masuk ke dalam siap-siap, setelah 10 menit ia keluar dan berpamitan sama mama. Ia sempat heran, kok mamanya ngijinin pergi dengan mudah, padahal biasanya kalau keluar malam pasti nggak boleh, kalaupun boleh harus di kawal sama Pak Abdul. Mama percaya Adhisti bisa menjaga diri dan Bagus bisa melindungi putri kesayangannya itu.
Pukul 20.00 wib. mereka tiba di Matos yang pastinya ramai dipadati pengunjung yang kebanyakan pasangan muda mudi. Walaupun cuma jalan-jalan, menyusuri sepanjang galeri yang ada di Matos sudah membuat mereka terhibur. Bagus sudah sering menawarkan pada Adhisti untuk memilih barang apa saja yang ia mau, tapi ia bukan tipe cewek matre yang memanfaatkan keadaan. Adhisti dan Bagus berhenti di galeri sepatu dan sandal, ada satu yang menarik perhatian gadis itu, bentuknya sederhana, ada tali unik si ujung jari jempol kemudian sebagian tali lainnya melingkari sampai belakang kaki. Ia mampu membeli tapi ia tidak enak sama Bagus khawatir dianggap sebagai gadis matre. Ia menggelengkan kepalanya.
"Kamu suka?" Tanpa sadar Adhisti mwnganggul, tapi buru-buru ia meralatnya. Kemudian ia berlalu dari gerai sepatu ke tempat lainnya sampai akhirnya capek dan ia hanya membeli aksesori untuk hijab saja. Waktu menunjukkan pukul 21.00. Mereka asyik menikmati stik dan omelet, serta es teller, ternyata kesukaan mereka sama.
:Oya Adhis, pertanyaanku tadi siang kan belum kamu jawab?"
"Yang mana? Aku lupa tuh: Jawab Adhisti enteng.
"Yang somethink-somethink itu...." Wajah Adhisti langsung memerah, rasanya panas dan jantungnya kembali berdegup tak beraturan.
"E...gimana ya...? Aku...?"
"Aku sayang kamu" Tembak Bagus yang langsung membuat Adhisti terkejut. Hah? Benarkah degup jantung ini jawabannya?
"Dua tahun aku menunggu moment seperti ini. Waktu yang cukup lama untuk bisa mengenalmu dan kamu mengenalku. Jadi malam ini, aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padamu. Bagus menatap gadis di depannya lembut. Ia mencoba mencari jawaban di mata gadis itu, ia tahu ini mendadak.
"Adakah somerhink itu milikku?" Tanyanya penuh harap. Adhisti menunduk, ia tak kuasa menatap pandangan tajam namun lembut penuh kasih itu.
"Aku...aku tidak tahu. Selama ini aku tidak pernah merasakan seperti ini kalau berdekatan sama teman-teman" Jelas Adhisti jujur. Bagus mengangkat alisnya ingin tahu.
"Perasaan yang bagaimana? Gelisah, berdebar, gugup, selalu terbayang, gitu?" Bagus menyeringai senang dan Adhisti hanya menganggukkan kepalanya malu.
"Itulah somerhink yang aku maksudkan. Jadi....bisakah aku berharap somethink itu milikku?"
Adhisti mengangguk malu dan seketika rona merah di pipinya muncul dan membuat Bagus gemas ingin mencubitnya. Tapi ia paham prinsip Adhisti bahwa ia tidak suka disentuh sembarangan oleh lawan jenisnya.
"Terima kasih ya pipi yang kemerah-merah-anku, aku akan mengisi harimu dengan kebahagiaan..." Bagus mengeluarkan paper bag dari bawah meja.
"Apa ini?" Tanya Adhisti heran.
"Buka aja"
Adhisti membuka paper bag dengan penasaran, seketika matanya membelalak indah.
"Hei...ini..." Adhisti menatap tak percaya pada Bagus.
"Surprise!"
"Ah...kamu Gus, kamu nggak harus begini kali, aku bukan cewek matre..."
"Aku tahu dan aku akan sangat senang kalau kamu senang..."
"Senang sih....tapi..." Adhisti menatap Bagus jail.
"Kenapa?"
"Aku mau menerimanya, asalkan...." Adhisti menggantung kalimatnya sambil tersenyum penuh arti.
"Asalkan?" Bagus memandang penasaran
"Kamu cukup memanggil namaku Adhisti...bukan pipi yang kemerah-merahan." Kata Adhisti bersamaan dengan Bagus, kemudian tertawa bahagia.......