Aku tau, bahwa kamu hanya menganggapku sebagai Adikmu, namun aku ingin lebih dari itu.
***
Laila berlarian menghampiri seorang lelaki berusia 24 tahun yang sedang berdiri di pintu keluar bandara. Dengan cepat ia menghampiri dan melempar tubuhnya pada lelaki itu dan membiarkan lelaki itu menangkap tubuhnya.
"Kakak" seru Laila sembari memeluk lelaki itu dengan erat, yang teryata adalah Kakaknya.
"Wah... Adikku sudah tumbuh dewasa" ejek Esra, lelaki itu.
"Ahh, Kakak apa sih? Kita kan cuma beda tiga tahun" jawab Laila sembari menggembungkan pipinya.
Esra mengelus kepala Laila dan mengacak-acak rambut panjang gadis 21 tahun. Mereka lalu pergi ke tempat parkir, sepertinya biasa Laila lah yang selalu menjemput Esra sepulang dinas di luar negri. Mereka hanya hidup berdua, kedua orang tua mereka telah meninggalkannya disaat yang bersamaan, tsunami.
Esra lalu duduk di kursi kemudi dan Laila duduk di sampingnya. Mereka pun pulang kerumah mereka. Meski seringkali ia di tinggal Esra bekerja di luar negri, Laila tak pernah merasa kesepian. Tentu saja, karena Bik Ami selalu menemaninya, bisa di bilang Ibu kedua mereka.
Laila menatap ponselnya selama satu jam lebih sambil tersenyum tanpa memalingkan pandangannya, entah apa yang ia lihat di layar ponselnya itu. Sementara Esra menatap keluar jendela mobil sembari menunggu macet.
"Wah, wah, wah, Kakaknya pulang bukannya di sambut malah ditinggal main hp," sindir Esra sembari mengintip isi ponsel Laila. "pacar, ya?"
"Ihh, mana ada, aku cuma lagi chatan sama temen, kok" jawab Laila dengan nada terbanta-banta.
"Temen tapi rasa pacar" ejek Esra sesekali ia mencolek pipi Adiknya yang chubby itu.
"Enggak, aku cuma chatan sama Vivi doang" jawab Laila, menjelaskan dengan siapa ia chatan.
"Tidak mungkin, Adikku ini abnormal." ujar Esra sembari menatap Laila dengan wajah terkejut.
"Otakmu tuh yang abnormal" jawabnya sambil memasang raut wajah kesal.
Sudah dua jam mereka terjebak macet di Ibu kota, apalagi letak bandara dan rumah mereka cukup jauh, memang jauh sih. Dan mereka masih duduk di dalam mobil. Perlahan bulir-bulir air hujan turun membasahi mobil yang mereka naiki. Hujan gerimis yang perlahan-lahan berubah menjadi hujan petir.
DUARRR!!
author: DUERR!!:>
***
"AHH!! Lindungi aku tolong, wahai Dewa tolong lindungi aku" guman Laila yang terkejut oleh suara petir.
"Hahahaha, konyolnya teryata masih awet, ya?" Esra tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan yang dibuat Adiknya itu.
"Gak kok, gak, enggak" jawab Laila sembari memalingkan wajahnya karena malu.
Laila menatap jendela kaca mobil yang mulai di penuhi air hujan. Ia ingat, saat pertama kali bertemu Ersa. Ia pun menceritakan kembali saat pertama kali mereka bertemu.
Saat itu kota yang mereka tinggali terhantam oleh tsunami raksasa, bahkan rumah mereka yang jauh dari pantai pun terkena dampak yang luar biasa.
Saat itu mereka baru berusia 12 tahun untuk Laila, dan 15 tahun untuk Ersa. Mereka sendiri berada di jenjang sekolah yang berbeda, untung karena mereka bersekolah di sekolah swasta jadi mereka bersekolah di dalam lingkup sekolah yang sama.
Saat itu, janganlah kenal sekedar nama yang simpang siur, berpapasan saja tak pernah, mereka belum saling mengenal satu sama lain. Namun siapa sangka tsunami membuat mereka menjadi Adik-Kakak.
Saat itu sekolah sedang mengadakan tour ke Bogor, untung sekali mereka berdua berangkat di hari yang sama. Mereka meninggalkan kota mereka, Jakarta.
Awalnya semua berjalan baik-baik saja, begitu juga dengan tour mereka. Namun keadaan berubah ketika mereka ingin pulang.
***
"Apa, jalan ke Jakarta di blok? Jadi kita hanya bisa menetap di sini?" tanya Guru Laila yang terkejut mendengarnya.
Ia berusaha untuk bertanya dengan supir bis tanpa membuat siswa siswinya panik.
"Memangnya, ada apa?"
"Jakarta dan Banten mengalami tsunami. Lalu Bandung mengalami longsor dan juga gempa bumi," jelas Si Supir bis itu dengan nada pelan.
Kebetulan Laila yang duduk di kursi depan, ditambah skill mengupingnya yang hebat ia pun dapat mendengarkan percakapan antara Gurunya dan Si Supir bis itu.
"Apa?"
"Yang saya sebutkan tadi hanya di sekitaran Jabodetabek. Diluar pulau Jawa masih banyak lagi, Bu" jelas Si Supir bis.
Gurunya lalu membuka ponselnya. Seketika berita tentang bencana alam di Indonesia muncul, berada di Top satu. Setiap jam, menit, detik selalu muncul informasi terbaru tentang bencana itu. Reporter-reporter tak henti-hentinya meliputi.
***
"Baik Pemirsa, sepeti yang Anda ketahui, sudah lebih dari satu jam tsunami setinggi 524 meter menerjang Banten, Jakarta dan sekitarnya. Tsunami tersebut menyapu bersih kota tersebut dan juga kota kota di sekitarnya.
Pemerintah memastikan bahwa tak ada satu pun yang selamat. Untuk pada masyarakat yang tak terkena dampak harap duduk diam, para aparat marinir dan kepolisian akan mengerakkan seluruh kekuatan mereka untuk menolong masyarakat" Berita itu tersiar di seluruh Indonesia. Bukan lewat televisi, ponsel, radio atau alat elektronik lainnya melainkan sebuah droid yang terbang di seluruh Indonesia.
***
Pastinya semua orang mendengarnya begitu juga dengan Para Murid. Mereka menjadi ketakutan, ricuh, dan menangis bagaimana keadaan orang tua mereka.
Jalan tol maupun jalan Pantura pun macet, dan mereka terjebak di Bogor. Tak ada yang dapat mereka lakukan sekarang. Laila memikirkan Ibunya yang di rumah sendirian, Ayahnya sedang dinas di luar kota, lebih tepatnya di Batam.
Dua jam, sudah dua jam mereka terdiam di dalam bis yang masih terjebak macet. Tak ada yang dapat mereka lakukan. Sinyal pun hilang, tak ada yang bisa mereka lakukan. Bulir-bulir tetesan air hujan yang turun dari atas mulai membasahi bis yang mereka tumpangi.
Setidaknya didalam bis itu terdapat 20 siswa kelas 6 dan 14 siswa kelas 9. Dan saat itu Laila dan Ersa berada didalam satu bis yang sama.
Dalam keadaan yang hening itu tiba-tiba semua orang berteriak, tak hanya yang didalam bis bahkan yang diluar bis. Guncangan besar menggucang mereka semua, Gempa Bumi.
Orang-oranf berlarian berhamburan keluar dari kendaraan mereka. Guru dan Supir bis memandu siswa-siswi untuk mencari tempat aman. Saat itu kakinya kepleset dan membuatnya keseleo. Esra yang melihatnya pun langsung menggendongnya tanpa pikir panjang. Ya itu adalah pertemuan pertama mereka.
Tiga hari mereka semua terjebak di Bogor, dan yang mereka lakukan hanyalah bertahanlah hidup. Namun, satu persatu dari mereka mulai gugur. Kini hanya tersisa 15 orang, yang terdiri dari 7 siswa kelas 6 dan 9 siswa kelas 9. Dan Esra masih menggendong Laila karena kakinya masih belum sembuh. Mereka yang mati sebagian besar tertimpa reruntuhan bahkan terjatuh kedalam lubang.
Mereka terus melakukan hal yang sama selama 3 hari berjalan tanpa tujuan. Hingga hari ke-4 pada Tentara menemukan mereka dan menyelamatkan mereka.
Saat itu Laila dan Esra sudah senang akhirnya mereka selamat. Senang karena selamat, namun hati mereka masih risau bagaimana keadaan keluarga mereka.
Laila ingat, Ayahnya bekerja Batam meski dekat dengan Laut namun tempat Ayahnya kerja memiliki tempat anti Tsunami, Gempa dan Gunung meletus. Ia yakin Ayahnya akan selamat. Namun, Ibunya, hatinya masih saja gundah.
Berbeda dengan Esra yang tak peduli dengan orang tuanya. Ia adalah anak satu satunya dari orang tuanya. Ia sendiri merupakan anak hasil bayi tabung. Meski begitu Ibu dan Ayahnya lebih mementingkan pekerjaan. Ia sendiri tak peduli akan nasib orang tuanya.
Mereka pun dibawa ke tenda pengunsi. Mereka mendapatkan minuman, makanan dan pakaian. Selama bertahan hidup mereka hanya memakan makanan dari toko kelontong yang masih tersisa dipinggir jalan. Air pun mereka bagi-bagi karena kekurangan air kotor.
Sudah dua hari mereka tinggal di pengungsian, Laila masih menunggu kabar dari Ayahnya yang bekerja di Batam.
"Laila Alvero, Nak, kamu di cari Ayahmu" ujar seorang Dokter yang datang ke tenda pengungsiannya. Sontak, Laila langsung berdiri dengan raut wajah yang gembira. Tak lupa Ersa yang ikut menemaninya.
Mereka pun dibawa oleh dokter itu kesebuah tenda medis.Di balik tirai itu terdengar suara laki laki memanggil nama Laila dengan suara yang serak.
"Ayah!" Laila membuka tirai berlarian menghampiri Ayahnya yang terbaring di kasur.
Kakinya kirinya terpaksa di amputasi. Tangan kanannya patah, dan tubuhnya di penuhi selang. Seketika raut wajah gadis kecil itu menjadi sayu dan sedih. Bulir air mata mengenang di matanya, perlahan jatuh dan membasahi pipinya.
"Laila sayang, jangan nangis dong" bujuk Sang Ayah.
"Ta-tapi, A-ayah..." Laila langsung menangis terisak-isak.
"Nih, kemaren Laila minta dibeliin kalung yang bisa di taruh foto didalamnya. Udah Ayah beliin nih, Ayah juga udah isi pakai foto keluarga. Pakai, ya?"
Laila mengangukkan kepalanya, tandanya setuju, ia mengelap air matanya.
Meski satu tangannya patah, Ayah tetaplah Ayah, dia akan melakukan apapun demi anaknya. Ia mengalungkan kalung di lehernya, meski ia sendiri perlu di bantu dokter untuk duduk.
Sesudah itu, dokter pun kembali membaringkan tubuhnya. "Sekarang Laila sudah pakai kalungnya. Jadi Ayah bisa tidur tenang" pria itu lalu memejamkan matanya, setetes air mata mengalir dari pelipis matanya, ia tersenyum dan mengatakan ia sayang Laila, sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Laila yang tadi sudah berhenti menangis pun kembali menangis, kali ini tangisannya lebih kencang. Ia tak henti-henti menangis. Dokter pun menutup tubuh Ayahnya dan bersiap siap untuk menguburkannya. Tentu saja Laila itu untuk berpisah dengan Ayahnya.
Dua hari, sudah dua hari dan Laila mogok makan. Bahkan Ersa pun sudah membujuknya, namun tetap saja. Hingga Ersa berkata, "Kau boleh menjadi keluargaku" ujarnya.
Laila lalu menenggok kearah Ersa. "Benarkah?"
"Iya" jawab Ersa, ia langsung memeluk tubuh Laila. "Makan, ya?"
Laila hanya mengangguk, ia membuka mulutnya ketika Ersa menyuapinya.
***
Saat itu, umurnya masih kecil ia masih tak mengenal apa itu cinta. Ia masih memanggil dan menganggap Ersa adalah Kakak dan satu-satunya yang ia punya. Namun sekarang ia bukan lagi gadis kecil, ia sudah tumbuh dewasa.
Laila tak mau menjadi seperti itu, tentu saja ia masih mau menjadi keluarganya Ersa namun dalam hal yabg berbeda, ia ingin menjadi istrinya.
Mereka pun tiba di rumah, tetap Leila selesai bercerita. Bik Ami pun membuka pintu dan langsung menyambut kepulangan Ersa dan Laila.
"Selamat datang kembali, Nak"
Pukul 19.00
Ersa yang sehabis mandi masih menetap di kamarnya. Dan Laila sepertinya sibuk menyiapkan sesuatu.
"Ersa, ayo keluar, cepat" ajak Laila sembari membuka pintu kamar Ersa.
"Iya iya, memangnya ada apa?"
Laila tak menjawabnya, ia menyeret paksa Ersa keluar rumah, lebih tepatnya taman.
"Tadaa!!" kejut Laila. Didepan mereka terdapat sebuah hiasan bunga berbentuk hati.
"Ersa, aku mencintaimu, perasaanku kepadamu melebihi Kakak-beradik, aku mau menjadi keluargamu, namun dalam status yang berbeda,"
"Aku tau, bahwa kamu hanya menganggapku sebagai Adikmu, namun aku ingin lebih dari itu,"
"Laila, kamu tau kan-"
"Aku tau, ada Adel di sisimu, aku hanya ingin menyampaikan perasaanku tak lebih dari itu"
Bulir mata mulai mengenang di pipinya. Ia lari keluar rumah, meninggalkan Ersa dan Bik Ami yang membantu menyiapkan semuanya.
"Laila!"
"Ersa," panggil Bik Ami. "Bagaimana kamu menjawabnya?"
"Bibik tau kan, aku sudah menganggapnya sebagai Adik?"
"Ersa, kamu mengganggap Laila sebagai apa? Ikuti saja kata hatimu."
Ersa lalu mengejar Laila sebelum ia semakin menjauh. Ia mencari Laila dimana pun namun tak menemukannya. Bahkan ketempat favorit mereka sekalipun.
Ponselnya berbunyi, Ersa lalu mengambil ponselnya dari sakunya. "Ada apa, Bik?"
"La-laila, dia, kecelakaan" jawabnya dengan nada terbanta-banta. "dan sekarang berada dirumah sakit kota 1"
Bagaikan tersambar petir disiang bolong. Ersa sesegera pulang kerumah, mengajak Bik Ami dan pergi ke rumah sakit segera.
"Dok, bagaimana keadaan Laila?"
"Pasian harus segera di operasi. Namun sebelum itu, saya membutuhkan persetujuan dari keluarga. Anda siapa?" tanya Sang Dokter itu.
"Saya... saya calon suaminya" jawab Ersa dengan lantang.
"Bagaimana dengan orang tuanya?"
"Mereka telat tiada" Ersa menundukkan kepalanya.
"Baiklah, saya akan segera melakukan operasi."
Dua jam Laila berada di dalam ruang operasi lamanya. Hingga pintu operasi terbuka dan memindahkan Laila kedalam ruang inap.
"Laila," panggil Ersa sembari memegang erat tangan Laila. "Bagaimana perasaanmu?"
"Ka-kakak?"
"Mulai sekarang jangan panggil aku Kakak, panggil saja aku Ersa" ujarnya sembari mengelus kepada Laila dengan lembut.
Laila pun menangis bahagia, sosok yang selama ini menemani hidupnya menerima dirinya. Sosok yang selama ini ia anggap Kakak akhirnya berubah menjadi calon suami.
"Hiks hiks, Bibik sedih"
[Tamat]
Author note: Heiyoo, lama tak jumpa. Lisaa balik lagi dengan cerpen yang sepanjang jidat🤣 Semoga suka, dan masih ngepens sama Lisaa//Plakk//pede kali. Happy reading all😘
Ditunggu cerpen dan Diskusi Lisaa yang baru, ya?