Bel istirahat berbunyi, yang seakan menjadi suara surgawi untuk para siswa di sebuah SMP. Andini dan Sista yang merupakan siswa kelas IX B saat itu sedang mengobrol untuk membahas tentang sekolahan untuk jenjang berikutnya.
"An.. Andini, kamu habis ini lanjutin ke SMA mana? " tanya Sista sambil menepuk pundak Andini yang sedang duduk di bangku depannya, Andini pun menoleh kebelakang.
"Em.. Mungkin ke SMA yang depan rumah sakit itu tuh Sis. Emang kenapa? " jawab Andini.
"Ow.. Kenapa ke situ? denger - denger ya, Din. Disitu pernah kejadian (blank1...) sampai korbannya bunuh diri."
"Ahh.. Bodo amat. Kamu enggak tahu atau gimana sih.. Disitu, udah banyak menyabet penghargaan bahkan sampai tingkat nasional lho. Itu yang buat aku ingin lanjutin ke sana. " sambung Andini.
"Tapi apa kamu enggak takut? " tanya Sista.
"Begini ya Sis, cerita itu palingan cuman settingan orang - orang. Kamu tau kan, nama sekolah itu sudah melegit. Yah, pastinya banyak orang - orang yang ingin ngancurin dong? " jawab Andini dengan percaya diri.
"Iya.. Iya deh.. Aku ikut kamu aja ya, sebagai sahabatkan harus bareng - bareng. Hehehe".
Awal masuk SMA adalah momen yang paling ditunggu para siswa, entah untuk mencari ilmu baru atau untuk mencari (blank2...) baru. Andini dan Sista adalah seorang sahabat yang dipertemukan pada awal smp, bahkan sampai sekarang, persahabatan mereka masih erat, sampai - sampai mereka memilih untuk satu sekolah lagi.
Andini dan Sista memilih jurusan ipa dan ditempatkan di kelas X ipa 1 yang berdampingan dengan X ipa 2 dan 3. Kelasnya terletak di atas dan dibawah kelasnya terdapat ruang seni, ruang olahraga dan gudang. waktu itu adalah masa pengenalan lingkungan sekolah. Andini dan Sista yang sudah di terima masuk ke SMA tersebut langsung turun ke bawah dan berkeliling setelah mendapat bimbingan dari osis.
"Ehhh.. Sista lihat - lihat cogan Sis". Ucap Sista dengan mata yang berbinar - binar.
"ihh.. Kamu ini, bukannya kita keliling sekolah buat ngenal lingkungannya, ehh malah lihatin cogan, hadehh. " jawab Andini sebari mencubit tangan sahabatnya itu.
"aw.. aw.. Sakit".
Setelah puas berkeliling, Andini dan Sista kembali ke kelas, mereka pun duduk bersama sambil memakan bekal yang ibu mereka siapkan. Andini yang tengah duduk entah mengapa pandangannya mengarah ke cendela yang menunjukkan lapangan belakang sekolahnya, ia pun pergi ke cendela itu. Cendela tersebut mengarah ke lapangan belakang jika dilihat lurus kedepan. Akan tetapi pandangan Andini tidak mengarah ke lapangan tersebut, melainkan ke pohon beringin tua, pohon beringin yang berada di pinggir lapangan tersebut.
Sista diam - diam menghampiri Andini dan (blank3...) tangan kiri Andini yang tergelantung bebas dari tubuhnya.
"Ahhhhh.. bikin kaget saja kamu Sistaa! " Andini yang kaget menoleh ke Sista dengan muka kesalnya.
" Hehehe.. maaf maaf. Habisnya kamu kok aneh, lagi enak makan malah pergi. "
"Sista, kamu ngerasa ada yang aneh enggak sih di pohon beringin itu? " tanya Andini sebari menunjuk pohon itu.
"Enggak sihh biasa aja, ahh palingan cuman perasaan kamu aja. Dulu pas aku cerita tentang sekolah ini kamu bilangnya palingan setinggan, ini lahh itu lah. ehh tapi sekarang kamu malah kek gitu. "
Tahun ajaran pun akan berakhir. Kegiatan berkemah menjadi salah satu kewajiban untuk eskul pramuka yang mereka berdua ikuti. karna waktu itu musim hujan jadi lokasi berkemahnya di sekolah.
Satu hari sebelum acara, para siwa - siswi latihan pramuka untuk terakhir kalinya. karna lusa siang mereka harus sudah siap semuanya.
"Baik teman - teman karna kita berkemah di sekolah jadi kita tidurnya di kelas. coba tebak regu kita dapat ruang kelas yang mana? " tanya Siska yang merupakan ketua regunya.
"Enggak tau sis, emang ruang kelas mana? " tanya Andini dan anggota regu itu.
"Kita kebagian kelas kita sendiri, waooo." jawab Siska senang.
"Waooo! mantep mantep! " teriak senang seorang anggota regu yang dipimpin Siska.
Hari untuk kegiatan berkemah itu pun datang. Semua anggota regu mereka melakukan apel pembukaan dan kemudian kegitan berjalan seperti biasanya. Langit senja pun pudar karna bayangan rembulan. Kegiatan berkemah berakhir sekitar jam 11 malam. setelah pesta api unggun, mereka pun masuk ke kelas untuk tidur, termasuk Andini dan Sista.
"Ehh.. kalian mau denger cerita serem enggak? " tanya Sista.
"Udahlah Sis tidur aja. " jawab Andini.
"Ihh Andini penakut, huu. " sahut salah seorang anggota regu mereka.
"Ehh bukannya gitu, tapi ini sudah ma.. "
"Udah Sis gass ceritanya! " salah seorang menyela perkataan Andini.
"Okeh okeh. Jadi dulu itu, belakang gedung kelas kita itu terjadi bunuh diri lho, tuhh lihat tempatnya di pohon beringin itu. " Sista sambil menunjuk ke pohon beringin yang berada di belakang sekolah.
"Ahh beneran? "
" Iya aku denger - denger dari murid sini sama orang - orang sekitar, sudah jadi rahasia umum ini. Kata mereka, yang bunuh diri itu seorang siswi kelas 11 dulu. Aku enggak tahu sih dulu dia dari kelas 11 mana, tapi yang aku tahu dia itu dulu ikut eskul tari daerah. Dia itu gantung diri waktu latihan. Katanya sihh gara - gara dia ketahuan hamil. "
"Siapa yang ngehamilin Sis? "
"Udah.. udah jangan percaya sama Sista. " ucap Andini.
"Ahh enggak seru lu An, huuu.. kalau enggak mau dengerin tidur aja sono! "
"Iya iya maaf." kata Andini.
Mereka tambah serius mendengarkan cerita Sista dan tambah mendekat ke Sista termasuk Andini.
"Lanjutin Sis, kita pengen tau lanjutannya".
"Katanya yang ngehamilin itu pelatihnya dan sampai sekarang arwahnya masih gentanyangan. Pada jam 12 malam nanti katanya nih, bakal ada bau harum bunga melati gitu, terus bakal ada suara gamelan. Kalau kalian lihat pohon itu terus menerus nanti bakal ada sesosok wanita. Jangan dilihatin terus kalau enggak ingin kena masalah. "
"Aku enggak percaya Sis, nihh yah aku mau buktiin ke kalian kalau itu semua enggak bener. Tuhh lihat sebentar lagi kan jam 12." ucap Andini dengan nada sombong. Andini yang menentang cerita Sista itu menuju ke cendela dan mulai memperhatikan pohon beringin tua itu.
"Ehh masih ada lanjutannya. Kalau udah lewat jam 12 katanya bakal ada perempuan yang lewat di setiap belakang gedung sekolah dan kalau ada yang melihatnya lewat katanya dia bakal digangggu kemudian diseret ke pohon beringin itu. "
"Ehh An, udah jam 12 tuhh ada apa enggak? " tanya Sista kepada Andini yang sedang memandangi pohon beringin itu dari cendela kelasnya dengan nada bercanda.
"Hilih pembohong kau Sis, orang gak ada apa - apa. Udah deh aku mau tidur dulu." ucap Andini yang berjalan ke tempat tidurnya.
"Malam semua. " ucap Andini sebari merebahkan tubuhnya ke tempat tidurnya.
"Iya, malam. Sebaiknya kita tidur juga. udah larut malam, nanti kalau ketahuan belum tidur bisa di hukum berjamaah kita. " ucap Sista.
Nyanyian raja malam pun seakan menjadi lagu pengantar ridur bagi mereka, dengan diiringi suara jangkrik. Tak terasa jarum jam menunjuk ke angka 1.
"Sis.. Sistaa, temenin aku yuk ke toilet, udah mules banget nih Sis. " ajak Andini.
Sista pun bangun dan mengantar Andini ke toilet, raut wajah yang tanpa ekspresi membuat Andini binggung sepanjang jalan. Mereka pun sampai di toilet.
"Udah din? kalau udah cepet kembali ke kelas, udah mau hujan ini" ucap Sista tanpa ekspresi.
"Iya! " ucap Andini yang selesai memakai toilet.
"Sis?! kok kamu enggak seperti biasanya sih? " sambung Andini sebari menutup pintu toilet. Siska hanya diam dan berjalan kembali ke kelas.
"Kenapa sih si Sista ini?! " Andini berbatin.
"Sistaa! tunggu!"
Mereka pun kembali ke kelas dengan menginjak satu persatu anak tangga. Langitpun mendung suara jangkrik dan raja malam yang menemani tidur mereka seakan lenyap dari telinga. Saat masuk kelas, Andini melihat sekilas ke cendela seperti ada bayangan yang melayang dengan cepat. Andini pun berlari mendekat ke cendela dan melihat ke sekitar tapi tidak ada apa - apa. Saat ia melihat ke bawah ke arah lorong belakang sekolahnya dari cendela, ia melihat Sista yang berdiri sendiri dengan pakaian pramukanya.
"Sista? Ta.. tapi dia baru saja bareng sama aku masuk ke kelas." ucap Andini yang kemudian melihat ke arah Sista yang sudah kembali tidur usai mengantar Andini ke toilet.
"Lahh itu Sista terus yang di luar itu siapa? " kemudian Andini melihat ke bawah lagi melalui cendela yang sudah mulai basah karena gerimis.
"Lahh kok nggk ada? palingan cuman hayalan aku aja nih. " ucap Andini.
Saat itu terasa sunyi sekali, suara gerimis yang menghantam cendela dan suara jam yang selalu berdetik seakan menjadi teman Andini saat semua temannya sudah tertidur lelap. Andini pun memalingkan pandangannya dari cendela tersebut dan sontak ia teriak ketakutan.
"Ahhhhhh" teriak Andini kaget saat melihat sosok seorang perempuan dibelakangnya yang berpakaian penari dengan kepala yang seakan mau terputus dari tubuhnya dan lidah yang mejulur keluar.
Ruangan seni yang kebetulan berada di bawah kelas Andini memainkan musik yang begitu amat keras. Dengan suara gerimis yang sudah menjadi hujan, guntur pun mulai menemani malam kemah Andini yang serasa menjadi malam yang abadi.
"Kaa.. ka.. kaamu.. si.. siapa..?! " tanya Andini dengan badan yang gemetaran.
Perempuan itu kemudian tertawa dengan lantang dan mencekik leher Andini. "Tolonggg!! " teriak Andini dengan kaki yang sudah gemetaran. Andini melihat ke arah teman - temannya yang sedang tertidur, tetapi matanya tidak menemukan satu orang pun termasuk Sista.
"Teman - teman ka.. kaaliian dimana?" Andini mulai bercucuran keringat dan menangis tersendu - sendu. Sampai berbicara pun bibirnya gemetaran.
Wanita itu kemudian ikut menangis melihat Andini yang sedang menangis tersendu - sendu. Dia pun melepaskan cekikkannya dari leher Andini. Andini kemudian berlari sekuat tenaga dengan kakinya yang gemetaran. Pada saat sampai ke tangga, kaki Andini serasa mati rasa. Andini yang gemetaran menoleh ke pintu kelasnya.
"To.. tolong jangan ikuti aku, aku mohon." pinta Andini dengan bibir yang gemetaran kepada perempuan itu yang berdiri di pintu kelasnya.
Tetapi perempuan itu tak menghiraukannya dan mengejar Andini. Saat setengah jalan menuju Andini, kepala perempuan tersebut putus dan jatuh ke lantai kemudian mengeluarkan banyak belatung - belatung yang memenuhi lantai.
"Ahhhh.. jangan mendekat. Aku mohon". pinta Andini yang menangis. Andini pun terus menuruni kelasnya itu dengan menginjak satu persatu anak tangga yang seakan menjadi ribuan karna kakinya yang seakan mati rasa, seluruh tubuhnya lemas. Pada saat pertengahan anak tangga yang basah karna bocor, ia tergelincir dan jatuh, kepalanya berdarah karena terbentur lantai. Tetapi ia terus menghindar dari tempat itu. Ngensot pun menjadi pilihan terakhirnya karna kakinya yang lemas seakan mati rasa. Sambil menangis ia melihat ruang seni yang terbuka, sekilas ia melihat gamelan - gamelan tersebut bermain dengan sendirinya.
" Aku harus cepat ke.." Andini menengok ke belakang, ia melihat perempuan tersebut berlari ke arahnya dengan kepalanya yang di pegang di tangan kanannya dan tangan kirinya membawa tali.
"Mau apa kau?! Pergi!". Suruh Andini dengan napas teregah - engah.
Perempuan tersebut tidak menghiraukan Andini, kemudian ia melilitkan tali yang dibawanya ke leher Andini dan mengikatnya dengan kencang.
"Uhuk.. Lepaskan.. Uhuk.. aku mohon. Uhukk.. Uhukk". Pinta Andini dengan suara yang lemas disertai batuk karena lehernya diikat dengan tali
Perempuan tersebut kemudian menyeret tali yang mengikat leher Andini. Dia tidak mendengarkan satu kata pun yang berlompatan melalui mulut Andini yang gemetaran. Andini pun hanya bisa pasrah ketika ia diseret hingga kemudian ia melihat cahaya yang sepertinya berasal dari senter pembina pramukanya. Andini pun menggeliat dengan tangan yang berusaha melepaskan tali itu, tapi usahanya hanya bisa mengendurkan talinya. Andini pun berteriak minta tolong kepada orang yang kemungkinan adalah pembina yang sedang berpatroli.
"Kak, tolong!" teriak Andini lantang.
Sontak cahaya tersebut bergerak semakin mendekat. Tetapi alangkah kagetnya Andini melihat itu hanyalah senter yang melayang - layang tanpa adanya orang yang memegangnya. Suara gamelan itu pun semakin kencang, mengiringi Andini yang di seret perempuan itu.
"Aku dimana sih? Seseorang tolong aku! Uhuk.. Uhuk.." Andini berbatin.
"Semua orang pada kemana sih? Kenapa acara kemah yang diikuti banyak murid tiba - tiba saja sepi, udah seperti kuburan saja! Atau mungkin aku yang sudah tak bersama mereka lagi?! ". Terpikir olehnya, setelah melihat senter yang melayang sendiri, kalau sekarang ia bukan lagi berada di alam manusia, tetapi sudah berada di alam gaib.
Napas Andini pun semakin terengah - engah. Dadanya terasa sesak. Pandangannya pun kabur, ia melihat sekilas kalau ia berada di dekat beringin dan sedang dibawa mengudara oleh perempuan itu yang tertawa dengan kencangnya.
"Bruakkk... "
"To.. Tolong... "
Setelah di bawa terbang oleh perempuan tersebut Andini dijatuhkan kebawah. Ia jatuh tergeletak di tanah bermandikan darah dan air hujan. Tali yang mengikat lehernya pun tiba - tiba musnah. Sedikit demi sedikit cahaya mentari mulai menyinari tubuh Andini yang bermandikan air bercampur darah.
--------------------------------------------------------------------
"Pengumuman.. Pengumuman.. Harap semua peserta menuju ke lapangan belakang untuk melaksanakan senam pagi. Terimakasih. "
Pagi pun datang menyambut para peserta termasuk Sista beserta regunya. Alangkah kagetnya ia saat melihat Andini yang sudah tak berada di kelasnya.
"Ehh Andini mana?! " tanya Sista
"Cepet kalian cari, mungkin di luar! " sambungnya.
"Palingan Andini sudah kesana duluan atau dia ketoilet. Yok lah bergegas kita enggak ingin telat terus dihukum kan? " ucap seorang dari regu itu.
" Iya juga"
Mereka bersama peserta lainnya dan pembina pun menuju lapangan belakang yang menggenang air hujan bercampur darah.
"Ahhhh! Lihat kak! Itu.. Itu.. " teriak histeris seorang peserta.
"Tolong - tolong, cepat kalian ambil tandu dari uks segera! " perintah pembina sembari mengecek napas orang itu yang tak lain adalah Andini yang setengah mukanya di penuhi darah. Darah yang berasal dari kepala dan leher Andini itu bercampur air hujan dan seakan memandikan tubuhnya yang sedingin es karna terguyur hujan.
"Syukurlah napas nya masih ada walaupun lemah. Tandunya cepat dong! ". Mereka pun mengangkat Andini ke atas tandu dan membawanya ke rumah sakit depan sekolahnya. Saat seorang peserta dan pembina itu membawa tandu tersebut, mereka lewat di depan Sista.
"Ehh.. Itu, itu Andini kan?" ucap temen Sista yang bersebelahan dengannya.
"Iya bener. An, Andini!". Sista menangis dan mengejar Andini yang tengah di bawa ke rumah sakit.
" Dek, kamu temannya dia? " tanya pembina itu.
"Iya, kak. Dia temen aku. " jawab Sista.
"Yaudah ini hp kamu coba hubungi orang tuanya. Kamu tau nomor telpon orang tuanya kan? "
"Iya, kak."
Satu minggu pun berlalu sajak kejadian itu. Andini yang dulunya suka sekali mengobrol dengan Sista, kini hanya bisa diam saja saat Sista berusaha memulai pembicaraan. Ingatan Andini tentang kejadian itu seakan terulang - ulang di kepalannya yang berbalut perban.
"Tante, Andini eggak bakal begini terus kan? " tanya Sista dengan tangisnya.
"Iya. Kamu doain aja ya, Andini pasti akan sembuh. Tante bakal usahain agar trauma yang dia alami cepat sembuh. " jawab ibu Andini
Andini menjalani berbagai terapi yang berlangsung beberapa bulan. Andini pun semakin lama semakin berani dan lancar berbicara walaupun tidak seperti dahulu. Ya, Andini sekarang sudah berhenti sekolah sejak saat itu. Di sisi lain Sista selalu ada dan kadang kala ia berada di sisi Andini saat waktu luang atau libur sekolah.