Aku seorang introvert yang hidup menyendiri ditengah keramaian. Keinginanku kasih sayang yang tulus. Apakah aku tak mampu untuk mendapatkan hal itu? atau apakah aku tak bisa merasakan itu?
Hidup sendirian seperti noda gelap di buku gambar polos yang membuat risih sebagian orang.
Setiap orang memiliki goresan cantik nan ayu bersatu padu membentuk lukisan indah bukan hanya sebatas sketsa. Tapi aku menggambar sebatas membentuk sketsa yang tidak dilanjutkan lagi.
Aku tidak ahli dalam menggambar, tapi aku ahli dalam mengamati.
Melihat orang lain yang tertawa dengan keluarganya, saudaranya atau malah kekasihnya.Mendengar orang lain, berkeluh kesah mengenai kehidupan, menceritakan mengenai pengalaman dan berbicara didepan publik.
Aku yang lebih suka berdiam ketimbang berkata hal yang tidak perlu, aku yang suka asik dengan kehidupanku sendiri dengan rasa takut akan diusik. Aku yang anti sosial karena terbiasa sendiri.
Hinaan, cacian bahkan pujian sering kudapatkan. Masalah, kesalahan, kejahatan hanya itu yang dilihat orang ketika seseorang merubah rencana. Maksudku adalah...
Kalian membuat masalah karena seseorang melakukan kesalahan dan masalah yang dihasilkan merupakan kejahatan.
Mulai memahami setiap ungkapan seseorang, aku jadi peduli, peka dan lebih mudah mengerti akan perasaan manusia.
Meskipun aku lebih sering tidak hargai sebagai manusia pada umumnya.
Kegiatanku selama ini hanya mengamati, kadang aku menuliskan perasaan seseorang di catatanku atau malah membuat postingan sesuai. Yah, itu quote.
Ada satu Quote yang bertuliskan.
^memegang kartu yang bagus, tetapi terkadang, memainkan kartu yang buruk dengan baik.
Jack London^
Tidak harus selalu bagus untuk berpenampilan karena penampilan buruk juga tidak menunjukan dirinya buruk. Itu semua tergantung kepercayaan pada diri sendiri. Yah itu yang kupikir.
Jika kalian mau tau kisahku, aku bersedia menceritakan untuk kalian. Mari aku mulai dari namaku.
Hai, namaku Isla Allen Putri yang berarti putri di kastil yang sendirian. Aku juga tidak mengerti kenapa orang tuaku memberiku nama ini.
Sesuai namaku, aku memang berada di keluarga 'berada' sebagai anak tunggal. Anak tunggal itu selalu dilarang untuk melakukan hal maksiat. Seperti keluar larut malam, ngedate dengan lelaki, bermain lupa waktu dan banyak lagi. Jika kalian mengatakan anak tunggal itu enak. Hmmm sebaiknya jangan nilai semua orang seperti itu.
Aku sering berimajinasi, membayangkan kejadian dimasa yang akan datang atau merencanakan sesuatu untuk masa depan, ya... aku tipe orang yang memikirkan pergerakan selanjutnya ketimbang harus sibuk menoleh kebelakang.
Aku tinggal dengan ayahku. Memiliki ibu tiri memang tidak seenak memiliki ibu kandung. Ibuku ketika memarahiku, aku lebih suka introspeksi diri dan menangis menyesali. Tapi ketika ibu tiri memarahiku. Aku lebih suka menutup telingaku dengan earphone memutar musik kencang.
Dan kali ini aku kembali kena celotehannya karena aku menaruh buku novelku sembarangan. Maaf, tapi bisakah berkata dengan nada halus? hanya novel yang tergeletak diatas meja. Hanya sebatas itu, kenapa alay sekali?
Ayahku datang menatapku yang mengambil novel lalu kembali masuk ke kamarku. Dari dalam kamar aku mendengar suara ayahku.
"kamu bisa ambil dan kasih ke dia baik-baik. Tidak perlu semarah itu" kata Ayahku membela.
"mas, kamu tau sendirikan aku tidak suka lihat barang yang tidak pada tempatnya" kata Ibu tiriku kesal.
"apa susahnya mengambil tanpa banyak bicara?" tanya ayahku. Kemudian aku memilih menutup diri dengan selimut. Menonton film barat genre romantis.
Andaikan aku gadis didalam film, keluarga yang saling mengerti, akur, punya teman yang perhatian dan juga kekasih yang mencintai setulus hati. Andaikan...
Jadi aku lebih memilih masuk kedalam imajinasi, berkhayal suatu saat menemukan panggeran seperti kisah di dongeng.
Aku termasuk penggila dongeng, percaya akan kejadian pada negeri dongeng meskipun banyak orang berkata itu hanya tipu daya pemanis cerita.
Ibuku menelepon notifikasi muncul di layar ponselku. Aku segera mendekati jendela kamarku yang jauh dari pintu. Lalu mengangkat panggilan.
"hai apa kabar?" sapa ibuku. Aku yakin dia sedang tersenyum.
"aku baik, aku merindukanmu bu" kataku menaruh daguku di meja.
"ibu juga merindukanmu sayang, apa disana kamu makan enak? tidurmu nyenyak?" tanya ibuku perhatian.
"masih enak masakan ibu. Ibuku adalah yang terbaik" kataku tersenyum meski ibuku tidak melihatnya.
"ah dasar kamu, yasudah ibu hanya mau tau kabarmu saja. Jaga dirimu ya? ibu akhiri" kata ibuku. Akupun merengek sedih.
"Jangan dulu, ibu sibuk kerja? masih kerja di restoran?" tanyaku.
"iya ibu masih ada kerja. Lagi istirahat lalu menelepon kamu" kata ibuku.
"baik baik. Sudah, ibu makan dulu sana. Em ya, ibu aku kirimkan uang ya?" kataku tersenyum.
"jangan nanti ibu tirimu memarahimu seperti waktu itu" kata ibuku menolak.
"aku anak kandungmu dan dia tidak berhak berkata seperti itu menghakimi ibuku" ucapku kesal. Kemudian aku dikejutkan ketika ibu tiriku mendatangiku lalu membanting ponselku.
"kenapa!" tanyaku sebal.
"anak tidak tau malu kamu ya? kamu dapet semua fasilitas ini karena siapa hah! kamu bantah saya. Ayah mu kerja cari uang untukmu. Kamu hanya tinggal menikmati tidak usah banyak omong dan besar kepala seperti itu!" bentaknya didepanku.
"aku punya penghasilan sendiri, tidak perlu kau biayai. Lagipula dia ayahku memang berhak menafkahi aku" kataku membalas tanpa meninggikan suara.
"sudah berani kamu menjawab saya?! apa ini didikan ibumu? seperti ini? terlalu memanjakanmu sampai tidak tahu diri?!" katanya dengan lantang. Lalu ku potong.
"jangan bawa nama ibuku atas kelakuanmu merebut ayahku darinya. Yang tidak punya didikan yang baik itu kamu. Bukan ibuku ataupun aku. Tapi kamu!" kataku yang terpancing emosi.
Ayahku kemudian datang melerai.
"kamu ini kenapa membentak ibumu?!" tanyanya membentakku.
"ibu?! ibu kata ayah? aku tidak punya ibu selain mantan istri ayah. Aku tidak pernah menganggapnya ibu. Menamparku? bahkan ibu kandungku sendiri dan Ayah tidak pernah menamparku. Tapi dia berani menamparku?" jawabku menatap mata ayah. Ayahku kemudian menamparku keras. Pipiku panas kaku.
Aku menyentuh pipiku sendiri dari sudut bibirku meleleh darah segar. Aku tersenyum pada kedua orang didepanku. Segera mengambil laptopku dan beberapa baju aku masukan kedalam koper.
"pergi sana! silahkan pergi! anak tidak tahu diri!" kata ibu tiriku. Lalu aku menarik koperku keluar rumah, ayahku membisu tanpa mengucapkan kata sedikitpun.
Sebagai seorang gadis, taukah rasanya ditampar oleh ayah sendiri? terlebih seorang ayah tidak percaya pada anaknya.
Aku menangis di trotoar. Berkali kali mengusap air mataku kasar. Aku terduduk di bangku taman sendirian. Menunduk menutup wajah, menangis tanpa suara. Menggigit bibir bawahku sampai berdarah agar aku tidak menghasilkan suara.
Lalu tak kusadari seorang temanku mendekatiku, mereka merekam diriku yang sedang lemah menangis di bangku taman. Aku pergi tanpa berkata, menarik koper sedikit berlari kearah keramaian. Tak terasa mereka sudah tidak mengikutiku.
Suara tawanya seakan lucu melihatku yang menderita, mereka yang membullyku ketika di sekolah. Aku yang aneh karena terlalu pendiam dan bersikap yang katanya 'sok cantik'.
Aku memasuki angkutan umum setelah menghapus seluruh air mata tersisa. Menghampiri ibuku yang sedang bekerja, aku rela menunggunya sampai pulang agar bersamanya. Tidak masalah aku harus disuruh membantunya dirumah. Tidak masalah aku dimarahi olehnya. Aku tidak mau bersama ibu tiriku dan ayahku sendiri disana.
Saat masuk kedalam restoran, aku memesan layaknya seperti customer biasa. Sampai ibuku sebagai pelayan memberi makanan yang aku pesan. Ibuku terkejut lalu duduk disampingku. Aku memeluknya erat sambil menangis. Tak kuasa tangisku ditahan. Menangis sejadi-jadinya dipelukan ibuku.
"Kenapa nak? ada apa? ibu khawatir kamu tiba-tiba mematikan telepon. Biasanya kamu tidak begitu" kata ibuku mengelus punggungku. Aku menggeleng di pelukan ibuku, berusaha meyakinkan aku tidak apa-apa.
Saat tangisku reda. Aku menyuruh ibuku melanjutkan pekerjaannya dulu, lalu aku akan menceritakan secara lengkapnya dirumah.
Jam berganti terus berjalan memutar. Dari pukul 2 siang sampai 7 malam aku telah menunggu didalam restoran dan terus memesan makanan dan minuman. Merasa tidak enak jika hanya duduk berjam jam tapi hanya sedikit memesan.
"ayo, ibu udah selesai" ajak ibuku. Lalu aku mengeluarkan koper dari meja. Ibuku terkejut mengetahuinya. Menarikku keluar restoran, menyentuh kedua pipiku lalu menciumnya.
"sayang kamu kenapa?" tanya ibuku memelukku. Aku tersenyum, hatiku menghangat lalu pergi pulang kerumah.
Namun sayang, hujan mengguyur jalanan. Kami berdua berdiam di depan kedai kopi sebentar.
"ini hampir jam 8 kalau udah mendekati jam 9 susah untuk cari angkutan. Ayo mau nerobos?" kata ibuku. Aku mengangguk melepaskan jaket di tubuhku lalu memberikan padanya. Dia sempat menolak tapi aku memaksa.
Aku menyebrang duluan, ku pikir ibuku mengikutiku ternyata tidak. Kemudian tak lama ibuku menyeberang.
Ibuku jatuh tersungkur ketika mobil menabraknya kencang sampai ibuku terpental. Mataku seolah keluar, aku menghampiri tubuh ibuku yang tergelak dijalan. Hujan bahkan masih mengguyur
"ibu tidak apa-apa. Ibu baik-baik saja" kata ibuku dengan mulut berdarah. Aku mengangkat kepalanya menidurkan di pahaku. Air mataku tak terlihat digantikan hujan yang semakin deras.
"jangan nangis, terimakasih ya sempat membiayai ibu. Ibu membaca novelmu yang baru saja diterbitkan. Kalimatnya sungguh indah, boleh ibu minta? buatkan untuk ibu ya?" pinta ibuku sengan senyum. Ibuku seperti tersedak akan sesuatu, nafasnya tak teratur seperti mencari oksigen banyak banyak.
"ibu jangan, jangan tinggalin aku. Ibu, aku mau cerita, aku ada janji cerita sama ibu. Ibu aku sebelumnya minta maaf, selama aku bersama ibu. Aku... Aku tidak pernah berkata aku menyayangimu. Ibu kumohon jangan pergi" kataku mengeratkan tautan tanganku pada tangannya. Ibuku tersenyum.
"aku sayang ibu, aku cinta ibu. Ibu cintaku. Ibu sungguh cintaku, nama ibu terukir dihatiku. Ibu kumohon" Kataku menangis memejamkan mata lalu kembali menatapnya. Tangannya lemas, ibuku memejamkan matanya.
Aku memeluk tubuh ibuku erat, banyak orang memperhatikanku. Aku bukan pertunjukan!.
"ibu aku sungguh mencintaimu"bisikku ditelinganya sambil menangis. Darah ditanganku, kepalanya bocor. Aku, ini salahku. Kalau aku tidak menghampirinya, kalau aku tidak menunggunya.
Malam ini lebih menyakitkan, hatiku remuk namun aku berusaha memperbaikinya. Aku tidak ingin ibuku yang ada disana ikut hancur bersamaku.
Hening, tanpa suara. Tidak memiliki siapapun selain tuhan. Memeluk diri di ujung ranjang dengan selimut menutupi tubuh. Merasa dingin karena hawa yang kubuat sendiri. Akhirnya... aku kembali menangis.
Tuhan, sampaikan salamku untuknya. Aku mencintainya, lebih dari aku mencintai siapapun dunia. Aku cinta dia, aku ingin sekedar melihatnya. Cukup, itu sudah cukup.
Baiklah hatiku tidak boleh patah, hatiku harus tumbuh berkembang agar nama ibuku yang disana tidak rusak. Aku tidak boleh rapuh, aku harus kokoh seperti pohon jati. Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat seperti putri di negeri dongeng.
Meski aku jatuh, meski aku tersungkur ketanah. Aku harus bisa bangkit.
Ibu, novel ini untukmu. Aku sudah membuatkannya untukmu. Ibu... temani aku meski aku tidak mampu melihatmu. Aku kesepian dan aku sadar engkau menatapku.