Apa yang kalian putuskan dalam penggalan kata ini? Ku nanti jawabanmu!
🖋️🖋️🖋️
Saat mentari mulai menyurut tenggelam ke belahan bumi lainnya, di atas tanah yang rata ... sebuah gedung pencakar langit yang belum rampung berdiri kokoh di sana.
Fokuskan mata kalian pada sebuah objek hidup yang berdiri di ujung salah satu ruangan di lantai 10.
Baju merah selutut, dengan rambut panjang yang melambai-lambai dihembuskan oleh angin. Dia tidak bergerak, dia terus saja berdiri di tepi lantai yang kasar.
"Ma-Maya ... apa kau tidak takut? A-aku ... sangat ketakutan ...!" ucap seorang gadis berbaju kuning yang berdiri tidak jauh dari si baju merah.
Maya memalingkan wajahnya melihat ke arah sang sahabat.
"Untuk apa takut ...! Bukankah kehidupan lebih menakutkan? Ana ... Apa kau masih sanggup dengan hidup yang kau jalani ini?" tanya Maya penuh keteguhan.
Ana melangkah lebih dekat kearah Maya yang tersenyum.
"Ti-tidak ... aku sudah tak sanggup dengan hidup ini! Aku ... benci kehidupan ini!" tekan Ana penuh emosi.
"Jadi ... kenapa kau harus ragu? Ayo kemari lah Ana ... kita akan lebih baik setelah pergi dari kehidupan ini." Tak ada keraguan di mata Maya.
"A-apa ... itu akan sakit ...? Aku takut May ...!" ucap Ana kembali saat melihat tingginya bangunan itu.
"Baiklah ... begini saja, aku yang akan loncat terlebih dahulu. Setelah itu kau, Ana." putus Maya penuh keyakinan tak terelakkan.
Ana hanya bisa menatap nanar sang sahabat. Hatinya masih ragu dengan keputusan yang mereka ambil itu.
Tapi tidak dengan Maya, dia begitu yakin dan tanpa ragu.
"Ana ... tepati lah janjimu ... kau akan tetap bersamaku, dimanapun itu! Berjanjilah Ana!" ucap Maya kembali
Ana menganggukkan kepalanya, "Iya, aku berjanji!"
"Baiklah ... aku pergi duluan. Ana ... Cepat susul aku ... aku tak ingin sendirian."
Itulah kata terakhir dari gadis bernama Maya. Dalam hitungan detik, dia seakan terbang di angkasa, baju merah cantik itu melambai-lambai. Rambut hitam panjang itu tersapu angin menutup wajahnya.
BRUAKKK ...!!!
Darah yang keluar dari kepala yang hancur, seakan dapat menutupi separuh tanah yang gersang. Maya telah memenuhi janjinya dengan sang sahabat. Dan kini giliran Ana yang harus menepati janji.
Ana terbungkam tanpa kata menatap tubuh Maya yang tak bernyawa tergeletak di sana. Seluruh tubuh Ana bergetar ketakutan.
Perlahan dia maju lebih dekat ke ujung gedung lantai sepuluh itu. Dia berdiri pas di tempat sang sahabat berdiri sebelum terjun ke bawah dan mati.
"A-aku ... A-aku ... takut May ... apa yang harus ku lakukan?! May ... apa itu sakit?!" ucap Ana penuh keraguan dan ketakutan.
Namun, apa daya Ana. Dia telah berjanji mati dengan sang sahabat yang lebih dahulu pergi dari dunia ini.
Ana menggelengkan kepalanya, untuk membuat dia sadar akan janjinya.
"Baiklah ... tunggu aku sahabatku! Aku akan segera menyusul mu." Ucap Ana penuh keyakinan.
Ana memejamkan matanya dan merentangkan tangannya dan bersiap untuk menyusul sang sahabat.
Namun, suara dering handphone membuat Ana teralihkan. Ana tertegun, dia segera berpaling menatap kearah handphone yang bergetar dengan jarak satu meter darinya.
Sekitar lima menit, Ana masih tak mendekati handphone itu. Deringan itu berhenti. Ana kembali fokus pada tujuannya.
DRING ...!!!
Sekali lagi Ana teralihkan, tapi sekarang Ana segera mengangkat handphone nya.
"Ha-halo ...?!" sapa Ana.
Entah apa yang Ana dengar dari balik handphone sana. Dia terlihat sangat bahagia. Tanpa berpaling lagi, Ana langsung pergi turun dari gedung itu tanpa melihat dia yang sudah tak bernyawa.
Janjinya dengan sang sahabat untuk mati telah ia ingkari. Ana memilih untuk hidup.
*****
3 tahun berlalu ...
Walau rasa takut dan trauma yang masih di miliki oleh Ana, dia memberanikan diri untuk pergi ke gedung tempat ia dan sahabatnya menuai janji yang telah ia ingkari.
Satu persatu anak tangga ia pijak untuk mencapai lantai sepuluh. Angin berhembus memasuki rongga tembus gedung itu.
Ana terdiam di ambang pintu lantai sepuluh. Dia menatap nanar ruangan itu. Tubuhnya kembali bergetar saat mengingat Maya yang tersenyum kearahnya saat terjun dari lantai itu.
Dengan langkah berat, Ana berjalan mendekati ujung lantai.
WUSSSHHH ....
Angin semakin kencang berhembus. Debu yang berterbangan membuat Ana sekejap menutup mata.
DEG!!!
"Ma-Maya ...?!" gumam Ana saat melihat siluet sang sahabat berdiri di ujung lantai sambil melambaikan tangan.
Namun, Ana tak sanggup lagi mendekat. Otaknya seakan tak lagi merespon. Dia ketakutan melihat siluet tubuh sang sahabat yang sudah tiada.
Perlahan Ana melangkah mundur. Dia tidak ingin mendekat. Dia tak ingin melihatnya lagi.
"Ma-maafkan aku, Maya!" Segera Ana melangkah cepat meninggalkan gedung penuh kekelaman itu.
*****
Malam yang dingin. Hujan seakan tak ingin berhenti. Angin kencang juga menerbangkan apapun yang disentuhnya.
Ana terduduk di sofa kamarnya sambil membaca beberapa majalah. Sesekali Ana melihat kearah jendela yang terawang keluar.
Dia hanya menggeleng melihat hujan yang sangat lebat.
DEG ...!
Tiba-tiba sebuah siluet merah terlihat di jendela. Ana sedikit tertegun. Namun, dia menghiraukannya, dia tak ingin berpikir aneh.
Ana kembali fokus dengan majalah di tangannya. Ana berhenti melihat ke majalah, saat Indra penciumannya menangkap bau melati yang sangat menyengat.
Dia mencoba untuk menangkap asal bau itu. Ana turun dan bangun dari Sofanya. Dia berjalan mengikuti bau melati itu. Baunya semakin menyengat saat dia mendekat kearah jendela.
Tinggal lima langkah dari jendela terawang itu. Ana mengerutkan keningnya. Dia heran, bagaimana bau melati itu bisa masuk ke kamarnya? Bahkan tak ada bunga melati di rumahnya.
"A ... na ..."
Tubuh Ana seakan tiba-tiba terasa panas. Dia seperti mendengar bisikan sesuatu. Dia mencoba untuk mundur perlahan dari jendela.
Namun, [1. Balnk]
Tak ada sepatah kata yang bisa keluar dari mulut Ana. Dia hanya bisa menggeleng pelan kepalanya.
Dan tiba-tiba ... semua gelap.
*****
"Ahk ...!" rintih Ana memengang kepalanya yang sakit.
DEG ...!
Dia tersentak saat melihat di sekelilingnya. Dia bukan lagi berada di rumahnya. Namun, di gedung tempat sang sahabat mati bunuh diri.
Ana gemetar ketakutan. Dia mencoba bangun dari duduknya. Namun, sia-sia saja, kakinya tidak bisa digerakkan.
Bug ...! Bug ...!
Ana memukul-mukul kakinya dengan gepalan tangan.
"A ... na ..."
Ana terhenti, dia mendengar seseorang memanggilnya. Ana mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tidak ada seorangpun di sana.
"Kenapa ... Ana ... kenapa ...."
Suara itu kembali terdengar.
DEG ...!!!
Ana [2. Blank ...]
Ana membatu, dia tak bisa bergerak. Dia tak bisa menarik tubuhnya mundur. Dia begitu menyeramkan, kepalanya hancur, matanya keluar, seluruh tubuhnya retak serta tulang yang menonjol keluar dari daging yang hancur.
Nafas ana seakan tercegat. Dia tak bisa bergerak atau teriak.
Sosok itu menyeret tubuhnya mendekat kearah Ana.
"Kenapa ... Ana ... kenapa ... kau ... tak ... mati ... bersama ... ku ..."
Air mata keluar deras dari mata kecil Ana. Tak ada yang bisa dia katakan. Seakan mulutnya terbungkam dengan ketakutan.
DEG ...!
Tubuh Ana lemas saat tiba-tiba lengan sosok sahabat itu putus dan terjatuh ke lantai.
"Ayo ... Ana ... ayo ... ikut ... aku ..."
Ana menggelengkan kepalanya, dia mencoba bersuara.
"Ti-tidak ... Aku ... ti-tidak mau pergi ... aku ... masih ingin hidup!" ucap Ana terbata-bata Karna ketakutan yang menjalar ke seluruh jiwa dan batinnya.
Dia semakin mendekat!
"Kenapa ... Ana ... kita ... sudah berjanji ... kita ... akan ... pergi ... bersama ..."
Ana kembali mengeleng, "Aku ... tidak sanggup Maya! Aku takut! Aku tidak ingin mati ...!" teriak Ana penuh penyesalan.
"Aku ... bersamamu ... Ana ... kenapa ... kau ... meninggalkan ... aku ... mati ... sendiri ...!"
Dia semakin dekat!
"Tidak Maya ... aku bukan meninggalkan mu ...! Aku hanya ingin terus hidup! Aku tak ingin mati seperti itu! Masih ada orang yang menyayangi ku! Aku tak ingin mereka merasa bersalah dengan keputusanku ...! Maya ... kita sudah mengambil jalan yang salah saat itu! Tidak ada yang namanya sendiri di dunia ini ...! Maafkan aku Maya ... aku harus mengingkari janji ku padamu ... maafkan aku ...!" rintih Ana penuh kepahitan akan masa lalunya
Dia berhenti mendekat!
"Ana ... kau ... telah ... mengkhianati ku ... aku ... tak ingin sendiri ... kau ... harus ... ikut ... mati ... bersama ... KU ...!!!"
"AAAKHHHHH ...!!!!"
Pada akhirnya, Ana [3. Blank]
Janjimu adalah kematian ku!
Apa yang bisa dilakukan manusia? Saat emosi menjadi pemimpin, maka hati tak lagi berguna. Sekuat apapun manusia itu, jika kelemahannya terusik, maka dia akan rela mengambil nyawanya sendiri.
Kawan ... hidup bukanlah mainanmu. Jika takdir berpihak buruk padamu, itu Karna pilihanmu. Ingat! kau tidak sendiri, di dunia ini.
TAMAT🖋️
TERIMAKASIH ATAS KEDATANGANNYA!🙏
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YANG KEREN😎💋