Terlahir dengan sedikit kelebihan mungkin membuat seseorang menjadi terasingkan hanya karena dinilai aneh hingga membuat orang lain ketakutan. Disamping itu sebagian menganggap bahwa itu adalah suatu gangguan mental, dengan kata lain mungkin berarti halusinasi ataupun gila.
Maika frustasi akan hal itu, selalu dikejar sesuatu yang nampak mengerikan tanpa ada kepercayaan dari orang lain akan apa yang ia lihat. Terlalu menyerah untuk meminta bantuan, Maika hanya terus berlari dengan diselimuti rasa takut.
"Aku mohon jangan mengejarku" ucap Maika tiap kali ia bertemu sesuatu itu.
Tak semua menuruti ucapannya guna memenuhi kehausan akan pengorbanan. Mereka yang serakah itu tahu mengenai keistimewaan Maika yang disia-siakan, membuat mereka sangat suka mengerubungi Maika dengan bisikan nafsu dan keinginan untuk menjerumuskan Maika.
"Kemarilah, bukankah kau sudah lelah berada di dunia yang penuh ketidakadilan ini? Aku akan membantumu..."
"Tidak, aku tidak mau, aku tidak lelah"
Maika terus menguatkan hatinya, mempertahankan kejernihan pikiran bahwa suatu saat akan ada yang bisa menolongnya. Tubuh yang mulai melemah, akal yang mulai berantakan, dan keteguhan yang semakin memudar, Maika pasrah akan akhir dari hidupnya dikemudian hari.
"Pergi, dia milikku" kata seseorang yang pada waktu itu tak sengaja Maika lewati saat ia berlari.
Ia menggenggam tangan Maika sembari melindunginya dibalik tubuh yang nampak seperti mayat hidup. Mereka yang mengejar Maika sama sekali tak ada yang melawan, bahkan langsung pergi setelah orang itu mempertajam pandangan matanya kepada mereka.
"Kau tak apa? Apa kau lelah? Perlu istirahat?" Tanyanya ketika keadaan mulai sunyi nan tenang. Orang itu sedikit mengusapkan tangannya kepipi Maika yang mendingin karena terus berlari dengan air mata yang tak mengering.
"Kakak juga melihatnya?"
"Ya, pasti sulit bagimu untuk bertahan sampai sekarang" jawab orang itu membuat rasa syukur timbul dibenak Maika.
"Apa Kakak terasingkan? Kakak selalu sendiri?"
"Ya, aku memang penyendiri"
"Apa Kakak tak punya teman?"
"Ya, tak satupun"
Perasaan senasib terlintas dipikiran Maika, tanpa mengingat keadaan yang menimpanya ia memasang ekspresi wajah hangat dengan senyum ringan kemudian memeluk orang itu. Maika hanya berpendapat pasti sangat sakit bagi seseorang bila terus hidup menyendiri, sama halnya dengan apa yang Maika alami selama ini.
"Bolehkah aku berteman dengan Kakak?"
"Ya, itu pilihanmu"
"Bolehkah aku bersama dengan Kakak?"
"... Ya, aku menerimamu"
Sejak saat itu, Maika terus datang menemui orang itu kemudian menceritakan banyak hal mengenai kehidupan dan keadaan diluar tempat orang itu. Maika sering mengajak orang itu untuk ikut pergi bersamanya, tapi penolakanlah jawabannya. Orang itu... tak bisa meninggalkan tempatnya berada .
Maika kerap berfikir ada masalah apa orang itu tak pernah beranjak lebih dari pekarangan rumah. Tiap Maika datang pasti ia dapati orang itu duduk dikursi bulat teras rumah dan sama sekali tak menuju ke tempat lain selain berjalan mengelilingi pekarangan dan masuk kedalam rumahnya sendiri.
Dia bahkan tak pernah mau diajak makan, tetapi terus-menerus menyeduh teh. Meski banyak pertanyaan yang ingin Maika sampaikan, tapi Maika mengesampingkan semua itu karena rasa syukurnya yang lebih besar akan kehidupannya saat ini.
Berkat pertemuannya dengan orang itu, Maika tak lagi sendirian. Maika bahkan tak lagi diganggu siapapun juga sesuatu apapun. Maika hanya terus mengingat akan pesan orang itu untuk selalu menggunakan gelang berliontin lonceng dengan ukiran unik yang diberikan padanya, juga selalu teguh akan kepercayaannya kalau kebahagiaan senantiasa menanti masa depannya.
Hingga akhirnya ada beberapa orang datang ketempat orang itu berada. Maika yang penasaran akan kehadiran mereka dengan lebih percaya diri menanyakan maksud kedatangan mereka.
"Maaf, ada apa ya?"
"Apakah adik yang sudah merawat pekarangan ini?" Tanya salah seorang, matanya langsung tertuju pada lengan Maika.
"Ahh, tidak tidak. Saya hanya senang bermain disini"
"Owh begitu, kalau begitu bolehkah saya merubah pekarangan ini menjadi taman bermain anak-anak?"
"Sebelumnya saya minta maaf, Kakak itulah yang memiliki tempat ini. Anda bisa menanyakannya pada dia" kata Maika sembari menunjuk orang yang selama ini ia panggil Kakak, tepat berada ditengah teras rumah, mematung dengan senyuman yang hanya bisa dilihat oleh Maika.
Seperti itulah kenyataannya, selama ini Maika menganggap orang itu sebagai kakak yang normal, benar-benar normal selayaknya orang-orang yang berada disekelilingnya.
"Adik kecil, tempat ini sebelumnya adalah rumah kakak kandung saya yang telah meninggal lima tahun lalu. Saya bermimpi kalau dia berpesan untuk menemukan anak bergelang liontin lonceng yang hanya dimiliki olehnya kemudian mengubah pekarangan yang ia jaga menjadi tempat yang menggembirakan, dan itu adalah kamu" jelas seorang sembari memegang bahu Maika.
"Meninggal?" Maika menoleh kembali kearah orang itu, dia masih setia berdiri dengan tersenyum.
"Kakak yang kamu tunjuk disana, saya tak dapat melihatnya. Tapi karena ucapan Adik, saya berfikir bahwa itu pasti kakak saya yang sudah meninggal. Apakah kakak saya ada disana?"
"... Tapi.. tapi aku selalu bermain dan berbicara dengan Kakak! Kakak selalu memberikan kekuatan juga melindungiku dari ketidakadilan yang aku alami selama ini! Kakak... Gak mungkin Kakakku... Hiks..."
Maika menangis, ia tak berani beranjak dari tempatnya berdiri, bahkan untuk kembali memandang orang maupun Kakaknya itu pun ia tak berani melakukannya.
"Hey... Maika, sudah lama sejak pertemuan kita, kau akhirnya menangis lagi. Aku kakakmu, mereka sekarang akan menjadi keluargamu. Aku melewati batasanku, aku tak bisa lagi berlama-lama disini. Maika sudah bahagia sekarang, Kakak juga bahagia untukmu. Kedepannya, tebarlah kebahagiaan untuk orang lain, semua orang, tanpa terkecuali... Bisa?" Ucap seorang yang tadinya memegang bahu Maika.
Maika yang terkejut melihat bayangan sang Kakak keluar dari tubuh orang didepannya sadar kalau inilah sebuah perpisahan baginya dengan sang kakak. Maika sadar kenapa kakak itu tak pernah mau makan, dan Maika sadar kenapa kakak itu tak pernah melangkah melebihi pekarangan.
"Bisa... Aku pasti bisa! Aku akan selalu mengingat Kakak! Meski cahaya Kakak meredup sekalipun, harapan dan semangat Kakak akan selalu bersinar! Aku berjanji!"
"Ya, aku tahu itu. Sampaikan terimakasihku untuk keluargaku itu, Kakak minta tolong ya. Selamat tinggal dan terimakasih... Maika:)"