Sore itu Dony dan Rizal berjalan menuju ke rumah nenek Dony di kampung,mereka baru pulang dari menikmati secangkir kopi dan beberapa potong gorengan di angkringan milik pak Roni di RT sebelah.
Hari sudah petang ketika mereka pulang,matahari sudah menenggelamkan dirinya,dan udara dingin mulai terasa di jalan pedesaan.
"Don,kan gue udah bilang jangan pulang sore sore,nanti keburu magrib belum sampe rumah nenek lo" ucap Rizal sambil menggosok gosokkan kedua tangannya untuk menghangatkan diri.
"Alah biarin,magrib gak magrib ujung ujungnya jugak sampe rumah" jawab Dony yang berjalan mendahului Rizal.
"Tunggu Don! Gak gitu maksud gue,kata orang tua kalo magrib keluyuran pamali tau" ucap Rizal yang mencoba menyetarai langkah Dony.
"Alah kayak anak kecil aja lo,kalo takut bilang aja,yaudah yuk buruan"
"Lo kalo dibilangin menyepelein banget sih" ucap Rizal yang kesal.
Dan benar hari sudah petang,tepat setelah ikamah magrib samar samar terdengar,mereka masih berjalan kaki di jalan setapak di tepi persawahan itu.
"Tuhkan apa gue bilang,udah lepas magrib belum juga sampe rumah" keluh Rizal.
"Udah diem,mending ayuk buru buru" ajak Dony yang mempercepat langkahnya.
KRIK..KRIK...
KRIK...KRIK..KRIK..
GU..GU..GU...GU....GU...
Hari sudah petang saat mereka berjalan di jalan setapak itu,mereka berjalan hanya di bantuan penerangan lampu jalan yang jaraknya lumayan jauh antara lampu satu dan lampu lainnya,suara jangkrik di sawah saling sahut menyahut,dan diimbuhi suara burung hantu yang membuat (Bank...1).
"Don cepet Don,buru ah cepetan jalannya" ajak Rizal yang mendorong Dony.
"Bentar ah,jangan kayak cewe dong" keluh Dony yang merasa jalannya terganggu oleh Rizal yang mendorongnya.
Rizal terus mendesak Dony untuk berjalan cepat agar mereka segera sampai di rumah,namun Dony malah merasa terganggu dengan sikap Rizal.
Tiba tiba suara burung hantu terdengar lebih cepat dari yang sebelumnya,seolah dia sedang dalam keadaan panik,bersamaan dengan hal itu Dony dan Rizal merasakan semilir angin yang berhembus pelan mengusap punggung mereka.
"Don,gue gak mau kayak yang di film film" ucap Rizal yang mulai berjalan cepat dengan kepala yang dimantapkan menghadap ke depan.
"Apaan maksudnya? Jangan bilang kalo lo keseringan nonton film horor terus jadi penakut" ejek Dony sambil mengikuti langkah Rizal yang semakin cepat.
"Ayuk ah buru,perasaan gue gak enak!!" bentak Rizal yang makin mempercepat langkahnya dan disusul oleh Dony.
"Dih gitu aja marah"
Setalah mengatakan hal tadi,Dony membuang muka ke belakang dengan ekspresi masih mengejek Rizal,dia kembali menengok ke depan dan menyadari bahwa dia melihat sesuatu yang janggal di belakang mereka.
Dony (Blank...2) ,dia ingin memastikan hal apa yang dilihatnya tadi,dia terpaku saat melihat sosok putih agak transparan menyerupai wanita dengan gaun panjangnya berdiri di tengah jalan setapak sekitar 100 meter di belakang mereka.
"Rizal,ayuk cepet pulang" ucap Dony panik sambil menarik narik lengan baju Rizal.
"Apa? Kenapa tiba tiba mau pulang cepet? Baru nyadar kalo udah malem" ucap Rizal yang berhenti.
Rizal memandang Dony dengan heran,terlihat disana Dony yang masih terpaku memandang ke arah belakang,dengan rasa penasaran Rizal menengok ke arah mata Dony tertuju dan dia juga terkejut saat melihat sosok putih itu.
"Njir itu apaan!!?" ucap Rizal.
"Benda apa itu? Perasaan tadi pas kita lewat gak ada?" tanya Rizal yang mulai panik.
"Ga..gak tau! Itu setan zal setan!!" teriak Dony.
"A.. ayok kabur Don!" ajak Rizal.
"Sial kaki gue susah gerak!!" keluh Dony.
"Gue juga! Gimana Don!? Gimana nih!?" ucap Rizal yang mulai gemetar.
Mereka berdua mencoba tenang,namun rasa takut dengan makhluk yang terus menatap mereka tidak bisa menipu perasaan keduanya,dan dengan beberapa usaha,akhirnya mereka dapat menggerakkan tubuh mereka kembali.
"Don..lari Don..!! Buru Don lari!!" ucap Rizal yang menarik narik lengan baju Dony.
"Ya ayuk!! Jangan ngomong doang!! Ayuk lari!!" teriak Dony sambil berancang-ancang mengambil langkah seribu.
Saat mereka akan berbalik badan dan lari,hal yang terakhir mereka lihat adalah (Blank...3) ,sontak mereka semakin panik dan lari terbirit-birit dengan jantung yang sudah tak beraturan detaknya.
"Itu benda macam apa Don!? Kok ngejar!!" teriak Rizal ketakutan.
"Gatau bodo amat gue gak mau lagi ketemu sama benda kayak gituan!" jawab Dony yang sudah tidak memperdulikan lagi dengan apa yang dipijaknya.
Mereka berdua lari secepat yang mereka bisa untuk menjauhi sosok putih yang mengejar mereka,dengan rasa takut yang amat sangat dan dengan jantung yang berdetak kencang,ditambah rasa lelah ketika berlari lumayan jauh,mereka berharap segera menemukan seseorang untuk menolong mereka,dan akhirnya sampailah mereka di pos ronda sekitar RT tempat tinggal nenek Dony.
"Don ada orang! Minta tolong!!" ajak Rizal.
"Pak pak!! Tolong! Hantu! Hantu perempuan!!jalan setapaknya ngejar kami" teriak Dony yang tidak jelas sambil masih ngos-ngosan.
"Dek dek,tenang dulu,ada apa?" ucap salah satu bapak bapak yang sedang jaga di pos ronda.
"Tadi kami dikejar hantu perempuan pak,disana di jalan setapak deket sawah" lanjut Rizal yang mulai tenang.
"Lho emang kalian berdua ini dari mana? Magrib magrib kok masih keliaran,lewat sawah lagi?" tanya bapak bapak yang satunya.
"Kami dari RT sebelah pak,tadi nongkrong di angkringan" jawab Dony.
"Mangkanya kalo mau magrib buruan pulang,gak baik magrib magrib keliaran" ucap bapak bapak tersebut.
Mereka berdua merasa aneh karena orang di pos ronda tidak menanyakan tentang hantu perempuan yang mereka temui,dan mereka tidak menjelaskan apapun tentang sosok tersebut,seolah sosok itu sudah sangat familiar di telinga mereka dan ada sesuatu yang tidak mereka katakan kepada Dony dan Rizal.
"Pak,tolong anterin kami pulang ya" ucap Rizal.
"Yaudah yaudah ayuk" ucap salah seorang yang mengusulkan diri untuk membantu.
"Terimakasih pak" ucap Dony dan Rizal senang.
Sejak hari itu,saat Dony dan Rizal berkunjung ke desa,mereka tidak pernah mengambil jalan setapak dekat persawahan itu untuk pergi ke angkringan RT sebelah,mereka memilih jalan yang lebih jauh namun terkesan lebih aman dari sosok makhluk astral.
---TAMAT---