Sore itu, di kala kabut tebal nan dingin memenuhi ruang atmosfer bumi, aku menemanimu menghitung detik yang terus berjalan sembari melangkahkan kaki kita yang terasa bengkak karena lelah menyelusuri track yang rumit.
Kamu lelaki berparas manis, kulit sawo matang, badan tinggi nan kekar. Kamu memiliki satu gingsul di sebelah kanan. Seorang hafiz yang memiliki suara merdu nan mendamaikan. Sayang, kamu cuek dan dingin seperti es. Namun, kekuranganmu itu bisa termaafkan oleh kaum hawa yang mengidolakanmu. Banyak dari mereka yang ingin bersanding denganmu, akan tetapi hanya satu nama yang berhasil singgah dan menetap di hatimu.
Kenzo Raharsya, terima kasih telah menjadikan wanita sederhana ini satu nama yang beruntung itu. Kamu menganggapku pemegang kunci hati yang memiliki kekuatan untuk mencairkan es yang mengurung hatimu. Sang pemilik cinta suci untukmu. Karena kesalahanku itu, kamu memintaku bertanggungjawab dengan cara menerima tawaranmu untuk bernapas di sisimu.
Di sore itu, kamu membuktikan lagi dan lagi ketulusan serta kesetiaanmu. Aku bersyukur pada Tuhan karena telah menghadirkan dirimu di hidupku.
Mendaki gunung adalah salah satu kebahagiaan yang tak dapat kutukar dengan mata uang mana pun, karena itu adalah hobimu. Aku rela menemani meski fobia dengan ketinggian. Aku masih mengingat saat kakiku gemetar meski baru menapaki kaki puncak gunung itu, tapi aku terus melangkahkan kakiku hingga terhuyung dan kamu ada disana untuk menangkapku.
"Sayang, sudah aku katakan jangan memaksakan diri. Sekarang lihat! Kau menyusahkanku." Bibirmu tak henti-hentinya menggerutu padaku karena merasa kesal aku memutuskan untuk menemanimu. Bukan apa-apa, hanya saja kecemasanmu akan keadaanku terus menghantui pikiranmu.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Aku baik-baik saja," sahutku setengah berteriak.
Tiba-tiba, seorang wanita menghampiri kita dan bertanya sembari menjulurkan tangannya ke arahmu. Dia menatapmu dengan tatapan tak biasa. Binar kebahagiaan terlihat di kedua bola matanya.
"Hai, kalian mau mendaki juga, kan? Kenalkan, aku Maya."
Dia cantik, kamu melihatnya, dan aku pun merasa biasa saja karena kamu melihat hanya untuk mengatakan sesuatu hal yang membuat harapan wanita itu musnah.
"Aku Kenzo dan ini istriku, Retna," jawabmu tanpa membalas uluran tangan itu, lalu tersenyum padaku. Aku pun membalas uluran tangannya dan menyebutkan namaku.
"O-ohh ... baiklah! Emmm ... boleh aku bergabung dengan kalian? Aku kesini sendirian soalnya." Dia tersenyum canggung setelah mendengar kenyataan bahwa kamu sudah memiliki pendamping hidup.
"Tentu!" sahutku tersenyum senang. Kamu langsung menyenggolku saat itu karena tidak suka ada orang lain di tengah kebersamaan kita. Aku pun mengangguk cepat agar kamu membiarkan wanita itu ikut. Kamu mengalah demi aku, sungguh kebahagiaan yang tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata.
Tak berapa lama, aku kembali terhuyung. Bahkan sampai terjungkal karena kamu belum sempat menopang tubuhku. Kamu pun langsung membantuku untuk bangun dan memarahi aku lagi karena kecemasanmu.
"Kalian sungguh mesra." Maya masuk ke dalam dialog kita dengan menyuguhkan senyum manisnya.
"Sudah kukatakan jangan membiarkan dia ikut, sekarang aku merasa terganggu karenanya." Kamu berbisik di telingaku. Jujur, sikap dinginmu terhadapnya membuatku merasa aman.
Tiba-tiba suara lelaki terdengar memanggil nama Maya dari belakang. Aku, kamu, dan Maya pun menoleh, dan saat itu kita melihat sosok lelaki yang berlari dan menjamah tangan Maya saat sampai.
"Kenapa kau meninggalkanku?" Dia bertanya dengan raut wajah kesal. Maya spontan menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Mungkin memberi isyarat agar lelaki itu diam.
"Kita lanjut!" Kamu mengajakku meninggalkan mereka karena tahu Maya telah berbohong pada kita. Maya bilang dia sendirian, tapi ternyata tidak.
Aku hendak melangkahkan kakiku lagi, tapi tangan kekar itu seketika menarikku ke belakang. Aku terkejut saat itu, lebih terkejut lagi saat kamu berjongkok di depanku dan memintaku untuk naik ke punggungmu.
Aku memutar bola mata dengan malas tanpa kamu tahu. Bagaimana bisa kamu mendaki kalau ada aku di punggungmu? Itu akan terasa berat, jadi aku menolak perintahmu. Bukan yang pertama kalinya aku menolak permintaanmu, apalagi kali ini permintaanmu menyusahkan dirimu sendiri.
Aku sendiri bingung, kenapa sikapku tidak membuatmu merasa kesal, marah, ataupun bosan padaku. Kamu lebih sering mengalah dari aku, kamu juga pencemburu tidak seperti aku. Kamu sosok lelaki posesif dan protektif dalam hidupku.
Pada akhirnya kita berjalan beriringan dan bergandengan tangan karena aku terus menolakmu. Kita berjuang bersama. Lebih baik seperti itu daripada membiarkanmu berjuang sendirian.
Aku menguatkan hatiku, berusaha mengalahkan ketakutanku. Dengan percaya akan satu hal, Tuhan menjagaku lewat dirimu. Kamu yang telah hadir menjadi pendamping hidupku satu bulan lamanya.
Maya dan lelaki itu juga mendaki di belakang kita. Kita sama-sama tahu, tapi kamu berpura-pura tak melihat mereka. Aku kerap kali melirik mereka yang terkadang terlibat pertengkaran kecil. Maya kerap mempercepat langkah dan meninggalkannya, namun lelaki yang bersamanya itu terus menyusul.
Sementara kamu, kamu hanya fokus pada track yang kita lalui. Terkadang menyingkirkan batu kecil di track yang akan aku pijak.
Tepat pada saat jarum jam berwarna hitam terpendek jauh melewati angka lima, kita telah sampai di tempat yang mempunyai ketinggian 1.803 m saja. Aku masih ingat, kamu sengaja memilih tempat itu karena tidak ingin aku lelah apalagi sampai sakit. Aku juga masih ingat, kedatangan kita ke sana bukan karena keinginanmu, tapi karena aku yang memaksamu. Karena aku ingin merasakan menemanimu melakukan hal yang kamu suka, bukan hanya mendukung dan mendoakan dari jauh saja.
Sesampainya disana, aku menarik napas kuat-kuat lalu mengeluarkannya dengan kasar sembari memejamkan mata. Aku sangat bahagia karena keyakinanku pada Tuhan membuat perjalanan kita lancar.
Saat itu mataku terpejam, diam-diam kamu mendekatkan wajahmu pada wajahku. Tentu saja embusan nafasku menerpa wajah manismu. Wajah yang selalu meneduhkanku setiap kali aku melihatnya.
"Kamu ngapain?" Aku bertanya dengan senyum penuh tanda tanya.
"Napasmu adalah nyawaku, detak jantungmu adalah duniaku. Biarkan aku selalu ada di dekat mereka!"
Senyum tanda tanya seketika berubah jadi senyum kebahagiaan. Aku spontan menepuk pipimu dengan pelan. Sudah menjadi kebiasaanku melakukan itu jika ada hal yang membuatku gereget. Dan kebanyakan kamulah penyebabnya, penyebab dari segala rasa mendalam yang aku rasakan. Aku akan sangat marah karenamu, aku akan sangat terluka karenamu, semua karenamu karena kamu sangat berarti bagiku.
"Modus terus, modus terus ..." sindirku dengan wajah kesal yang aku buat-buat. Seketika kamu tertawa, menampilkan deret gigimu dan satu gingsul yang memanjakan mata dan hatiku.
"Sudah ‘ku katakan, ketinggian tak seburuk yang kau pikirkan. Lihat gunung itu dan keindahan alam di sekitarnya! Rasa lelah yang kita rasakan terbayar bukan?" Kamu menatap keindahan yang kamu lukis sendiri dalam imajinasimu, lalu beralih menatap diriku yang mengerucutkan bibir karena kesal.
"Ken, kau bercanda? Kita terlambat. Aku ingin sekali menikmati senja bersamamu dari atas sini. Tapi lihat! Senja sudah bersembunyi. Ini masalah besar bagiku. Pertama kali kesini aku gagal menikmati dia bersamamu." Aku sangat menyayangkan momen itu. Senja telah pudar dan yang ku lihat hanya kesuraman.
Seharusnya kita sampai lebih awal, tapi karena saat berangkat kamu terus menawar padaku agar keberangkatan ke puncak di tunda dulu sampai fobiaku hilang, waktu keberangkatan jadi molor. Kamu membuatku kesal saat itu, jadi ampuni istrimu ini yang saat itu marah padamu.
Aku berbalik berniat pergi, namun malah tak sengaja bertabrakan dengan lelaki yang bersama Maya beberapa menit yang lalu. Dia menangkapku karena aku hampir saja terjatuh. Sepertinya kualat karena aku berniat pergi darimu, padahal kamu sudah memperingatkan bahwa aku tidak boleh jauh darimu.
Kamu mendekat berniat melepaskan dekapan lelaki itu, namun sebelum sampai kamu bertabrakan dengan Maya hingga Maya terjungkal ke belakang. Aku pun menjauh dari lelaki itu saat terdengar keributan.
"Kenzo, kenapa kamu tidak menangkapku?" tanya Maya dengan kesal sembari beranjak berdiri.
"Kau yang memilih jatuh, kenapa aku yang repot!"
Kamu tidak bersimpati pada Maya sedikit pun. Kamu tahu saat itu Maya sengaja menginginkan adegan yang sama sepertiku, tapi kamu membuat rencananya gagal. Kenzo, lagi-lagi kamu membuktikan kesetiaanmu dan menjaga hatiku.
Lelaki itu pun menghampiri Maya dan menanyakan keadaannya. Akan tetapi, Maya tidak mengacuhkannya dan malah pergi dengan wajah cemberut. Lelaki itu pun membuntutinya.
"Aku salah membiarkan dia menyentuhmu," ujarmu menyesal.
"Dia hanya menolongku, tidak ada niat lebih. Lagi pula aku masih marah padamu," sahutku yang kemudian melenggang pergi.
"Retna, masak cuma karena senja kamu marah sama aku." Kamu berteriak kepadaku. Aku pun berbalik dan menatapmu dengan kesal.
"Sikap protektif kamu membuat aku kehilangan apa yang aku harapkan. Kalau aja tadi kamu gak maksa menunda keberangkatan kita ke sini, mungkin kita tidak akan ketinggalan senja," sahutku semakin kesal.
Terkadang sikap protektifmu itu membuatku kesal. Kamu terlalu melindungiku, kamu melarang aku ini, kamu melarang aku itu, aku tidak bebas melakukan yang ‘ku mau.
Satu permintaanku yang hingga detik itu tak pernah ingin kau wujudkan, yaitu memasak untukmu. Lagi-lagi karena khawatir, karena kau ingin melindungiku. Aku menghargai hobimu, tapi kamu tak menghiraukan keinginanku.
"Jadi kamu tidak suka aku melindungimu?" Kamu menyinggung berkedok bertanya.
Aku diam menatap kekesalan yang terlukis di wajahmu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, lalu kembali membelakangimu dan melenggang pergi. Tiga langkah ke depan, aku berhenti dan menoleh ke arahmu. Persetan dengan argumen beberapa orang yang mengatakan kalau seseorang menoleh meski marah, itu artinya minta di kejar. Mungkin itu juga harapanku, tapi entah, aku sendiri tak mengerti kenapa aku berbalik. Sayangnya, kamu malah membelakangiku.
Tidak ada alasan lagi untuk aku tidak menghindar dulu darimu. Jika kita memaksa tetap bersama mungkin malah menambah kekesalan satu sama lain. Saat itu, kita sama-sama memperjuangkan ego masing-masing, jadi kita butuh waktu sendiri untuk berpikir.
Aku melewati beberapa tenda milik pendaki lain hingga sampai di tempat yang tak satu pun tenda berdiri di sana.
"Menjengkelkan!" Aku mencebik dan menghentakkan kaki sembari bersedekap. Napasku begitu memburu.
Tak berapa lama aku sadar bahwa tempat dimana aku berdiri saat itu sangatlah sepi. Lipatan tangan di dada itu seketika terurai dan menegak vertikal di samping badan.
Aku memutar badan dan mengedarkan pandangan serta mempertajam pendengaran. Hanya pepohonan rindang yang mengelilingiku. Tak secercah cahaya pun 'ku temukan. Setiap sudut yang 'ku lihat hanya gelap dan suara yang kudengar hanya bisikan angin.
Bibirku mulai gemetar memekikkan namamu. Jika kamu ada di sampingku detik itu, aku akan menemukan kenyamanan di kungkunganmu.
Suaraku mengalun lemah menyebut namamu sembari terduduk dan menelungkupkan wajah di kedua telapak tanganku. Terisak mengingat pertengkaran kecil kita sebelum aku terjebak dalam keputusan akal.
"Ken ... maafkan aku. A-aku jan-ji gak akan melarangmu melindungiku lagi. Kamu bo-leh bersikap protektif terhadapku, hiks," ucapku terbata-bata.
Dalam pejamku, aku berharap kisah kita layaknya adegan romansa. Dimana kamu akan datang dan mengelus puncak kepalaku, lalu kamu pun akan menghapus air mataku dan menenangkanku. Namun nihil, saat aku membuka mata sosok dirimu tetap semu. Parasmu hanya ada di khayalanku semata.
"Ken, hiks, Ken ...." Aku memeluk tubuhku erat melawan dingin yang menyergap. Aku membutuhkan dekapanmu, dekapan hangat yang selalu kurindu.
Retna
Seketika, sayup-sayup kudengar kau memekik memanggil namaku berkali-kali. Aku pun tersenyum harap dan beranjak berdiri, lalu menjawab panggilan darimu.
Selang beberapa detik, suaramu semakin menggema. Akan tetapi, erangan yang justru kudengar dengan jelas. Kamu menyesakkan dadaku, memenuhi hati dan pikiranku dengan kecemasan. Ketakutanku akan keadaanmu membuatku memberanikan diri untuk menatap kegelapan malam lebih lama. Berharap ada cahayamu di antara kegelapan itu.
"Ken..." Keadaan jadi terbalik, aku mencari yang seharusnya mencariku.
Aku terpeleset dan mengerang kesakitan. Mungkin saat itu kamu juga mendengarnya, tapi kamu tak bersuara. Membuatku memaksakan diri untuk bangkit agar cepat bertemu denganmu.
Hatiku menuntun langkah kakiku menuju arah jam delapan. Beberapa meter dari titik aku berdiri, akhirnya aku melihat cahaya itu. Aura kasih yang terpancar dari dirimu menerangi kegelapan pandanganku.
Aku pun berlari mendekat. Membantumu yang terperosok ke dalam jurang kecil. Kau menyalakan senter ponsel dan menerangi kegelapan di titik kita berdiri, lalu kamu memelukku tanpa memedulikan kakimu yang terluka.
"Kamu tidak papa? Ini sebabnya kenapa aku bersikap protektif sama kamu, Ret. Jika kamu pergi apalagi terluka, jiwa dan hidupku akan pergi dan terluka bersamamu." Dekapanmu begitu erat. Laksana benang jahit yang terikat.
"Maaf. Mulai detik ini, aku tidak akan melarangmu melindungiku," ucapku.
"Itu adalah tugasku, tapi membuatmu tersenyum adalah janjiku. Mulai detik ini, aku akan berusaha mewujudkan keinginanmu di bawah penjagaanku. Ingat, di bawah penjagaanku!"
Aku meraih jari telunjuk yang kamu acungkan di depanku, lalu memasukkannya ke lubang hidungku hingga kamu bergidik dan tawaku pecah karena ekspresi wajahmu itu. Kamu sangat lucu.
"Hentikan sikap bodohmu itu! Pakai ini." Kamu melingkarkan syal di leherku, mungkin kamu merasakan kedinginan yang sama sepertiku.
Tanpa berkata apa pun lagi, kamu menarik tanganku menuju suatu tempat yang jauh dari sana. Tempat itu lumayan sepi, tapi masih ada beberapa sorot cahaya yang menerangi. Sengaja di jadikan tempat untuk bersantai saat malam.
Kamu mengajakku duduk di akar pohon besar yang menjalar, lalu kamu pun mengeluarkan isi tasmu.
Sebuah kotak kecil berwarna putih dengan penutup berwarna merah, kamu mengeluarkannya dari tasmu lalu membukanya dan mengambil obat antibiotik.
"Mana yang luka?" tanyamu sembari menyelidik tubuhku.
"Apa? Aku baik-baik saja," jawabku berbohong sambil memalingkan wajah.
"Aku mendengarnya tadi, jadi jangan berkelit!" kamu menatapku setajam itu. Hahaha, Kenzo, jujur aku ingin mencium bibirmu saat itu karena kelewat gemas.
Tapi entah, aku belum ingin menyudahi sandiwaraku. "Lalu kenapa kamu diam?" tanyaku ketus.
"Tidak ingin kamu khawatir."
"Diammu membuatku cemas, Bodoh!"
"Kamu masih marah padaku?"
"Lupakan! Percuma di bahas."
Kamu tak merespons ucapanku lagi, seketika meraih tanganku dan kamu mengamatinya dengan teliti. Luka yang kusembunyikan pun kau lihat terlukis di telapak tanganku.
Cap
Kamu menggelengkan kepala dengan cepat sembari mengecap, lalu mengobati luka itu dengan wajah suram.
Setelah kreasimu itu telah selesai, aku meraih obat itu darimu dan memberikan polesan karya di kakimu.
"Aku tahu ini pasti perih, tapi diamlah!" titahku dengan sengit. Kamu hanya membisu sembari memandangku.
Setelah selesai, kamu memasukkan kotak itu lagi. Sementara aku masih menyimpan sedikit kekesalan di benakku.
Sebuah kanvas dan cat yang terbuat dari plastik bentuk pasta serta bahan-bahan melukis lainnya, kau keluarkan dari tasmu. Kamu juga memintaku untuk menyalakan senter ponsel agar lebih terang, aku pun menurut meski kesal.
Aku menatapmu yang mulai mencampurkan beberapa cat di sebuah palet dan menorehkannya di permukaan kanvas. Tanda tanya besar seketika memenuhi pikiranku. Akan tetapi, aku tak banyak bertanya dan menonton saja kelihaian tanganmu itu menjalankan kuas di atas kanvas.
Tak berapa lama lukisan itu telah selesai. Aku menatap takjub sembari mengagungkan kebesaran Allah yang telah menggerakkan tangan dan imajinasimu hingga menciptakan senja yang indah di kanvas itu.
"Lihatlah! Kamu bisa menatapnya sampai puas sekarang," kamu berkata sembari memampangkan hasil karyamu itu dari jarak satu meter dengan pandanganku.
Kamu hanya melihat senyum kebahagiaanku saat itu, tanpa kamu tahu kalau aku juga menangis bahagia karena memilikimu. Aku menghapus satu tetes air mata kebahagiaan yang meluruh saat kau mengalihkan pandangan kepadaku.
"Aku tahu kamu sangat menyukai senja. Aku ingin setiap detik yang kita lalui bersama adalah kebahagiaan. Detik-detik melihatmu tersenyum bahagia adalah oksigen untuk aku bertahan hidup. Aku membutuhkan kamu, seperti jantung butuh detak."
Kata-katamu sungguh manis, tak jauh dari perlakuanmu kepadaku. Apa pun kamu lakukan demi menyeruak duri penghalang senyum kebahagiaanku.
Semudah itu kamu mengakhiri masalahku. Semudah itu kamu melunakkan hatiku kembali.
"Kenapa kamu membawa peralatan ini segala? Dapat ide dari mana?" Aku memang tenggelam dalam belenggu kata manismu, tapi otakku tetap berfungsi.
"Aku sudah mempersiapkannya sebelum berangkat, karena aku tahu kalau kita pasti kemalaman nyampek sini. Maaf, aku telah membuat harapanmu terluka, Ret." Kamu menatapku dengan tatapan penyesalan. Wajan melankolis yang kau suguhkan itu membuatku merasa bersalah karena terlalu egois.
"Kenapa kamu sedih? Sudah kukatakan, aku ingin setiap detik yang kita lalui bersama adalah kebahagiaan," tanyamu tersenyum manis.
"Maaf selama ini aku selalu pengen menang sendiri," pintaku.
"Hikmah masih digratiskan sama pemerintah, jadi kita ambil saja." Kamu bergurau sembari menyentuh daguku, lalu meraihku ke dalam pelukanmu dan kita menatap senja buta itu bersama.
Hanya saat bersamamu aku bisa menikmati senja di malam yang gelap dan dingin. Aku tak perlu menunggu sore untuk menemukan kebahagiaan itu lagi. Karena bahagia itu, bersamamu menatap senja tanpa mengenal waktu.
My husband, you are my life and your breath is my soul.