Pelaku :
Maira Lee
Kaivan Naraya
Felicity
By : SkuyChilll
***
Namaku Felicity yang artinya Kebahagiaan Besar. Umurku 24 tahun, aku adalah putri tunggal dari keluarga Naraya. Ibuku bernama Maira Lee blasteran korea dan jawa. Ayahku Kaivan Naraya asli indonesia. Ini adalah kisah cinta orang tua ku yang harus terpisah karena kesalahpahaman. So kita lanjut cerita dibawah ini ywh…
***
“ Mas, apa kamu hari ini akan pulang telat lagi?” tanya seorang wanita bernama maira pada suaminya
“ Sepertinya sayang, pekerjaanku masih banyak dan pasti akan sampai larut lagi.” jawab Kaivan dengan sedikit kecewa
“ Apa tidak bisa pulang cepat sayang? Aku tidak mau kamu sampai sakit”
“ akupun ingin begitu tapi sepertinya bakal susah sebab tidak ada yang bisa menggantikan pekerjaan aku sayang. Rekan kerjaku sedang sakit jadi mau tidak mau aku yang harus lembur.”
“ aku ngerti sayang, maaf jika aku mulai protes hanya saja aku tidak ingin kamu sakit, aku khawatir dengan kesehatan kamu.”
“ maaf sayang jika sudah buat kamu khawatir, aku janji jika semuanya selesai aku akan meluangkan banyak waktu buat kamu.”
“ iyah sayang tapi bagaimana dengan mamah….??”
“stttt sudah jangan difikirkan apa kata mamah, kita sudah menikah dan punya kehidupan sendiri jadi kita fokus pada keluarga kecil kita saja ok. Yasudah mas berangkat kerja dulu, kamu hati-hati dirumah jika ada apa-apa segera hubungi mas. Love you sayang.” pamit Kaivan pada maira tak lupa mencium kening maira
Aku dan mas Kaivan sudah menikah 7 tahun tapi belum memiliki anak. Keluarga kecil kami memang selalu romantis dan bahagia tanpa kehadiran anak tapi jauh dilubuk hati, aku merasa gagal sebagai seorang istri karena belum memberikan anak untuk suamiku. Terutama mamah mas Kaivan yang selalu bertanya kapan aku hamil.
Berbagai cara aku dan mas Kaivan sudah lakukan namun belum membuahkan hasil. Mungkin karena tuhan belum memberikan kepercayaan kepada kami. Dari segi finansial keluarga kami tidak kurang tapi siapa yang tahan tinggal dirumah besar tanpa kehadiran seorang anak yang menghiasi keluarga kami. Mas Kaivan memang tidak pernah menunjukannya pada ku tapi sebagai seorang istri, aku pun merasakan apa yang mas Kaivan rasakan.
***
“ Mai, apa kamu sudah periksa ke dokter lagi? Apa kamu sudah minum jamu yang mamah buatkan untuk kamu?” tanya mamah mas Kaivan
“ Mai sudah pergi ke dokter mah, dan jawaban dokter masih sama. Mai dan mas Kaivan masih subur dan tidak ada penyakit apapun. Mai juga udah minum jamu yang mamah buat.” ucap Maira yang sedikit takut pada mertuanya
“ hmmm Mai Mai sebenernya ada apa dengan kalian berdua. Kapan kalian akan memberikan aku cucu. Kaivan sibuk kerja dan kamu, sepertinya kamu kurang puas memberikan pelayanan pada suami kamu. Apa jangan-jangan kamu memang sengaja tidak mau punya anak supaya dapat harta yang berlimpah dari suami kamu?!”
“ sumpah demi tuhan Mai tidak pernah punya fikiran jahat seperti itu, kenapa mamah bisa-bisanya punya fikiran negatif padaku. Apa mamah pikir maira tahan dengan keadaan seperti ini, maira juga sama pingin segera punya anak tapi tuhan masih belum mengijinkannya. Mai kecewa sama mamah.”
Maira yang tidak tahan dengan ucapan mertuanya berlari ke kamar dan menangis. Setiap kali mertuanya datang berkunjung pasti berakhir dengan perdebatan yang sama. Maira sudah tidak tahan lagi dengan sikap mertuanya, ingin rasanya melawan tapi dia sadar. Dia adalah orang tua yang harus di hormati. Kesadarannya mulai menghilang akhirnya dia tertidur sambil menangis.
***
“ hai sayang bangun, ini mas udah datang. Sayang...”
“ hmmm mas udah datang, ini baru jam 7 katanya mas lembur?”
“ mas hari ini ga jadi lembur sayang, kamu pasti belum makan kan? Ayok kita turun dan makan malam bersama.”
maira yang ketiduran karena capek menangis dan terbangun karena mendengar suara suaminya. Sejujurnya Kaivan berbohong kalau hari ini dia tidak lembur. Ia sengaja pulang cepat karena mendengar kabar dari pelayannya jika mamahnya berkunjung dan mulai berdebat lagi dengan maira.
Sebagai seorang suami tentu saja Kaivan marah melihat istrinya selalu di pojokan oleh mamahnya tapi sebagai seorang anak, ia juga tidak ingin durhaka terhadap mamahnya. Setelah selesai makan malam, mereka pun kembali ke kamar dan segera merebahkan tubuh di atas kasur tidak menunggu lama mereka pun akhirnya tertidur.
Keesokan harinya….
***
“ mas, hari ini Mai ijin keluar sebentar yah. Hanya pergi sebentar ke toko bunga ga akan lama Mai janji.” ucap maira yang meminta ijin kepada suaminya
“ mas ijinkan sayang nanti mang ipin yang akan mengantarkan kamu.”
“ makasih mas kalau udah selesai Mai segera pulang.” ucap Mai yang senang karena di ijinkan pergi ke toko bunga
semenjak menikah, maira jarang sekali pergi keluar rumah kalaupun pergi tentu saja dengan suaminya. Waktu Pun sudah hampir siang, Kaivan sudah berangkat satu jam yang lalu dan maira pergi ke toko bunga.
BRAKKKKK
“ auuuu sakit” teriak maira kesakitan yang kejatuhan vas bunga karena tanpa sengaja seorang laki-laki menabraknya. Sambil berjongkok maira membersihkan kakinya yang kotor terkena pupuk
“ maaf nona aku tidak sengaja, apa kau terluka?” tanya seorang laki-laki
“ tidak apa-apa mas. Lain kali tolong jalannya lebih hati-hati.”
laki-laki tersebut membantu maira untuk membersihkan kakinya. Dan tiba-tiba..
“ MAIRA..” ucap laki-laki tersebut yang kaget melihat maira
“Gavin.” maira pun tak kalah kaget
“ maafkan aku Mai, aku tidak sengaja menyenggol kamu. Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” ucap Gavin
“ tidak Vin hanya kotor sedikit. Kamu apa kabar? Lama tidak berjumpa.”
“ kabarku baik Mai, aku sekarang jadi dokter spesialis kandungan. Oh ya bagaimana jika kita ngobrol sebentar kebetulan didekat sini ada kafe.”
“ baiklah Vin, tunggu sebentar aku bilang ke mang ipin dulu.”
tak lama akhirnya merekapun pergi ke kafe terdekat. Dan tanpa sengaja ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua.
***
Sesampainya dirumah.
" Dari mana saja kamu!?" Terdengar suara bariton Kaivan
" Aku habis dari toko bunga mas." Ucap maira yang sedikit gugup
" Bohong! Kau hanya berpura-pura pergi ke toko bunga padahal bertemu dengan laki-laki lain."
" Tidak mas, aku hanya pergi ke toko bunga dan tanpa sengaja aku bertemu dengan teman lamaku."
" Hanya teman katamu, lantas ini apa? Jika hanya teman apa sampai harus pegang-pegangan!?" Ucap Kaivan dengan suara emosi dan menunjukkan foto maira bersama lelaki itu di ponselnya.
Maira yang penasaran kemudian mendekati Kaivan dan mengecek ponsel Kaivan. terkejut, bagaimana bisa foto dia dan temannya bisa ada di ponsel suaminya. Siapa yang sudah mengirim foto itu. Apa motifnya. Pantas saja suaminya bisa semarah itu.
Melihat suaminya yang masih dipenuhi emosi, maira mencoba mendekat dan menenangkan suaminya tapi usahanya sia-sia karena Kaivan memilih untuk pergi meninggalkan rumah dan juga dirinya.
Ini adalah kali pertama aku dan mas Kaivan berdebat, betapa sakitnya hati aku melihat mas Kaivan begitu marah. Aku tahu aku salah karena aku tidak memberitahu dia jika aku bertemu dengan teman lamaku. Betapa bodohnya aku hingga membuat orang yang paling berarti dan paling aku cintai marah karna kesalahpahaman.
Sudah hampir pagi maira mondar mandir menunggu suaminya pulang tapi tak kunjung datang. Ponselnya juga tidak aktif membuat maira semakin khawatir, dia pergi kemana dan apa yang terjadi tidak biasanya dia seperti ini. Apa yang sedang kamu lakukan sampai pagi seperti ini.
" Mas kamu dimana, maafkan aku." Hampir semalaman dia menangis dan membuat maira lemas, merasa sudah tidak kuat, maira mencoba merebahkan tubuh di sofa dan ketiduran.
***
Hari berganti hari sudah hampir satu minggu maira didiamkan oleh suaminya. Segala cara sudah ia lakukan, mulai dari hal hal yang suaminya sukai tapi tidak ada perubahan, mertuanya pun semakin menjadi jadi. Bahkan hampir setiap hari mertuanya berkunjung, hampir setiap hari pula perdebatan diantara mereka semakin memanas. Sungguh maira sudah tidak sanggup lagi menahannya. Didiamkan oleh suami atas kesalahpahaman dan terus berdebat dengan mertuanya membuat hati maira semakin remuk. Mungkin dengan menghilangnya dia bisa membuat suami dan mertuanya bahagia. Daripada dia terus terusan berada dirumah yang sama sekali membuat dirinya merasa asing.
***
Mas, jika sudah tidak ada lagi kepercayaan dan cinta dipernikahan kita lantas buat apa aku harus mempertahankannya. Melihatmu yang hampir satu minggu mendiamkanku membuat hatiku hancur dan mamah yang terus menerus menyalahkan aku atas kejadian kemarin membuat hatiku semakin hancur. Aku sudah tidak sanggup menahannya.
Tentang kejadian kemarin aku minta maaf kepadamu, sumpah demi tuhan aku tidak pernah sedikitpun mengkhianati pernikahan kita. Dan soal foto, Gavin hanya membantuku membersihkan pupuk yang jatuh di kakiku. Aku tidak menyalahkanmu, ingin sekali aku menjelaskan semuanya kepadamu tapi kamu selalu acuh.
Maafkan aku sekali lagi Mas, maaf belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu dan menantu yang bisa dibanggakan oleh mamah.
Aku menyayangi kalian.
Ttd.
Maira
***
Sepucuk surat yang Maira tinggalkan untuk suaminya, merasa sudah tidak sanggup menahan semuanya akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalka keluarga kecilnya.
Sakit, memang sangat sakit. Berat sudah pasti meninggalkan pernikahan yang sudah 7 tahun ia jalani penuh cinta sekarang harus kandas.
Wanita mana yang kuat menahan semuanya. Rasa sakit dan kecewa, mungkin ini jalan satu satunya meskipun ia tahu ini salah.
***
Pagi berganti malam, Kaivan baru saja sampai rumah. Melihat rumah yang tampak sepi membuatnya sedikit bertanya tanya dalam hati.
" Tumben sepi, apa Maira sudah tidur. Tapi masih jam 8 biasanya dia selalu menunggu pulang tapi tidak biasanya dia begini."
Kaivan pergi ke dapur tapi tidak ada, di kamar mandi juga tidak ada tanda tanda Maira. Hampir seluruh ruangan tapi tidak ada.
Kaivan kembali ke kamarnya dan menemukan sepucuk surat yang Maira tulis. Betapa terkejutnya dia membaca isi suratnya. kedua kakinya melemas dan tubuhnya terpelosot, menatap nanar tulisan istrinya membuat dirinya sadar bahwa apa yang selama ini dia lakukan juga salah.
" bodoh kenapa aku tidak mendengarkan penjelasan kamu dulu Mai, kenapa aku mudah kemakan api cemburu hingga membuatmu menjadi seperti ini. maafkan Mas sayang."
tak pikir panjang Kaivan bangkit dan menyambar kunci mobilnya pergi untuk mencari istrinya. mungkin saja Maira masih ada di sekitar kompleks. sayang, usahanya sia sia. dia tidak menemukan Maira dimanapun.
Lelah mencari ia memutuskan untuk kembali kerumahnya. Dia berencana untuk melanjutkan pencariannya besok dan melaporkannya pada polisi.
***
" Mamah... tangkap aku tangkap aku..." teriak gadis kecil yang berlari ke arah ibunya
" 3...2....1.... Hore Mamah tangkap."
sudah 4 tahun berlalu. Sudah 4 tahun pula aku membesarkan anakku seorang diri, tanpa suami dan tanpa sosok ayah yang anakku tahu.
Aku, Maira Lee dan anakku Felicity. Empat tahun lalu aku meninggalkan suamiku mungkin lebih tepatnya mantan suami. Aku memutuskan untuk pergi ke desa kakek ku. disini aku mulai membiasakan diri dan melupakkan semua apa yang terjadi. mulai hidup baru dengan suasana baru. bercocok tanam seperti dulu sebelum kenal Mas Kaivan.
Lama aku tidar mendengar kabar tentangnya, kadang membuat hati ini rindu. Secara hukum, kami memang belum bercerai. Pernah saat pertama kali aku mendengar jika aku hamil, aku kembali kerumah Mas Kaivan tapi menurut penjaga disana, Mas Kaivan dan keluarganya sudah pindah satu bulan semenjak aku pergi.
Kemana perginya mereka, apakah memang kehadiranku sudah tidak dibutuhkan lagi. Secepat itukah Mas Kaivan melupakan aku. Miris rasanya mengharapkan orang yang selama ini aku cintai malah pergi entah kemana dan tidak mencariku.
****
" Mah, Feli laper..." Rengek gadis kecil
" Iyah sayang, kita masuk yuk kedalam. Kasihan anak Mamah kelaparan..."
" Mah, Feli kangen Papah.... Kapan Papah pulang...?"
" Sebentar lagi Papah pulang sayang, Feli yang sabar yah. Secepatnya kita bertemu Papah."
Selama ini Maira berbohong pada anaknya. Jika Papahnya pergi merantau untuk bekerja dan terpaksa meninggalkan mereka karena belum diijinkan pulang oleh bosnya.
Ternyata takdir berkata lain. Setelah selesai menyuapi anaknya, terdengar suara ketukan pintu. Tanpa pikir panjang Maira membuka dan betapa terkejutnya dia, Ternyata yang datang adalah sosok yang Selama ini ia rindukan, Kaivan.
Dengan perasaan yang campur aduk, bagaikan mimpi tapi ini nyata. Ternyata dia benar benar Kaivan, suaminya.
Mereka berdua pun berpelukan, menyalurkan rindu dan cinta kasih yang selama ini mereka pendam.
" Maafkan aku Mas, atas kesalahan aku dimasa lalu. Aku pergi meninggalkan mu tanpa permisi." Isak tangis Maira membuat Hati Kaivan tersayat bagaimana bisa Maira yang minta maaf sedangkan atas kesalahan dia yang mendiamkan Maira.
" Tidak, kamu tidak salah sayang. Mas yang salah tanpa menunggu penjelasan darimu, Mas sudah berfikiran yang buruk... Mas sudah tau semuanya. Temanmu yang memberitahukannya. Maafkan Mas baru bisa datang sekarang. Dan Mamah... Mamah sudah menunggu kita di singapore.."
" Mamah kenapa? Apa yang terjadi dengan Mamah?"
" Mamah mengalami serangan Jantung saat mendengar Penjelasan dari teman kamu dan mendengar jika kamu sedang hamil. Betapa terpukulnya Mamah..."
" Mamah..."
Mendengar teriakan Felicity, Mereka berdua melepas pelukannya. Dan Kaivan, betapa terkejutnya dia melihat buah hatinya. Ia pun mendekati Feli dan memeluknya. Terdengar isakan dari Kaivan membuat Feli juga ikut menangis. Dan mereka bertiga pun berpelukan.....
Bagaimana Kaivan tahu jika Maira hamil??
Karena pada saat Maira dan Gavin bertemu, Maira dibawa kerumah sakit kandungan untuk memeriksakan kondisinya dan setelah hasilnya keluar, Maira dinyatakan hamil tapi Maira keburu kabur dari Rumah dan Gavin tidak tahu alamat rumah suaminya.
Setelah kepergian Maira, Kaivan melanjutkan perjalanan bisnis ke singapore dan mamahnya juga ikut. tanpa sengaja saat ke rumah sakit mengantar mamahnya periksa rutin, Kaivan ga sengaja ketemu Gavin. dan dari situlah Kaivan tahu semuanya. selama 4 tahun dia mencari tapi ga ketemu. secercah harapan buat Kaivan, ia mendengar dari sahabatnya jika tidak sengaja ketemu Maira di jalan dan memberitahukannya pada Kaivan jika Maira tinggal di desa kakeknya.
Tamat....